Tourism for Us – Golf adalah salah satu olahraga yang sangat digemari di Korea Selatan. Potensi wisata golf di Indonesia untuk menarik wisatawan dari Korea Selatan perlu dikelola dengan lebih serius, mengingat tersedianya lapangan golf berkualitas internasional. Selain itu, dukungan aksesibilitas yang baik dan akomodasi [more]
Tourism for Us – Penutupan wilayah udara Iran pada periode 28 Februari hingga 28 Maret 2026 telah menyebabkan gangguan penerbangan di enam hub utama penerbangan global, yakni Abu Dhabi dan Dubai (Uni Emirat Arab), Doha (Qatar), Jeddah dan Madinah (Arab Saudi), dan Muscat (Oman). Penutupan [more]
Tourism for Us – Pemerintah Indonesia mendorong dua maskapai penerbangan Jepang, Japan Airlines (JAL) dan All Nippon Airways (ANA), untuk memperluas layanannya ke berbagai destinasi di luar Jakarta dan Denpasar, Bali. Pemerintah juga mendorong kedua maskapai tersebut untuk terbang langsung ke Yogyakarta yang kaya akan budaya dan keindahan alam, serta didukung bandara internasional baru, Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), yang dapat mengakomodasi pesawat berbadan lebar dan menampung lebih banyak penumpang. Bagaimanapun, konektivitas udara sangat penting untuk mendatangkan wisatawan Jepang ke Indonesia.
(Sumber Foto: Birkompublik Kemenpar)
Dalam kunjungan kerja ke Jepang, Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana melakukan pertemuan dengan Japan Airlines dan All Nippon Airways di Tokyo, Senin (30/3/2026). Pertemuan itu membahas terkait memperkuat konektivitas udara dan kolaborasi promosi pariwisata antara Indonesia dan Jepang.
Pada tahun 2025, wisatawan Jepang yang berkunjung ke Indonesia tercatat sebanyak 380 ribu orang, meningkat lebih dari 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, wisatawan Indonesia yang berkunjung ke Jepang mencapai lebih dari 636 ribu orang pada periode yang sama.
Saat ini, kapasitas kursi penerbangan langsung antara Indonesia dan Jepang sekitar 685 ribu kursi per tahun dengan 46 penerbangan per minggu. Ini masih berada di bawah potensi permintaan perjalanan wisata dari kedua negara.
‘’Konektivitas udara merupakan faktor kunci dalam memperkuat arus wisatawan antara Indonesia dan Jepang. Kami berharap, JAL dapat mengeksplorasi peluang memperluas layanan ke Indonesia, termasuk penambahan frekuensi penerbangan ke Bali, serta membuka akses menuju destinasi prioritas seperti Yogyakarta,’’ ujar Menpar pada pertemuan dengan JAL.
Yogyakarta dinilai memliki potensi besar bagi wisatawan Jepang karena kekayaan warisan budaya serta kedekatannya dengan Candi Borobudur, salah satu situs warisan dunia UNESCO. Destinasi ini juga didukung oleh Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) yang mampu melayani pesawat berbadan lebar.
Selain itu, pengembangan konektivitas juga dapat diperluas dari kota-kota besar lainnya di Jepang, seperti Osaka, sehingga memberikan lebih banyak akses bagi wisatawan Jepang untuk menjangkau berbagai destinasi unggulan di Indonesia.
‘’Kami melihat peluang besar untuk memperluas konektivitas antara Indonesia dan Jepang, tidak hanya melalui Jakarta, tetapi juga menuju destinasi lain seperti Yogyakarta. Penguatan konektivitas ini akan membuka akses yang lebih luas bagi wisatawan Jepang untuk menikmati kekayaan budaya, alam, dan pengalaman wisata berkualitas di Indonesia,’’ kata Menpar saat bertemu dengan ANA.
Selain konektivitas, pada pertemuan-pertemuan tersebut juga dibahas mengenai peluang kolaborasi promosi pariwisata melalui berbagai platform milik JAL dan ANA, termasuk in-flight magazine, kanal digital, dan jaringan JAL Milleage Bank dan ANA Milleage Club, yang dapat terintegrasi dengan kampanye Wonderful Indonesia. Kementerian Pariwisata juga mendorong penyelenggaraan familiarization trip (famtrip) bagi agen perjalanan, media, dan influencer Jepang untuk meningkatkan pemahaman pasar serta memperluas promosi destinasi Indonesia di Jepang, serta partisipasi dalam berbagai ajang pariwisata di Jepang, seperti Tourism Expo Japan. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Aksesibilitas dan promosi destinasi merupakan tantangan utama yang dihadapi sektor pariwisata Indonesia sepanjang tahun 2025. Jika tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan dari pemerintah, pelaku industri pariwisata akan terus menghadapi masalah serupa pada tahun 2026. Dalam refleksi akhir tahun 2025, Association [more]
Tourism for Us – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, lebih dari 49 persen atau sekitar 820 ribu wisatawan Australia datang ke Indonesia untuk menikmati keindahan bahari. Oleh karena itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berkolaborasi dengan Katembe Indonesia menyelenggarakan kegiatan familiarization trip (famtrip) bertema [more]
Tourism for Us – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan sebanyak 16 juta hingga 17,60 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dan devisa pariwisata sebesar 22 hingga 24,7 miliar dolar AS pada 2026. Sementara itu, perjalanan wisatawan Nusantara (wisnus) di dalam negeri ditargetkan 1,18 miliar.
Desa Penglipuran.(Foto: Yun Damayanti)
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana dalam peluncuran buku Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 pada forum Wonderful Indonesia Outlook (WIO) 2025/2026 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Kamis (20/11/2025).
Dalam kesempatan itu, Menpar Widiyanti juga memaparkan pemetaan enam tren wisata yang mewarnai pariwisata di tahun 2026 yakni, pariwisata ramah lingkungan (eco-friendly tourism), pengalaman budaya yang mendalam (cultural immersion), pariwisata berbasis alam dan petualangan (nature and adventure based tourism), pariwisata gastronomi dan kuliner (culinary and gastro tourism), perjalanan bisnis dan wisata (bleisure), dan pariwisata kebugaran (wellness tourism).
‘’Keenam tren ini dapat menjadi referensi bagi para pelaku industri untuk mengembangkan produk-produk wisata yang lebih beragam, namun tetap relevan, terkurasi, dan sesuai dengan karakteristik pasarnya,’’ ujarnya.
Selain itu, terdapat tiga faktor yang membentuk masa depan perjalanan yaitu, kemajuan teknologi, kepedulian terhadap pariwisata berkelanjutan, dan meningkatnya kebutuhan personalisasi. Sekarang wisatawan banyak memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk merancang liburan.
‘’Survey Skyscanner menunjukkan bahwa pada 2026 sebanyak 54 persen wisatawan akan merasa lebih percaya diri merancang liburannya dengan hubungan AI. Kecakapan digital ini membuat wisatawan semakin cermat dan menggeser fokus dari where to go menjadi what to experience,’’ katanya.
Lebih lanjut Menpar mengatakan, ‘’Sebanyak 52 persen dari Gen Z memilih pengeluaran uang lebih untuk pengalaman wisata, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan generasi sebelumnya.’’ Hal ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkaya produk wisata, menggabungkan destinasi populer dengan destinasi minat khusus di sekitarnya.
Peluncuran buku Indonesia Tourism Outlook 2025/2026
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) meluncurkan buku Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 pada forum Wonderful Indonesia Outlook (WIO) 2025/2026 minggu lalu. Buku ini menyajikan gambaran komprehensif mengenai lanskap pariwisiata global dan nasional, serta memaparkan hasil analisis dinamika kepariwisataan terkini, dan proyeksi tren sektor pariwisata ke depan. Buku disusun bersama dengan Kementerian PPN/Bappenas dan Bank Indonesia.
‘’Kami di Kemenpar berharap, apa yang telah kami rangkum dalam Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 dapat menjadi pemahaman dan panduan bersama, dalam mengusahakan sektor pariwisata ke depannya,’’ ucap Menpar Widiyanti dalam sambutannya.
Selain peluncuran buku, juga dilaksanakan forum diskusi untuk memperkuat pemahaman bersama mengenai pentingnya peran pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Direktur Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Digital Kementerian PPN/Bappenas Wahyu Wijiyanto dan Kepala Grup Sektoral dan Regional Bank Indonesia Tri Yanuarti hadir sebagai narasumber dalam diskusi.
Direktur Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Digital Kementerian PPN/Bappenas Wahyu Wijiyanto menguraikan bahwa penerapan pariwisata berkualitas di semua destinasi secara umum membaik, terutama didukung oleh pilar keberlanjutan dengan berbagai inisiatif pengelolaan destinasi ramah lingkungan, dan upaya pemetaan destinasi, termasuk penerapan visitor management yang mengacu pada carrying capacity.
‘’Hasil pengukuran indikator QT akan menjadi alat evaluasi dan dasar bagi strategi implementasi pariwisata berkualitas ke depan dan mengidentifikasi area yang perlu ditingkatkan, yang menekankan perlunya kolaborasi multipemangku kepentingan,’’ kata Wahyu.
Kepala Grup Sektoral dan Regional BI Tri Yanuarti mengatakan bahwa pariwisata global terus tumbuh dengan pergeseran menuju pengalaman perjalanan yang personal, berkualitas, dan berkelanjutan. Sektor parwisata Indonesia menunjukkan pemulihan paspcapandemi yang kuat, baik dalam hal kinerja bisnis, mobilitas wisnus, dan penerimaan devisa.
Menurut Tri, upaya yang dilakukan untuk pengembangan pariwisata di masa mendatang meliputi: fokus pada pariwisata berkualitas, pemanfaatan AI, pemanfaatan kebijakan moneter dan sistem pembayaran BI yang mendukung, termasuk sistem QRIS.
‘’Jadi, upaya kita untuk mendorong perbaikan pariwisata ke depan itu bisa lebih targeted, lebih fokus kepada aspek-aspek yang memang harus kita perhatikan untuk bisa meningkatkan pariwisata ke depan,’’ kata Tri. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) meluncurkan kampanye baru ‘‘Wonderful Indonesia: Go Beyond Ordinary’’ untuk mempromosikan pariwisata Indonesia di pasar internasional. Kampanye ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi merek Wonderful Indonesia sebagai destinasi pariwisata yang otentik, berkelanjutan, dan berkualitas tinggi. Inisitatif itu juga [more]
Tourism for Us – Kini, wisatawan India suka sekali berkunjung ke Candi Borobudur. Mereka terpesona oleh keindahan candi Buddha terbesar di dunia ini, yang juga diakui sebagai salah satu warisan dunia oleh UNESCO. Candi Borobudur menjadi daya tarik favorit setelah Bali. Seiring dengan meningkatnya jumlah [more]
Tourism for Us – Buku ‘’Wisata Rasa di Bumi Pasundan’’ bisa menjadi panduan praktis bagi pelaku pariwisata untuk mengembangkan wisata gastronomi di Jawa Barat.
Peluncuran buku ‘’Wisata Rasa di Bumi Pasundan’’, Minggu (19/10/2025), di Bandung, dihadiri langsung Menpar Widiyanti Putri Wardhana dan Kepala Disparbud Jawa Barat Iendra Sofyan (kedua dari kanan), dan stakeholders lainnya. (Foto: Birkompublik Kemenpar)
‘’Buku ini dapat menjadi panduan praktis bagi para pelaku wisata tour operator, travel agent, serta masyarakat dalam merancang pola perjalanan wisata rasa yang otentik, berkarakter lokal, dan berdaya saing global. Dari gurihnya nasi tutug oncom, segarnya karedok, manisnya burayot, setiap hidangan menghadirkan narasi tunggal yang kaya dan bermakna,’’ ujar Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana, pada saat peluncuran buku ‘’Wisata Rasa di Bumi Pasundan’’, Minggu (19/10/2025), di Bandung, Jawa Barat.
‘’Wisata Rasa di Bumi Pasundan’’ menyajikan kumpulan yang telah dikurasi dari sisi pengalaman wisata gastronomi. Buku ini menyajikan panduan yang memugkinkan wisatawan menikmati rasa otentik sekaligus berkelanjutan di Jawa Barat.
Penyusunan buku ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor antara pemerintah daerah, pelaku industri, komunitas gastronomi, akademisi, dan konsultan kreatif. Peluncuran buku ini sejalan dengan program pariwisata berkualitas atau pariwisata naik kelas yang menjadi fokus Kementerian Pariwisata (Kemenpar).
Gastronomi bagi Indonesia bukan sekedar kuliner, tetapi sebuah ekosistem yang melibatkan berbagai pihak mulai dari petani, peternak, nelayan, pengrajin, chef, hingga masyarakat. Dari ladang hingga meja makan (from farm to table), gastronomi berperan penting dalam menggerakkan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, dan memperkuat pariwisata berbasis komunitas. Pendekatan ini memperkuat rantai nilai pariwisata untuk menarik lebih besar banyak wisatawan berkualitas yang memberikan dampak ekonomi.
Lebih lanjut, Menpar mengatakan bahwa kuliner Indonesia juga semakin dikenal dan dikagumi masyarakat internasional dalam beberapa waktu terakhir. TasteAtlas dalam publikasinya menempatkan kuliner Indonesia di peringkat ke-7 dunia dan pertama di Asia Tenggara. Enam kota di Indonesia, termasuk Bandung, bahkan tercatat masuk dalam daftar 100 Best Food Cities.
‘’Sinergi antara kuliner dan pariwisata melahirkan pengalaman yang otentik, berkarakter, dan bernilai tambah tinggi. Inilah yang menjadi daya tarik bagi wisatawan berkualitas. Mereka mencari pengalaman wisata yang mendalam untuk menikmati rasa, budaya, dan mempelajari kisah di balik setiap lini kuliner Indonesia,’’ jelasnya.
‘’Dengan demikian, pengembangan wisata gastronomi tidak hanya berfokus pada kuliner sebagai produk, tetapi juga sebagai cerita dan pengalaman otentik yang memperkuat karakter destinasi Indonesia,’’ kata Menpar Widiyanti.
Ketua DPD ASITA Jawa Barat Daniel G. Nugraha mengatakan bahwa dengan telah dirilisnya buku mengenai pariwisata gastronomi di Jawa Barat diharapkan lebih banyak lagi pelaku tour planner dan tour operator yang berani membuat rute-rute perjalanan berbasis gastronomi. Menurutnya, wisata gastronomi ini bisa disandingkan dengan wisata berbasis kereta api yang sedang dikembangkan di Jawa Barat.
‘’Beberapa rute kereta api melintasi kabupaten/kota yang memiliki tidak hanya daya tarik keindahan alam dan budaya, tetapi juga potensi wisata gastronomi,’’ kata Daniel.
Turut hadir dalam peluncuran buku ‘’Wisata Rasa di Bumi Pasundan’’ adalah Walikota Bandung Muhammad Farhan, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Provinsi Jawa Barat Iendra Sofyan, serta perwakilan dari ASITA Jawa Barat, PHRI Jawa Barat, GIPI Jawa Barat, dan tim Indonesia Gastronomy Netwok (IGN). ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Penetapan Undang-undang tentang Kepariwisataan yang menggantikan Undang-undang No. 10/2009 tentang Kepariwisataan menunjukkan bahwa pemerintah belum sepenuhnya menjadikan sektor pariwisata sebagai program prioritas dalam pembangunan ekonomi indonesia, meskipun sektor ini telah membuktikan kontribusinya yang signifikan dan nyata. Pelaku industri pariwisata memiliki harapan [more]