KLALIK ECHIDNA PARK: UPAYA MASYARAKAT LOKAL MENJAGA EKOSISTEM HUTAN PAPUA MELALUI EKOWISATA

Tourism for Us – Tahukah kamu bahwa komodo bukanlah satu-satunya hewan purba yang masih ada di Indonesia? Selain komodo, terdapat juga ekidna moncong panjang yang hidup di dalam hutan hujan tropis Papua. Menariknya, ada tiga spesies ekidna yang masih bertahan hingga kini.

Ekidna moncong panjang barat (Zoglossus bruijnii) yang mudah ditemukan di hutan desa Kampung Klalik.
(Foto: Ones Paa)

Ekidna adalah hewan mamalia bertelur dan merupakan satwa asli Papua. Salah satu satwa endemik ini diduga sebagai hasil evolusi dari mamalia bertelur (monotremata) pada periode 65,5 hingga 23 juta tahun lalu. Ketiga jenis ekidna yang ada di Papua yakni ekidna moncong panjang barat (Zoglossus bruijnii), ekidna moncong panjang timur (Zoglossus bartoni), dan ekidna moncong panjang cyclops atau payangko (Zoglossus attenboroghi). Payangko sempat menghebohkan dunia karena kemunculannya kembali pada 2023 setelah terakhir kali terlihat pada tahun 1961.

Di antara tiga spesies yang masih bertahan, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan ekidna moncong panjang barat (Zoglossus bruijnii) dan ekidna moncong panjang cyclops (Zoglossus attenboroghi) dalam daftar merah dan merupakan spesies yang terancam punah (critically endangered/CR). Ekidna moncong panjang barat merupakan jenis yang terbesar dalam kelompok monotremata. Habitatnya terutama di semenanjung kepala burung Pulau Papua yang sekarang termasuk dalam wilayah Provinsi Papua Barat Daya.

Secara fisik, ekidna memiliki duri seperti landak. Ekidna dinamai babi duri dalam bahasa lokal. Selain itu, dia juga hewan berkantung, aktif pada malam hari (nokturnal), dan hidupnya menyendiri.

Panjang tubuh ekidna antara 30-55 sentimeter dan panjang ekornya antara tujuh hingga sembilan sentimeter. Beratnya antara tiga sampai delapan kilogram. Betina umumnya lebih berat daripada jantan.

Ekidna hidup di lubang di tanah yang lembab. Pakan utamanya adalah rayap dan cacing. Walaupun tidak ada gigi, ekidna mempunyai lidah yang lengket untuk menangkap mangsa. Moncongnya berfungsi untuk mendeteksi bau makanan, menghindar dari predator, dan mengenali ekidna lainnya.

Klalik Echidna Park

Para penelitii dan wisatawan kini memiliki akses yang lebih mudah untuk mengamati ekidna moncong panjang barat. Warga Kampung Klalik di Distrik Klaso, Papua Barat Daya, telah mengambil inisiatif untuk melestarikan habitat hewan ini dengan mengembangkan ekowisata Klalik Echidna Park di perbukitan hutan Kawakyr. Taman ekidna ini terletak di hutan Klalik yang telah diakui sebagai hutan desa, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menikmati keindahan alam sekaligus mendukung upaya konservasi.

Warga Kampung Klalik masih berburu dan meramu di hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, tidak seperti di wilayah lain di Papua, warga kampung ini tidak berburu ekidna.

‘’Kami masih berburu tapi hanya babi dan rusa. Kalau ekidna, kami jaga. Tidak kami makan. Kami jaga ekidna karena dia seperti nenek moyang,’’ ujar Titus Malak, tetua adat Kampung Klalik.

Titus mengungkapkan bahwa hutan Klalik telah diakui dan memperoleh pengakuan sebagai hutan desa  pada 2024. ‘’Sebenarnya kami lebih setuju jika hutan adat, meski SK Hutan Desa sudah ada. Kalau sudah ada pengakuan hutan adat, hutan terlindungi dan tak ada perusahaan masuk,’’ imbuhnya

Kampung Klalik, pintu menuju Klalik Echidna Park, berjarak 82 kilometer dari Bandara Domine Eduard Osok di Sorong. Perjalanan dari bandara ke kampung selama tiga jam dengan menggunakan mobil 4WD. Oleh karena itu, pengunjung mesti menginap di kampung. Tamu rata-rata menginap selama 3 hari 2 malam.

Ones Paa, Ketua Lembaga Pengelolaan Hutan Kawakyr, mengatakan bahwa pengamatan ekidna dapat dilakukan sepanjang tahun, berdasarkan informasi dari pemantauan yang dilakukan oleh warga di hutan. Mereka melaporkan bahwa setiap hari mereka menemukan ekidna di habitatnya. Umumnya, waktu pengamatan antara pukul 20.00 hingga 02.00 dini hari.

Kelompok Pengembangan Ekowisata Klalik Echidna Park, yang terdiri dari warga setempat, telah menetapkan prosedur untuk pengamatan ekidna. Empat pemandu lokal akan terlebih dahulu menjelajahi hutan untuk mencari keberadaan ekidna. Setelah ekidna ditemukan, satu pemandu tambahan akan mengantar pengunjung ke lokasi tersebut. Sebelum memasuki hutan, pengunjung akan mendapatkan pengarahan mengenai etika yang harus diikuti, termasuk pentingnya menjaga jarak dengan ekidna demi keselamatan dan kenyamanan satwa tersebut maupun pengunjung.

Ones Paa (paling knan), penggagas Klalik Echidna Park juga Ketua Lembaga Pengelolaan Hutan Kawakyr, (Foto: Ones Paa)

‘’Untuk pengamatan ekidna, kami punya 10 pemandu lokal,’’ ujar Ones.

Tidak hanya pengamatan ekidna, pada pagi hingga siang hari tamu juga dapat mengamati kehidupan alam liar di sekitar kampung ataupun di Klalik Echidna Park. Mereka berkesempatan untuk menjelajahi keanekaragaman spesies endemik Papua lainnya, seperti walabi, long fingerek triok, dan bila beruntung, kanguru pohon.

Selain itu, terdapat juga beragam jenis burung dataran rendah mulai dari spesies cendrawasih seperti cendrawasih raja (Cicinnurus regius) dan cendrawasih 12 kawat (Saleucidis melanoleucus); cekakak pita bidadari atau red-breasted paradise kingfisher (Tanysiptera nympha) dan cekakak biru-hitam atau blue-black kingfisher; paok papua atau papuan pitta (Erythropitta mackioti) dan paok hitam atau melampitta (Melampitta spp); mambruk ubiaat atau western crowned pigeon (Goura cristata), kakatua raja hitam (Probosciger aterrimus), burung kalkun semak atau brashturkey, nuri kate, rangkong, dan masih banyak lagi.

Selama tinggal di Kampung Klalik, tamu juga berkesempatan mempelajari cara hidup masyarakat lokal, sehingga memberikan pengalaman yang lebih mendalam selama kunjungan.

Klalik Echidna Park secara resmi berdiri pada tahun 2024. Namun, proses pembentukan taman ini sudah dimulai sejak 2016. Ones menuturkan bahwa dirinya, dibantu oleh tetua dan warga kampung, melakukan survey dan mempelajari perilaku satwa, khususnya ekidna, sepanjang 2016-2023. Selain itu, dia juga mempelajari lebih dalam tentang ekidna, ekosistem hutan tempat hidupnya beserta keanekaragaman satwa yang ada di dalamnya, secara otodidak dengan memanfaatkan jaringan internet.

Dua sahabat Ones kebetulan memiliki kenalan di kalangan wisatawan yang merupakan penggemar mamalia. Mereka mendokumentasikan penemuan-penemuan menarik di hutan Kampung Klalik dan mengirimkan informasi tersebut kepada kenalannya. Alhasil, tujuh tamu pertama datang pada bulan Juli 2023.

‘’Saya anak kampung yang punya rasa cinta terhadap satwa-satwa sebelum saya tahu ekowisata. Jadi pas dapat manfaatnya maka waktunya untuk kolaborasi  pengetahuan lokal dengan pengetahuan umum tentang pengembangan ekowisata. Pelajari perilaku satwa dan belajar penyebutan satwa dalam bahasa Inggris. Akhirnya bisa menjadi pemandu lokal. Walaupun bahasa Inggris hanya bisa ‘Yes’ dan ‘No’,’’ kata Ones.

Hingga awal Desember 2025, Kelompok Pengembangan Ekowisata Klalik Echidna Park mencatat lebih dari 150 pengunjung telah datang ke Klalik. Mereka berasal dari India, Malaysia, Spanyol, Jepang, Tiongkok, Singapura, dan lainnya. Sementara ini, tamu yang datang lebih banyak peneliti, tetapi ada juga yang datang karena penasaran dengan ekidna.

‘’Ini menjadi kampung satu-satunya di Papua yang menjadi tempat pengamatan mamalia ekidna,’’ tambah Ones

Paket Wisata Echidna Watching

Ones mengakui bahwa ekowisata Klalik Echidna Park dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat. Hasil dari penjualan paket Echidna Watching tidak hanya memberikan manfaat ekonomi pada warga tetapi juga digunakan untuk menjaga ekosistem habitat ekidna dan membangun beberapa fasilitas dasar yang dibutuhkan oleh wisatawan.

Di Kampung Klalik, empat rumah warga dijadikan homestay. Setiap homestay dapat menampung dua orang. Kemudian, ada satu restoran dan kamar mandi yang dilengkapi dengan kakus (WC).

Harga paket Echidna Watching di Kampung Klalik mulai dari Rp 2.350.000,00 per orang untuk masa tinggal selama 3 hari 2 malam. Paketnya sudah termasuk jasa kepemanduan, biaya menginap dan makan, serta retribusi untuk kampung sebesar Rp 50.000,00/orang/hari. Namun, biaya paket tersebut belum termasuk sewa kendaraan 4WD sebesar Rp 1.500.000,00 sekali jalan.

‘’Menurut rencana, kami akan mendapat empat homestay tambahan tahun 2026. Homestay ini merupakan bantuan dari Kabupaten Sorong,’’ ucap Ones.

Namun, semangat warga Kampung Klalik dalam mengembangkan ekowisata kini mengahadapi tantangan. Ada rencana untuk mengubah kawasan hutan di Kampung Klalik dan sekitarnya menjadi lahan perkebunan industri dan lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Keputusan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat lokal, yang takut akan hilangnya hutan di Lembah Klaso. Jika hutan tersebut lenyap, bukan hanya ekidna yang terancam punah, tetapi juga keanekaragaman hayati lainnya. Selain itu, hilangnya hutan akan berdampak negatif pada kegiatan ekowisata yang selama ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat setempat. ***(Yun Damayanti)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *