Tag: raja ampat

KEMENPAR DAN KATEMBE INDONESIA PERKENALKAN DESTINASI RAJA AMPAT KEPADA DIVE OPERATOR AUSTRALIA

KEMENPAR DAN KATEMBE INDONESIA PERKENALKAN DESTINASI RAJA AMPAT KEPADA DIVE OPERATOR AUSTRALIA

Tourism for Us – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, lebih dari 49 persen atau sekitar 820 ribu wisatawan Australia datang ke Indonesia untuk menikmati keindahan bahari. Oleh karena itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berkolaborasi dengan Katembe Indonesia menyelenggarakan kegiatan familiarization trip (famtrip) bertema [more]

KEMENPAR, DAN, PADI GELAR PELATIHAN KESELAMATAN WISATA SELAM DI RAJA AMPAT

KEMENPAR, DAN, PADI GELAR PELATIHAN KESELAMATAN WISATA SELAM DI RAJA AMPAT

Tourism for Us – Raja Ampat, Papua Barat Daya, adalah satu dari 10 Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) di mana aktivitas wisata selam menjadi salah satu daya tarik utamanya. Pelatihan “Diving Safety 1000 Initiatives” yang diselenggarakan di awal bulan Agustus 2025 merupakan bagian dari langkah menuju [more]

SELAMATKAN RAJA AMPAT: WARISAN LAUT YANG TAK TERNILAI

SELAMATKAN RAJA AMPAT: WARISAN LAUT YANG TAK TERNILAI

Tourism for Us – Raja Ampat telah dikenal luas di kalangan peneliti internasional dan wisatawan mancanegara (wisman) jauh sebelum tahun 2003, saat resmi menjadi kabupaten. Pada bulan Oktober 2015, Provinsi Papua Barat mengumumkan diri sebagai provinsi konservasi pertama di Indonesia dan di dunia, sebuah langkah yang ditandantangani oleh Gubernur Papua Barat saat itu, Abraham O. Ataruri, dan disaksikan oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo. Penting untuk dicatat bahwa wilayah konservasi yang dicanangkan tidak hanya mencakup Raja Ampat, melainkan juga area lainnya di provinsi tersebut. Gubernur Papua Barat pada waktu itu menekankan bahwa deklarasi ini bertujuan untuk membantu provinsi dalam menjaga dan mengelola sumber daya alam secara bijaksana dan berkelanjutan, sehingga dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan.

Bukit Botak, Piaynemo, Raja Ampat, Papua Barat Daya. (Foto: Yun Damayanti)

Raja Ampat merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Kabupaten kepulauan di barat daya kepala burung Pulau Papua ini merupakan salah satu destinasi pariwisata prioritas Indonesia dengan sejumlah predikat, yakni Kawasan Konservasi Perairan Nasional, Pusat Terumbu Karang Dunia hingga UNESCO Global Geopark (UGGp).

Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu saat bertemu dengan Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (4/6/2025), menekankan pada pentingnya komitmen dari semua pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam menjaga kelestarian Raja Ampat.

“Kami di daerah memiliki kewenangan yang terbatas. Melalui komunikasi, kami berharap destinasi Raja Ampat dapat menjadi atensi pemerintah pusat. Bersama-sama kita memastikan Raja Ampat dapat menjadi kekayaan bukan hanya Indonesia, tapi juga dunia,” ujar Gubernur Elisa Kambu.

Oleh karena itu, investasi terbaik di Raja Ampat adalah investasi pada konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat lokal. Jika dikelola dengan bijak, Raja Ampat dapat menjadi model destinasi di dunia yang menyeimbangkan ekonomi dan ekologi dengan selaras.

Menteri Pariwisata Widiyanti dalam pertemuan itu mengatakan bahwa pihaknya mencermati dengan serius salah satu kegiatan industri ekstraktif khususnya terkait ekspansi tambang nikel di wilayah Raja Ampat, yang lokasinya relatif berdekatan dengan Kawasan Wisata UNESCO Global Geopark (UGGp) Raja Ampat.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berkomitmen menjadikan Raja Ampat sebagai simbol pariwisata berkualitas yang berbasis konservasi, edukasi, masyarakat, kualitas, dan keberlanjutan. Selain itu juga mendukung pendekatan whole of government dalam penyelarasan kebijakan antara sektor pariwisata, lingkungan hidup, energi, dan mineral.

Untuk itu, Menpar Widiyanti mendukung adanya evaluasi menyeluruh terhadap izin-izin pertambangan di wilayah sensitif, terutama yang bersinggungan dengan destinasi wisata konservasi.

“Setiap kegiatan pembangunan di kawasan ini harus berpijak pada prinsip kehati-hatian, menghormati ekosistem, serta keseimbangan antara pembangunan dan pelestarian,” kata Menteri Pariwisata Widiyanti.

Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu (kiri) saat bertemu dengan Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (4/6/2025). (Foto: Birkompublik Kemenpar)

Tiga langkah strategis Kementerian Pariwisata menangani isu tambang nikel di Raja Ampat, yaitu:

1.        Kunjungan dan Dialog DPR Bersama Masyarakat

Kemenpar bersama anggota DPR-RI melakukan kunjungan langsung ke Raja Ampat, Papua Barat Daya, pada 28 Mei hingga 1 Juni 2025. Kunjungan ini dilakukan guna menyerap aspirasi masyarakat, terutama masyarakat adat.

Dalam kunjungan tersebut, masyarakat menyampaikan penolakan terhadap rencana pemberian izin pertambangan baru. Mereka menegaskan bahwa ekosistem dan identitas Raja Ampat yang harus dijaga sebagai kawasan wisata, bukan wilayah industri ekstraktif.

Sebagai hasil dari kunjungan tersebut, Komisi VII DPR berkomitmen membawa aspirasi mengenai pencemaran lingkungan akibat tambang nikel ke DPR RI. Selain itu, Komisi VII DPR juga meminta evaluasi izin tambang oleh pemerintah pusat sebagai upaya menjaga kelestarian ekosistem Raja Ampat.

2.        Rapat Koordinasi dengan Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya

Menpar Widiyanti telah menerima kunjungan Gubernur Papua Barat Daya Elisa Kambu, Rabu (4/6/2025). Dalam pertemuan tersebut, baik Kementerian Pariwisata dan Gubernur Papua Barat Daya berkomitmen untuk menjaga ekologi Raja Ampat.

Pemerintah daerah menegaskan agar kawasan Raja Ampat tetap diarahkan sebagai kawasan konservasi laut, taman bumi UNESCO, dan destinasi unggulan pariwisata Indonesia, tanpa dikompromikan dengan aktivitas pertambangan.

3.        Koordinasi Strategis Lintas Sektor

Kemenpar juga menggelar rapat koordinasi lintas sektor pada Kamis (5/6/2025), untuk menguatkan langkah perlindungan jangka panjang terhadap Raja Ampat.  Salah satu inisiatif utama yang sedang dikaji, yaitu mendorong Raja Ampat berfokus pada pariwisata berkualitas, dengan mengedepankan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism) dan investasi hijau yang berpihak pada masyarakat dan lingkungan.

Raja Ampat adalah surga terakhir di bumi, sebuah tempat yang memukau dengan keindahan dan keajaibannya, mulai dari kedalaman laut hingga permukaan di pulau-pulau atol yang menakjubkan. Setiap orang yang pernah menginjakkan kaki di sana pasti merasakan pesona yang tak tertandingi.

Namun, ada rasa sakit dan kemarahan yang mendalam ketika melihat bagian-bagian dari surga ini dipotong untuk diambil bijih nikel, yang digunakan sebagai bahan baku untuk baterai kendaraan listrik yang dianggap ramah lingkungan.

Sementara itu, terumbu karang yang merupakan hewan mikroskopis hanya mampu tumbuh kurang dari 10 cm setiap tahunnya, dan pertumbuhan mangrove pun tidak sebanding dengan laju pemanasan global yang semakin mengkhawatirkan. Apa yang terjadi di Raja Ampat bukan hanya masalah lokal tetapi juga memiliki dampak yang luas, mempengaruhi Indonesia dan dunia secara keseluruhan. ***(Yun Damayanti)

SAUPON MANGROVE HOMESTAY, HIDDEN GEM DI TELUK MAYALIBIT, RAJA AMPAT

SAUPON MANGROVE HOMESTAY, HIDDEN GEM DI TELUK MAYALIBIT, RAJA AMPAT

Tourism for Us – Berada di dalam hutan mangrove yang masih alami di Teluk Mayalibit, Saupon Mangrove Homestay sudah menjadi destinasi itu sendiri. Kelompok Tani Hutan Waifoi yang mengelola pertanian hutannya dengan mengedepankan kearifan lokal telah menjadikan homestay bukan sekedar penginapan biasa. Kelompok tani hutan [more]

TRANSNUSA KONEKSIKAN MANADO, AMBON, SORONG DAN TIMIKA MULAI APRIL 2024

TRANSNUSA KONEKSIKAN MANADO, AMBON, SORONG DAN TIMIKA MULAI APRIL 2024

Tourism for Us – Maskapai penerbangan TransNusa mengumumkan, akan mulai melayani rute-rute baru yang menguhubungkan Manado (Sulawesi Utara), Ambon (Maluku), Sorong (Papua Barat Daya) dan Timika (Papua Tengah) mulai bulan April 2024. Rute-rute baru ini dirancang tidak hanya untuk memperluas aksesibilitas bagi wisatawan tetapi juga [more]

AWOM BROTHERS HOMESTAY, AKOMODASI LOKAL YANG MASIH BERTAHAN DI KRI, RAJA AMPAT

AWOM BROTHERS HOMESTAY, AKOMODASI LOKAL YANG MASIH BERTAHAN DI KRI, RAJA AMPAT

Tourism for Us – Awom Brothers Homestay adalah satu dari empat akomodasi lokal yang masih bertahan di Pulau Kri, Raja Ampat. Kondisinya pun cukup baik. Homestay yang dikelola kakak beradik Awom ini sudah buka kembali sejak tiga bulan lalu.

Awom Brothers Homestay,sedikit dari usaha akomodasi lokal di Raja Ampat yang masih bisa bertahan selama pandemi.(Foto: Awom Brothers Homestay)

Yosafat Awom, sang kakak, berbagi cerita, ada lebih dari 100 homestay milik masyarakat rusak. Tidak hanya yang ada di Kri tetapi juga mulai dari Masward, Saonek sampai Kabuy, Manyaifun, Moesmanggara, Pam, Saukabu, Arborek dan Sawandarek.

“Di sekitar Pulau Kri hanya ada empat homestay yang masih bisa jalan. Tapi, itu pun kondisinya ada yang sudah rusak, sebagian besar rubuh masuk laut. Sedih memang. Saya terima tamu terakhir April 2020. Sampai sekarang tidak ada lagi. Jika keadaan membaik, harus mulai dari nol lagi. Wisatawan yang sudah vaksin, silakan datang ke Raja Ampat,“ ujar Yos, seorang pemandu lokal dengan pengalaman 35 tahun.

Yosafat Awom. [Foto; Awom Brothers Homestay]

Menurut pengamatan Yos, agar masyarakat dapat memulai lagi usaha wisatanya, mereka memerlukan peralatan snorkeling dan selam, perlengkapan homestay seperti kasur, bantal, seprei, kelambu dan lain-lain, serta bantuan untuk perbaikan perahu, kapal yang digunakan untuk mengantar tamu.

“Masyarakat mengusahakan homestay dan transportasi dengan menggunakan biaya sendiri. Boleh dikatakan, belum ada bantuan dari pemerintah. Kami butuh dana agar bisa mulai beroperasi lagi,“ tambah Yos.

Lalu, bagaimana dengan Awom Brothers Homestay? Dari total delapan kamar yang dimiliki, mereka hanya mengoperasikan empat kamar saja. Perlu diketahui, Awom Brothers melengkapi setiap kamar dengan penyejuk udara.

“Sekarang yang dioperasikan hanya empat kamar. Empat kamar lain belum sepenuhnya siap. Kami masih cari-cari uang untuk lengkapi kasur, seprei, bantal dan lain-lain,“ katanya.

Karena aktivitas wisata belum ada, para pemandu lokal pergi melaut lagi.

Awom Brothers Homestay tidak hanya menyediakan akomodasi tetapi juga transportasi bagi tamu-tamunya yang ingin menikmati keindahan bahari di sekitar Pulau Kri, Raja Ampat. [Foto; Awom Brothers Homestay]

Awom Brothers menawarkan biaya menginap Rp 750.000,00 per orang. Biaya menginap sudah termasuk makan tiga kali dan fasilitas AC dan kamar mandi dalam kamar. Selain itu, homestay juga menyediakan perahu kayak. Wisatawan bisa menggunakan kayak dari homestay sampai ke pasir timbul dan Yenbuba. Kakak beradik Awom hanya menerima tamu berjumlah delapan orang ke atas.

Dengan biaya Rp 650.000,00 per orang, wisatawan yang menginap bisa menyelam bersama Awom Brothers di dua titik di sekitar Manswar yaitu Blue Magic dan Manta Point. Paket menyelam ini bisa jalan minimal diikuti lima penyelam. Sedangkan menyelam di tempat-tempat lain untuk melihat jenis ikan dan terumbu karang tertentu berlaku tambahan biaya bahan bakar.

Sedangkan untuk snorkeling biayanya Rp 500.000,00 per orang. Biaya tersebut sudah termasuk sewa alat, speedboat dan bahan bakar. Lokasinya di Arborek, Sawandarek, Yenbuba dan Pulau Friwen.

Awom Brothers Homestay punya dua unit speedboat sebagai alat transportasi mengantar tamu-tamu. Setiap speedboat ditenagai dua mesin berkekuatan 40 PK. Satu speedboat kecil muat 8 orang dan 18 orang untuk kapal yang lebih besar. Biaya transfer antara Waisai dan Kri dipatok Rp 1.000.000,00 per speedboat.

Yos bangga dengan sang adik, Otto Hans Awom, yang merawat Awom Brothers Homestay dengan baik dan membuatnya bisa bertahan selama pandemi.  Dan sekarang mereka menunggu tamu-tamu datang dari Jakarta, Bali, dan mancanegara.*** (Yun Damayanti)

Raja Ampat di Masa Kenormalan Baru

Raja Ampat di Masa Kenormalan Baru

Up Date Pemerintah Kabupaten Raja Ampat telah membuka kembali pariwisatanya mulai Sabtu, 22 Agustus 2020. Pembukaan kembali ini diikuti dengan menerapkan protokol keamanan dan kesehatan baru. Dua daya tarik yakni Camping and Birdwatching di KTH Warkesi dan Top View Piaynemo dipilih sebagai pilot pelaksanaan awal [more]