HEALING DI TAMAN NASIONAL TANJUNG PUTING

Tourism for Us – Taman Nasional (TN) Tanjung Puting di Kalimantan Tengah tidak hanya menawarkan pengalaman bertemu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) di habitat aslinya. Pengalaman tinggal di tengah alam liar: suasana hening, pemandangan hijau hutan, dan air sungai yang tenang serta menyaksikan kehidupan satwa-satwa liar membawa kita pada suatu perjalanan healing. Sepulang dari sana kita akan menyadari, fisik menjadi lebih bugar, perasaan lebih tenang dan pikiran yang lebih terbuka.

Kelotok berfungsi sebagai transportasi-akomodasi di TN Tanjung Puting. Ini Ageyo, salah satu kelotok milik Look Orangutan. Populasi kelotok basic seperti ini 95% dari seluruh kelotok yang beroperasi di TN Tanjung Puting. Tipe kelotok favorit wisatawan. (Foto: Akhmad Rizki Khairani)

TN Tanjung Puting sebagai destinasi untuk melihat orangutan di habitat alaminya sudah terkenal di dunia. Sebelum menjadi destinasi wisata, di situ merupakan tempat penelitian orangutan liar pertama di Indonesia yang dipelopori oleh Profesor Dr. Birute Galdikas. Di dalam keluarga primata, orangutan di Indonesia dan Malaysia kurang begitu dikenal dibandingkan simpanse dan gorila gunung di Afrika.

Profesor Birute kemudian meyakinkan seorang ahli paleoantropologi Louis Leakey untuk mempelajari orangutan di habitat alami mereka. Hingga akhirnya Leakey dan National Geographic Society sepakat untuk mendirikan fasilitas penelitian di Kalimantan. Dan nama Leakey kemudian diabadikan di salah satu feeding camp di TN Tanjung Puting.

Profesor Birute yang disapa ‘’Ibu’’ oleh warga lokal dan para pelaku pariwisata di taman nasional, bertekad untuk mempelajari lebih jauh tentang orangutan. Ibu tiba di Tanjung Puting, waktu itu masih berstatus cagar alam, bersama seorang fotografer pada tahun 1971 untuk memulai penelitiannya. Dan penelitiannya tersebut masih berlanjut sampai sekarang.

Dalam perjalanannya, Tanjung Puting pernah mengalami masa-masa sulit. Taman nasional yang kita lihat sekarang merupakan hasil dari proses pembelajaran panjang dan membangun kesadaran (awareness) terus-menerus.    

Perjalanan saya menuju Tanjung Puting akhir bulan Mei lalu lebih kurang mirip seperti taman nasional ini. Perjumpaan pertama saya dengan orangutan kalimantan justru di pusat rehabilitasi orangutan di Nyaru Menteng, Palangkaraya, pada tahun 2012. Di pusat rehabilitasi yang didirikan oleh Borneo Orangutan Survival (BOS) sejak 1991, saya mendengarkan berbagai kisah  pilu dan di luar nalar yang menimpa banyak orangutan.

DNA orangutan 97% sama dengan manusia. Oleh karena itu, misal terkait kesehatan, virus dan/atau penyakit yang ada pada manusia bisa menular ke orangutan dan begitupun sebaliknya. Primata ini juga mempunyai kecerdasan yang hampir sama seperti manusia dan daya ingatnya tajam. Mereka adalah pembelajar yang cepat dan pandai meniru.

Di pusat rehabilitasi orangutan BOS di Nyaru Menteng disediakan ruang auditorium bagi pengunjung. Di mana antara pengunjung dan orangutan dibatasi kaca gelap. Hal tersebut dilakukan agar mereka tidak melihat dan berinteraksi dengan manusia. Namun, pengunjung masih dapat melihat mereka. Maka ketika kesempatan untuk melihat orangutan kalimantan di habitat alami datang, di antaranya di Tanjung Puting, sulit untuk ditolak.   

