Tourism for Us – Indonesia akan memiliki sistem klasifikasi gunung untuk pertama kalinya. Sistem ini diharapkan dapat menjadi pijakan nasional dalam penyusunan standar prosedur operasional (SOP) kegiatan, pengelolaan destinasi, dan keselamatan dan keamanan di gunung. Pengurus Besar Federasi Mountaineering Indonesia (PB FMI) secara resmi meluncurkan [more]
Tourism for Us – Pendakian gunung semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia. Aktivitas luar ruang (outdoor) ini kemudian berkembang menjadi aktivitas rekreasi atau wisata. Dan perkembangannya sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan yang pesat itu memberikan dampak positif bagi pemberdayaan masyarakat dan perekonomian lokal. [more]
Tourism for Us – Konferensi pertama pariwisata gunung Indonesia mengungkapkan, betapa besar volume dan nilai (value) wisata minat khusus ini. Pariwisata gunung semakin diminati oleh wisatawan yang datang ke gunung untuk melakukan aktivitas pendakian (hiking, trekking). Perkembangannya diprediksi meningkat hingga tiga kali lipat dari sebelum pandemi. Kegiatan wisata di gunung sudah menjadi industri yang menyerap banyak talenta dan tenaga kerja lokal. Pariwisata di gunung-gunung Indonesia membutuhkan perhatian dan aksi serius dari semua pemangku kepentingan.
Indonesia Moutain Tourism Conference 2023 dihadiri lintas K/L seperti Kemenparekraf dan KLHK serta perwakilan pemda, anggota APGI maupun asosiasi-asosiasi perjalanan dan petualangan seperti FMI, IATTA, ASITA dan ASTINDO, tokoh dan pegiat wisata gunung, produsen outdoor gears, akademisi, komunitas serta media dan influencer. (Foto: Yun Damayanti)
Indonesia Mountain Tourism Conference (IMTC) telah berlangsung pada hari Rabu, 27 September 2023, di Hotel Santika Premier Hayam Wuruk Jakarta. Konferensi berlangsung selama sehari penuh dan diikuti 125 peserta yang hadir langsung dan 281 peserta mengikutinya secara daring (online). Konferensi pertama mengenai pariwisata gunung di Indonesia ini diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI).
Dalam sambutannya saat meresmikan IMTC 2023, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kemenparekraf Vinsensius Jemadu mengatakan, menurut laporan Adventure Travel Trade Association (ATTA) wisata gunung merupakan salah satu tren perjalanan pascapandemi COVID-19.
Selain itu, menurut data yang dihimpun oleh APGI, total 150 ribu wisatawan mancanegara (wisman) dan tiga juta pendaki domestik mendaki gunung-gunung di Indonesia sepanjang tahun 2019. Nilai dari pariwisata gunung pada tahun itu mencapai USD 150 juta. APGI merilis data tersebut pada tahun 2020.
Indonesia memilki 400 gunung. 127 diantaranya adalah gunung berapi aktif yang tidak semua negara di dunia memilikinya. Ini merupakan potensi luar biasa Indonesia yang bisa dikembangkan dan dimajukan sehingga memberi dampak signifikan kepada masyarakat di sekitarnya.
‘’Kita punya angka yang besar sekali di pariwisata gunung. Itu sangat signifikan dan perlu perhatian. Tujuan konferensi ini adalah mensosialisasikan betapa pentingnya wisata gunung di Indonesia yang mungkin selama ini belum menjadi perhatian serius baik dari pemerintah maupun dari para pemangku kepentingan lainnya. Kegiatan ini merupakan usaha kita bersama dalam merespon perkembangan wisata gunung yang cukup fenomenal dalam satu dekade terakhir,’’ ujar Deputi Visensius.
Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan Kemenparekraf mengingatkan, permintaan pasar semakin variatif dan menuntut standar pelayanan lebih tinggi dari tahun ke tahun. Kompetisi juga semakin meningkat. Pelaku industri wisata gunung pun harus semakin kreatif, produktif dan efisien.
Penyelenggaraan IMTC 2023 diharapkan dapat menghasilkan kesapakatan-kesapakatan agar pemangku kepentingan bisa meningkatkan pelayanan di wisata gunung. Karena pelayanan selalu berkorelasi dengan kualitas dan sumber daya manusia (SDM).
Perubahan teknologi, sosial budaya, kesehatan, juga bencana alam dan pasar yang semakin terbuka, serta kebijakan pemerintah ikut berperan dalam mendukung lingkungan bisnis wisata gunung menjadi semakin dinamis. Salah satu isu klise di Indonesia adalah kemajuan atau dinamika di lapangan sudah berkembang jauh sekali baru kemudian dibuat kebijakan dan peraturannya.
‘’Saya minta kepada APGI dan para pemangku kepentingan industri memberikan masukan dan insight kepada pemerintah selaku pembuat kebijakan. Agar kebijakan yang dihasilkan visioner, sifatnya jauh ke depan. Kebijakan-kebijakan yang sifatnya mitigatif, kita dapat lakukan. Jangan sampai, suatu perubahan atau kejadian terjadi terus tetapi kita tidak tahu mau mengacu ke aturan mana. Karena ini sering kali terjadi,’’ kata Visensius.
‘’Pemerintah daerah dan pemerintah pusat harus bergandengan tangan. Agar bisa memperbaiki bahkan juga meningkatkan kualitas tata kelola wisata gunung. Karena bagaimanapun good governance destination khususnya wisata gunung sangat penting. Ke depannya, kita semua mempunyai kesamaan pandangan terkait arah pengembangan wisata gunung ke depannya,’’ tambahnya,
(Sumber: Paparan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Nandang Prihadi pada IMTC 2023,)
Wisata di gunung juga harus menjadi pariwisata berkualitas. Kualitas wisata di gunung dilihat dari interaksi antara wisatawan dengan gunung itu sendiri dan masyarakat di sekitarnya. Lewat konferensi ini sekaligus mengedukasi masyarakat untuk mulai menerapkan prinsip-prinsip wisatawan gunung, trekkers dan hikers, yang bertanggung jawab.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dr. Nandang Prihadi, S.Hut., M.SC., menyatakan, ‘’We will go on to sustainable tourism. Quality tourism, itu yang kita inginkan. We are not going to have record of numbers of visitors or trekkers. We want quality of trekkers. Jadi yang kita inginkan adalah pendaki berkualitas, pendaki yang cerdas, dan pendaki yang bertanggung jawab.’’
Pihaknya sekarang mengedepankan social marketing. Artinya, promosi yang dilakukan bukan lagi mengundang sebanyak-banyaknya orang berkunjung tetapi mendidik, mencerdaskan, dan mengedukasi pengunjung mengenai pendakian ke gunung. Termasuk potensi-potensi bahaya yang dapat mengancam keselamatan dan keamanan pengunjung selagi menikmati keindahan yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada kita.
Penguatan protokol dan SOP
Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi KLHK meminta kepada semua pihak, baik wisatawan atau pendaki maupun operator wisata dan pemandu, mengikuti dan mematuhi semua tata tertib pendakian yang ditetapkan oleh pengelola kawasan. Protokol dan SOP yang ditetapkan oleh pengelola guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
‘’Tolong! Ikuti tata tertib pendakian yang ditetapkan oleh pengelola. Ini adalah salah satu protokol. Protokol, SOP yang ditetapkan pengelola itu harus dipatuhi oleh para pengunjung dan pendaki. Mudah-mudahan tour operator dan para pemandu juga sudah memastikan pendaki yang akan bergabung atau yang dipandu oleh mereka sudah siap. Sudah paham. Sudah tahu pendakian. Punya fisik yang prima dan mampu,’’ tegas Nandang.
(Sumber: Paparan Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi pada Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Nandang Prihadi pada IMTC 2023,)
KLHK melihat, pendakian menjadi populer dan tren sekarang. Tetapi, banyak orang yang mendaki gunung tidak siap dan tidak terlatih. Mereka berpikir, pendakian merupakan suatu olahraga biasa yang mudah dan semua orang bisa melakukannya. Sampah anorganik dan organik ditinggalkan begitu saja karena nanti pasti ada petugas yang membersihkannya.
KLHK berharap, dengan semakin populernya kegiatan naik gunung, wisatawan yang datang punya bekal pemahaman kenapa tidak boleh membuat api, tidak boleh membawa barang-barang dari plastik, tidak buang air sembarangan dan seterusnya.
Membuat api untuk memasak dan api unggun pada malam hari untuk menghangatkan tubuh memang sudah biasa. Pendaki yang menginap di gunung harus memastikan, api sudah betul-betul padam sebelum meninggalkan tempat. Tidak ada bara api sekecil apapun sebelum melanjutkan perjalanan ke fase atau trek berikutnya. Api kecil adalah sahabat tetapi begitu membesar dia menjadi bahaya.
Tidak ada cleaning service khusus yang membersihkan gunung setiap saat. Sampah-sampah di gunung dibawa turun bersama-sama oleh petugas, relawan dan komunitas serta masyarakat. Membersihkan gunung dan membawa sampah turun bukan perkara mudah juga menghabiskan biaya besar.
Sisa-sisa bahan makanan yang dibawa ke gunung bila tidak diperlakukan dengan baik akan membuat hewan-hewan bergantung dari kedatangan manusia. Itu dapat mengancam karena mereka mungkin tidak bisa lagi beradaptasi hidup di alam liar. Kotoran manusia yang tidak diperlakukan dengan baik juga akan menjadi polutan yang mengotori tanah dan air. Selain tidak enak dilihat, itu pun dapat mengancam kesehatan pengunjung di gunung.
Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi KLHK mengakui, sarana dan prasarana yang ada belum optimal, seperti shelter, toilet, pengamanan, SDM dan lain-lain.
‘’Keadaan terus berubah. Kami harus menghadapi pengunjung. Kami menghadapi turis. Kami juga harus menjadi intepreter. Kami tidak dipersiapkan untuk itu. SDM yang ada dilatih untuk menjadi polisi kehutanan (polhut),’’ tutur Nandang.
Bagaimanapun, KLHK menyadari perlu meningkatkan kapabilitas SDM di internalnya melalui pelatihan-pelatihan. Selain itu, penguatan SOP dan peraturan terus didorong.
KLHK sedang merevisi PP Nomor 12 Tahun 2014 yang mengatur mengenai pemanfaatan jasa lingkungan di kawasan hutan konservasi. Di dalam revisi itu termasuk penerapan denda bagi mereka yang tidak mempunyai izin atau tiket masuk yang legal dan pelaku pelanggaran-pelanggaran lainnya. Denda yang diusulkan sebesar lima kali dari harga tiket masuk. Hal ini dilakukan agar dapat memberi efek jera. Revisi peraturan pemerintah ini sudah memasuki tahap akhir sebelum diundangkan.
Selain revisi PP Nomor 12 Tahun 20014, KLHK pun tengah mempersiapkan peraturan terkait asuransi. Salah satu tata kelola bahaya adalah pendaki atau pengunjung ke taman nasional harus mempunyai asuransi yang mencakup klaim biaya search and rescue.
‘’Peraturannya masih digodok. Kami juga butuh kejelasan dari perusahaan asuransi seperti apa. Asuransi itu akan dibebankan kepada pendaki, baik domestik maupun asing. Agar ketika Basarnas bekerja, mereka tidak kelimpungan,’’ pungkas Nandang.
(Foto: Yun Damayanti)
Rahman Mukhlis, Ketua Umum APGI, menerangkan, APGI selaku asosiasi profesi fokus pada kompetensi di wisata gunung. Saat ini, sebanyak 2000 pemandu gunung di bawah naungan APGI besertifikat secara nasional. Pemandu gunung bersertifikat ini tersebar di 21 provinsi.
‘’Kami sangat menyarankan kepada wisatawan yang hendak mendaki gunung untuk menggunakan pemandu-pemandu gunung bersertifikat. Itu dalam rangka mengedukasi dan memberikan layanan prima bagi wisatawan. Dan dapat dipastikan, di destinasi-destinasi wisata gunung unggulan sudah ada pemandu yang bersertifikat,’’ kata Rahman.
Dengan ditemani pemandu gunung, keselamatan dan keamanan wisatawan lebih aman dan terjaga. Selain itu, pemandu gunung akan mengintepretasikan berbagai hal tentang gunung dan masyarakatnya. Sehingga perjalanan ke gunung lebih dari sekedar kegiatan fisik dan swafoto.
Sejatinya, perjalanan di gunung adalah sebuah proses management diri dan kerja sama tim. Bukan siapa yang terkuat atau tercepat mencapai puncak. Gunung tidak pernah menantang untuk ditaklukan. Kitalah sebenarnya yang ‘menaklukan’ diri sendiri.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Pariwisata pegunungan di Indonesia semakin berkembang. Peminat wisata gunung tidak lagi sebatas komunitas para pecinta alam. Melihat perkembangan itu, Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) menetapkan akan membuat Klasifikasi/Grading Jalur Pendakian Gunung di Indonesia. Grading ini ditujukan untuk memastikan keselamatan dan keamanan [more]
Tourism for Us – Dengan apa yang akan menantinya di Bali, wisatawan Nepal lalui semua rintangan. Mereka tersenyum bersama pendaki dari seluruh dunia. Sementara para pendaki merayakan pencapaiannya menggapai titik tertinggi di muka bumi di Sagarmatha, mereka melihat ke arah lain. Mereka mencari garis putih [more]
Tourism for Us – Federasi Moutaineering Indonesia (FMI) memprediksi, pasca pandemi COVID-19 kegiatan pendakian gunung bisa meningkat sampai 100 persen. Karena selama pandemi kegiatan pendakian ditutup. Tidak ada kegiatan di gunung pada periode April 2020 hingga awal tahun 2021. Sejak paruh akhir tahun lalu beberapa gunung telah diizinkan menerima kunjungan. Setiap kali balai taman nasional membuka kuota pendakian selalu cepat terisi penuh.
Gunung Sumbing dan kebun tembakau di Temanggung,Jawa Tengah.(Foto: Fatoer Doang)
Pendaki gunung Indonesia jaman now
Menurut pengamatan FMI, ada dua jenis pendakian di gunung sekarang. Pendakian yang dilakukan oleh para pecinta alam (explorer) dan pendakian yang dilakukan oleh wisatawan. Kedua jenis pendakian itu terus bertambah jumlahnya.
Klub-klub pecinta alam tumbuh tidak hanya di sekolah-sekolah dan kampus-kampus saja. Klub-klub yang sama juga tumbuh di institusi-institusi dan perkantoran. Setiap tahun klub-klub melahirkan anggota-anggota baru. Hal tersebut sejalan dengan catatan di taman-taman nasional, jumlah kunjungan wisatawan gunung bertambah terus.
Rahmat Abbas, Ketua Harian FMI, menyatakan, kualitas pengelolaan kawasan dan pengunjungnya harus ditingkatkan. FMI mendorong manajemen di taman-taman nasional diperkuat. Taman nasional tidak lagi melihat jumlah kunjungan yang tinggi tapi juga memperhatikan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar gunung dan manajemen resiko di gunung.
‘’FMI sedang berupaya melatih peningkatan kualitas di sisi operatornya maupun visitor-nya(pendaki) melalui klub-klub dan pengelola kawasan,’’ ujar Abbas.
Perkembangan pariwisata gunung di Indonesia
Gunung Rinjani dirancang sebagai prototipe pengelolaan pariwisata gunung secara profesional di Indonesia. Sampai dengan saat ini, baru di Rinjani yang menjalankan sistem ada operator pendakian, pemandu gunung, porter, akomodasi, dan gate. Sedangkan di gunung-gunung lainnya belum ada sistem yang berlaku semacam itu.
Porter di Gunung Rinjani.(Foto: Yun Damayanti)
‘’Beberapa gunung yang ramai pendakian seperti Merbabu dan Ciremai, masing-masing dikelola balai taman nasional, sudah mulai ada tata pengelolaan pendakian melalui masing-masing resor. Namun, pendakian di sana belum ada operatornya,’’ kata Abbas.
Ketua Harian Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Rahman Mukhlis menyebut, ada 1.400 pemandu gunung bersertifikasi di Indonesia. Sertifikat kompetensi pemandu wisata gunung sudah ditetapkan dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) sejak 2011. Sertifikat kompetensi pemandu wisata gunung ada tiga tingkatan yakni pemandu gunung muda, pemandu gunung madya, dan pemandu gunung ahli.
APGI telah menentukan rasio pemandu-pendaki yakni 1:5. Seorang pemandu gunung bertanggung jawab atas keselamatan, keamanan, dan keyamanan seluruh tim: pendaki, porter dan dirinya sendiri, serta turut menjaga kelestarian alam.
‘’Pertimbangan ideal untuk memimpin kelompok pendakian itu dari sisi fisik, psikologis, dan teknik pendakian gunungnya,’’ kata Rahman.
Sedangkan rasio porter-pendaki tidak ada ketentuan baku. Jumlah porter bergantung pada kebutuhan manajemen perjalanan dan tingkat layanan yang diberikan oleh operator.
‘’Idealnya, satu porter untuk membawa barang 1 sampai 3 pendaki. Atau, bisa juga 1:2 atau 1:1. Tugas porter dibagi-bagi. Ada yang membawa barang kelompok (tenda, logistik, peralatan dan perlengkapan pendakian) dan membawa barang pribadi pendaki,’’ lanjutnya
Terkait kegiatan open trip pendakian, FMI menyarankan, penyelenggara menggandeng operator wisata gunung yang legal. Mereka bisa bisa menyewa pemandu dan porter melalui operator. Selain itu, banyak operator wisata gunung menjalin kerja sama dengan operator-operator wisata lain maupun sebaliknya.
Abbas menyesalkan, ‘’Yang jadi masalah, banyak open trip pendakian itu tidak ada izin, tidak ada legalitas. Akhirnya, hal tersebut berimbas pada guide, porter, akomodasi dan pelaku pariwisata gunung lainnya. Selain merugikan wisatawannya.’’
Federasi Mountaineering Indonesia berdiri pada 2005. Sampai saat ini sudah ada di 18 provinsi. Tujuan pendirian federasi untuk menghimpun generasi muda yang tertarik dengan mountaineering; mendampingi pemerintah dalam membuat SOP-dilakukan melalui balai taman nasional; dan membahas masalah-masalah terkait aktivitas-aktivitas di gunung (mountaineering). Keberadaan FMI juga diharapkan dapat menekan kecelakaan di gunung.
FMI menyarankan, pendakian didampingi pemandu gunung. Banyak manfaat yang akan diperoleh pendaki mulai dari perihal keselamatan hingga memperoleh cerita, pengetahuan dan interpretasi dari gunung yang didaki.
Pada 2008-2009 FMI mulai menginformasikan mengenai Ring of Fire, cincin api Indonesia. Federasi juga mendorong pemandu-pemandu gunung sekarang punya pengetahuan tentang geologi dan kegunungapian. Karena itu federasi menjalin komunikasi dengan masyarakat geologi Indonesia.
‘’Indonesia punya berbagai macam gunung. SOP yang berlaku di setiap gunung tidak bisa disamaratakan. Namun, ada hal-hal umum dari prosedur yang semestinya sudah diketahui oleh para pendaki,’’ pungkas Abbas.*** (Yun Damayanti)