Tag: MICE

IBEM 2026, MARKETPLACE PERDANA INDUSTRI MICE INDONESIA, HADIRKAN 200 BUYERS DARI 37 NEGARA

IBEM 2026, MARKETPLACE PERDANA INDUSTRI MICE INDONESIA, HADIRKAN 200 BUYERS DARI 37 NEGARA

Tourism for Us – Indonesia akan menggelar Indonesia Business Event Mart (IBEM) 2026, marketplace pertama bagi industri meetings, incentives, conferences, and exhibitions (MICE). Ajang yang akan berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC) pada 28-31 Juli 2026 akan mempertemukan pemerintah, asosiasi, pelaku industri, pembeli domestik [more]

KETUA BALICEB: MANFAAT EKONOMI MICE HARUS BISA DIRASAKAN OLEH MASYARAKAT LUAS

KETUA BALICEB: MANFAAT EKONOMI MICE HARUS BISA DIRASAKAN OLEH MASYARAKAT LUAS

Tourism for Us – Pengurus Bali Convention and Exhibition Bureau (BaliCEB) periode 2026-2031 di bawah kepemimpinan Ketua Umum BaliCEB periode 2026-2031 Ketut Jaman akan fokus pada lima agenda utama. Kelima agenda itu meliputi penguatan posisi Bali sebagai destinasi MICE global berbasis budaya dan keberlanjutan, peningkatan [more]

INDONESIA OUTING & INCENTIVE TRAVEL EXPO 2026: PLATFORM STRATEGIS KEBUTUHAN OUTING, ENGAGEMENT, DAN PERJALANAN INSENTIF

INDONESIA OUTING & INCENTIVE TRAVEL EXPO 2026: PLATFORM STRATEGIS KEBUTUHAN OUTING, ENGAGEMENT, DAN PERJALANAN INSENTIF

Tourism for Us – Gelaran Indonesia Outing Expo (IOE) tahun ini akan memberikan peluang pertemuan yang lebih luas. Dengan nama baru Indonesia Outing & Incentive Travel Expo (IOITE), acara ini menjadi salah satu platform pameran pariwisata MICE terlengkap di Indonesia, menawarkan sesi B-to-B dan B-to-C selama empat hari. Pameran ini akan berlangsung pada 27–30 Agustus 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2.

(Foto: Team IOITE)

Perubahan nama dari Indonesia Outing Expo (IOE) menjadi Indonesia Outing & Incentive Travel Expo (IOITE) menandai langkah strategis Panorama Media dalam memperluas cakupan industri yang dijangkau. Transformasi ini mencerminkan evolusi pasar di mana kebutuhan akan program outing, engagement, hingga perjalanan insentif kini saling terhubung dan tidak bisa dipisahkan. IOITE hadir untuk menjawab dinamika tersebut dalam satu wadah yang lebih komprehensif, terkurasi, dan siap dikembangkan ke level yang lebih tinggi.

Dengan semangat dan skala yang jauh lebih besar, IOITE bukan sekadar pameran, tetapi menjadi ruang dialog yang menjembatani pelaku industri dengan kebutuhan pasar yang semakin dinamis. Outing, experiential travel, dan engagement kini bukan lagi sekadar aktivitas rekreasi, melainkan menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk membangun loyalitas, produktivitas, serta budaya kerja yang sehat.

Melalui IOITE, peserta pameran tidak hanya dapat membaca arah pasar, tetapi juga memvalidasi solusi mereka secara langsung, mengembangkan model bisnis, dan membangun kolaborasi lintas segmen dalam satu platform yang terintegrasi.

Transformasi dari IOE menjadi IOITE bukan sekadar perubahan nama, tapi cerminan bagaimana kami merespon perkembangan nyata di lapangan. IOITE 2026 dirancang sebagai simpul strategis antara pelaku industri dan permintaan pasar yang semakin selektif. Lebih dari itu, kami ingin IOITE menjadi ruang untuk memperkuat posisi brand, membangun relevansi, dan membuka akses terhadap peluang kolaborasi lintas sektor,” ujar Andita Tirtawisata, Direktur Panorama Media.

Setelah pandemi, perusahaan-perusahaan di berbagai sektor mulai memprioritaskan strategi retensi karyawan dan kesejahteraan tim melalui program berbasis pengalaman. Laporan dari Deloitte dan Harvard Business Review menyoroti peningkatan alokasi anggaran untuk employee engagement yang bersifat non-finansial, seperti program kebersamaan, experiential travel, dan aktivitas yang memperkuat budaya kerja.

Di saat yang sama, data dari Google dan Expedia menunjukkan, adanya lonjakan minat terhadap leisure group travel dan curated experiences, baik untuk kebutuhan komunitas maupun insentif perusahaan. Konsumen dan korporasi kini tidak hanya mencari vendor atau destinasi, tetapi mitra strategis yang memahami konteks dan mampu memberikan pengalaman yang berdampak. IOITE menjawab dinamika ini dengan mempertemukan solusi, pasar, dan kebutuhan aktual melalui akses langsung ke pengambil keputusan, validasi pasar, dan kolaborasi lintas industri.

IOITE 2026 bukan sekadar pameran, tapi ruang dinamis yang mempertemukan ide, energi, dan peluang nyata dalam industri engagement. Tahun ini, kami hadir selama empat hari, dengan dua hari pertama difokuskan untuk audiens korporasi (B2B), dan dua hari berikutnya untuk komunitas dan publik (B2C). Dari strategic networking, business matching, hingga showcase dan sesi interaktif, IOITE memberikan panggung bagi peserta pameran untuk memahami pasar, membangun relasi yang tepat, dan bertumbuh bersama audiens mereka,” ujar Priscilla Daulima, Project Manager IOITE 2026.

IOTE menargetkan peserta pameran dari berbagai penyedia layanan MICE seperti vendor venue dan akomodasi, transportasi, event, experience & activation providers, Incentive, Reward & Corporate Solutions, Entertainment, Wellness & Supportig Services. Platform pameran ini dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan para eksekutif, HRD korporasi, lembaga pendidikan, serta pelaku usaha di bidang perjalanan lainnya agar dapat bertemu langsung dengan para penyedia jasa.

Gigih Gesang, Ketua Umum Asosiasi Experiential Learning Indonesia (AELI), menyampaikan, “Permintaan terhadap program berbasis pengalaman terus meningkat, baik dari kalangan korporasi maupun institusi pendidikan. IOITE menjadi momentum penting yang kami dukung penuh karena mampu mempertemukan berbagai pendekatan experiential learning dalam wadah profesional yang terstruktur. Ini bukan hanya pameran, tapi ruang kolaborasi lintas sektor untuk mendorong pertumbuhan industri yang lebih berdampak dan berkelanjutan.”

Pameran ini juga mendapat dukungan penuh dari asosiasi industri utama seperti AELI, Indonesia Event Industry Council (IVENDO), dan NICE PIK 2 selaku venue pameran, serta strategic partner dari IOITE. Sejumlah brand ternama juga turut hadir dalam peluncuran resmi seperti JNTO, Eiger, Cimory, Decathlon, Blue Bird, Trans Entertainment, Taman Safari Indonesia, Le Meridien Jakarta dan lainnya.

Informasi lebih lanjut dan pendaftaran sebagai peserta pameran, silakan kunjungi situs resmi IOITE www.indooutingexpo.co.id atau hubungi tim IOITE melalui email di indooutingexpo@panoramamedia.co.id. ***(Yun Damayanti)

INDONESIA PROMOSIKAN POTENSI MICE KE TIONGKOK

INDONESIA PROMOSIKAN POTENSI MICE KE TIONGKOK

Tourism for Us – Keberhasilan Indonesia menyelenggarakan berbagai event internasional meningkatkan kepercayaan diri dalam pemulihan sektor pariwisata sekaligus menarik lebih banyak wisatawan, khususnya wisatawan yang datang untuk kegiatan bisnis. Potensi ini ditawarkan kepada pelaku pariwisata di Tiongkok, khususnya yang bergerak dalam industri meeting, incentive, convention, [more]

TRANSAKSI POTENSIAL MENJANJIKAN DARI AIME 2025 MELBOURNE, AUSTRALIA

TRANSAKSI POTENSIAL MENJANJIKAN DARI AIME 2025 MELBOURNE, AUSTRALIA

Tourism for Us – Partisipasi Indonesia dalam pameran B-to-B MICE terbesar di Australia, The Asia Pacific Incentives and Meetings Events (AIME) 2025, menghasilkan peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) potensial lebih dari 1000 persen. Sektor MICE telah terbukti menjadi salah satu pendorong utama dalam menarik kunjungan [more]

JANGAN LUPAKAN ‘’I’’ (INCENTIVE) DALAM MEMBANGUN INDUSTRI MICE DI INDONESIA

JANGAN LUPAKAN ‘’I’’ (INCENTIVE) DALAM MEMBANGUN INDUSTRI MICE DI INDONESIA

Tourism for Us – Perjalanan insentif (incentive travel) masih relevan sampai sekarang. Banyak perusahaan masih percaya bahwa perjalanan insentif merupakan cara yang bagus untuk mengakui dan mendorong kinerja positif karyawan maupun rekan bisnis.

Dalam dekade terakhir, dengan meningkatnya kesadaran terhadap perubahan iklim dan tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsiblity/CSR), perjalanan insentif dilihat juga sebagai cara untuk memberikan pengalaman budaya baru dan autentik kepada karyawan maupun rekan bisnis sekaligus memberi dampak berkelanjutan terhadap ekonomi dan masyarakat lokal.

Definisi perjalanan insentif adalah program penghargaan yang diberikan oleh perusahaan kepada karyawan atau rekan bisnis dalam bentuk perjalanan wisata.

Tujuan utama dari perjalanan insentif adalah memotivasi dan meningkatkan keterlibatan karyawan dengan memberikan insentif. Perjalanan ini bisa diberikan kepada invidu atau kelompok berupa perjalanan gratis atau bersubsidi.

Melalui perjalanan insentif perusahaan ingin membangun loyalitas, mendorong penjualan, mendorong kerja sama tim, meningkatkan layanan pelanggan dan membantu mencapai tujuan-tujuan bisnis lainnya.

Perjalanan insentif seringkali diadakan ke destinasi-destinasi impian. Perjalanan itu merupakan kegiatan atau pengalaman di luar kantor. Maka perjalanan insentif kerap kali dirancang dengan pertimbangan selera dan demografi penerima (karyawan, rekan bisnis) serta melibatkan keluarga atau pasangan karyawan.

Dikutip dari ibtmworld.com, perjalanan insentif merupakan cara yang bagus untuk mengakui dan mendorong kinerja positif karyawan maupun rekan bisnis.

Perjalanan insentif juga menjadi cara yang lebih menarik bagi generasi milenial dan generasi Z atas sebuah penghargaan di tempat kerja. Generasi milenial dan Z lebih suka penghargaan dalam bentuk pengalaman daripada produk atau uang.

Dalam lingkungan kerja yang penuh tekanan, perjalanan insentif memberi kesempatan untuk bersantai, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah didatangi, dan kembali dengan perasaan riang.

Herman Rukmanadi, Direktur Bhara Tours & Travel, mengatakan, durasi perjalanan insentif selalu pendek. Tetapi jumlah peserta dalam sekali perjalanan banyak. Dan pengeluarannya rata-rata besar.

‘’Tidak mungkin perjalanan insentif itu selama 10 hari. Mereka harus kembali bekerja. Treatment perjalanannya itu selalu tinggi. Contoh, biaya makan minimal 100 dolar AS. Karena perjalanan insentif diadakan supaya orang-orang termotivasi harus dapat lagi tahun depan. Pengalaman perjalanannya very good. Dia jual lagi lebih banyak,’’ ujar Herman.

Herman melihat pasar perjalanan insentif dari luar negeri ke Indonesia cukup besar, terutama ke Bali. Dengan jumlah peserta yang rata-rata banyak maka untuk mengelola pergerakan perjalanan grup insentif memerlukan armada transportasi yang cukup.

‘’Kenapa perjalanan insentif hanya bisa ke Bali? Karena jumlah pesertanya terlalu besar. Contohnya begini, saya menangani grup perjalanan insentif dari Eropa sebanyak 180 orang. Untuk movement-nya, kalau grup itu dibawa ke Jogja dahulu, nanti ke Bali pakai apa? Pesawatnya saja kan tidak cukup,’’ Herman menjelaskan.   

Semenjak wisatawan dari Asia Selatan mengalir ke Bali, Eddie Tarsisius, Managing Director Absolute Indonesia DMC, melihat kenaikan 75% perjalanan insentif dari India dan Nepal. Inbound tour operator berbasis di Bali ini selain menangani wisatawan leisure juga mengatur perjalanan insentif dari Asia Selatan khususnya dari India dan Nepal.

Menurut pengalamannya, program perjalanan insentif dari Nepal lebih banyak aktivitas tur yakni ke pantai, menikmati cruise dan atraksi budaya. Tanah Lot, Nusa Penida, Uluwatu dan Ubud menjadi favoritnya. Lama tinggalnya rata-rata 5 hari 4 malam.

Sedangkan perjalanan insentif dari India menurutnya tidak ada treatment khusus. ‘’Lebih bersabar saja. Karakter mereka ini kan demanding,’’ kata Eddie.

Menurut Herman, MCE – meeting, convention, exhibition –  memang seharusnya di Jakarta. Karena tempat (venue) paling besar ada di kota ini. Sedangkan Bali masih menjadi tempat yang paling representatif dan mampu memenuhi semua kebutuhan perjalanan insentif internasional.

Dalam memasarkan Indonesia sebagai destinasi perjalanan insentif internasional maka kita harus mendekati (approach) incentive travel house/agency di sumber pasar. Incentive travel house/agency adalah tour operator khusus dan hanya menangani perjalanan insentif. Mereka yang akan menghubungkan destinasi dengan korporasi-korporasi yang menjadi kliennya.

‘’Penanganan perjalanan insentif berbeda sekali dengan perjalanan wisata biasa. Persiapannya bisa mencapai dua tahun. Kita harus berkorepondensi terus-menerus. Semuanya harus diatur sampai detil. Klien yang saya tangani dari Eropa tidak pernah ada meeting dalam programnya. Kita tidak langsung menghubungi korporasinya. Mereka tidak akan mau. Jadi itulah kenapa kita harus mencari incentive house-nya,’’ tutur Herman.

Sejarah perjalanan insentif

Program perjalanan insentif telah ada sejak tahun 1920-an. Perusahaan memutuskan cara terbaik memotivasi tim penjualan dan mendorong persaingan sehat adalah dengan memberi penghargaan kepada mereka yang berkinerja terbaik.

Pada awalnya, perjalanan insentif menghadirkan pengalaman eksklusif dengan perjalanan mewah seperti menginap di resor, penerbangan kelas bisnis dan lain sebagainya.

Namun dalam dekade terakhir, dengan kesadaran terhadap perubahan iklim yang meningkat, tanggung jawab sosial perusahaan, perjalanan insentif bergeser menjadi memberikan pengalaman budaya baru, pengalaman yang autentik, memberi dampak berkelanjutan terutama pada ekonomi lokal.

Laporan IBTM World mengungkapkan perjalanan insentif masih relevan. Perusahaan akan memaksimalkan ROI dari perjalanan insentif yang menghadirkan pengalaman, inovasi, keterlibatan, kreativitas dan pengayaan budaya. Dalam perjalanan insentif ada mengunjungi destinasi baru, pengembangan pribadi, dan bersantai.

Pasar dan nilai perjalanan insentif global

Incentive Travel Report 2023, ditulis oleh Mike Fletcher untuk IBTM World, mengungkapkan, nilai pasar global untuk perjalanan insentif akan mencapai US$ 216,8 miliar (£174 miliar) pada tahun 2031, jika terus pulih pada tingkat pertumbuhan tahunan saat ini sebesar 12,1%, menurut angka yang diterbitkan oleh Allied Market Research.

Penelitian yang dilakukan oleh Incentive Travel Index (ITI) pada 2022 – sebuah inisiatif gabungan Financial & Insurance Conference Professionals (FICP), Incentive Research Foundation (IRF), dan Society for Incentive Travel Excellence (SITE), memprediksi bahwa jumlah orang yang berpartisipasi dalam program perjalanan insentif di seluruh dunia akan pulih sebesar 48% tahun 2023 dan tumbuh sebesar 61% pada tahun 2024 dibandingkan dengan tahun 2019.

Peran perjalanan insentif sudah bergeser pascapandemi Covid 19. Perjalanan insentif telah menjadi pendorong utama dalam membangun budaya perusahaan dan meningkatkan keterlibatan karyawan. Sebelum dekade ini, program perjalanan insentif sebagian besar dirancang untuk memotivasi dan memberikan penghargaan atas kinerja tim atau individu.

Menurut ITI, faktanya sekarang menunjukkan ‘Retensi Karyawan’ (67%) menjadi alasan yang paling sering dikutip dan mengapa perjalanan insentif dapat kembali mendapatkan kepentingan strategisnya.

Namun saat ini, sebanyak 66% agen perjalanan insentif (incentive travel house/agency) menyatakan, manfaat yang lebih lunak seperti inklusivitas, hubungan antarteman, dan kemampuan mengajak pasangan jalan-jalan telah menjadi lebih relevan sebagai bagian dari skema penghargaan dan pengakuan perusahaan.

Peran para profesional yang menangani perjalanan insentif sekarang termasuk membantu perusahaan menunjukkan perhatian pada kesejahteraan karyawan dengan memberikan waktu istirahat dan akses ke layanan kesehatan untuk mengatasi kesepian, stres, dan kelelahan di tempat kerja.

Hasilnya, 35% responden ITI menyatakan bahwa pentingnya kegiatan kebugaran (wellness) telah meningkat seiring dengan pembangunan tim yang berfokus pada CSR (sebagaimana dinyatakan oleh 44% responden).

Dalam laporan tersebut juga menunjukkan pasar utama perjalanan insentif adalah sektor keuangan dan asuransi sekitar 60 persen, SAAS atau perusahaan teknologi perangkat lunak sebesar 48 persen, perusahaan farmasi dan alat kesehatan 39 persen, dan perusahaan langsung-ke-konsumen 27 persen dan perusahaan otomotif sebesar 22 persen.

Dalam IBTM World’s 2023 Trends Report, keaslian (authenticity), kesejahteraan (wellness), dan keberlanjutan (sustainability)  disorot sebagai tiga elemen penting yang mendorong jenis program perjalanan insentif baru.

Apa yang harus menjadi prioritas perusahaan saat kembali ke perjalanan insentif? Stephanie Harris, Presiden IRF, mengatakan, ‘’Hotel, DMO, dan CVB yang menyatukan elemen-elemen program penting dengan cara yang mudah bagi perencana, dan dapat menunjukkan kemampuan mereka untuk melaksanakan sesuai janji, akan menjadi yang terdepan.“

Dan bagaimana program insentif memotivasi dan memberi penghargaan, Patrick Delaney, MD Sool Nua, menyimpulkannya, ‘‘Bisnis akan selalu mencari cara untuk tumbuh. Sekarang, lebih dari sebelumnya, ada penekanan pada perolehan, pelibatan, dan pembinaan bakat. Ini adalah pendorong utama pasar perjalanan insentif.“ ***(Yun Damayanti)

MICE INDONESIA MENUJU KEBERLANJUTAN: PEMERINTAH DAN SEKTOR BISNIS BERSATU UNTUK TAHUN 2025

MICE INDONESIA MENUJU KEBERLANJUTAN: PEMERINTAH DAN SEKTOR BISNIS BERSATU UNTUK TAHUN 2025

Tourism for Us – Industri MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition) Indonesia tengah mempersiapkan langkah besar untuk memperkuat posisinya di pasar global. Dengan adanya pameran Indonesia Exhibition Industri Expo (INDES) dan Indonesia Business Event Forum (IBEF) yang sudah berlangsung pada 5-6 November 2024 di Jakarta Convention [more]

JAKARTA TOURISM BUSINESS MATCHING PROMOSIKAN DESTINASI JAKARTA DAN KAMPANYE #JakartaNIceforMICE KEPADA TO/TA DI NEW YORK

JAKARTA TOURISM BUSINESS MATCHING PROMOSIKAN DESTINASI JAKARTA DAN KAMPANYE #JakartaNIceforMICE KEPADA TO/TA DI NEW YORK

Tourism for Us – Jakarta akan mengikuti jejak kota New York. Kota metropolitan terbesar di Indonesia ini dalam proses bertransformasi dari ibukota negara menjadi kota global. Dan sektor pariwisata akan menjadi pilar utama dalam pertumbuhan ekonomi kota. Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersinergi dengan Konsulat [more]

PENCARIAN TALENTA BARU DI SEKTOR MICE MELALUI INDONESIA MICE YOUTH CHALLENGE

PENCARIAN TALENTA BARU DI SEKTOR MICE MELALUI INDONESIA MICE YOUTH CHALLENGE

Tourism for Us – Seiring dengan fokus Indonesia untuk membangun industri Meeting, Incentive, Conference and Exhibition (MICE), Indonesia MICE Youth Challenge menjadi salah satu platform penting untuk mempersiapkan generasi muda yang kompeten di industri MICE. Melalui kompetisi pencarian talenta seperti ini diharapkan dapat meningkatkan perkembangan industri MICE di Indonesia. Dan memastikan Indonesia bisa menjadi destinasi MICE berkelas dunia di masa depan.

Indonesia MICE Youth Challenge menjadi salah satu platform penting untuk mempersiapkan talenta yang kompeten di industri MICE Indonesia. (Foto: ASPERAPI)

Indonesia MICE Youth Challenge 2024 telah sukses diselenggarakan pada 29-30 Juli 2024 di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta. Kompetisi ini digelar dengan tujuan menemukan talenta/potensi terbaik dari mahasiswa program studi pariwisata dan event management dari seluruh Indonesia.

Asosiasi Industri Pameran Indonesia (ASPERAPI) bekerja sama dengan Indonesia Congress and Convention Association (INCCA) menggagas kompetisi ini. Dan kompetisi tersebut didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf).

Vincencius Jemadu, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kemenparekraf, menekankan pentingnya investasi pada sumber daya manusia (SDM).

‘’Investasi di bidang SDM ini sangat penting karena berdampak jangka panjang. Kami dari Kemenparekraf akan selalu konsisten mendukung kompetisi seperti ini,’’ ujarnya.

Ketua Penyelenggara Indonesia MICE Youth Challenge 2024 Yuda Imam menyampaikan, setelah melalui seleksi ketat terpilih enam tim finalis. Dua tim berasal dari Universitas Prasetya Mulya, dua tim dari Politeknik Negeri Jakarta, satu tim dari Politeknik Internasional Bali dan satu tim dari Politeknik Pariwisata NHI Bandung. Pemenang kompetisi ini akan mewakili Indonesia di The Asian Federation of Exhibition and Convention Associations (AFECA) MICE Youth Challenge.

‘’Semoga kegiatan ini bisa menjadi ajang kompetisi tahunan yang berkelas dengan dukungan dari kami. Mari jadikan momen ini sebagai awal dari perjalanan panjang menuju keberhasilan di industri MICE,’’ ujar Yuda Imam.

Jeffery Eugen, Sekretaris Jenderal ASPERAPI, menambahkan, industri MICE membutuhkan banyak sekali event kreatif yang harus didorong baik dari industri sendiri maupun dari dunia pendidikan.

‘’Event ini diharapkan bisa menjadi batu loncatan bagi peserta untuk masuk ke industri MICE yang sebenarnya,’’ kata Jeffry.

Ketua Umum ASPERAPI Hosea Andreas Rungkat menyampaikan terima kasihnya atas dukungan dari kampus-kampus yang telah berpartisipasi dalam kompetisi tahun ini.

Berikut daftar pemenang Indonesia MICE Youth Challenge 2024:

  • 1st Runner Up, Politeknik Negeri Jakarta, Tim Aruna Jaya
  • 2nd Runner Up, Prasetya Mulya, Tim Triplets
  • The Best Presenter Awards, Prasetya Mulya, Yusri Tamara
  • Special Recognition Awards, Politeknik Negeri Jakarta, Tim Barries Breakers
  • The Most Popular Awards, Politeknik Internasional Bali, Tim Balicentive
  • The Best Attire Awards, Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Tim Earth Allies

***(Yun Damayanti)  

JAKARTA AKAN TETAP JADI DESTINASI PARIWISATA DAN MICE TERPENTING DI INDONESIA

JAKARTA AKAN TETAP JADI DESTINASI PARIWISATA DAN MICE TERPENTING DI INDONESIA

Tourism for Us – Jakarta akan tetap menjadi destinasi pariwisata dan MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition) terpenting di Indonesia. Sejarah panjang dan infrastruktur serta geliat bisnis tidak akan menghentikan daya tariknya. Walaupun kota megapolitan ini tidak lagi menyandang status ibukota negara Republik Indonesia. Penyelenggaraan ASITA [more]