Tag: apgi

‘’DISCOVER THE NATURAL TREASURE’’ INDONESIA DI HOTEL BOROBUDUR JAKARTA

‘’DISCOVER THE NATURAL TREASURE’’ INDONESIA DI HOTEL BOROBUDUR JAKARTA

Tourism for Us – Kekayaan alam Indonesia merupakan harta karun yang tak ada habisnya untuk dijelajahi. Untuk menjaga dan melestarikan kekayaan ini, Hotel Borobudur Jakarta meluncurkan program bertajuk ‘’Discover the Natural Treasure’’ yang berlangsung selama bulan September 2025. Dengan melibatkan tamu yang menginap secara aktif, [more]

KLAIM LAHAN KEMAH DI GUNUNG: EDUKASI ETIKA PENDAKIAN UNTUK PETUALANGAN AMAN

KLAIM LAHAN KEMAH DI GUNUNG: EDUKASI ETIKA PENDAKIAN UNTUK PETUALANGAN AMAN

Tourism for Us – Pendakian gunung semakin meningkat, namun kesadaran akan pentingnya menjadi pendaki yang bertanggung jawab dan menghormati kelestarian lingkungan masih tergolong rendah. Untuk menjadikan pendakian yang aman, nyaman, dan ramah lingkungan, kolaborasi di antara berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pelaku pariwisata gunung, organisasi lingkungan, dan komunitas pendaki sangatlah penting.

(Credit to: Harley B. Sastha)

Rahman Mukhlis, Ketua Umum Asossiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI), mengungkapkan bahwa kondisi saat ini pendaki/pengunjung kurang mempunyai kesadaran untuk bertanggung jawab terhadap faktor kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan ketika melakukan pendakian di gunung.

Dalam siaran pers mengenai tanggapan APGI atas klaim lahan kemah/perkemahan di kawasan pendakian gunung yang viral saat ini, sebagai organisasi resmi pemandu gunung di Indonesia, APGI mendorong seluruh pelaku wisata pendakian untuk mematuhi aturan di tiap kawasan, termasuk soal penggunaan lahan kemah/perkemahan. Klaim sepihak bertentangan dengan etika dan regulasi yang berlaku.

Gunung adalah ruang publik yang digunakan/dimanfaatkan bersama. Oleh karena itu, pendakian merupakan aktivitas yang mengedepankan rasa saling menghormati dan menjaga solidaritas. APGI mengecam tindakan pengusiran atau pengklaiman lokasi lahan kemah/perkemahan, yang dapat merusak hubungan antarperndaki.

Setiap pengunjung, baik pendaki maupun pelaku pariwisata gunung, harus memahami bahwa kawasan pendakian adalah ekosistem yang rapuh. Klaim lahan tanpa kendali berisiko merusak vegetasi, habitat satwa, dan keaslian lingkungan. APGI menyerukan penerapan prinsip LEAVE NO TRACE dalam setiap kegiatan di gunung agar setiap aktivitas manusia yang dilakukan di sana tetap dapat melindungi alam dan satwa liar.

APGI juga menyatakan berkomitmen untuk membina pemandu gunung melalui pelatihan, sertifikasi, dan konsultasi agar memberikan layanan yang aman, etis, dan ramah lingkungan. Seluruh anggota APGI wajib menjunjung tinggi kode etik profesi.

‘’Kami sedang mendalami data dan informasi di lapangan (terkait klaim lahan kemah/perkemahan). Jika kami menemukan ada oknum anggota yang terlibat dan terbukti menyalahi kode etik dan perilaku profesi, akan kami tindak lanjuti sesuai peraturan organisasi APGI,’’ kata Ketua APGI.  

APGI mengajak seluruh operator tur/biro perjalanan wisata khususnya wisata gunung, pendaki, dan pengelola kawasan untuk bersama-sama menciptakan ekosistem wisata pendakian gunung yang adil, harmonis, dan berkelanjutan. Asosiasi ini siap bekerja sama dengan semua pihak dalam menjaga integritas dan kelestarian gunung sebagai ruang publik.

‘’Peran berbagai pihak dibutuhkan untuk berkolaborasi: untuk sosialisasi, edukasi terkait dengan regulasi yang ada, etika berkegiatan, juga membekali kompetensi (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) yang dibutuhkan untuk dapat menjadi pendaki yang bertanggung jawab agar bisa mewujudkan wisata pendakian gunung yang aman, nyaman, dan ramah lingkugan,’’ ujar Rahman.  

Dia menambahkan, ‘’Industri wisata gunung yang semakin berkembang pesat ini juga perlu pengembangan dari berbagai aspek tata kelola wisata pendakian gunung yang melibatkan para pihak terkait.’’  

Hal ini menunjukkan bahwa perlu upaya yang lebih besar dalam mendidik para pendaki tentang dampak aktivitas mereka terhadap alam. Dengan bekerja sama, kita dapat menciptakan program edukasi, pengelolaan jalur pendakian yang lebih baik, serta inisiatif pelestarian yang dapat menjaga keindahan alam untuk generasi mendatang. ***(Yun Damayanti) 

IMMS 2024 AKTIVASI “INDONESIA WILDERNESS MEDICINE SOCIETY” UNTUK KESELAMATAN PENDAKIAN GUNUNG YANG LEBIH BAIK

IMMS 2024 AKTIVASI “INDONESIA WILDERNESS MEDICINE SOCIETY” UNTUK KESELAMATAN PENDAKIAN GUNUNG YANG LEBIH BAIK

Tourism for Us – Pendakian gunung semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia. Aktivitas luar ruang (outdoor) ini kemudian berkembang menjadi aktivitas rekreasi atau wisata. Dan perkembangannya sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan yang pesat itu memberikan dampak positif bagi pemberdayaan masyarakat dan perekonomian lokal. [more]

KEMENPAREKRAF DAN APGI SEPAKATI 7 PRINSIP WISATA GUNUNG INDONESIA

KEMENPAREKRAF DAN APGI SEPAKATI 7 PRINSIP WISATA GUNUNG INDONESIA

Tourism for Us – Dengan semakin meningkatnya jumlah wisatawan datang ke gunung untuk melakukan berbagai aktivitas luar ruang, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) merumuskan dan menyepakati tujuh prinsip wisata gunung Indonesia yang berkelanjutan. Ketujuh prinsip itu dirumuskan dan [more]

INDONESIA MOUNTAIN TOURISM CONFERENCE: MENJAGA DAN MENGEMBANGKAN PARIWISATA GUNUNG MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB BERSAMA

INDONESIA MOUNTAIN TOURISM CONFERENCE: MENJAGA DAN MENGEMBANGKAN PARIWISATA GUNUNG MERUPAKAN TANGGUNG JAWAB BERSAMA

Tourism for Us – Konferensi pertama pariwisata gunung Indonesia mengungkapkan, betapa besar volume dan nilai (value) wisata minat khusus ini. Pariwisata gunung semakin diminati oleh wisatawan yang datang ke gunung untuk melakukan aktivitas pendakian (hiking, trekking). Perkembangannya diprediksi meningkat hingga tiga kali lipat dari sebelum pandemi. Kegiatan wisata di gunung sudah menjadi industri yang menyerap banyak talenta dan tenaga kerja lokal. Pariwisata di gunung-gunung Indonesia membutuhkan perhatian dan aksi serius dari semua pemangku kepentingan.

Indonesia Moutain Tourism Conference 2023 dihadiri lintas K/L seperti Kemenparekraf dan KLHK serta perwakilan pemda, anggota APGI maupun asosiasi-asosiasi perjalanan dan petualangan seperti FMI, IATTA, ASITA dan ASTINDO, tokoh dan pegiat wisata gunung, produsen outdoor gears, akademisi, komunitas serta media dan influencer. (Foto: Yun Damayanti)

Indonesia Mountain Tourism Conference (IMTC) telah berlangsung pada hari Rabu, 27 September 2023, di Hotel Santika Premier Hayam Wuruk Jakarta. Konferensi berlangsung selama sehari penuh dan diikuti 125 peserta yang hadir langsung dan 281 peserta mengikutinya secara daring (online). Konferensi pertama mengenai pariwisata gunung di Indonesia ini diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI).

Dalam sambutannya saat meresmikan IMTC 2023, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kemenparekraf Vinsensius Jemadu mengatakan, menurut laporan Adventure Travel Trade Association (ATTA) wisata gunung merupakan salah satu tren perjalanan pascapandemi COVID-19.

Selain itu, menurut data yang dihimpun oleh APGI, total 150 ribu wisatawan mancanegara (wisman) dan tiga juta pendaki domestik mendaki gunung-gunung di Indonesia sepanjang tahun 2019. Nilai dari pariwisata gunung pada tahun itu mencapai USD 150 juta. APGI merilis data tersebut pada tahun 2020.

Indonesia memilki 400 gunung. 127 diantaranya adalah gunung berapi aktif yang tidak semua negara di dunia memilikinya. Ini merupakan potensi luar biasa Indonesia yang bisa dikembangkan dan dimajukan sehingga memberi dampak signifikan kepada masyarakat di sekitarnya.

‘’Kita punya angka yang besar sekali di pariwisata gunung. Itu sangat signifikan dan perlu perhatian. Tujuan konferensi ini adalah mensosialisasikan betapa pentingnya wisata gunung di Indonesia yang mungkin selama ini belum menjadi perhatian serius baik dari pemerintah maupun dari para pemangku kepentingan lainnya. Kegiatan ini merupakan usaha kita bersama dalam merespon perkembangan wisata gunung yang cukup fenomenal dalam satu dekade terakhir,’’ ujar Deputi Visensius.

Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kemenparekraf mengingatkan, permintaan pasar semakin variatif dan menuntut standar pelayanan lebih tinggi dari tahun ke tahun. Kompetisi juga semakin meningkat. Pelaku industri wisata gunung pun harus semakin kreatif, produktif dan efisien.

Penyelenggaraan IMTC 2023 diharapkan dapat menghasilkan kesapakatan-kesapakatan agar pemangku kepentingan bisa meningkatkan pelayanan di wisata gunung. Karena pelayanan selalu berkorelasi dengan kualitas dan sumber daya manusia (SDM).

Perubahan teknologi, sosial budaya, kesehatan, juga bencana alam dan pasar yang semakin terbuka, serta kebijakan pemerintah ikut berperan dalam mendukung lingkungan bisnis wisata gunung menjadi semakin dinamis. Salah satu isu klise di Indonesia adalah kemajuan atau dinamika di lapangan sudah berkembang jauh sekali baru kemudian dibuat kebijakan dan peraturannya.

‘’Saya minta kepada APGI dan para pemangku kepentingan industri memberikan masukan dan insight kepada pemerintah selaku pembuat kebijakan. Agar kebijakan yang dihasilkan visioner, sifatnya jauh ke depan. Kebijakan-kebijakan yang sifatnya mitigatif, kita dapat lakukan. Jangan sampai, suatu perubahan atau kejadian terjadi terus tetapi kita tidak tahu mau mengacu ke aturan mana. Karena ini sering kali terjadi,’’ kata Visensius.

‘’Pemerintah daerah dan pemerintah pusat harus bergandengan tangan. Agar bisa memperbaiki bahkan juga meningkatkan kualitas tata kelola wisata gunung. Karena bagaimanapun good governance destination khususnya wisata gunung sangat penting. Ke depannya, kita semua mempunyai kesamaan pandangan terkait arah pengembangan wisata gunung ke depannya,’’ tambahnya,

(Sumber: Paparan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Nandang Prihadi pada IMTC 2023,)

Wisata di gunung juga harus menjadi pariwisata berkualitas. Kualitas wisata di gunung dilihat dari interaksi antara wisatawan dengan gunung itu sendiri dan masyarakat di sekitarnya. Lewat konferensi ini sekaligus mengedukasi masyarakat untuk mulai menerapkan prinsip-prinsip wisatawan gunung, trekkers dan hikers, yang bertanggung jawab.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dr. Nandang Prihadi, S.Hut., M.SC., menyatakan, ‘’We will go on to sustainable tourism. Quality tourism, itu yang kita inginkan. We are not going to have record of numbers of visitors or trekkers. We want quality of trekkers. Jadi yang kita inginkan adalah pendaki berkualitas, pendaki yang cerdas, dan pendaki yang bertanggung jawab.’’

Pihaknya sekarang mengedepankan social marketing. Artinya, promosi yang dilakukan bukan lagi mengundang sebanyak-banyaknya orang berkunjung tetapi mendidik, mencerdaskan, dan mengedukasi pengunjung mengenai pendakian ke gunung. Termasuk potensi-potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan dan keamanan pengunjung selagi menikmati keindahan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita.

Penguatan protokol dan SOP

Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi KLHK meminta  kepada  semua pihak, baik wisatawan atau pendaki maupun operator wisata dan pemandu, mengikuti dan mematuhi semua tata tertib pendakian yang ditetapkan oleh pengelola kawasan. Protokol dan SOP yang ditetapkan oleh pengelola guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

‘’Tolong! Ikuti tata tertib pendakian yang ditetapkan oleh pengelola. Ini adalah salah satu protokol. Protokol, SOP yang ditetapkan pengelola itu harus dipatuhi oleh para pengunjung dan pendaki. Mudah-mudahan tour operator dan para pemandu juga sudah memastikan pendaki yang akan bergabung atau yang dipandu oleh mereka sudah siap. Sudah paham. Sudah tahu pendakian. Punya fisik yang prima dan mampu,’’ tegas Nandang.

(Sumber: Paparan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Nandang Prihadi pada IMTC 2023,)

KLHK melihat, pendakian menjadi populer dan tren sekarang. Tetapi, banyak orang yang mendaki gunung tidak siap dan tidak terlatih. Mereka berpikir, pendakian merupakan suatu olahraga biasa yang mudah dan semua orang bisa melakukannya. Sampah anorganik dan organik ditinggalkan begitu saja karena nanti pasti ada petugas yang membersihkannya.

KLHK berharap, dengan semakin populernya kegiatan naik gunung, wisatawan yang datang punya bekal pemahaman kenapa tidak boleh membuat api, tidak boleh membawa barang-barang dari plastik, tidak buang air sembarangan dan seterusnya.

Membuat api untuk memasak dan api unggun pada malam hari untuk menghangatkan tubuh memang sudah biasa. Pendaki yang menginap di gunung harus memastikan, api sudah betul-betul padam sebelum meninggalkan tempat. Tidak ada bara api sekecil apapun sebelum melanjutkan perjalanan ke fase atau trek berikutnya. Api kecil adalah sahabat tetapi begitu membesar dia menjadi bahaya.

Tidak ada cleaning service khusus yang membersihkan gunung setiap saat. Sampah-sampah di gunung dibawa turun bersama-sama oleh petugas, relawan dan komunitas serta masyarakat. Membersihkan gunung dan membawa sampah turun bukan perkara mudah juga menghabiskan biaya besar.

Sisa-sisa bahan makanan yang dibawa ke gunung bila tidak diperlakukan dengan baik akan membuat hewan-hewan bergantung dari kedatangan manusia. Itu dapat mengancam karena mereka mungkin tidak bisa lagi beradaptasi hidup di alam liar. Kotoran manusia yang tidak diperlakukan dengan baik juga akan menjadi polutan yang mengotori tanah dan air. Selain tidak enak dilihat, itu pun dapat mengancam kesehatan pengunjung di gunung.

Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi KLHK mengakui, sarana dan prasarana yang ada belum optimal, seperti shelter, toilet, pengamanan, SDM dan lain-lain.

‘’Keadaan terus berubah. Kami harus menghadapi pengunjung. Kami menghadapi turis. Kami juga harus menjadi intepreter. Kami tidak dipersiapkan untuk itu. SDM yang ada dilatih untuk menjadi polisi kehutanan (polhut),’’ tutur Nandang.

Bagaimanapun, KLHK menyadari perlu meningkatkan kapabilitas SDM di internalnya melalui pelatihan-pelatihan. Selain itu, penguatan SOP dan peraturan terus didorong.

KLHK sedang merevisi PP Nomor 12 Tahun 2014 yang mengatur mengenai pemanfaatan jasa lingkungan di kawasan hutan konservasi. Di dalam revisi itu termasuk penerapan denda bagi mereka yang tidak mempunyai izin atau tiket masuk yang legal dan pelaku pelanggaran-pelanggaran lainnya. Denda yang diusulkan sebesar lima kali dari harga tiket masuk. Hal ini dilakukan agar dapat memberi efek jera. Revisi peraturan pemerintah ini sudah memasuki tahap akhir sebelum diundangkan.

Selain revisi PP Nomor 12 Tahun 20014, KLHK pun tengah mempersiapkan peraturan terkait asuransi. Salah satu tata kelola bahaya adalah pendaki atau pengunjung ke taman nasional harus mempunyai asuransi yang mencakup klaim biaya search and rescue.

‘’Peraturannya masih digodok. Kami juga butuh kejelasan dari perusahaan asuransi seperti apa. Asuransi itu akan dibebankan kepada pendaki, baik domestik maupun asing. Agar ketika Basarnas bekerja, mereka tidak kelimpungan,’’ pungkas Nandang.

(Foto: Yun Damayanti)

Rahman Mukhlis, Ketua Umum APGI, menerangkan, APGI selaku asosiasi profesi fokus pada kompetensi di wisata gunung. Saat ini, sebanyak 2000 pemandu gunung di bawah naungan APGI besertifikat secara nasional. Pemandu gunung bersertifikat ini tersebar di 21 provinsi.

‘’Kami sangat menyarankan kepada wisatawan yang hendak mendaki gunung untuk menggunakan pemandu-pemandu gunung bersertifikat. Itu dalam rangka mengedukasi dan memberikan layanan prima  bagi wisatawan. Dan dapat dipastikan, di destinasi-destinasi wisata gunung unggulan sudah ada pemandu yang bersertifikat,’’ kata Rahman.

Dengan ditemani pemandu gunung, keselamatan dan keamanan wisatawan lebih aman dan terjaga. Selain itu, pemandu gunung akan mengintepretasikan berbagai hal tentang gunung dan masyarakatnya. Sehingga perjalanan ke gunung lebih dari sekedar kegiatan fisik dan swafoto.

Sejatinya, perjalanan di gunung adalah sebuah proses management diri dan kerja sama tim. Bukan siapa yang terkuat atau tercepat mencapai puncak. Gunung tidak pernah menantang untuk ditaklukan. Kitalah sebenarnya yang ‘menaklukan’ diri sendiri.***(Yun Damayanti) 

INDONESIA MOUNTAIN TOURISM CONFERENCE AKAN JADI MOMEN PROMOSI PARIWISATA GUNUNG TANAH AIR

INDONESIA MOUNTAIN TOURISM CONFERENCE AKAN JADI MOMEN PROMOSI PARIWISATA GUNUNG TANAH AIR

Tourism for Us – Pelaku pariwisata gunung Tanah Air akan menggelar konferensi pertamanya minggu depan. The 1st Indonesia Mountain Tourism Conference (IMTC) akan berlangsung pada 27 September 2023 di Hotel Santika Premier Hayam Wuruk, Jakarta. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) [more]

AKTIVITAS NAIK GUNUNG DI PULAU DEWATA ADALAH SUATU ‘PENGALAMAN PENDAKIAN YANG BALI BANGET’

AKTIVITAS NAIK GUNUNG DI PULAU DEWATA ADALAH SUATU ‘PENGALAMAN PENDAKIAN YANG BALI BANGET’

Tourism for Us – Mendaki Gunung Agung adalah pendakian suci menuju istana para Dewa. Itu  bukanlah suatu pendakian biasa. Jalan menuju puncak tertinggi di Pulau Bali, dalam konteks pariwisata, sudah semestinya memberikan pengalaman naik gunung yang sangat berbeda daripada mendaki gunung-gunung lainnya di Indonesia. Arti [more]

APGI AKAN MEMBUAT GRADING JALUR PENDAKIAN GUNUNG DI INDONESIA

APGI AKAN MEMBUAT GRADING JALUR PENDAKIAN GUNUNG DI INDONESIA

Tourism for Us – Pariwisata pegunungan di Indonesia semakin berkembang. Peminat wisata gunung tidak lagi sebatas komunitas para pecinta alam. Melihat perkembangan itu, Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) menetapkan akan membuat Klasifikasi/Grading Jalur Pendakian Gunung di Indonesia. Grading ini ditujukan untuk memastikan keselamatan dan keamanan setiap orang selama berada di gunung juga menjaga kelestarian ekosistem yang ada di pegunungan.

Pemuteran di Buleleng,Bali,dikitari perbukitan yang menawarkan pemandangan menawan.(Foto: Santai Warung Pemuteran)

APGI baru saja selesai menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia VIII pada 16-17 Februari 2023. Setelah itu langsung dilanjutkan dengan Pelatihan Tenaga Pelatih/Training of Trainer Pemandu Wisata Gunung pada 18-19 Februari 2023 di Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

Ketua Umum APGI Rahman Mukhlis dalam keterangan tertulisnya mengatakan, APGI memasuki usia ke-7 tahun ini. Organisasi profesi pemandu gunung pertama dan satu-satunya di Indonesia berkomitmen meningkatkan kualitas  di segala aspek organisasi menuju level yang lebih baik dan lebih tinggi bagi organisasi, anggota, profesi pemandu gunung dan industri pariwisata.

‘’Karena tantangan ke depan semakin dinamis dan meningkat,’’ kata Rahman.

Rakernas APGI menghasilkan tujuh aspek program kerja organisasi pada tahun 2023 dan dua hal strategis yang akan dilaksanakan.

Ketujuh aspek program kerja tahun 2023 meliputi: pengembangan standar kompetensi pemandu wisata gunung; peningkatan kapasitas SDM baik untuk pengurus, anggota, maupun instruktur dan asesor; penyelenggaraan kepengurusan/tata kelola organisasi; pengelolaan keuangan; hubungan kerja sama antarlembaga; pengelolaan media informasi dan komunikasi; dan pengabdian masyarakat dan lingkungan.

Adapun dua hal strategis yang akan dilaksanakan adalah menetapkan Klasifikasi/Grading Jalur Pendakian Gunung di Indonesia yang diharapkan dapat memberikan referensi bagi para pemangku kepentingan terkait pengembangan wisata gunung di Indonesia. Dan menetapkan Mars APGI.

Program kerja DPP APGI 2022-2025 adalah salah satu cara mewujudkan visi besar organisasi ‘’APGI Juara Indonesia Jaya’’. Untuk itu, APGI selaku organisasi profesi juga membutuhkan kerja sama dari semua pihak baik di internal organisasi maupun dengan para pemangku kepentingan terkait.***(Yun Damayanti)