DIPLOMASI KOPI DAN MAKNANYA BAGI INDONESIA
Tourism for Us – Kopi tidak saja memiliki nilai ekonomi tetapi juga nilai sosial kebudayaan. Tren konsumsi kopi akan bertahan lama karena berakar pada budaya. Namun, diplomasi kopi Indonesia tidak boleh semata difokuskan mengenai ekonomi dan kebudayaan tetapi juga keberlanjutan ekosistem atau lingkungan hidup dan kesejahteraan para petaninya.

Tiga orang mantan duta besar (dubes) RI, diplomat-diplomat senior di Kementerian Luar Negeri (Kemlu), angkat bicara dalam diskusi tutup tahun 2022 Forum Strategis Arah Bangsa (FOSTRAB). Diskusi diadakan di Digra Coffee & Eatery, Jakarta Selatan. Diskusi mengenai Diplomasi Kopi ini dipandu oleh J.Malik, CEO Digra Foundation. Diskusi tersebut membahas beberapa aspek yang diperlukan dalam memperjuangkan kopi Nusantara.
Bagas Hapsoro, Mantan Dubes RI untuk Swedia, mengatakan, dalam diplomasi tidak boleh semata difokuskan mengenai ekonomi dan kebudayaan tetapi juga ekosistem atau lingkungan hidup.
‘’Kalau hanya mementingkan faktor ekonomi tanpa kesinambungan maka kopi Indonesia akan berkurang baik dari segi produktivitas maupun kualitasnya,’’ ujar Bagas.
Program Diplomasi Kopi telah dimasukkan ke dalam tugas sebuah Tim di Kementerian Luar Negeri mulai dua tahun lalu. Kemlu juga telah memasukkan pelajaran kopi dalam kurikulum Diklat Kemlu.
Sementara itu, Prayono Atiyanto, mantan Dubes RI untuk Azerbaijan juga Diplomat Ahli Utama Kemlu, menambahkan, sudah saatnya segenap elemen bangsa memikirkan tentang KOPI, bukan coffee.
‘’’Kopi’ itu bentuk sikap nasionalisme meskipun Indonesia memiliki keberagaman jenis dan nama kopi dari masing-masing daerah,’’ kata Prayono.
Secara khusus, menurut Prayono, sesuai arahan Wamenlu RI Mahendra Siregar pada tahun 2021, upaya diplomasi perlu difokuskan pada upaya peningkatan ekspor kopi specialty Indonesia. Ini penting untuk mendorong partisipasi semua stakeholders secara inklusif.
Prayono menjelaskan tentang pentingnya platform digital bernama Indonesia-Latin America and the Caribbean (INA LAC) yang secara resmi diluncurkan Menteri Luar Negeri RI pada 2020. Kemudian, Kemlu mengembangkan platform ini menjadi lebih luas dari kawasan Amerika Selatan dan Karibia menjadi Kawasan Amerika dan Eropa dengan nama INA ACCESS.
INA ACCESS merupakan platform milik bersama. Semua pihak dapat memanfaatkannya untuk hal-hal terkait promosi bidang perdagangan, investasi dan pariwisata. Untuk pelaku usaha (exhibitor) dapat bergabung secara gratis tanpa pungutan biaya apapun.
Kehadiran INA ACCESS berupaya menciptakan kesempatan bagi user pelaku usaha Indonesia dengan pelaku usaha di kawasan Amerika-Eropa (Amerop). Bisnis Forum INA-Eropa telah menghasilkan nilai bisnis USD 6,8 juta.
Pada kesempatan yang sama, Djumantoro Purbo, mantan Dubes RI untuk Slovakia menyatakan, ‘’Kopi tidak saja memiliki nilai ekonomi tetapi juga value sosial kebudayaan. Tren konsumsi kopi akan bertahan lama karena berakar pada budaya,’’’ ujar diplomat senior yang satu ini.
Dia memberi contoh Slovakia. Negara ini telah mencari jati diri dengan pertumbuhan ekonomi. Ketika ekonomi menggeliat naik, lahirlah kelompok elit yang dalam status sosial – minum kopi luwak itu sangat mewah, layaknya hotel bintang lima.
‘’Ini dapat dimanfaatkan untuk merepresentasikan sebagai kopi Indonesia. Karena Kopi Luwak dapat menjadi jati diri Indonesia,’’ pungkas Djumantoro.
Di akhir pembicaraan, ketiga diplomat senior itu sepakat bahwa kopi kian relevan dibahas pada saat semua negara tidak dapat menghindari resesi dan kerawanan pangan. Ketahanan pangan harus kuat. Dengan kopi yang para petaninya sejahtera dan dengan pengelolaan lingkungan yang semakin baik. ***(Yun Damayanti)
