Tourism for Us – Pacific Asia Travel Association (PATA) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) dengan TOP25 Restaurants, sebuah sistem pemeringkatan perjalanan berbasis kecerdasan buatan yang menyediakan panduan perjalanan untuk berbagai atraksi wisata. Perjanjian tersebut ditandatangani oleh Noor Ahmad Hamid, CEO PATA, dan Bernard Metzger, Pendiri dan [more]
Tourism for Us – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat semakin memperketat regulasi terkait alih fungsi lahan di kawasan hutan dan perkebunan untuk mencegah terulangnya bencana banjir dan longsor serupa di masa depan. Bencana alam yang melanda Jawa Barat baru-baru ini telah merenggut korban jiwa dan [more]
Tourism for Us – Kekuatan pariwisata di Kota Surabaya terletak pada gang-gang kecilnya. Di kawasan pemukiman tua, gang-gang ini menyimpan banyak cerita sejarah dan menunjukkan bagaimana warga lokal beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kini, kisah-kisah yang berasal dari dalam gang tersebut telah dikonversi menjadi daya tarik [more]
Tourism for Us – Tana Toraja adalah destinasi evergreen di Sulawesi Selatan. Masyarakat setempat, terutama di desa-desa, berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan budaya mereka, sehingga pengalaman yang ditawarkan tetap otentik dan tak lekang dimakan waktu. Kunjungan ke desa adat menjadi agenda yang wajib dilakukan saat berada di sini.
Ketekesu, salah satu tempat yang cocok untuk mengenal budaya Toraja pertama kali. (Foto: Yun Damayanti)
Di desa adat, pengunjung tidak hanya melihat tongkonan dan kuburan yang terletak di tebing atau gua, tetapi juga merasakan cara hidup masyarakat Toraja, dan menyesap kopi yang bijinya baru dipetik di kebun. Jika waktu Anda terbatas, Desa Adat Kete’kesu, Londa, dan Lemo adalah pilihan tepat karena mudah dijangkau dari jalur utama Rantepao-Makale, dan bisa dijalani selama setengah hari.
Semangat toleransi di Desa Adat Kete’kesu
Desa Adat Kete’kesu adalah salah satu destinasi yang sangat direkomendasikan untuk dikunjungi. Di pintu masuk desa, pengunjung akan disambut deretan tongkonan lengkap dengan lumbung padinya. Bangunan tradisional Toraja ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-8, dan beberapa di antaranya telah mengalami pemugaran beberapa kali.
Di desa adat seluas 95 kilometer persegi, pengunjung dapat melihat miniatur sistem sosial masyarakat Toraja. Di dalam desa ini, terdapat tongkonan dan lumbung padi, serta area pertanian dan peternakan, dan sebuah lapangan yang digunakan untuk melaksanakan berbagai upacara dan ritual adat. Selain itu, desa juga memiliki kuburan yang terdiri dari kuburan keluarga dan kuburan umum. Hutan bambu di sekitar desa memiliki peran penting dalam pelaksanaan upacara adat di Toraja.
Hal yang paling menarik dari desa ini adalah cara masyarakat Toraja menghargai perbedaan. Mereka melakukannya melalui dua tradisi pemakaman yang berbeda, namun tidak meninggalkan budaya Toraja. Di sini kita bisa menemukan makam yang terletak di tebing dan dalam gua, serta makam rumah atau patane.
Ada patane yang tidak menyatu dengan tanah untuk yang beragama Nasrani, sementara yang Muslim memiliki patane yang menyatu dengan tanah.
Tetua adat yang sempat menemani kami waktu itu berkata, ‘’Hanya di Kete’kesu, patane dibuat dua macam agar bisa mengakomodasi semua kepercayaan yang dianut seluruh anggota keluarga tanpa melanggar yang dipercayainya serta berusaha memelihara kerukunan.’’
Dia menjelaskan bahwa jika ada anggota keluarga mau dimakamkan secara tradisional maka akan dimakamkan di Gunung Pamulungan, nama gunung yang ada di wilayah Desa Kete’kesu. Makam di celah-celah bukit paling tinggi hanya untuk para bangsawan, pemuka adat, dan keturunannya. Sementara, masyarakat biasa dimakamkan dalam gua di gunung yang kedalamannya diperkirakan sampai 312 meter.
Pengunjung akan melihat banyak peti mati dari kayu atau erong di Kete’kesu. Peti ini baru dibuat setelah zaman besi masuk. Erong yang diselipkan ke celah-celah batu rata-rata berumur lebih dari 500 tahun. Sementara, erong yang berada di luar rata-rata berumur lebih dari 400 tahun. Menurut tetua adat, sebelum peti mati dibuat, jenazah hanya dibungkus dengan kain serat nanas kemudian ditempatkan dalam gua.
Erong dihiasi dengan bentuk kepala hewan memiliki makna khusus dalam budaya Toraja. Erong yang dihias dengan bentuk kepala babi biasanya digunakan sebagai peti mati untuk perempuan, mengingat bahwa babi adalah hewan yang sering dipelihara oleh wanita Toraja dalam kehidupan sehari-hari. Sementara itu, erong yang memiliki hiasan berbentuk kepala kerbau menandakan peti mati untuk laki-laki, karena mereka umumnya adalah petani yang sangat akrab dengan kerbau.
Masyarakat desa telah membentuk sebuah yayasan untuk mengelola destinasi wisata di Desa Adat Kete’kesu. Terdapat lima keluarga yang berperan sebagai pendukung adat dan pemimpin desa yakni keluarga Pongpanimba, Sule Datu, Bubun Batu, Latu, dan Ne’Sonto. Anggota dari kelima keluarga ini bergotong-royong untuk mengoptimalkan potensi yang ada di desa mereka.
Kisah ‘Romeo & Juliet’ dan makam pohon di Londa
Desa Londa berada sekitar dua kilometer dari jalan raya Rantepao-Makale. Daya tarik utama di desa ini adalah makam dalam gua seluas satu hektar. Wisatawan bisa menyusuri lorong-lorong gua dengan ditemani pemandu lokal yang menerangi jalan dengan bantuan senter atau lampu petromak.
Makam terkenal di Londa adalah makam Lobo dan Andui. Kisah cintanya digadang sebagai ‘Romeo & Juliet’-nya Tana Toraja. Sepasang kekasih yang berasal dari keluarga bangsawan, namun hubungan mereka ditentang oleh keluarganya masing-masing. Pasangan itu memutuskan mati bersama dengan menggantung diri di pohon yang sama. Akhirnya, kedua keluarga sepakat untuk memakamkan keduanya secara adat, dan diupacarakan dan dimakamkan bersama.
Selain itu, Londa juga dikenal sebagai tempat makam bayi di pohon atau Liang Pia Pa’besenan (kuburan bayi di Pa’besenan). Jenazah bayi ditempatkan di lubang pada pohon beringin besar yang tumbuh di atas batu. Akar pohon yang telah menembus batu membuat lubang pada pohon terhubung sampai ke dasarnya. Namun, cara ini sudah tidak digunakan lagi sekarang.
Hal paling mengejutkan di Desa Londa adalah batu-batu dari zaman megalitikum dan tempat khusus penyembahan. Selain itu, benteng pertahanan dari Kerajaan Gowa masih berdiri di atas bukit.
Sama seperti Desa Adat Kete’kesu, daya tarik wisata desa dikelola oleh yayasan yang dijalankan oleh warga. Keberadaan desa ini tidak lepas dari dukungan keturunan To’lengke’ dan To’pangra’pa’, dua bersaudara yang mendiami daerah Londa sejak 800 tahun lalu.
Jalan raya di tepi pantai, salah satu pemandangan ikonik di Kabupaten Barru dalam perjalanan overland Makassar-Toraja. (Foto: Yun Damayanti)
Lemo, Kampung Tau-tau
Desa Lemo dikenal sebagai pengrajin tau-tau, yaitu boneka kayu yang melambangkan orang yang telah meninggal di Toraja. Boneka ini biasanya dibuat khusus untuk kalangan bangsawan, pemangku adat, dan keturunannya. Setelah upacara pemakaman, tau-tau tersebut akan diletakkan di dinding tebing batu yang telah dipahat sebelumnya, sebagai penghormatan terakhir kepada yang telah tiada.
Di jalur menuju makam tebing, masyarakat memanfaatkan gubuk-gubuk peristirahatan di tepi atau tengah sawah menjadi workshop sekaligus kios penjualan tau-tau yang dibuat dari kayu uru, dan bisa dibeli sebagai suvenir.
Perjalanan overland tetap jadi pilihan utama ke Toraja
Didi L. Manaba, dari Iramasuka Tours & Travel, salah satu operator tur berbasis di Makassar, mengatakan bahwa semua obyek daya tarik wisata harus dijaga tetap otentik. Apalagi di Toraja, semua daya tarik yang ada merupakan perpaduan keindahan alam dengan budaya yang unik dan harus tetap dijaga dan dilestarikan.
‘’Mereka turun-temurun menjaga adat dan budaya keluarga. Ini yang membuat Toraja spesial,’’ ujar Didi.
Uji Senyari, dari Via Via Travel, operator tur inbound asal Yogyakarta, menyatakan bahwa Toraja masih layak dikunjungi oleh wisatawan mancanegara dan wisatawan Nusantara.
Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi destinasi Toraja adalah aksesibilitas. Penerbangan langsung dari Makassar sering dibatalkan karena kendala cuaca, selain harga tiketnya cukup tinggi.
Namun, jadwal penerbangan Makassar-Pallopo yang relatif lebih stabil menjadi alternatif yang akan dipertimbangkannya. Perjalanan darat dari Pallopo ke Toraja selama 2,5 jam dan itu tidak akan menghabiskan banyak waktu wisatawan.
‘’Ini mengingat, perjalanan overland dari Makassar ke Toraja selama delapan sampai 10 jam. Untuk stop over dan menginap di Pare-pare, ketersediaan akomodasinya masih kurang,’’ kata Uji.
Jalur kereta di Sulawesi Selatan baru sampai Pare-pare, dan masih membutuhkan waktu cukup lama untuk sampai ke Toraja. Oleh karena itu, Didi tetap merekomendasikan untuk menggunakan mobil dan bus dalam membuat paket perjalanan ke Tana Toraja.
Jalur perjalanan darat dari Makassar ke Toraja menawarkan beragam pemandangan, mulai dari perkotaan, sawah dan ladang, hingga jalan raya di tepi pantai ketika memasuki Kabupaten Barru. Dan pemandangan terbaik saat memasuki jalan berkelok di kaki Gunung Nona dan Latimojong di Kabupaten Enrekang sampai Toraja. ***(Yun Damayanti)