PESAN CINTA DARI PULO CINTA

Tourism for Us – Dari semua akomodasi eco-resort di pulau-pulau kecil yang ada di Indonesia, Pulo Cinta punya kisah spesial.

Menurut legenda lokal, ada seorang pangeran muda dari Gorontalo jatuh cinta pada seorang putri saudagar Belanda. Mereka bertemu diam-diam di Pulo Tanggulomato. Berbeda dengan kisah pilu yang terjadi dalam legenda, cerita Pulo Cinta Ecoresort di Tanggulomato justru penuh insipirasi. Benang merah antara legenda dan kisah nyata, baik pangeran muda dari Gorontalo dan putri saudagar Belanda di masa lampau, maupun Tony Nugroho di masa modern, mereka sama-sama menemukan cintanya di gosong pasir tersebut. 

Pulo Cinta Ecoresort di gosong Tanggulomato,Teluk Tomini,Gorontalo.(Foto: Yun Damayanti)

Dari 23 pulau kecil yang ditinjau di perairan Teluk Tomini, Gorontalo, Tony sudah jatuh cinta pada kali pertama mendarat di gosong Tanggulomato. Founder Pulo Cinta Ecoresort itu tertarik melihat kondisi sebuah gosong pasir cukup luas tapi tidak tenggelam meskipun air laut sedang pasang naik. Dia belum menyadari gosong tersebut berbentuk hati saat itu. Sampai timnya memperlihatkan hasil dari citra satelit.

Gosong Tanggulomato berada di lepas pantai sekitar 20 menit dari daratan utama. Tentu saja tidak ada apa-apa di gosong pasir itu. Kayu-kayu lokal seperti kayu kelapa dan mibong ditransfer ke sana. Panel surya juga dibangun untuk memenuhi kebutuhan listrik saat pembangunan maupun kebutuhan resor nantinya. Sedangkan kebutuhan air tawar masih dikirim dari daratan.

Manajemen limbah resor juga menjadi issue utama selain sumber daya energi dan air bersih ketika membangunnya. Resor ini memilih menggunakan septic tank ramah lingkungan sehingga ketika dibuang sudah dalam keadaan bersih. Selain itu, manajemen juga menyarankan tamu-tamu untuk menggunakan sabun dan shampo yang telah disediakan resor karena menggunakan produk-produk yang tidak mengandung racun dan aman bagi lingkungan laut di sekitarnya. Dan aturan utama resor yang harus dipatuhi, tidak boleh buang sampah apapun ke laut.

Menurut Tony, kondisi terumbu karang di gosong dan sekitarnya dalam keadaan cukup memprihatinkan ketika timnya mendarat pertama kali. Kemungkinan besar karena praktik-praktik penangkapan hasil laut yang kurang memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Dia yakin, sebelumnya di situ pastilah taman laut yang indah.

Setelah dua tahun Pulo Cinta menempati gosong pasir tersebut, bakal-bakal calon terumbu karang baru berwarna-warni bermunculan di sisa-sisa karang. Sejak itu, ikan-ikan pulang kembali ke rumahnya di gosong Tanggulomato. Bulu babi-bulu babi di sela-sela karang masih bekerja keras menunaikan tugas untuk menghisap sisa-sisa racun yang pernah menghancurkan terumbu karang.

Pada suatu pagi, Tony bersama stafnya terheran-heran menyaksikan puluhan tukik keluar dari sela-sela dasar bangunan restoran. Tidak seorangpun dari mereka pernah melihat penyu naik untuk bertelur. Mereka bersyukur sekali dan itu merupakan anugerah terbesar bagi resor. Dan hal tersebut menjadi pelecut semangat dan semakin meyakinkannya.

Warga Kampung Bajo di Boalemo yang ramah dan terbuka membuat kunjungan singkat ke sini sangat mengesankan. [Foto; Yun Damayanti]

Tidak jauh dari Pulo Cinta Ecoresort ada perkampungan nelayan Bajo di daratan utama. Keberadaan resor tidak menjauhkan para nelayan dari sumber kehidupannya. Hanya saja, cara-cara yang dilakukan jadi lebih saling peduli, saling menghormati, dengan alam sekitar, dengan sesama manusia antara warga lokal, wisatawan dan pelaku usaha.

Salah satu pemandangan terbaik di sini, ketika matahari mulai meninggi, berlatar langit oranye dan semburat merah muda, kita akan melihat siluet nelayan-nelayan di atas perahu-perahu tradisionalnya sedang memancing. Berada di tengah laut, melihat keberadaan manusia membuat Anda tidak merasa sendirian dan kesepian. Dan di perkampungan Bajo tersebut, traveler bisa membeli hasil tangkapan boga bahari seperti lobster hidup berukuran besar dan segar, serta berinteraksi dengan komunitas Bajo yang ramah, seru dan agak sedikit berbeda daripada di Wakatobi.

Jika tidak menyelam, cukup menuruni beberapa anak tangga dari teras, dan berenang. Tanpa perlu upaya keras, biarkan tubuh Anda bergerak mengikuti arus tenang pada pagi hari di bawah vila. Di bawah sana, Anda bisa melihat dengan jelas hingga bermeter-meter ke depan. Ikan-ikan akan menjauh atau bersembunyi di antara terumbu karang berwarna biru dan kuning saat Anda lewat. Dari dek teras, Anda juga bisa menyaksikan betapa bahagianya anak ikan pari bermain petak umpet bersama anak-anak ikan lainnya di dasar pasir. Dan di malam hari yang cerah, Anda bisa merasakan kebesaran alam semesta saat Bimasakti (milky way) menghiasi langit gelap.

Pulo Cinta Ecoresort beroperasi sejak 31 Januari 2015. Resor ini punya total 17 kamar di 15 vila. Sebuah vila 2-kamar tidur, sebuah vila 3-kamar tidur, sebuah vila 1-kamar tidur dengan dua tempat tidur berukuran queen size, dan 12 vila 1-kamar tidur yang semuanya dilengkapi tempat tidur berukuran king size! Di vila 2-kamar dan 3-kamar, masing-masing kamar tidur dilengkapi kamar mandi di dalam.

Villa 1-bedroom di Pulo Cinta Ecoresort. [Foto; pulocinta.com]

Seluruh bangunan di resor ini terbuat dari kayu. Begitupun dengan furniturnya. Jendela dan pintu kaca tinggi dari lantai hingga ke langit-langit vila membuat ruangan kaya cahaya. Tidak ada penyejuk ruangan. Anda hanya tinggal membuka pintu dan semua jendela untuk mendapatkan sirkulasi udara maksimal, segar, dan tanpa polusi. Sebuah kipas angin sudah cukup membantu perputaran udara di siang hari. Pori-pori dinding kayunya pun cukup memasukan angin malam yang dingin ke dalam kamar. Di setiap kamar disediakan satu unit televisi dengan siaran TV lokal. Koneksi WiFi juga ada walaupun tidak terlalu kencang. Kerai bambu tinggal diturunkan untuk menjaga privasi.

Traveler tidak perlu khawatir soal makanan selama berada di Pulo Cinta. Walaupun tampak sederhana, setiap makanan dimasak langsung dan terbuat dari bahan-bahan baku segar yang diperoleh dari nelayan maupun di pasar lokal Boalemo. Bagi honeymooners, resor telah meningkatkan program makan malam romantis di bawah bintang dengan menambahkan opsi Wine and Dine. Love is every where, in the air, under the sea, and at every bite.

“Dengan Pulo Cinta saya mau membuktikan, orang Indonesia juga bisa membangun eco-resort. Untuk bisa membangunnya butuh niat yang kuat, ketetapan dan keteguhan hati. Saya sadar dan siap dengan segala kondisi dan kendala ketika pertama kali memulainya. Ketika kita mencintai alam, dia mengembalikannya berkali-kali lipat. Dan menurut saya, orang Indonesia mestilah yang lebih dahulu menikmatinya, baru kemudian orang-orang asing,“ ujar Tony.*** (Yun Damayanti)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *