Tourism for Us – Pengurus Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) periode 2026-2031 di bawah kepemimpinan Ketua Umum BaliCEB periode 2026-2031 Ketut Jaman akan fokus pada lima agenda utama. Kelima agenda itu meliputi penguatan posisi Bali sebagai destinasi MICE global berbasis budaya dan keberlanjutan, peningkatan [more]
Tourism for Us – Gelaran Indonesia Outing Expo (IOE) tahun ini akan memberikan peluang pertemuan yang lebih luas. Dengan nama baru Indonesia Outing & Incentive Travel Expo (IOITE), acara ini menjadi salah satu platform pameran pariwisata MICE terlengkap di Indonesia, menawarkan sesi B-to-B dan B-to-C [more]
Tourism for Us – Keberhasilan Indonesia menyelenggarakan berbagai event internasional meningkatkan kepercayaan diri dalam pemulihan sektor pariwisata sekaligus menarik lebih banyak wisatawan, khususnya wisatawan yang datang untuk kegiatan bisnis. Potensi ini ditawarkan kepada pelaku pariwisata di Tiongkok, khususnya yang bergerak dalam industri meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE) pada bulan Juni 2025 lalu.
(Foto: Birkompublik Kemenpar)
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menggelar MICE Business Matching di tiga kota besar di Tiongkok, yaitu di China Hotel, Guangzhou, pada 16 Juni 2025; kemudian dilanjutkan di Shangri-La Hotel Shenzhen pada 18 Juni 2025; dan di Pullman Hotel, Zhuhai, pada 20 Juni 2025. Business Matching ini didukung penuh oleh Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Guangzhou.
Penyelenggaraan Business Matching ini bertujuan untuk mempererat hubungan pariwisata dan bisnis antara kedua negara dengan menampilkan potesi penuh Indonesia dalam industri event bisnis internasional, dan sebagai upaya mempromosikan Indonesia sebagai destinasi MICE kelas dunia.
Deputi Bidang Pengembangan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenpar Vinsensius Jemadu, dalam keterangannya di Jakarta, Senin (30/6/2025), mengatakan, ‘’Acara ini mempertemukan para pelaku pariwisata terkemuka Indonesia, termasuk hotel, DMC (Destination Management Company), agen perjalanan, serta penyelenggara acara dan konferensi profesional, dengan mitra mereka di Tiongkok melalui sesi business matching, presentasi, dan networking lunch.’’
Vinsensius mengungkapkan, penyelenggaraan kegiatan ini berhasil mendapatkan potensial transaksi sebanyak 6.204 calon wisatawan bisnis, atau senilai Rp 56,5 miliar. Selain itu juga terdapat transaksi riil pada tahun 2025 sebanyak 2.400 calon wisatawan bisnis, dan 2.500 calon wisatawan bisnis untuk tahun 2026.
Penerbangan langsung dari kota-kota besar di Tiongkok seperti Guangzhou dan Shenzhen menuju Jakarta, Bali, Manado, dan Surabaya telah tersedia. Hal itu memudahkan konektivitas ke kota-kota lain di Indonesia seperti Bandung, Medan, Makassar, Surabaya, dan Yogyakarta yang semuanya merupakan destinasi favorit untuk penyelenggaraan MICE.
Indonesia dan Tiongkok telah sepakat menjalin kerja sama di sektor pariwisata sebagai bagian dari kunjungan Perdana Menteri Tiongkok Li Qiang ke Indonesia pada bulan Mei 2025.
Kerja sama mencakup pertukaran kontak bisnis dan kerja sama di bidang pariwisata, peningkatan kunjungan wisatawan, kolaborasi dalam menarik wisatawan dari negara ketiga, pembentukan kantor perjalanan resmi, fasilitasi kegiatan promosi pariwisata, pertukaran informasi dan data statistik pariwisata, serta berbagai inisiatif kerja sama lainnya.
‘’Indonesia bukan sekadar destinasi, tetapi juga mitra untuk kolaborasi kreatif dan pengalaman yang menarik. Kami pun mengundang korporasi, asosiasi, dan penyelenggara kegiatan di Tiongkok untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat MICE di Asia Tenggara,’’ kata Vinsensius.
Pada tahun 2025, Indonesia dijadwalkan menjadi tuan rumah sejumlah acara internasional, antara lain:
Bali International Air Show (BIAS), September 2025
Mandalika Racing Series (putaran ke-4), September 2025
China International E-Commerce Industry Expo and Indonesia, September 2025
Bali Wellness and Beauty Expo 2025, Juni 2025
Prambanan Jazz Festival, Juli 2025
MXGP 2025, Juli 2025
Miss Universe Indonesia 2025, September 2025
Asia Pacific Mental Health and Well-being Congress, Oktober 2025
Tourism for Us – Partisipasi Indonesia dalam pameran B-to-B MICE terbesar di Australia, The Asia Pacific Incentives and Meetings Events (AIME) 2025, menghasilkan peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) potensial lebih dari 1000 persen. Sektor MICE telah terbukti menjadi salah satu pendorong utama dalam menarik kunjungan [more]
Tourism for Us – Perjalanan insentif (incentive travel) masih relevan sampai sekarang. Banyak perusahaan masih percaya bahwa perjalanan insentif merupakan cara yang bagus untuk mengakui dan mendorong kinerja positif karyawan maupun rekan bisnis. Dalam dekade terakhir, dengan meningkatnya kesadaran terhadap perubahan iklim dan tanggung jawab [more]
Tourism for Us – Industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) Indonesia tengah mempersiapkan langkah besar untuk memperkuat posisinya di pasar global.
(Foto: Erwin/Asperapi)
Dengan adanya pameran Indonesia Exhibition Industri Expo (INDES) dan Indonesia Business Event Forum (IBEF) yang sudah berlangsung pada 5-6 November 2024 di Jakarta Convention Center, asosiasi dan pemerintah Indonesia semakin yakin bahwa sektor MICE, khususnya industri pameran, memiliki potensi besar untuk mendongkrak ekonomi nasional.
Penyelenggaraan event INDES telah memasuki tahun ke-4 dan IBEF tahun ini merupakan penyelenggaraan ke-9. Kedua event tersebut menjadi simbol pentingnya kolaborasi antara sektor bisnis dan pemerintah dalam mendukung pertumbuhan industri MICE.
Hosea Andreas Runkat, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (ASPERAPI), menegaskan bahwa pameran INDES dan IBEF bukan hanya sekadar ajang bisnis, tetapi juga merupakan perwujudan komitmen industri MICE untuk semakin dikenal di mata dunia.
“Ini adalah show of force dari ASPERAPI untuk menunjukkan bahwa industri pameran Indonesia tidak bisa lagi dipandang sebelah mata. MICE memiliki potensi besar dan sangat berdampak pada perekonomian,” ujar Andre sapaan akrab Ketum ASPERAPI.
Dalam kesempatan ini, ASPERAPI berharap pemerintah dapat lebih memahami sektor MICE, terutama untuk mendukung pengembangan industri ini dalam lima tahun ke depan. “Tantangan terbesar kami adalah bagaimana menjaga kolaborasi dan sinergi antara bisnis dan pemerintah. Jika kita bisa bersatu, industri ini akan tumbuh lebih pesat,” tambahnya.
Mewakili unsur pemerintah, Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran (MICE) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Firnandi Gufron mengungkapkan bahwa pemerintah sangat mendukung sektor MICE. Karena kontribusinya yang signifikan terhadap pariwisata berkualitas.
“Satu event MICE bisa mendatangkan hingga 2.000 peserta internasional yang langsung berdampak pada sektor ekonomi seperti akomodasi, transportasi, dan restoran,” jelas Firnandi.
Pemerintah juga tengah mempersiapkan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan keberlanjutan sektor MICE. “Kami sedang memetakan venue-venue yang sudah memenuhi standar keberlanjutan dan akan meng-up grade yang belum sesuai dengan standar internasional,” tambahnya.
Firnandi juga menjelaskan bahwa pemerintah tengah mempercepat pengembangan MICE yang berkelanjutan dengan target kesiapan pada 2030. Meskipun roadmap sektor ini direncanakan hingga 2050. Hal ini sejalan dengan tren global yang mengarah pada keberlanjutan dalam setiap aspek industri.
Guna mendukung pengembangan sektor MICE, pemerintah melalui Kemenpar juga memperkenalkan platform MICE.id. Platform ini bertujuan untuk menjadi pusat informasi dan agregator yang menghubungkan seluruh pemangku kepentingan dalam industri MICE.
“MICE.id menyediakan data terkini tentang venue, jumlah kamar hotel, serta fasilitas lainnya untuk memudahkan para pelaku industri mendapatkan informasi yang dibutuhkan,” kata Firnandi.
Melalui MICE.id diharapkan seluruh sektor yang terlibat dapat mengakses informasi secara lebih efisien. Sehingga platform tersebut mendukung keputusan bisnis yang lebih tepat dan mempercepat pengembangan sektor ini.
Di kesempatan yang sama, Mark Cochrane, Regional Director Asia/Pacific dari UFI (Global Association of the Exhibition Industry), memberikan pandangannya tentang perkembangan industri pameran di Indonesia.
Menurut Mark, Indonesia merupakan salah satu pasar yang sangat menjanjikan di Asia dengan pertumbuhan yang sangat pesat. “Investasi besar dalam infrastruktur, seperti venue baru dengan kapasitas hingga 60.000 m², akan menjadi faktor penting dalam mendukung perkembangan industri pameran di Indonesia,” ujar Mark.
Namun, Mark juga menyoroti tantangan dari melambatnya ekonomi global, terutama di Cina, yang dapat berdampak pada banyak pameran internasional. Meski demikian, Indonesia masih menjadi pasar yang menarik bagi banyak pemain internasional yang ingin memperluas jangkauan di Asia Tenggara.
Sebagai bagian dari upaya global menuju keberlanjutan, UFI juga mengadopsi Net Zero Carbon Events, sebuah komitmen untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050. “Kami mengajak semua anggota untuk berpartisipasi dalam upaya global ini,” jelas Mark.
Dengan semakin banyaknya pemain internasional yang tertarik dengan pasar Indonesia, serta dorongan untuk menghadirkan acara yang lebih berkelanjutan, prospek industri pameran Indonesia semakin cerah.
Semua pihak berharap bahwa kolaborasi antara sektor bisnis, pemerintah, dan organisasi internasional seperti UFI akan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri MICE di Asia.
Melihat ke depan, acara INDES dan IBEF di 2025 akan semakin besar dan lebih beragam, dengan partisipasi internasional yang lebih banyak. Rencananya, kedua acara ini juga akan digabungkan dengan Kongres Asian Federation of Exhibition and Convention Associations (AFECA) pada November 2025 yang diharapkan dapat membawa dampak positif bagi industri MICE Indonesia.
Dengan berbagai inisiatif dan upaya yang sedang berjalan, sektor MICE Indonesia semakin siap untuk berkembang lebih pesat dan menjadi pemain kunci di pasar global. “Kami yakin bahwa acara ini akan semakin memperlihatkan bahwa Indonesia siap bersaing di level internasional,” pungkas Andre. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Jakarta akan mengikuti jejak kota New York. Kota metropolitan terbesar di Indonesia ini dalam proses bertransformasi dari ibukota negara menjadi kota global. Dan sektor pariwisata akan menjadi pilar utama dalam pertumbuhan ekonomi kota. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersinergi dengan Konsulat [more]
Tourism for Us – Seiring dengan fokus Indonesia untuk membangun industri Meeting, Incentive, Conference and Exhibition (MICE), Indonesia MICE Youth Challenge menjadi salah satu platform penting untuk mempersiapkan generasi muda yang kompeten di industri MICE. Melalui kompetisi pencarian talenta seperti ini diharapkan dapat meningkatkan perkembangan [more]
Tourism for Us – Jakarta akan tetap menjadi destinasi pariwisata dan MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) terpenting di Indonesia. Sejarah panjang dan infrastruktur serta geliat bisnis tidak akan menghentikan daya tariknya. Walaupun kota megapolitan ini tidak lagi menyandang status ibukota negara Republik Indonesia.
Penyelenggaraan ASITA Jakarta Travel Mart (AJTM) tahun 2024 menjadi sangat penting. Ini mengingat Peraturan Pemerintah (PP) atas pencabutan status Daerah Khusus Ibukota (DKI) telah dikeluarkan oleh Pemerintah.
(Foto: ASITA Jakarta Chapter)
ASITA Jakarta Travel Mart berlangsung pada 20-22 Mei 2024 di The Tavia Heritage Hotel, Jakarta Pusat. Penyelenggaraan AJTM tahun ini memasuki edisi ke-9. Dengan mengusung tema “Realizing Tourism Potential’’ menegaskan bahwa Jakarta sebagai destinasi tidak lagi berbicara mengenai potensi pariwisata tetapi sudah mengejawantahkan dan mengimplementasikan potensinya menjadi peluang bisnis.
AJTM adalah kegiatan Business to Business (B-to-B) bagi pelaku industri pariwisata, baik pasar domestik maupun internasional. AJTM bertindak sebagai payung yang menyatukan pembeli korporasi dengan para pengambil keputusan utama pemasok kebutuhan di industri pariwisata.
Dengan format Table Top business-dealing, para peserta mempunyai peluang besar memperkenalkan perusahaan dan layanannya secara komprehensif.
Semakin maraknya pameran serupa serta bisnis perjalanan wisata sudah mulai berkembang kembali, AJTM diproyeksikan dapat menjadi salah satu kunci keberhasilan geliat pariwisata di Jakarta.
Sellers yang berpartisipasi di AJTM 2024 ialah parapelaku pariwisata dari berbagai provinsi di seluruh Indonesia. Sellers terdiri dari Biro Perjalanan Wisata (BPW), obyek dan daya tarik wisata, dinas pariwisata, juga industri pendukung pariwisata terkait seperti asuransi perjalanan, perbankan, transportasi dan pendukung pariwisata lainnya
BPW yang hadir di AJTM 2024 diantaranya Komodo Fantastika Labuan Bajo, Flores Adventure, dan pendatang baru dari Indonesia timur Welcome Manado Tour.
Dari akomodasi hadir grup-grup hotel seperti Aston, 101, Holiday Inn, Harris, dan Java Lotus Hotel Jember.
Mewakili usaha transportasi wisata ada White Horse dan pendatang baru Egatrans Wisata Bali.
Usaha penunjang pariwisata yang hadir diantaranya Asuransi Zurich dan Great Eastern General Insurance, Le IRAS Chocolate, The Grand Outlet Karawang dan Jakarta Tourisindo (salah satu BUMD milik Pemerintah Provinsi Jakarta) dan lain-lain.
Sedangkan buyers yang hadir dan mengikuti AJTM 2024 ialah anggota ASITA Daerah Khusus Jakarta, termasuk diantaranya pemilik BPW & APW, para pelaku atau pengambil keputusan dalam industri terkait di bidang pariwisata, dan para tour operators mancanegara terseleksi.
Jakarta sebagai tujuan wisata memiliki kelengkapan mulai dari sejarah kota, keindahan alam, pusat perbelanjaan, pusat-pusat konvensi hingga gaya hidup urban sebuah kota metropolitan.
‘’Kekuatan terbesar destinasi Jakarta adalah bukti sejarah untuk leisure dan fasilitas dan infrastruktur untuk MICE,’’ ujar Jongki Adiyasa, Ketua AJTM 2024.
Lalu, bagaimana Jakarta sebaiknya mengkapitalisasi kekuatan tersebut pasca posisinya bukan lagi sebagai ibukota negara?
‘’Selama Kepala Dinas Pariwisata di Jakarta mau berbuat baik dan benar. Saya yakin, Jakarta berpeluang menjadi destinasi nomor 2 setelah Bali,’’ imbuh Jongki.
Penyelenggaraan AJTM sempat tertunda satu kali pada tahun 2020 karena pandemi COVID-19. Kemudian salah satu pasar pariwisata B-to-B di Jakarta itu dilaksanakan secara daring (online) pada tahun 2021. Dan penyelenggaraan secara tatap muka mulai dilakukan kembali pada September 2022.
AJTM 2024 disponsori dan didukung oleh Asuransi Zurich, CITILINK, Garuda Indonesia, Lion Air, Sriwijaya Air, NAM Air, Uzbekistan Airlines, Bank DKI, Bank Mandiri, portal online Via dot Com, dan CRS seperti Sabre dan lain-lain. Selain itu juga ada Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) DK Jakarta dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Industri Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) di Indonesia membutuhkan ide-ide baru dan orisini dari generasi muda. Terutama dari mereka yang sedang menempuh pendidikan di bidang MICE, bisnis atau pariwisata. Indonesia Exhibition Companies Association (IECA) bekerja sama dengan Indonesia Congress and [more]