Tourism for Us – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan sebanyak 16 juta hingga 17,60 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan devisa pariwisata sebesar 22 hingga 24,7 miliar dolar AS pada 2026. Sementara itu, perjalanan wisatawan Nusantara (wisnus) di dalam negeri ditargetkan 1,18 miliar. Pernyataan tersebut disampaikan [more]
Tourism for Us – Perubahan tren perjalanan global memberikan peluang bagi Indonesia untuk meraih manfaat melalui berbagai strategi, seperti mendesain ulang paket wisata dan menyeimbangkan antara peluang dan tantangan. Dengan pendekatan ini, diharapkan investasi di sektor pariwisata dapat tetap menguntungkan dan berkelanjutan. Deputi Bidang Industri [more]
Tourism for Us – Pariwisata Indonesia berada dalam posisi yang sangat strategis, terutama dengan adanya tiga tren global yang berpotensi mengubah secara mendasar industri perjalanan. Ketiga tren ini menciptakan peluang besar bagi sektor pariwisata, yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif. Dengan strategi yang tepat, beberapa tahun ke depan bisa menjadi momen krusial untuk mewujudkan visi tersebut.
(Foto: Yun Damayanti)
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan bahwa pariwisata telah diakui sebagai mesin pertumbuhan ekonomi dunia yang vital, dengan dampak sosial yang luas dan signifikan. Pada tahun 2023, sektor pariwisata berkontribusi sekitar 10 persen terhadap PDB global dan menciptakan lapangan kerja bagi 330 juta orang di seluruh dunia. Sementara itu, di Indonesia, Bank Mandiri memperkirakan bahwa kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional mencapai 4,9 persen pada semester I tahun 2025 dan menyerap 25,88 juta tenaga kerja. Hal ini disampaikannya saat membuka Indonesia Tourism Outlook 2026 yang diinisiasi oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) di Hotel Artotel Harmoni Jakarta, Rabu (29/10/2025).
Kemudian, Menpar Widiyanti juga mengatakan bahwa Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengidentifikasi tiga tren global yang secara funndamental dapat mengubah lanskap industri perjalanan dan membuka peluang besar bagi sektor pariwisata Indonesia di masa mendatang.
Tren pertama adalah perubahan sumber wisatawan outbound. Sebelumnya, sumber pasar wisatawan didominasi oleh Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur. Namun, negara-negara di Amerika Selatan, Asia Selatan, dan Timur Tengah, bahkan juga termasuk Indonesia, diperkirakan akan masuk dalam 15 besar sumber pasar wisatawan outbound dunia pada 2040. Hal ini didasarkan pada proyeksi pertumbuhan populasi kelas menengah, peningkatan pendapatan per kapita, dan index harga konsumen.
‘’Kondisi ini menegaskan pentingnya menyesuaikan penawaran pariwisata Indonesia agar tetap relevan dan menarik bagi segmen wisatawan baru, sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan pariwisata minat khusus, salah satunya adalah pariwisata ramah muslim,’’ ujar Menpar Widiyanti.
Menurut CrescentRating, pada 2030 total pengeluaran wisatawan muslim diperkirakan mencapai lebih dari 235 miliar dollar AS. Dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki ekosistem dan fasilitas yang mendukung kebutuhan wisatawan muslim.
‘’Hal ini memberikan Indonesia keunggulan kompetitif untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi ramah muslim di tingkat global,’’ tambahnya.
Tren kedua adalah perubahan demografi wisatawan. Generasi Z dan Milenial kini menjadi motor baru pertumbuhan pariwisata dunia dengan minat berwisata yang tinggi. Oleh karena itu, pariwisata Indonesia perlu menghadirkan pengalaman yang sesuai dengan preferensi generasi ini.
Generasi muda cenderung mencari inspirasi melalui media sosial, kreator perjalanan, dan generative AI. Sebanyak 52 persen pasar Gen Z mengutamakan pengalaman yang bermakna dan naratif. Mereka rela membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman berwisata yang berkesan.
‘’Perubahan ini membuka peluang besar bagi promosi pariwisata Indonesia dengan pendekatan digital yang terarah dan berbasis pengalaman. Dengan strategi yag tepat, kita dapat menjangkau pasar global secara lebih efisien dan personal,’’ kata Menteri.
Tren ketiga adalah perubahan pola pemilihan destinasi. Destinasi yang sebelumnya bukan Top of Mind atau hanya menjadi detour destination kini semakin diminati oleh wisatawan.
‘’Di kawasan Asia Tenggara, proporsi kunjungan ke destinasi semacam ini diperkirakan meningkat dari 24 persen pada 2023 menjadi 30 persen pada 2030. Ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengemas ulang dan memperkaya produk wisata dengan menggabungkan destinasi populer dan destinasi niche di sekitarnya untuk menciptakan paket yang lebih otentik,’’ tutur Menpar.
Mewakili asosiasi inbound tour operator Indonesia (IINTOA) di acara Indonesia Tourism Outlook 2026, Hasiyana S. Ashadi mengungkapkan bahwa mitra-mitra kerja di luar negeri semakin mencari aktivitas di luar ruangan dalam beberapa tahun terakhir. Aktivitas yang memungkinkan wisatawan mancanegara (wisman) berada di alam lebih lama, selain dari program-program yang sudah tetap, selama di destinasi.
Pada kesempatan terpisah, DPD ASITA Jawa Barat menyatakan bahwa beberapa operator tur dari luar negeri yang mengikuti perjalanan pengenalan (famtrip) railways tourism di Jawa Barat pada bulan Oktober ini memberikan respon positif. Mereka tidak menyangka bahwa ada begitu banyak daya tarik selain Bandung. Beberapa daya tarik yang diperkenalkan itu, menurut mereka, dapat langsung diolah karena ada permintaan.
Lebih lanjut, Menpar menegaskan kembali bahwa Kemenpar telah menyiapkan sejumlah program unggulan unntuk memaksimalkan peluang tersebut. Di antaranya, Pariwisata Naik Kelas, Event by Indonesia, Desa Wisata, Tourism 5.0, dan Gerakan Wisata Bersih. Semua program itu berlandaskan pada visi pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.
‘’Selain itu, tahun depan, kami juga akan menambah fokus pada peningkatan keselamatan pariwisata, terutama di destinasi alam yang masih rawan insiden. Kami akan bekerja sama dengan Basarnas untuk melaksanakan berbagai pelatihan keselamatan bagi pelaku wisata dan masyarakat sekitar destinasi,’’ katanya.
Menutup paparannya, Menpar Widiyanti mengajak seluruh pihak untuk terus mendukung kemajuan pariwisata Indonesia, termasuk peran media yang sangat penting dalam membentuk narasi dan persepsi positif tentang pariwisata Indonesia di mata dunia.
‘’Pariwisata Indonesia kini berada di titik strategis, tren global berpihak pada kita, dan strategi kita sudah jelas. Beberapa tahun ke depan adalah momentum penting untuk mewujudkan pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif. Saya berharap rekan-rekan wartawan terus menyebarkan berita baik serta mempromosikan pariwisata Indonesia agar mengenal negeri ini melalui keindahan alam, keramahan bangsa, dan kekayaan budayanya,’’ pungkas Menpar Widiyanti. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia sebagai destinasi belum mengalami overtourism. Karena kunjungan wisatawan belum tersebar merata ke seluruh pulau. Tetapi benar, di destinasi-destinasi pariwisata tertentu, terutama di destinasi-destinasi primadona, sudah mengalami gejala-gejala dan/atau memasuki overtourism. Dan destinasi-destinasi pariwisata baru yang [more]
Tourism for Us – Pariwisata Indonesia beserta industrinya akan menghadapi tiga issue besar pada tahun 2025 yaitu beberapa destinasi favorit sudah menghadapi gejala-gejala overtourism, tantangan untuk menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan (sustainability) dalam membangun destinasi wisata dan mengembangkan bisnis, serta kegamangan pelaku industri pariwisata menghadapi disrupsi artificial [more]
Tourism for Us – Pemerintah memproyeksikan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dapat mencapai antara 11 juta hingga 11,5 juta pada akhir tahun 2023. Oleh karena itu, pemerintah optimis menargetkan 14 juta wisman pada 2024. Dan lifestyle-centric yang menawarkan keindahan lansekap dan kuliner akan menjadi kunci pemasaran destinasi, menurut Check-in Asia.
Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), menyelenggarakan Indonesia Tourism Outlook 2024, Selasa, (28/11/2023), di Hotel AOne Jakarta. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno (ketiga kiri) hadir sebagai narasumber utama. Sesi pertama juga menghadirkan Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang juga Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Hariyadi Sukamdani (kedua kiri), Director of Check-in Asia Gary Bowerman (kedua kanan), dan Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf/Baparekraf Agustini Rahayu (kanan). Ketua Forwaparekraf Pasha Ernowo (ketiga kanan) dan moderator sesi pertama Tiara Maharani dari TTG Asia (kiri),
Kedua hal tersebut terungkap di Indonesia Tourism Outlook 2024 (ITO) yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) Selasa, (28/11/2023), di Hotel AOne Jakarta. Indonesia Tourism Outlook 2024 mengangkat tema ‘’Peluang dan Tantangan Investasi untuk Pariwisata Berkelanjutan’’. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno hadir sebagai narasumber utama.
‘’Capaian kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia tahun ini sekitar 11 juta atau di atas target 8,5 juta. Pada 2024 kita menargetkan 14 juta kunjungan wisman. Atau masih di bawah capaian 2019 sebesar 16,11 juta. Kita optimis di tahun 2025 sektor pariwisata akan pulih seperti semula,’’ ujar Menparekraf Sandiaga Uno.
Untuk mencapai target 14 juta kunjungan wisman pada 2024, pariwisata inbound Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan. Pertama adalah bagaimana memperkuat konektivitas penerbangan dari negara-negara sumber wisman dan menyediakan kursi pesawat (seat) yang mencukupi.
Tantangan kedua adalah menyebarkan wisman ke berbagai destinasi unggulan setelah berada di Indonesia. Bali sebagai magnet utama menarik kunjungan wisman diharapkan dapat menyebarkannya ke destinasi-destinasi lain.
Untuk itu, pemerintah gencar mempromosikan ‘Bali and Beyond’ terutama ke lima destinasi pariwisata super prioritas (DPSP) Danau Toba (Sumatera Utara), Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), dan Likupang (Sulawesi Utara).
Kemudian, sejumlah lembaga internasional memprediksikan berbagai tantangan yang akan dihadapi di tingkat global pada 2024 seperti konflik geopolitik, gejolak perekonomian, hingga krisis lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan sektoral termasuk industri perjalanan.
Guna menghadapi situasi global yang tidak menentu, pemerintah masih akan terus mendorong pariwisata domestik sebagai kekuatan pariwisata nasional tahun depan. Untuk menggerakan perjalanan domestik pun tantangan yang dihadapi tidak jauh berbeda dengan mendatangkan perjalanan internasional (inbound).
Salah satu tantangan yang harus segera dapat diatasi adalah mencapai tingkat harga tiket pesawat yang terjangkau oleh wisatawan Nusantara (wisnus). Sehingga mereka dapat melakukan perjalanan mengunjungi berbagai destinasi di dalam negeri. Konektivitas udara juga berperan penting dalam menyukseskan kampanye ‘Bangga Berwisata di Indonesia’ dan #DiIndonesiaAja.
Menparekraf Sandiaga menerangkan, Indonesia mempunyai pertumbuhan ekonomi yang baik sehingga diharapkan itu mampu mendorong daya beli masyarakat dan meningkatkan perjalanan di dalam negeri pada 2024. Target perjalanan domestik tahun depan masih berkisar 1,2 hingga 1,4 miliar perjalanan.
‘’Meskipun perekonomian global diproyeksikan akan terjadi perlambatan, namun tren pertumbuhan perekonomian nasional diprediksi masih akan terus kuat di 2024, mencapai 5 persen, menurut IMF dan OECD. Angka tersebut cukup tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan perekonomian negara-negara kuat seperti Tiongkok dan Amerika Serikat. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan India,’’ jelas Menparekraf Sandiaga Uno..
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang juga Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Hariyadi Sukamdani mengatakan, daya beli masyarakat yang menurun menjadi kendala dalam meningkatkan pariwisata dalam negeri.
‘’Daya beli masyarakat belum rebound. Jika dibiarkan, ini bisa terjadi stagnasi. Pada periode festivities seperti Natal dan Tahun Baru tidak ada masalah. Tetapi, di luar periode tersebut kan juga harus pikirkan. Daya beli wisman tidak ada masalah. Terkait harga tiket pesawat, ya, itu memang menjadi tantangan baik bagi pasar domestik maupun mancanegara,’’ ucap Haryadi.
Selanjutnya, penting sekali untuk menyinkronkan program promosi bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pelaku usaha industri pariwisata agar dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.
Gary Bowerman, Director of Check-in Asia, menyarankan, Indonesia harus mulai menaruh perhatian besar terhadap pasar Tiongkok dan India. Kedua negara tersebut diperkirakan, akan menjadi pasar dengan pertumbuhan tertinggi tahun depan.
‘’Bagaimana menemukan strategi pemasaran yang tepat agar dapat menarik minat wisatawan Cina dari berwisata hanya di dalam negeri menuju berbagai destinasi di Asia Tenggara, terutama Indonesia,’’ kata Gary.
Selain itu, Gary mengungkapkan, highlight pemasaran destinasi sekarang adalah lifestyle-centric yang menawarkan dua komponen utama yaitu landscape dan cuisine. Dia mencontohkan salah satunya adalah perjalanan dengan kereta (train travel) yang sekarang banyak dipilih oleh wisatawan.
‘’Train travel is tourism experience. It is much used in tourism right now. Like theme train that brings travelers enjoy the landscape, the cuisine and the culture,’’ tutur Gary.
Gary salut dengan kehadiran kereta cepat di Indonesia. Perjalanan dengan kereta juga terus berkembang di kawasan Asia Tenggara yang mana nantinya akan menghubungkan antarnegara di kawasan ini.
Perjalanan kereta di masa depan mungkin bukan lagi perjalanan yang lambat (slow travel). Karena Cina kini tengah menguji coba kereta berkecepatan hingga 1000 kilometer/jam.
Ketua Forwaparekraf Pasha Ernowo dalam sambutannya mengatakan, dipilihnya tema ‘’Peluang dan Tantangan Investasi untuk Pariwisata Berkelanjutan’’ mengingat Indonesia punya kekayaan alam melimpah dan geografis yang mendukung maka sudah saatnya untuk lebih fokus terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).
ITO 2024 juga disponsori oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan didukung oleh Jambuluwuk Hotels & Resorts, Sariayu Martha Tilaar, Intiwhiz Hospitality Management, Bookcabin by Lion Group, Amarylis Boutique Resort, Wings Group, dan MEG Cheese.***(Yun Damayanti)