Tourism for Us – Dalam menyambut musim libur Lebaran 2025, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko atau PT TWC (InJourney Destinations) menyusun beragam kegiatan yang menawarkan pengalaman menarik dan penuh makna bagi pengunjung di Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan Candi Ratu Boko. [more]
Tourism for Us – Novotel, salah satu merek hotel dalam grup Accor, berkolaborasi dengan Paris Saint-Germain (PSG), klub sepak bola kebanggaan warga Paris, memilih Jakarta sebagai venue peluncuran global pertama ‘Legendary Rooms’. Inisiatif terbaru dari jaringan hotel asal Perancis ini menawarkan pengalaman imersif di kamar [more]
Tourism for Us – Idul Fitri merupakan puncak dari rangkaian musim liburan yang dinanti-nanti di Indonesia. Semua orang berusaha memanfaatkan kesempatan ini untuk berkumpul dengan keluarga, merayakan kebersamaan, dan menjalani tradisi yang telah diwariskan. Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menjelaskan beberapa strategi Kementerian Pariwisata [more]
Tourism for Us – Secara global, industri pariwisata petualangan mengalami pemulihan yang signifikan. Permintaan untuk petualangan ringan (soft adventure) dan perjalanan menggunakan sepeda listrik (e-bike) semakin meningkat. Ini menunjukkan bahwa berpetualang tidak selalu harus melakukan kegiatan yang memompa adrenalin dan berisiko tinggi. Para petualang kini tengah mencari pengalaman baru yang tidak hanya memberikan kepuasan pribadi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi diri mereka sendiri dan destinasi yang dikunjungi.
Perjalanan ke TN. Tanjung Puting untuk melihat orangutan kalimantan dan hutan hujan tropis merupakan salah satu produk petualangan terkenal di Indonesia dan tinggi peminatnya. Produk yang ditawarkan mulai dari paket standar hingga paket yang dipersonalisasi sesuai minat wisatawan. Foto: Yun Damayanti)
Russell Walters, Regional Director North America Adventure Travel Trade Association (ATTA), menyampaikan paparan outlook industri periwisata petualangan global terkini dan tren perjalanan petualangan di hampir seluruh kawasan pada webinar ‘’Adventure America 2025’’ bagi mitra-mitra di Asia Tenggara, Rabu (12/3/2025). Webinar ini merupakan kolaborasi antara Getting Global, ATTA, dan US Commercial Service-ASEAN, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Berikut ini rangkuman paparannya.
Adventure Travel Trade Association melakukan survei terhadap anggotanya dan hasilnya begini: 66% responden mengatakan bahwa net profit usaha mereka pada tahun 2024 meningkat dibandingkan tahun 2023. Dan sebanyak 67% responden mengungkapkan bahwa net profit pada tahun 2024 telah melampaui net profit aktual tahun 2019 atau sebelum pandemi COVID-19.
ATTA juga merekam persebaran tour operator/travel agent (TO/TA) perjalanan petualangan sebanyak 35% berada di kawasan Amerika Utara, 23% di kawasan Eropa, 13% di kawasan Asia, dan 19% di kawasan Amerika Selatan, serta selebihnya di Amerika Tengah/Karibia, Timur Tengah, Pasifik, dan Afrika.
Kemudian, data berikutnya menunjukkan bahwa 38% TO/TA adalah inbound tour operators (suppliers), 30% outbound tour operators (buyers), dan selebihnya adalah outbound dan inbound tour operators.
Pasar terbesar perjalanan petualangan adalah mereka yang berada di rentang usia 45-54 tahun (38%) dan 55-64 tahun (35%).
‘’Karena merekalah orang-orang yang mempunyai cukup uang dan waktu luang,’’ ujar Walters.
Sedangkan generasi Milenial atau direntang usia 35-44 tahun yang melakukan perjalanan petualangan hanya 16%, dan 2% dari Gen Z atau direntang usia 25-34 tahun yang melakukan perjalanan petualangan.
Menurut data yang diambil pada tahun 2023, ATTA mengelompokkan bahwa pada umumnya wisatawan petualang ialah pasangan. Secara global, rata-rata wisatawan berpetualang bersama pasangannya (36%), bersama grup dengan minat yang sama (24%), bersama keluarga (21%), dan solo traveling (17%).
Mengutip dari paparan Walters, khususnya di kawasan Asia, wisatawan yang berpetualang bersama pasangannya sebanyak 33%, bersama grup dengan minat yang sama 26%, bersama keluarga 24%, dan solo traveling 16%.
Beberapa kawasan menjadi tujuan populer di kalangan kelompok petualang tertentu, seperti kawasan Afrika yang populer di kalangan solo traveler dan perjalanan grup. Sementara itu, Timur Tengah dan Asia populer untuk perjalanan grup.
Fakta menarik adalah aktivitas petualangan yang terkesan maskulin itu justru paling banyak dijalani oleh wanita. Data ATTA menunjukkan bahwa wisatawan petualang didominasi oleh wanita (53%) dibandingkan dengan laki-laki (46%). Dan wisatawan wanita yang berpetualang itu 55% melakukannya dengan solo traveling dibandingkan dengan 38% laki-laki yang melakukannya dengan solo traveling.
Para pelaku industri perjalanan petualangan sedang mendiversifikasi basis pasarnya. Mereka meningkatkan fokus pada wisatawan keluarga (44%), wanita (38%), dan lansia di atas 50 tahun (37%), serta pasar-pasar lainnya.
Strategi jitu pemasaran perjalanan petualangan
Walters mengatakan bahwa promosi dari mulut ke mulut (words of mouth) merupakan taktik pemasaran paling menolong dalam industri perjalanan petualangan. ‘’Tidak ada perubahan dalam pemasaran perjalanan petualangan. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Khususnya di Amerika Serikat, email marketing menjadi pemasaran strategis setelah promosi dari mulut ke mulut,’’ katanya.
ATTA mengungkapkan 10 taktik pemasaran dan penjualan yang membantu penjualan produk petualangan, yakni promosi dari mulut ke mulut (80%), email marketing (54%), dan iklan media sosial (43%).
Taktik pemasaran berikutnya adalah bekerja sama dengan sesama operator tur (39%), beriklan di Google AdWords (36%), membangun kemitraan dengan agen perjalanan (34%), membuat konten pemasaran (34%), berpartisipasi di pameran perjalanan (32%), bekerja sama dengan media (19%), dan menempatkan iklan di media digital (19%).
Menurut survey yang dilakukan oleh ATTA kepada anggotanya pada 2023 lalu, sebanyak 43% responden menjawab bahwa mereka tidak bekerja sama dengan platform pemesanan online mana pun. Menurut mereka, platform pemesanan online tidak sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan wisatawan petulangan. platform pemesanan online bahkan tidak bisa mencapai setengahnya saja dari layanan yang diberikan oleh operator tur.
Namun, sebagian dari responden juga ada yang bekerja sama dengan platform pemesanan online. Tripadvisor, Viator, dan WeTravel menjadi pilihan platform pemesanan online populer untuk bekerja sama.
Danau kawah Segara Anak dilihat dari Plawangan Sembalun,TN Gunung Rinjani. (Foto: Yun Damayanti)
Tren perjalanan petualangan
ATTA mencatat ada 10 tren perjalanan petualangan yang permintaannya sangat tinggi, yaitu rencana perjalanan yang dipersonalisasi (custom itineraries), petulangan ringan (soft adventure), mengunjungi destinasi/jalur terpencil (remote destinations/trails), petualangan yang berfokus pada kuliner (culinary-focused adventures), perjalanan dengan sepeda listrik (e-bike itineraries), perjalanan bersama ahli atau perjalanan yang dipandu oleh seorang spesialis di bidang tertentu (expert or specialist-guided trips), rencana perjalanan lambat (slow travel itineraries), perjalanan yang lebih hijau, berkelanjutan dan memberikan dampak minimum, serta perjalanan di luar musim puncak liburan, serta perjalanan keluarga dengan anggota multigenerasi.
Menurut Walters, permintaan rencana perjalanan dengan e-bike terus meningkat dan baru saja masuk dalam Top 10 tren petualangan. Begitu pula dengan permintaan petualangan ringan dan petualangan yang berfokus pada kuliner juga baru masuk dalam daftar permintaan teratas.
Hiking/trekking/walking masih menempati aktivitas teratas dalam rencana perjalanan petualangan. Kemudian aktivitas kuliner/gastronomi, budaya, safari atau pengamatan kehidupan liar (wildlife viewing), bersepeda dengan e-bike, fotografi, sepeda gunung dan bersepeda di jalan raya, birdwatching, dan aktivitas yang fokus pada wellness.
Sementara aktivitas petualangan yang menjadi tren khususnya di kawasan Asia adalah hiking/trekking/walking, berkemah (camping), mendaki gunung/panjat tebing, kuliner, dan budaya.
Para pelaku industri perjalanan petualangan perlu memahami motivasi yang sedang tren di kalangan wisatawan petualang saat ini, yaitu mencari pengalaman baru, bepergian ke off the beaten track, travel like a local, dan bertemu dengan budaya baru.
Motivasi berpetualang berikutnya adalah untuk mencapai kesejahteraan fisik dan mental, kesempatan terakhir melakukan perjalanan, menikmati kemewahan, memutuskan keterhubungan dengan dunia untuk sementara waktu (digital detox), dan memompa adrenalin. Pemangku kepentingan pariwisata di destinasi juga perlu mengetahui bahwa perjalanan petualangan sekarang sudah menjadi simbol status seseorang. ***(Yun Damayanti)