Look Orangutan, operator tur dan kelotok di Pangkalan Bun, mendukung dan membantu saya melihat orangutan kalimantan dan kehidupan liar di habitat alaminya di TN Tanjung Puting. Perjalanan yang saya ikuti adalah sebuah grup ‘’Open Trip’’. Kami berempat berbagi tempat di kelotok yang sama selama 3 hari 2 malam. Dengan perjalanan selama itu, kami bisa mengunjungi semua feeding site: Tanjung Harapan, Pondok Tangui dan Camp Leakey.

Tujuan kami sama, mau melihat orangutan. Sebelumnya di benak kami masing-masing mungkin terbersit, ‘’Kita akan melihat hal yang sama setiap hari.’’ Tapi, kami salah.

Pada hari pertama, cuaca cerah selama setengah hari. Matahari bersinar terik. Kami turun ke feeding site pertama di Tanjung Harapan usai jam makan siang. Sesuai nama tempatnya, kami dipenuhi harapan ingin segera melihat orangutan di perhentian pertama.

Tanjung Harapan dilengkapi pusat informasi. Di situ pengunjung disuguhi mulai dari peta ekowisata di taman nasional, sejarahnya hingga pameran mini berupa replika tengkorak kepala buaya, gigi-gigi hewan dan rumah rayap. Bahkan, informasi jumlah wisatawan yang berkunjung ke TN Tanjung Puting tahun lalu pun ada.  Pusat informasi ini berada di depan dermaga tempat turun-naik wisatawan.

Sesaat sebelum kami sampai di feeding site, kami melihat seekor orangutan muda sedang bergelantungan di atas pohon. Induknya duduk di cabang pohon yang lebih tinggi. Pemandu mengingatkan agar kami menjaga jarak. Benar saja. Orangutan muda itu melemparkan ranting-ranting yang tadi dihisapnya. Dia tampak kurang suka ditatap dan diabadikan oleh pengunjung yang excited

Hari pertama kami sangat beruntung. Karena Roger, orangutan yang menjadi raja di Tanjung Harapan, datang ke feeding site. Dia tidak sendirian. Seekor orangutan betina bersama anaknya tiba sebelum Roger. Mereka datang sesaat setelah ranger menempatkan pisang dan ubi di panggung kayu.

Tiba-tiba cuaca berubah. Hujan turun. Kami berempat memutuskan untuk kembali ke kelotok. Meskipun hujan, awan tidak sepenuhnya menutupi Sang Mentari. Cahayanya masih bisa menerobos dedaunan rapat. Hujan pun tampak begitu indah di dalam hutan hujan tropis di Tanjung Puting.

Kami melihat wisatawan berkumpul di bawah sebuah pohon sebelum dermaga. Ada orangutan lagi. Dia duduk dengan ekspresi lesu. Pemandu kami memberitahu, dia adalah Gundul.

Gundul adalah raja orangutan di Tanjung Harapan sebelum Roger. Dia kalah bertarung dari Roger. Sehingga dia harus merelakan statusnya sebagai penguasa dan pemimpin kelompok orangutan di sana.

Hari pertama kami berakhir di depan ‘’rumah’’ bekantan (Nasalis larvatus).  Kelotok ditambatkan tepat sebelum malam turun. Malam pertama kami di taman nasional dijagai para bekantan jantan yang bersahutan-sahutan. Mereka seolah hendak memastikan anggota kelompoknya, dan mungkin juga kami, tidur dengan aman. Dan keesokan pagi, bekantan telah bangun dan beraktivitas lebih dahulu daripada kami. 

Hari kedua cuaca berawan sepanjang hari. Gerimis turun dan berhenti. Dari sana kami menuju Pondok Tangui.

Ada tiga pilihan rute trekking di Pondok Tanggui. Rute pendek langsung menuju feeding site. Trekking medium sekitar 15 menit, dan trekking panjang dengan rute agak memutar dan waktu tempuhnya selama 30 menit. Semua rute trekking berakhir di feeding site. Kami sepakat memilih rute medium.

Di TN Tanjung Puting, pengunjung harus berjalan kaki sampai ke feeding site. Semua medannya mendatar sehingga mudah dilalui oleh siapapun. Track medium di Pondok Tangui melalui jalan setapak yang tertutup daun basah dan tanah berpasir putih. Di tengah jalan, pemandu kami menunjukkan tanaman kantong semar. Di situ juga merupakan tempat menanam pohon donasi dari para wisatawan.

Albert, raja orangutan di Pondok Tangui, tidak datang ke feeding site hari itu. Bagaimanapun, kehadiran seekor orangutan muda dan kera abu ekor panjang (Macaca fascicularis) di feeding site cukup menawar kekecewaan kami.  

Dari sana, kami melanjutkan perjalanan menuju Camp Leakey. Ini adalah  feeding site terakhir yang posisinya paling jauh ke dalam hutan. Kelotok kami akhirnya menyusuri Sungai Hitam. Sungai itu terkenal karena warna airnya yang pekat dan alurnya yang sempit serta vegetasi hutan yang lebih rapat.

Jacob adalah raja orangutan di Camp Leakey. Sayang, kami juga tidak berkesempatan melihatnya hari itu. Katanya, di dalam hutan sedang musim ulat. Dan ulat itu merupakan salah satu pakan kesukaan orangutan.

Kami cukup terhibur dengan kehadiran Bob, si owa kalimantan/kalawet (Hylobates albibarbis), dan Nova, seekor orangutan jantan. Bob memamerkan keahliannya berayun-ayun di antara dahan-dahan tinggi. Sedangkan Nova dengan santai melahap ubi sambil menghadap penonton.

Di jalur trekking Camp Leakey, pengunjung bisa melihat pondok kayu yang pernah ditempati oleh Profesor Birute dari jauh. Selain itu, bangunan-bangunan lainnya juga tertata rapi dan tidak jauh dari pondok Ibu. Bangunan tersebut tampaknya berfungsi sebagai tempat tinggal staf dan jagawana (rangers),  selama bertugas di dalam taman nasional.

Roger (kanan) ditemani dua orangutan lain, betina dan anaknya, di feeding site Tanjung Harapan. (Foto: Yun Damayanti)

Dilarang gaduh, tidak boleh memberi makan orangutan, dan menjaga jarak aman sekitar 5 meter adalah tiga peringatan teratas yang ditempatkan di banyak titik di semua feeding site. Di Camp Leakey aturannya dipertegas, pengunjung dilarang makan dan minum di depan orangutan demi keselamatan diri sendiri maupun pengunjung lainnya.

Pemberian pakan di feeding site bukan untuk memanjakan atau membuat orangutan bergantung pada manusia. Tujuan feeding camp adalah untuk memberi nutrisi penting selama musim buah berkurang atau sumber makanan alami terbatas terutama pada musim kemarau.

Pada umumnya, orangutan di TN Tanjung Puting mencari makan secara mandiri di hutan. Mereka akan tampak lebih sering ke feeding site pada musim kemarau. Sedangkan pada musim hujan, mereka akan mengurangi atau bahkan tidak datang ke feeding site karena pakan alaminya berlimpah di dalam hutan.

Orangutan yang masih liar akan menghindar ketika bertemu manusia. Sedangkan yang datang ke feeding camp biasanya orangutan pada tahap pra-pelepasliaran.

Meskipun orangutan hidup semi soliter tetapi mereka mempunyai struktur hierarki dalam kelompoknya. Di dalam kelompok pasti ada satu individu, biasanya jantan, yang mempunyai kekuatan dan pengaruh paling besar atas individu-individu lainnya. Dia mendominasi dalam kelompoknya.

Status ‘Raja’ dalam hierarki orangutan adalah individu jantan paling dominan, memiliki akses ke sumber daya penting seperti makanan, tempat berlindung dan betina. Hal itu memungkinkan mereka bereproduksi lebih banyak dan meningkatkan peluang memperbanyak keturunan untuk bertahan di alam. Dengan status Raja-nya, mereka adalah individu-individu orangutan paling ditunggu oleh pengunjung di feeding site

Sampah merupakan salah satu faktor penting dalam konservasi primata. Di sepanjang Sungai Sekonyer hingga Sungai Hitam, kami tidak melihat sampah sedikitpun. Begitu pun di jalur trekking. Bila ada sampah terlihat, siapapun akan langsung memungutnya.

Papan-papan informasi dan peringatan ditempatkan di mana-mana. Pengunjung diingatkan terus. Pemandu juga harus selalu mendampingi wisatawan selama berada di taman nasional baik saat berada di darat maupun di kelotok.

Pemandu kami Akbar punya mata elang yang sudah terlatih. Dia mengenali mulai dari jenis-jenis burung yang terbang di atas kelotok hingga melihat orangutan liar yang tiba-tiba berada tidak jauh dari kelotok saat kami sedang sarapan di hari terakhir. Bagi kami, Akbar tidak hanya sekedar seorang pemandu tetapi juga teman seperjalanan.

Kami makan dengan teratur dan sangat baik berkat Ibu Aisyah, juru masak di kelotok. Dia memanjakan kami dengan masakannya yang sedap tiga kali sehari. Itu pun masih ditambah penganan ringan tradisional setiap kali kami kembali dari feeding site. Salah seorang dari kami, dia dari Australia, seorang vegetarian. Juru masak kelotok otomatis mengubah rencana menunya dengan membuat makanan vegetarian yang bisa disantap oleh semua orang.

Sejak dari Pondok Tangui hingga Camp Leakey tidak ada sinyal sama sekali. Pada saat ‘terputus’, kami menghabiskan waktu dengan bercakap-cakap. Kami bertukar bahasa ibu dan budaya. Selama perjalanan pun kami saling membantu. Berkat keadaan tersebut, perasaan asing yang menyelimuti kami sebelumnya bertransformasi menjadi pertemanan pada akhirnya. Turun di dermaga di Kumai, saya merasa menemukan kembali jati diri sebagai manusia yang makhluk sosial.

Kolam renang, salah satu fasilitas leisure dan kebugaran di Mercure Pangkalan Bun. (Foto: Yun Damayanti) 

Usai perjalanan dari TN Tanjung Puting, saya menginap semalam lagi di Pangkalan Bun. Kesan pertama, ini adalah kota kecil yang teratur dan bersih. Mercure Pangkalan Bun menjadi tempat tinggal berikutnya. Hotel bintang 4 itu berada di lokasi strategis di kota sehingga mudah diakses dari manapun.

Mercure Pangkalan Bun adalah hotel berjaringan internasional pertama di ibukota Kabupaten Kotawaringin Barat. Saat memasuki lobby hotel, saya merasa deja vu, ‘’Apa saya ada di Jakarta?’’ Tapi, kotoran yang masih menempel di sepatu mengingatkan bahwa saya baru saja keluar dari hutan di Tanjung Puting.

Mercure Pangkalan Bun menyediakan fasilitas leisure dan wellness seperti kolam renang untuk anak dan dewasa, gym dan spa serta persewaan sepeda. Selain itu, hotel juga dilengkapi dengan all-day dining di Kelakai Restaurant yang menyajikan cita rasa ‘Glocal’, lobby lounge Malining Coffee & Patisserie untuk menikmati kopi dan kue-kue lezat dan Palapas Midtop yang menyediakan menu koktail dan berbagai makanan ringan. Di lantai 1 di mana area kebugaran berada, Danum Poolbar siap melayani tamu-tamu yang bersantai.

Atap rumah warga di belakang hotel dicat beraneka warna. Itulah Kampung Sega. Kampung tersebut berada di tepi Sungai Arut dan punya akses dermaga kecil untuk naik-turun sampan motor.

Mercure adalah salah satu merek dari keluarga Accor. Jaringan hotel asal Perancis ini konsisten dengan standar layanan tinggi di manapun berada. Dan Mercure Pangkalan Bun menggenapi perjalanan petualangan dan pengalaman wellness yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya akan didapat dari alam liar di TN Tanjung Puting. ***(Yun Damayanti)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *