Tourism for Us – Alam merupakan elemen yang tak terpisahkan dari ekosistem bisnis pariwisata, termasuk sektor perhotelan. Industri perhotelan sangat bergantung pada berbagai sumber daya alam yang ada. Oleh karena itu, restorasi alam menjadi bagian penting dalam upaya menciptakan keberlanjutan dan ketahanan bagi industri ini. [more]
Tourism for Us – Bali menyambut baik kehadiran talenta, inovasi, dan investasi global yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat lokal. Untuk itu, Pulau Dewata memerlukan investor yang memiliki visi jangka panjang, menghargai budaya Bali, menjaga kelestarian lingkungan, menciptakan lapangan kerja, dan menjalin kemitraan dengan komunitas [more]
Tourism for Us – Dua tahun setelah meluncurkan komitmennya terhadap laut dan menjalin kemitraan global dengan WWF Prancis, Novotel terus mencatat kemajuan nyata di seluruh jaringan globalnya yang mencakup lebih dari 600 hotel. Kemajuan ini terlihat melalui transformasi operasional, konservasi laut, praktik pangan berkelanjutan, serta peningkatan kesadaran akan pentingnya pelestarian laut di seluruh dunia.
Novotel mendorong hidangan laut berkelanjutan di 600 hotel di seluruh dunia. (Foto: Novotel)
Menjelang Hari Laut Sedunia (8 Juni) lalu, Novotel telah merilis ‘’Laporan Dampak Laut’’ keduanya, yang secara transparan memaparkan kemajuan, tantangan, dan dampak terukur yang dicapai selama setahun terakhir dalam upayanya mendorong tindakan jangka panjang untuk pelestarian laut serta mendukung berbagai proyek konservasi laut di seluruh dunia.
Diluncurkan pada tahun 2024, kemitraan Novotel dengan WWF Prancis dibentuk untuk mendukung kesehatan dan kelestarian lautan dunia melalui berbagai tindakan nyata yang diterapkan di seluruh jaringan Novotel serta melalui berbagai inisiatif di luar operasional hotel. Berlandaskan pemahaman bahwa kesehatan laut berkaitan erat dengan kesejahteraan manusia, keseimbangan iklim, dan masa depan industri perjalanan, kemitraan ini memadukan transformasi operasional, praktik pangan yang lebih berkelanjutan, edukasi, serta dukungan terhadap konservasi laut.
Laporan 2026 juga menguraikan kemajuan yang telah dicapai dalam Rencana Dampak Positif Novotel, yang berlandaskan pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 14: Kehidupan di Bawah Air, serta dibangun di atas empat pilar utama: mengurangi dampak operasional terhadap lautan, mendorong pilihan pangan yang lebih berkelanjutan, meningkatkan kesadaran akan kelestarian laut, dan berkontribusi pada pengembangan serta penelitian ilmiah.
“Di Novotel, kami percaya bahwa industri perhotelan harus memberikan kontribusi positif bagi kesejahteraan dan masa hidup manusia dan planet ini,” ujar Jean-Yves Minet, Global Brand President, Novotel. “Selama setahun terakhir, kami terus mengubah ambisi menjadi aksi nyata di seluruh hotel kami, mulai dari mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan memajukan praktik hidangan laut yang berkelanjutan hingga memperluas pelatihan dan mendukung proyek-proyek konservasi laut yang penting bersama WWF. Yang terpenting adalah dampak kolektif yang dihasilkan dari tindakan yang dilakukan secara konsisten dalam skala global—di mana setiap peningkatan operasional, setiap anggota tim yang terlatih, setiap pilihan menu yang lebih bertanggung jawab, dan setiap proyek konservasi berkontribusi pada perlindungan kesehatan serta kelestarian jangka panjang lautan kita. Masih banyak yang perlu dilakukan, tetapi laporan ini menunjukkan kemajuan yang nyata dan memperkuat komitmen jangka panjang kami untuk membantu melindungi lautan.”
Ludovic Frère Escoffier, Manajer Program Kelautan, WWF Prancis, mengatakan, “Melindungi lautan memerlukan kolaborasi jangka panjang dan aksi bersama. Melalui kemitraannya dengan WWF Prancis, Novotel terus menunjukkan bagaimana merek perhotelan global dapat berkontribusi pada konservasi laut, tidak hanya melalui peningkatan operasional, tetapi juga dengan mendukung penelitian, edukasi, dan inisiatif pelibatan masyarakat yang membantu memperkuat ketahanan laut dalam jangka panjang.”
Implementasi hidangan laut berkelanjutan Novotel
Novotel terus mendorong berbagai langkah operasional yang dirancang untuk membantu mengurangi tekanan lingkungan yang berdampak pada kesehatan laut. Hasil yang telah dicapai di antaranya, 92% hotel Novotel kini mematuhi kebijakan Accor terkait plastik sekali pakai; 73% hotel dalam jaringan Novotel telah memperoleh sertifikasi ramah lingkungan dari pihak ketiga; fokus berkelanjutan pada pengurangan limbah operasional dan penerapan penggunaan sumber daya yang lebih bertanggung jawab di seluruh hotel.
Pada tahun 2025, Novotel menjadi merek perhotelan pertama yang bergabung dengan Seafood Task Force (STF), yang semakin memperkuat komitmennya untuk meningkatkan transparansi dan ketertelusuran di seluruh rantai pasokan hidangan laut. Sebagai bagian dari upaya ini, Novotel meluncurkan inisiatif regional di Asia yang berfokus pada pengadaan tuna dan udang hasil budidaya di 50 hotel yang berlokasi di Thailand, Vietnam, dan Indonesia. Dikembangkan melalui kemitraan dengan STF, proyek ini bertujuan mengidentifikasi pemasok prioritas dan meningkatkan keselarasan dengan rekomendasi STF hingga tahun 2026.
Di Eropa, Novotel dan WWF Prancis juga meluncurkan inisiatif selama dua tahun untuk meningkatkan ketertelusuran hidangan laut di seluruh jaringan pemasok hidangan laut segar dan beku yang melayani kawasan Eropa dan Afrika Utara. Sementara itu, di Brasil, upaya tambahan difokuskan pada peningkatan ketertelusuran di sepanjang rantai pasokan udang budidaya yang memasok hotel-hotel di São Paulo.
Dalam rangka mendorong pilihan bersantap yang lebih lezat, seimbang, dan berdampak lingkungan lebih rendah di seluruh hotelnya, sekaligus membantu memajukan praktik pengadaan hidangan laut yang lebih bertanggung jawab di industri perhotelan, Novotel telah melaksanakan di antaranya, 41% hotel Novotel telah menghapus lebih dari 350 spesies hidangan laut yang rentan dari menu, sejalan dengan Prinsip Hidangan Laut Berkelanjutan WWF. Hingga pertengahan Mei 2026, lebih dari 1.600 koki dan anggota tim dapur telah menyelesaikan Pelatihan Hidangan Laut Berkelanjutan WWF, dan lain-lain.
Selain itu, Novotel juga mengembangkan berbagai inisiatif edukasi yang dirancang untuk membantu anggota tim, tamu, dan keluarga memahami pentingnya kesehatan laut, di antaranya, permainan keluarga dalam format fisik dan digital yang dikembangkan dengan dukungan WWF, termasuk Guardians of the Mediterranean dan Traps Ahead, terus diperkenalkan di berbagai negara di seluruh dunia. Novotel pun berpartisipasi dalam United Nations Ocean Conference (UNOC) di Nice pada tahun 2025, dengan turut serta dalam diskusi mengenai pariwisata berkelanjutan, keanekaragaman hayati laut, dan hidangan laut berkelanjutan, dan lain-lain.
Melalui kemitraannya dengan WWF Prancis, Novotel terus mendukung berbagai proyek konservasi laut di seluruh dunia seperti melindungi padang lamun Posidonia, mengatasi alat tangkap hantu, mendukung panda biru, melindungi penyu di Atlantik Barat, dan menjaga Koridor Biru untuk Penyu.Ke depannya, Novotel akan terus memperkuat pelaksanaan Rencana Dampak Positif di seluruh jaringannya serta mendukung tahap berikutnya dari berbagai inisiatif konservasi WWF di tingkat global.
