TREN WISATAWAN MUSLIM GEN Z YANG HARUS DIKETAHUI

Tourism for Us – Generasi Z (Gen Z) kini masuk menjadi segmen utama dalam pasar wisatawan muslim. Seperti wisatawan lainnya, mereka mencari pengalaman yang otentik di setiap destinasi yang dikunjungi. Sebagai generasi yang tumbuh dengan internet dan sangat terampil dalam teknologi, mereka tetap tertarik untuk beraktivitas di alam dan terlibat dalam tradisi lokal. Pada umumnya, mereka baru memasuki dunia kerja dan memiliki keterbatasan finansial dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Namun, mereka bersedia membayar lebih asalkan nilai yang ditawarkan sebanding dengan pengeluaran mereka.

Pemandangan teluk di Labuan Bajo,salah satu destinasi super prioritas dan destinasi premium.(Foto:Kemenparekraf)

Tawfiq Salam Ikhtianto, Research and Capacity Building Manager di CrescentRating, mengungkapkan profil pasar wisatawan muslim Gen Z terbaru pada seminar daring ‘’How to Target the New Wave of Young Muslim Travelers’’, Rabu (12/11/2025), melalui Zoom. Dalam paparannya juga terungkap pendekatan untuk memahami pasar ini bagi destinasi dan pelaku industri.

Gen Z muslim yang melakukan perjalanan kini mencari pengalaman yang otentik, sumber informasi yang dapat dipercaya, dan pengalaman yang mendalam. Mereka memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi, sehingga mudah menyesuaikan diri. Selain itu, berkat keterampilan teknologi yang dimilikinya, mereka sangat mudah mengakses informasi dan menjadi generasi yang paling terhubung daripada generasi sebelumnya. Namun, mereka juga sangat memperhatikan anggaran, menjadikan mereka wisatawan yang ekonomis dan cemat dalam pengeluaran.

Tawfiq menerangkan bahwa keterjangkauan bagi Gen Z berarti mendapatkan nilai yang sepadan dengan uang yang dibayarkan, bukan sekadar murah. Kondisi keuangan Gen Z tidak dapat dibandingkan dengan generasi yang lebih tua, karena mereka baru memulai karir dan memiliki pendapatan yang lebih terbatas. Meskipun demikian, Gen Z bersedia membayar lebih asalkan produk atau layanan tersebut memberikan nilai yang sesuai dengan harga yang ditawarkan.

Lebih lanjut, dia menyarankan agar pelaku industri bisa memberi nilai tambah pada produk misalnya, menawarkan spa dan kolam renang khusus wanita. Selain itu, informasi detinasi juga harus disampaikan secara akurat dan ringkas di media sosial.

Ada empat strategi pemasaran dalam menggarap pasar Gen Z, yakni:

  1. Jual pengalaman, bukan menjual produk. Sampaikan pengalaman otentik dan lokal yang akan didapat selagi menyajikan Instagramable moments.
  2. Tempatkan pemasaran di Tiktok dan Instagram, dua kanal yang paling banyak diakses dan dipercaya oleh mereka.
  3. Merek yang transparan di mana menempatkan dirinya pada keadilan sosial akan menambah nilai merek di mata mereka.
  4. Dengan karakter yang fleksibel, mereka mengharapkan para penyedia jasa juga dapat beradaptasi, seperti menawarkan waktu pemesanan yang lebih singkat atau memungkinkan perubahan dan pemesanan mendadak.

Hasil studi CrescentRating menunjukkan bahwa sebanyak 78 persen wisatawan muslim Gen Z ingin mengunjungi restoran yang menyajikan makanan lokal. Kemudian, sebanyak 65 persen mencari pengalaman mendalam dengan turut berpartisipasi pada tradisi lokal, mencicipi makanan lokal, dan sebagainya. Selain itu, minat untuk mengikuti ekskursi budaya dan belanja masing-masing sebanyak 53 persen

Masih menurut hasil studi tersebut, sumber informasi wisatawan muslim Gen Z adalah informasi dari mulut-ke-mulut yang berasal dari teman dan keluarga serta media sosial, masing-masing sebanyak 65 persen.

’The Gen Z muslim travelers want to experience the authenticity of the destination as much as possible. They want to go to old buildings, heritage, and the nature. They want to be treated like general travelers, but they expect the destination can cater their needs for halal food and being able to pray,’’ ujar Tawfiq.

Terkait kebutuhan dasar wisatawan muslim tersebut, Tawfiq menyarankan, terutama kepada pelaku UMKM, restoran ataupun tempat-tempat makan lainnya untuk mendapatkan sertfikasi halal di tempat mereka dan memajangnya di posisi yang mudah dilihat oleh pengunjung. Selain itu, menurutnya, penting untuk melakukan pemasaran yang tepat mengenai makanan otentik yang ditawarkan, sehingga dapat menarik lebih banyak pengunjung yang mencari kuliner yang sesuai dengan nilai-nilai mereka.   

Destinasi yang seperti apa yang dicari oleh wisatawan muslim Gen Z? Sebanyak 65 persen responden menjawab bahwa di destinasi harus tersedia makanan halal dan sertifikasi halal. Kemudian, sebanyak 60 persen responden mengatakan tertarik dengan destinasi yang kaya heritage islami, dan 58 persen lainnya menginginkan tersedia amenitas yang ramah muslim.

Selama berada di destinasi, lebih dari 50 persen mengatakan tertarik untuk terlibat dalam aktivitas sosial di komunitas lokal, dan 75 persen dari mereka mengakui terpengaruh oleh budaya lokal.

Sementara itu, wisatawan muslim Gen Z akan menghindari bepergian ke destinasi dengan sentimen Islamophobia yang tinggi (57%).  

Tawfiq menegaskan bahwa pariwisata halal tidak menuntut destinasi harus berubah menjadi islami atau Islamisasi. Destinasi harus menunjukkan dan menginformasikan bahwa destinasinya aman bagi wisatawan muslim. Selain itu, dia juga mengatakan bahwa setiap negara memiliki potensi sebagai sumber pasar wisatawan muslim Gen Z. ***(Yun Damayanti)  



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *