Tag: sustainable tourism

NOVOTEL DORONG HIDANGAN LAUT BERKELANJUTAN DI LEBIH DARI 600 HOTEL DI SELURUH DUNIA

NOVOTEL DORONG HIDANGAN LAUT BERKELANJUTAN DI LEBIH DARI 600 HOTEL DI SELURUH DUNIA

Tourism for Us – Dua tahun setelah meluncurkan komitmennya terhadap laut dan menjalin kemitraan global dengan WWF Prancis, Novotel terus mencatat kemajuan nyata di seluruh jaringan globalnya yang mencakup lebih dari 600 hotel. Kemajuan ini terlihat melalui transformasi operasional, konservasi laut, praktik pangan berkelanjutan, serta [more]

SELAMATKAN RAJA AMPAT: WARISAN LAUT YANG TAK TERNILAI

SELAMATKAN RAJA AMPAT: WARISAN LAUT YANG TAK TERNILAI

Tourism for Us – Raja Ampat telah dikenal luas di kalangan peneliti internasional dan wisatawan mancanegara (wisman) jauh sebelum tahun 2003, saat resmi menjadi kabupaten. Pada bulan Oktober 2015, Provinsi Papua Barat mengumumkan diri sebagai provinsi konservasi pertama di Indonesia dan di dunia, sebuah langkah [more]

IINTOA UNGKAP PROYEKSI KENAIKAN WISMAN 2025: INI YANG PERLU DIKETAHUI

IINTOA UNGKAP PROYEKSI KENAIKAN WISMAN 2025: INI YANG PERLU DIKETAHUI

Tourism for Us – Indonesia Inbound Tour Operators Association (IINTOA) memproyeksikan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) naik antara 10 persen sampai 15 persen pada 2025. Pemberitaan negatif terhadap pariwisata Indonesia pada akhir tahun 2024 dan awal 2025 tidak terlihat mempengaruhi pemesanan yang diterima oleh para operator tur inbound di sini.  

Dr. Paul Edmundus Talo, Ketua Umum IINTOA, menerangkan bahwa penilaian proyeksi itu melihat pada indikator pemesanan-pemesanan awal yang dilakukan tour operators dan tour wholesalers dari luar negeri kepada mitra-mitranya di sini telah dilakukan sejak tahun 2024. Jumlah pemesanan yang diterima oleh anggota IINTOA menunjukkan kenaikan.

‘’Pariwisata 2025 akan lebih baik daripada 2024. Kami memperkiraan kenaikan jumlah wisatawan sekitar 10 hingga 15 persen. Kami pun yakin setelah itu, pada hari-hari selanjutnya, akan datang permintaan-permintaan lainnya. Dan penanganan permintaan-permintaan tersebut akan kami lakukan secara tailor-made,’’ ujar Paul.

Adjie Wahjono, Operations Manager Aneka Kartika Tours & Travel, mengatakan bahwa tren waktu pemesanan untuk liburan musim panas (summer) dengan periode perjalanan April-Oktober masih sama, yakni mulai dari bulan November sampai April. Pemesanan paling banyak datang pada periode Februari-Maret.  

‘’Kami masih harus menunggu sampai bulan Maret untuk melilhat kinerja pemesanan untuk musim panas tahun ini,’’ kata Adjie.

Ketua Umum IINTOA merasa prihatin dengan kejadian-kejadian yang menimpa wisman yang sedang berlibur di sini. Kejadian-kejadian itu tentu saja mencoreng citra baik Indonesia sebagai destinasi pariwisata.

‘’Saya sangat prihatin. Baik pelecehan maupun pemerkosaan, kejadian-kejadian itu memang sangat memprihatinkan. Semoga polisi dapat segera menangkap para pelaku lalu diberikan hukuman berat,’’ tambah Paul.

Permintaan perjalanan ke Indonesia masih positif sampai saat ini, meskipun didera pemberitaan buruk dan kejadian kriminal yang dialami oleh wisman secara bertubi-tubi. Seperti yang disampaikan oleh Adjie, perusahaannya belum melihat ada indikasi untuk menghindari bepergian ke Bali.  

Terkait penanganan wisman secara tailor-made, Aneka Kartika semakin memantapkan layanan immersive culture experience. Immersive activity ini juga merupakan hal penting dalam sustainable tourism.

Adjie menerangkan, ‘’Immersive activity merupakan salah satu elemen penting dalam program-program terutama bagi turis-turis Eropa. Mereka sangat menghargai  kegiatan-kegiatan otentik dan keterlibatan dengan budaya lokal.’’

Menurutnya, seorang operator tur harus bisa menciptakan sebuah program yang mengandung elemen-elemen ini dalam itinerary yang ditawarkan kepada mitra-mitra kerjanya. Operator-operator tur inbound Indonesia sudah banyak yang melakukannya dan menjalankannya sejak lama.***(Yun Damayanti)

SAUPON MANGROVE HOMESTAY, HIDDEN GEM DI TELUK MAYALIBIT, RAJA AMPAT

SAUPON MANGROVE HOMESTAY, HIDDEN GEM DI TELUK MAYALIBIT, RAJA AMPAT

Tourism for Us – Berada di dalam hutan mangrove yang masih alami di Teluk Mayalibit, Saupon Mangrove Homestay sudah menjadi destinasi itu sendiri. Kelompok Tani Hutan Waifoi yang mengelola pertanian hutannya dengan mengedepankan kearifan lokal telah menjadikan homestay bukan sekedar penginapan biasa. Kelompok tani hutan [more]

INDONESIA ECOTOURISM FAIR 2024: ETALASE PRAKTIK KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN OLEH MASYARAKAT, BANGKITKAN KEBANGGAAN LOKAL

INDONESIA ECOTOURISM FAIR 2024: ETALASE PRAKTIK KEBERLANJUTAN LINGKUNGAN OLEH MASYARAKAT, BANGKITKAN KEBANGGAAN LOKAL

Tourism for Us – Dengan artificial intelligent (AI) orang mudah sekali mendapatkan informasi. Tetapi dalam lansekap pariwisata, khususnya di subsektor ekowisata, kemudahan itu tidak serta merta membuat wisatawan menemukan orang yang baik dan tepat untuk pengalaman ekowisata sesungguhnya. Maka ajang pameran khusus ekowisata Indonesia Ecotourism [more]

PROF. I NYOMAN SUNARTA: TEMPATKAN ALAM SEBAGAI STAKEHOLDER DALAM PEMBANGUNAN PARIWISATA DAN TINGKATKAN KUALITAS SDM LOKAL

PROF. I NYOMAN SUNARTA: TEMPATKAN ALAM SEBAGAI STAKEHOLDER DALAM PEMBANGUNAN PARIWISATA DAN TINGKATKAN KUALITAS SDM LOKAL

Tourism for Us – Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia sebagai destinasi belum mengalami overtourism. Karena kunjungan wisatawan belum tersebar merata ke seluruh pulau. Tetapi benar, di destinasi-destinasi pariwisata tertentu, terutama di destinasi-destinasi primadona, sudah mengalami gejala-gejala dan/atau memasuki overtourism. Dan destinasi-destinasi pariwisata baru yang berkembang bukan tidak mungkin bisa jatuh ke dalam overtourism bila tidak dikelola dengan baik.

Apa sebenarnya overtourism dan bagaimana destinasi-destinasi baru bisa terhindar dari overtourism, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Sunarta, M.Si., Guru Besar Bidang Ilmu Pariwisata Berbasis Lingkungan di Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali, menerangkannya begini:

Ada tiga variabel penilaian apakah suatu destinasi sudah mengalami overtourism. Bila salah satu dari tiga variabel merasa tidak nyaman itu mengindikasikan destinasi tersebut sudah mengalami overtourism.

Variabel paling sepele dan kasat mata adalah antara warga lokal (warlok atau host) dan wisatawannya (guest) baik asing maupun domestik, salah satu di antara mereka, sudah tidak merasa nyaman lagi.

‘’Pertama, kalau orang lokalnya sudah tidak nyaman dan membenci turis berarti sudah over. Kedua, bila wisatawannya merasa tidak mendapatkan ekspetasi perjalanannya di destinasi juga artinya sudah over. Pasti ada yang keliru di destinasi,’’ ujar Sunarta.

Variabel ketiga bisa dilihat dari fisik destinasi seperti terjadi kemacetan di mana-mana, suhu udara semakin panas, dan sumber daya alam semakin menurun baik kuantitas maupun kualitasnya.

Regenerative Tourism untuk Bali

Sunarta menegaskan, jangan membandingkan Bali dengan destinasi-destinasi lain di Indonesia. Posisi setiap destinasi berbeda-beda. Maka dari itu kebutuhan penerapan sustainable dan regenerative tourism tidak akan sama antara destinasi yang satu dengan yang lain.

‘’Untuk menerapkan yang mana paling pas di Bali, kita harus melihat pada kenyataan dan fakta-fakta yang ada. Di sini, menurut saya, sustainable tourism tidak pas. Di destinasi Bali yang sekarang jangan sekali-kali membicarakan masalah kuantitatif lagi,’’ katanya.

Tetapi, di destinasi-destinasi lain yang baru mulai didatangi wisatawan tidak harus membatasi jumlah kunjungan. Itu akan menghambat pariwisata di situ. Meskipun demikian, para pemangku kepentingan harus peduli terhadap daya dukung destinasi.

Dia menjelaskan, Waterloo sudah melakukan penelitian tentang sustainable tourism di Bali sejak 1994. Dalam proyek penelitian bertajuk Bali Sustainable Development Project, Waterloo mendapati Pulau Dewata sudah mulai mengalami krisis air.

Pada tahun 2009, Sunarta melakukan penelitian di sembilan kabupaten dan kota di Bali. Waktu itu hasilnya, lima dari sembilan kota/kabupaten masih memiliki sumber air tanah yang cukup.

Penelitian yang sama dilakukannya lagi pada 2013. Hasilnya menunjukkan hanya Kabupaten Bangli yang masih memiliki surplus persediaan air tanah. Persediaan sumber air tanah di kota/kabupaten lain telah menyusut. 

Sunarta juga mengungkapkan, Danau Buyan, Tamblingan, Batur dan Beratan semua mengalami sedimentasi tinggi. Volume air di keempat danau yang ada di Bali sudah berkurang.

‘’Bisa dibayangkan. Itu sumber air kita. Kalau sumber-sumber itu berkurang berarti air tanahnya berkurang,’’ katanya.

Ada wacana Bali tidak mungkin sampai kekurangan air tawar bersih. Teknologi penyulingan air laut dapat menjawab kebutuhan air bersih warlok dan pariwisata. Namun pertanyaan berikutnya yang muncul adalah akankah hal itu mampu menopang keberlanjutan daya dukung alam dan lingkungan pulau untuk kehidupan masyarakat dan wisatawan?

Kemudian dia mengungkapkan hasil riset lain yang dilakukannya pada 2023. Risetnya tahun lalu terkait emisi karbon. Hasilnya menunjukkan, di pusat-pusat pariwisata di Bali emisi karbonnya sudah tinggi. Bahkan di daerah yang tidak didatangi wisatawan seperti Desa Culik di timur laut pulau emisi karbonnya cukup tinggi.

Suhu di ibukota provinsi Denpasar rata-rata 34 derajat Celcius sekarang. Itu mengindikasikan kota ini harus membangun danau dan hutan kota di sekitarnya.

Dari penelitian-penelitiannya menunjukkan, daerah-daerah yang paling pesat perkembangan pariwisatanya berada di kantong-kantong sumber daya alam Pulau Bali. Karena di situ topografi dan alamnya nan indah.  

‘’Kita harus mengetahui peta destinasi pada waktu ingin mengembangkan pariwisata. Ada di mana dia. Kami di akademik mempelajari teori Life Cycle Tourism. Itulah mengapa, menurut saya, sustainability sudah harus diperhatikan semenjak kita membangun destinasi,’’ terang Sunarta.

Dengan kondisi eksisting alam Bali sekarang, prinsip kehati-hatian merupakan salah satu kunci utama dalam upaya memperbaiki lingkungan dan masyarakat lokal.

Dia mencontohkan, misal di Desa Culik tadi ingin dikembangkan pariwisata. Maka desa itu tidak bisa langsung diinjeksi dengan hal-hal yang sama yang ada di Kuta dan Canggu.

‘’Kalau dia mau bertahan, apa dia punya keberanian menjual yang dia punya, bukan apa yang wisatawan mau?,’’ lanjutnya.

Dalam membangun destinasi pariwisata, mulai dari skala provinsi hingga desa, pemerintah daerah selaku regulator harus tegas menjalankan kebijakan tata ruang dan tata wilayahnya. Regulator harus mampu mengatur di mana boleh berbuat atau melakukan apa.

Dari situ bisa diidentifikasi daya dukung (carrying capacity) suatu wilayah dalam mengakomodasi warlok dan kegiatan wisata. Dan pelaku industri pariwisata dan investor juga punya acuan yang jelas untuk mengembangkan infrastruktur dan produk.

Sunarta mendorong daerah-daerah mengembangkan potensi yang tidak dimiliki daerah lain. Dalam hal ini diperlukan kemampuan mengidentifikasi dan memetakan potensi asli dan keunikan yang dimiliki daerah.

‘’Kalau dibandingkan dengan desa tetangga, adakah potensi kita yang sama seperti yang mereka miliki? Kalau dia ada untuk apa kita kembangkan potensi yang sama. Kita kembangkan potensi yang lain, yang sangat unik dan tidak ada di tempat lain,’’ kata Sunarta.

Setelah dipetakan, potensi itu dikemas. Begitu dikemas dia akan menjadi bagus. Baru kemudian dipasarkan dan dijual. Dia menyayangkan masih banyak destinasi yang mempraktikan belum mengetahui potensinya tetapi sudah dipasarkan.

‘’Alam dan budaya tidak bisa dipisahkan di Bali. Budaya dan adat-istiadat tanpa alam akan hancur. Tujuan dari penelitian-penelitian kami, kapan kita ke sustainability. Kapan kita ke regeneratif. Dan kapan kita ke quality tourism,’’ tambahnya.

Pariwisata berkualitas bermula dari warga lokal

Seiring dengan adanya indikator overtourism maka variabel pariwisata berkualitas (quality tourism) juga ada tiga yakni sumber daya manusia (SDM) lokalnya harus berkualitas, wisatawan yang datang juga berkualitas, dan destinasinya pun harus berkualitas.

‘’Kalau semua itu belum berkualitas, jangan bicara quality tourism,’’ kata Sunarta. 

Dia mengingatkan kembali, quality tourism is not about money. Suatu destinasi pariwisata berkualitas bukan berarti hanya mendatangkan orang-orang kaya. Wisatawan berkualitas ialah mereka datang ke destinasi membawa pengaruh dan manfaat yang baik bagi tuan rumah.

‘’Tahun 1930-an, wisatawan yang datang ke Ubud ialah para seniman. Sekarang writers juga datang ke Ubud. Berikutnya, saya ingin yang datang ke Bali ialah para peneliti (researcher),’’ tuturnya.

Dia berbagi pengalaman ketika bekerja sama dengan seorang peneliti kelautan asal Perancis. Sang peneliti itu sedang melakukan riset hubungan antara terumbu karang (coral) yang sehat dengan wellness tourism. Sang peneliti mencari di mana bisa menemukan hal itu. Selaku orang bali dikatakannya kepada peneliti Perancis itu, wisatawan yang datang untuk menyelam (diving) dan melihat terumbu karangnya sehat maka dia juga akan merasa sehat. Namun bila melihat terumbu karangnya rusak saat menyelam dia akan merasa sedih dan tentu itu tidak baik bagi kesehatannya.

I Nyoman Sunarta menerangkan semua itu di Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2025 yang digelar oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Fowaparekraf), Kamis (10/10/2024), di Hotel Aston Kemayoran, Jakarta.

Dari penjelasan Guru Besar Pariwisata di Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali, tersebut kami mencatat poin-poin yang bisa diambil untuk dipahami bersama:

Pariwisata sebagai kegiatan ekonomi pasti membawa dampak baik dan buruk terhadap lingkungan maupun masyarakat. Maka pada setiap tahapan dalam membangun destinasi alam mesti ditempatkan sebagai salah satu pemangku kepentingan (stakeholder) utama. Dan kesejahteraan warlok ditempatkan sebagai titik awal dan tujuan akhirnya.

Alam adalah sumber utama pembentuk budaya Nusantara. Pariwisata Indonesia bertumpu pada budaya sehingga kita tidak bisa mengabaikan peran alam.

Alam yang indah dengan segala macam karakter spesifiknya telah menciptakan beragam budaya berbeda-beda di setiap destinasi. Itulah yang mendorong orang-orang mau berkunjung ke Indonesia.

Pembangunan pariwisata harus bisa memastikan destinasi tidak kehilangan sumber daya alamnya untuk menghidupi populasi penduduk yang terus berkembang. Semakin banyak penduduk membutuhkan sumber daya yang besar.

Oleh karena itu prinsip kehati-hatian harus diterapkan sejak awal membangun destinasi. Dan dalam prosesnya membutuhkan kebijakan dan regulasi yang jelas dan tegas serta komitmen menjalankan peraturan oleh semua pihak. 

Pertumbuhan jumlah penduduk pasti akan mendorong kebutuhan jaringan aksesibilitas yang lebih luas dan multimoda transportasi. Untuk mengakomodasi kebutuhan itu daerah harus memikirkan bagaimana memindahkan orang-orang dari satu tempat ke tempat lain secara efektif dengan biaya terjangkau.

Kunjungan wisatawan semakin mendorong kebutuhan aksesibilitas dan transportasi di daerah wisata. Wisatawan pasti akan memanfaatkan infrastruktur dan fasilitas publik yang ada di destinasi termasuk transportasi lokal.

Mobilitas masyarakat harus didahulukan ketika membangun infrastruktur aksesibilitas dan sarana publik di daerah. Karena mereka hidup selamanya di destinasi. Sementara wisatawan hanya tinggal dalam jangka waktu tertentu.

Host tidak bisa mengatur/menentukan ke mana wisatawan pergi. Tetapi host bisa menciptakan daya tarik-daya tarik di berbagai titik. Dengan begitu, wisatawan tidak terkonsentrasi di satu area atau wilayah tertentu sehingga di area/wilayah tersebut mengalami kelebihan (over).

Daya tarik yang unik dan berbeda harus dikemas dengan baik sebelum dipasarkan. Dan untuk dapat mencapai daya tarik-daya tarik tersebut wisatawan memerlukan jejaring aksesibilitas dan multimoda transportasi tadi.

Kualitas  SDM warga lokal pun harus terus diperbaiki dan ditingkatkan. Agar mereka tidak hanya menjadi obyek atraksi dan sumber tenaga kerja. Tetapi lebih daripada itu, warlok sebagai subyek pemilik destinasi mesti bisa memahami bagaimana mengelola lingkungan dan kehidupannya. ***(Yun Damayanti)

PARIWISATA INDONESIA 2025: GEJALA OVERTOURISM, TANTANGAN MENERAPKAN PRINSIP-PRINSIP BERKELANJUTAN DAN KEGAMANGAN HADAPI DISRUPSI AI/GENAI

PARIWISATA INDONESIA 2025: GEJALA OVERTOURISM, TANTANGAN MENERAPKAN PRINSIP-PRINSIP BERKELANJUTAN DAN KEGAMANGAN HADAPI DISRUPSI AI/GENAI

Tourism for Us – Pariwisata Indonesia beserta industrinya akan menghadapi tiga issue besar pada tahun 2025 yaitu beberapa destinasi favorit sudah menghadapi gejala-gejala overtourism, tantangan untuk menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan (sustainability) dalam membangun destinasi wisata dan mengembangkan bisnis, serta kegamangan pelaku industri pariwisata menghadapi disrupsi artificial [more]

‘WONDERFUL INDONESIA’ KEMBALI HADIR DI IFTM TOP RESA 2024 PERANCIS, KOLABORASI DIASPORA INDONESIA DI PARIS DAN PELAKU INDUSTRI PARIWISATA TANAH AIR

‘WONDERFUL INDONESIA’ KEMBALI HADIR DI IFTM TOP RESA 2024 PERANCIS, KOLABORASI DIASPORA INDONESIA DI PARIS DAN PELAKU INDUSTRI PARIWISATA TANAH AIR

Tourism for Us – ‘Wonderful Indonesia’ akan kembali hadir di IFTM Top Resa 2024. IFTM adalah pameran pariwisata B-to-B terbesar di Perancis. Pameran akan berlangsung pada 17-19 September 2024 di Parc des Expositions Porte de Versailles, Paris. Kehadiran stand ‘Wonderful Indonesia’ di IFTM 2024 merupakan [more]

IBIS STYLES JAKARTA MANGGA DUA SQUARE NAIKAN LEVEL INISIATIF HIJAU TERBARUNYA

IBIS STYLES JAKARTA MANGGA DUA SQUARE NAIKAN LEVEL INISIATIF HIJAU TERBARUNYA

Tourism for Us – Keberadaan water dispenser merupakan bagian dari pengurangan penggunaan botol plastik di hotel. Di ibis Styles Jakarta Mangga Dua Square, inisiatif hijau tersebut dinaikkan levelnya. Hotel mengolah sumber air yang ada di properti untuk keperluan konsumsi operasional maupun tamu-tamu hotel. Air yang tersedia di dispenser berasal dari air itu. Seperti apa inisiatif hijau terbarunya tersebut?

Sejak tahun 2020, ibis Styles Jakarta Mangga Dua Square telah menetapkan komitmen penuh untuk berkontribusi terhadap sustainability program seperti no more single use plastic, pengelolaan limbah sampah, hingga emisi nol karbon. Hotel yang berada di salah satu kawasan perekonomian terkemuka di bilangan Jakarta Utara itu ingin melangkah lebih jauh lagi.

Transformasi keberlanjutannya yaitu bekerja sama dengan Bluewater dan PT Pran Indo Permata Abadi (PT P.I.P.A) dengan Accor selama 13 tahun untuk mengelola dan memproduksi air minum sendiri.

Bluewater merupakan perusahaan pengelolaan air minum yang berasal dari Swedia. Perusahaan ini bekerja sama dengan perusahaan asli Indonesia yaitu PT P.I.P.A. Kerja sama ini bertujuan untuk memperkenalkan teknologi bahwa kita bisa membuat air minum sendiri.

Tahap pertama dari teknologi ini yaitu purify, proses perjernihan air, membebaskan dari semua kotoran yang terbawa pada air. Dalam hal ini Bluewater menggunakan teknologi Superior Osmosis™ dengan menetapkan standar baru menghilangkan 99,7% kontaminan untuk kualitas air yang tak tertandingi.

Setelah proses tersebut selesai, selanjutnya mineralize yaitu dengan menambahkan mineral dan ekstrak alami untuk rasa dan kesehatan yang lebih baik. Penambahan mineral Swedia, Kalsium dan Magnesium dengan rasio 2:1 meningkatkan  kesehatan di setiap tegukan.

Selain itu, dalam prosesnya juga berupaya menghilangkan mikroplastik dari air. Sehingga dapat melindungi kesehatan dengan mengurangi paparan terhadap potensi racun dan polutan lingkungan. Penghapusan PFAS dari air akan menjaga kesehatan dengan meminimalkan paparan bahan kimia berbahaya dan persisten.

Tahap terakhir yaitu Serve, mengisi air olahan pada botol yang dapat digunakan kembali untuk berkontribusi pada sampah bebas plastik. Dan bagi pelanggan setia  yang menginap di berbagai merek hotel di bawah naungan Accor semakin terbiasa menemukan teko air dari kaca di dalam kamar.

Water dispenser yang ada di ibis Styles Jakarta Mangga Dua Square bukan water dispenser biasa. Fasilitas ini dilengkapi dengan teknologi penyaringan air terkini yang memastikan kualitas air minum yang bersih dan aman.

Fasilitas water dispenser tersedia 24 jam sehari dan berada di setiap lantai. Dengan begitu memberikan kemudahan bagi para tamu untuk mendapatkan air minum kapan saja mereka membutuhkannya.

Dalam keterangan tertulis, Stephane Bryer, General Manager ibis Styles Jakarta Mangga Dua Square, mengatakan, “Kami selalu mencari cara untuk meningkatkan pengalaman tamu kami, dan menyediakan water dispenser di setiap lantai adalah salah satu langkah kami dalam mencapai tujuan tersebut.”

Langkah ini diambil sebagai bagian dari komitmen untuk menyediakan layanan terbaik dan memastikan tamu merasa seperti di rumah sendiri selama menginap.

“Kami berharap dengan adanya fasilitas ini, tamu kami dapat menikmati kenyamanan ekstra dan merasa lebih dihargai selama menginap di hotel kami,” kata Stephane Bryer.

Sejak bertahun–tahun lalu, Accor telah berkomitmen terhadap pembangunan berkelanjutan. Fasilitas water dispenser ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan ibis Styles Jakarta Mangga Dua Square untuk menerapkan praktik ramah lingkungan. Dengan menyediakan air minum yang mudah diakses diharapkan dapat mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai dan mendukung inisiatif keberlanjutan lingkungan.

Selain water dispenser, ibis Styles Jakarta Mangga Dua Square juga menawarkan berbagai fasilitas unggulan lainnya seperti kolam renang yang bisa diakses di Novotel Jakarta Mangga Dua Square, pusat kebugaran, massage, sTREATs restoran, dan Milkyway Ballroom yang modern. ***(Yun Damayanti)  

PERUBAHAN EKSPETASI PENGALAMAN PERJALANAN PELANGGAN HADAPI DENGAN STRATEGI PENDEKATAN WISATAWAN-SENTRIS

PERUBAHAN EKSPETASI PENGALAMAN PERJALANAN PELANGGAN HADAPI DENGAN STRATEGI PENDEKATAN WISATAWAN-SENTRIS

Tourism for Us – Pascapandemi COVID-19, pelaku industri perjalanan dan pariwisata tidak hanya menghadapi disrupsi teknologi tetapi juga perubahan ekspetasi pengalaman perjalanan wisatawan. Usaha-usaha pariwisata, termasuk industri operator tur dan agen perjalanan, dituntut untuk beradaptasi atau mengubah strategi-strateginya agar bisnis dapat beroperasi kembali. Dari pengalaman [more]