Prioritas yang akan dilakukan oleh jaringan hotel Novotel ke depan di antaranya, memperluas inisiatif ketertelusuran hidangan laut,meningkatkan keterlibatan anggota tim hotel dalam berbagai program pelatihan, terus mengedepankan pendekatan plant-forward di seluruh penawaran makanan dan minuman, dan lain-lain.
“Lautan sangat penting bagi keberlangsungan kehidupan di Bumi,” tambah Jean-Yves Minet. “Melindunginya bukan hanya merupakan tanggung jawab lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi masyarakat, industri perjalanan, kesejahteraan manusia, dan planet ini. Melalui kemitraan ini, kami berambisi untuk turut berkontribusi pada masa depan lautan dunia yang lebih sehat dan tangguh, sekaligus membangun hubungan yang lebih erat, bermakna, dan berkelanjutan antara industri perhotelan dan pelestarian laut.” ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Raja Ampat telah dikenal luas di kalangan peneliti internasional dan wisatawan mancanegara (wisman) jauh sebelum tahun 2003, saat resmi menjadi kabupaten. Pada bulan Oktober 2015, Provinsi Papua Barat mengumumkan diri sebagai provinsi konservasi pertama di Indonesia dan di dunia, sebuah langkah [more]
Tourism for Us – Indonesia Inbound Tour Operators Association (IINTOA) memproyeksikan jumlah wisatawan mancanegara (wisman) naik antara 10 persen sampai 15 persen pada 2025. Pemberitaan negatif terhadap pariwisata Indonesia pada akhir tahun 2024 dan awal 2025 tidak terlihat mempengaruhi pemesanan yang diterima oleh para operator [more]
Tourism for Us – Berada di dalam hutan mangrove yang masih alami di Teluk Mayalibit, Saupon Mangrove Homestay sudah menjadi destinasi itu sendiri. Kelompok Tani Hutan Waifoi yang mengelola pertanian hutannya dengan mengedepankan kearifan lokal telah menjadikan homestay bukan sekedar penginapan biasa. Kelompok tani hutan ini berhasil memperkenalkan sisi lain keindahan Raja Ampat dan kehidupan warga lokalnya melalui beragam aktivitas rendah karbon.
Saupon Mangrove Homestay, Waifoi, Teluk Mayalibit, Raja Ampat, Papua Barat Daya. (Foto: Saupon Mangrove Homestay)
Teluk Mayalibit boleh saja tidak memiliki terumbu-terumbu karang indah di bawah lautnya. Namun, mangrove tumbuh subur di teluk ini. Keberadaan hutan mangrove memegang peran dan kendali penting dalam menjaga keseimbangan dan keberlanjutan alam bahari secara keseluruhan. Dan Saupon Mangrove Homestay hendak memperlihatkan keindahan Raja Ampat di atas permukaan lautnya yang belum banyak diketahui kepada dunia.
Sekitar 10 menit trekking dari homestay, tamu-tamu sampai di tempat tokok sagu. Di situ mereka bisa melihat warga mengambil dan mengolah sagu. Tamu-tamu juga bisa ikut terlibat dalam kegiatan tersebut. Dan mama-mama di keluarga Gaman akan memasaknya menjadi makanan khas papua seperti papeda yang bisa dinikmati saat jam makan di homestay.
Kakak-beradik keluarga Gaman punya tempat spesial di dalam hutan. Mereka membuat dek panorama di situ. Dek panorama itu bisa ditempuh selama 30 menit trekking dari homestay. Sekarang para tamu turut menikmati panorama hutan dan Teluk Mayalibit dari ketinggian serta puncak Gunung Nok yang ikonik. Pada saat matahari terbit atau ketika matahari akan terbenam.
Trekking lebih jauh lagi, selama sekitar satu jam dari homestay, terdapat sebuah air terjun kecil di dalam hutan lebat. Air terjunnya rendah dengan kolam yang tidak terlalu dalam.
Hutan mangrove Teluk Mayalibit adalah rumah bagi, di antaranya, burung cendrawasih merah (Paradisaea rubra), burung rangkong papua (Rhyticeros plicatus), dan anggrek biru (Dendrobium azureum). Mereka bisa ditemukan saat trekking menuju tokok sagu, dek panorama dan air terjun.
Wisatawan tidak kekurangan aktivitas di homestay. Selain dapat memancing di area dek, tamu-tamu bisa melihat bagaimana anggota keluarga Gaman menombak ikan pada malam hari atau balobe. Mereka juga menebar perangkap ikan tradisional di sekitar homestay. Dan yang terjaring di dalamnya tidak hanya ikan saja tetapi juga kepiting biru.
Keluarga ini pun membudidayakan teripang. Dan tamu-tamu pun dapat ikut melepaskan bibit teripang di tambak.
Saupon Mangrove Homestay dikelola oleh keluarga Gaman. Sampai saat ini ada lima kamar yang mampu mengakomodasi 10 tamu. Di setiap kamar diisi dengan kasur dan kelambu. Dan setiap kamar selalu dijaga kebersihannya.
Kamar mandi dilengkapi dengan ember dan gayung. Sedangkan ruang makannya berupa pondok semi terbuka yang berdiri di atas kanal buntu.
Anak-anak membawakan tarian-tarian lokal untuk menyambut tamu-tamu yang datang. Penyambutan terasa meriah dengan diiringi tambur dan suling. Dan keluarga Gaman akan menghibur tamu-tamu yang menginap dengan permainan ukulelenya.
Zakarias Gaman, Ketua Kelompok Tani Hutan Waifoi, salah seorang dari kakak-beradik keluarga Gaman yang mengelola Saupon Mangrove Homestay. (Foto: Yun Damayanti)
Teluk Mayalibit menyimpan banyak rahasia alam dan tradisi di Kepulauan Raja Ampat yang jarang diketahui oleh wisatawan. Rahasia itu mulai terungkap sedikit demi sedikit sejak Kelompok Tani Hutan Waifoi di Distrik Tiploi Mayalibit membuka Saupon Mangrove Homestay pada tahun 2018.
Saupon Mangrove Homestay merupakan salah satu pionir dalam pengembangan ekowisata di Raja Ampat. Homestay ini adalah beberapa akomodasi awal yang dibangun di dalam hutan mangrove.
‘’Saya mendirikan homestay karena mengingat adik-adik belum memiliki pekerjaan,’’ ujar Zakarias Gaman, Ketua Kelompok Tani Hutan Waifoi. Dia bersama keluarganya juga tinggal di homestay.
Keberadaan homestay diharapkan dapat memberdayakan komunitas lokal. Sebagian keuntungan yang didapat dialokasikan untuk mendanai pendidikan anak-anak di Desa Waifoi. Tamu-tamu pun bisa turut menjadi bagian dari inisiatif ini dengan mengunjungi sekolah dan mengajar di sekolah dasar yang ada di desa.
Saupon Mangrove Homestay berjarak 90 hingga 100 menit perjalanan laut dari Waisai, ibukota Kabupaten Raja Ampat. Pada umumnya, tamu-tamu memilih tinggal selama 3 hari 2 malam.
‘’Itu cukup untuk menikmati semua atraksi di sana. Paling banyak tamu bule. Dari Perancis, Inggris, India, Korea. Sudah banyak negara di sana,’’ kata Zakarias.
Dia menerangkan, perairan di Teluk Mayalibit keruh karena lumpur. Oleh karena itu, hutan dan jungle trekking menjadi daya tarik dan aktivitas utama di sini. Snorkeling dan diving baru bisa dilakukan di luar teluk.
‘’Tapi di sini ada banyak sekali yang bisa kita lihat,’’ imbuhnya.
Homestay ini menerapkan inisiatif rendah karbon dengan tidak menggunakan penyejuk udara dan pemakaian listrik pada siang hari. Listrik tersedia pada malam hingga pagi hari. Aktivitas yang ditawarkan juga rendah karbon dan melibatkan tamu-tamu dalam upaya konservasi mangrove dan hutan.
Harga paket menginap all-in mulai dari Rp 2.800.000,00 per orang. Harga paket termasuk penjemputan dari Waisai dengan long boat atau speed boat, makan dan aktivitas selama menginap.
Tamu-tamu yang menginap di sini diharapkan untuk tidak mengotorinya dengan sampah. Apalagi sampah-sampah yang sekiranya sulit terurai dan tidak bisa diolah sendiri oleh pengelola homestay. Berada di jantung mangrove Raja Ampat, wisatawan bisa memaksimalkan quality time dengan mengobrol dan bersantai saat sepenuhnya berada dalam mode offline. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Dengan artificial intelligent (AI) orang mudah sekali mendapatkan informasi. Tetapi dalam lansekap pariwisata, khususnya di subsektor ekowisata, kemudahan itu tidak serta merta membuat wisatawan menemukan orang yang baik dan tepat untuk pengalaman ekowisata sesungguhnya. Maka ajang pameran khusus ekowisata Indonesia Ecotourism [more]
Tourism for Us – Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia sebagai destinasi belum mengalami overtourism. Karena kunjungan wisatawan belum tersebar merata ke seluruh pulau. Tetapi benar, di destinasi-destinasi pariwisata tertentu, terutama di destinasi-destinasi primadona, sudah mengalami gejala-gejala dan/atau memasuki overtourism. Dan destinasi-destinasi pariwisata baru yang [more]
Tourism for Us – Pariwisata Indonesia beserta industrinya akan menghadapi tiga issue besar pada tahun 2025 yaitu beberapa destinasi favorit sudah menghadapi gejala-gejala overtourism, tantangan untuk menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan (sustainability) dalam membangun destinasi wisata dan mengembangkan bisnis, serta kegamangan pelaku industri pariwisata menghadapi disrupsi artificial intelligent (AI) dan generative artificial intelligent (GenAI).
(Foto: Forwaparekraf)
Ketiga issue tersebut menjadi topik utama yang diperbincangkan dalam Indonesia Tourism Outlook 2025 (ITO) yang digelar oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Fowaparekraf), Kamis (10/10/2024), di Hotel Aston Kemayoran, Jakarta.
Pada kegiatan yang berlangsung sehari itu menampilkan narasumber Direktur Kajian Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) Agustini Rahayu, Guru Besar Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Bali I Nyoman Sunarta, SVP Marketing Taman Safari Indonesia Alexander Zulkarnain, Direktur Pembangunan dan Pegembangan Usaha Pusat Pengelolaan Kompleks Gelora Bung Karno Mokhamad Rofik Anwar, Direktur Strategi dan Pengembangan Teknologi InJourney Airport Ferry Kusnowo dan CMO dan Co-Founder Feedlop AI Muhammad Ajie Santika.
Dalam keynote speech sekaligus sambutan yang dilaksanakan secara daring, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengapresiasi kegiatan ITO 2025 yang diselenggarakan oleh Forwaparekraf. Tema Blue, Green and Circular Economy (BGCE) dan AI yang diangkat sesuai dengan kondisi pariwisata saat ini.
Menparekraf mengatakan, konsep ekonomi berkelanjutan yang mencakup Blue, Green and Circular Economy (BGCE) menjadi semakin relevan. Selain itu, tidak ada kata ‘’Tidak’’ untuk mengadopsi teknologi AI sebagai salah satu transformasi digital.
Selanjutnya, Menparekraf mendorong seluruh unsur pentahelix yakni pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, komunitas dan media untuk berkolaborasi mengembangkan pariwisata berkulitas dan berkelanjutan.
‘’Integrasi konsep BGCE dengan teknologi AI dalam rangka mewujudkan pariwisata yang ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan sudah selayaknya dilakukan sejak dini,’’ ujar Menparekraf.
Menparekraf juga menyampaikan performa kinerja pariwisata Indonesia. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), salah satu indikator penilaian pariwisata secara internasional, menunjukkan peningkatan positif. Begitu pun dengan pergerakan perjalanan wisatawan Nusantara (wisnus) yang terus membaik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, tren peningkatan tersebut akan terus terjadi. Kebutuhan akan pariwisata berkelanjutan merupakan masa depan di sektor pariwisata. Dan transformasi digital yang sedang berlangsung secara global harus diadopsi oleh para pelaku pariwisata di Tanah Air.
Ketua Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pasha Yudha Ernowo dalam sambutannya berharap, diskusi di ITO 2025 dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang konkret serta membangun sinergi antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat.
‘’Mari kita bersama-sama menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dalam pariwisata berkelanjutan dengan dukungan inovasi teknologi dan praktik ekonomi yang berkelanjutan,’’ kata Pasha.
Agustini Rahayu, Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf, menjelaskan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 ditetapkan, pembangunan pariwisata berkualitas dilakukan sesuai preferensi pasar yang berkembang ke arah pariwisata berkelanjutan dan regeneratif.
‘’Itu dengan perluasan pariwisata yang fokus pada BGCE. Termasuk pembangunan infrastruktur hijau untuk infrastruktur dasar dan pendukung pariwisata hingga peningkatan sumber daya manusia (SDM),’’ jelas Ayu.
Dalam kajiannya Kemenparekraf menemukan, regulasi yang mendukung untuk mencapai BGCE baru mencapai 36,82%. Kemudian, edukasi BGCE kepada masyarakat juga baru mencapai 18,42%. Dan pelaku industri pariwisata pun belum konsisten menerapkan BGCE pada bisnisnya.
Merujuk pada paparan Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf di ITO 2025, pemerintah menargetkan sektor pariwisata berkontribusi 8% terhadap PDB dan menghasilkan devisa 100 miliar USD pada tahun 2045.
I Nyoman Sunarta, Guru Besar Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali, mengungkapkan pernyataan ‘menggigit’ bahwa pariwisata berkualitas dimulai dari warga lokal di destinasi. Baru kemudian wisatawan yang datang berkualitas dan destinasi wisatanya pun harus berkualitas.
‘’Pariwisata berkualitas bukan hanya tentang wisatawan yang datang membawa uang banyak ke destinasi,’’ kata Nyoman Sunarta.
Dia pun mengingatkan, pembangunan pariwisata di Bali tidak bisa disamakan dengan destinasi lain yang baru mengalami euforia didatangi wisatawan. Bila Bali dikatakan agar membatasi jumlah wisatawan yang datang maka tidak serta merta semua destinasi di luar Bali juga harus membatasi jumlah wisatawan yang datang.
Bali sebagai destinasi wisata primadona dan andalan terdepan dalam menarik kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sudah memasuki tahap regeneratif. Karena alamnya sudah terdegredasi. Perubahan sosial dalan kehidupan sehari-hari warganya dikhawatirkan akan berdampak pada keberlanjutan budaya bali. Dan itu mengancam eksistensi pariwisata Pulau Dewata yang berbasis pada budaya.
‘’Dulu yang datang ke Bali adalah para seniman. Sekarang saya ingin yang datang ke Bali ialah para peneliti (researcher),’’ tuturnya.
Narasumber yang hadir di ITO 2025 sepakat, kehadiran teknologi AI/GenAI tidak akan mengambil alih peran manusia khususnya di industri perjalanan dan pariwisata. Taman Safari Indonesia dan Angkasa Pura Airport mengakui, AI berperan dalam menjalankan operasional perusahaan secara lebih efisien. Dengan AI mereka dapat menganalisa profil pelanggan dari data yang besar sehingga perusahaan dapat mengambil kebijakan yang lebih akurat dan menetapkan target yang lebih tepat sasaran.
CMO dan Co-Founder Feedlop AI Muhammad Ajie Santika menerangkan, penggunaan AI/Gen-AI dapat mengoptimalkan layanan pelanggan sampai 40%, meningkatkan efisiensi operasional 30% dan meningkatkan kemampuan pengelolaan sebesar 30%.
Ajie mengatakan, teknologi AI/GenAI ‘’dilatih’’ dengan jutaan hingga miliaran data yang diinjeksikan oleh manusia. Kecerdasan buatan ini juga harus dikontrol oleh manusia. Oleh karena itu dia meyakinkan para pelaku industri perjalanan dan pariwisata tidak perlu khawatir peran manusia akan tergantikan oleh teknologi.
Penyelenggaraan ITO 2025 didukung penuh Biro Komunikasi Kemenparekraf/Baparekraf, Telkomsel, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Indofood, Kokola, MEG Cheese, Cap Panda, Y.O.U, dan Swissbel Hotel and Resorts. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – ‘Wonderful Indonesia’ akan kembali hadir di IFTM Top Resa 2024. IFTM adalah pameran pariwisata B-to-B terbesar di Perancis. Pameran akan berlangsung pada 17-19 September 2024 di Parc des Expositions Porte de Versailles, Paris. Kehadiran stand ‘Wonderful Indonesia’ di IFTM 2024 merupakan [more]