KEREN! BEGINI PERSIAPAN KAMPUNG ADAT CIREUNDEU CIMAHI SAMBUT TAMU PASCA PPKM

Tourism for Us – Kampung Adat Cireundeu di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat adalah kampung adat yang lain daripada yang lain. Sekilas kampung ini tampak biasa seperti kampung-kampung lain yang ada di kota. Namun, begitu memasuki kampung, kita bisa menyaksikan dan mengalami bagaimana old and new bisa hidup dan saling melengkapi di abad Milenium.

Peta Kampung Adat Cireundeu akan mempermudah tamu saat mengeksplorasi kampung.[Foto;ist.]

Kampung adat seluas 64 hektar itu mempertahankan tata ruang yang diajarkan oleh leluhur. Kampung dibagi jadi 3 bagian: leuweung larangan, area hutan yang tidak boleh ditebang karena di situ menyimpan sumber air bagi masyarakat, khususnya bagi warga Kampung Cireundeu; leuweung tutupan, area hutan yang bisa dimanfaatkan kayunya oleh masyarakat dengan kewajiban, bagi mereka yang mengambil kayu harus menanam kembali pohon baru; leuweung baladahan yakniarea lahan pertanian masyarakat adat Cireundeu, di situ ditanami singkong, jagung, kacang tanah, dan umbi-umbian. Dari total luas kampung, area tutupan (leuweung) luasnya mencapai 60 hektar. Sedangkan area pemukiman menempati lahan seluas 4 hektar saja.

Warga Kampung Cireundeu masih memegang teguh dan menjalankan ajaran kepercayaan Sunda Wiwitan. Filosofi kehidupan yang diyakini dan diamalkan, sebagai kampung adat memiliki cara, ciri dan keyakinan masing-masing. Masyarakat Kampung Adat Cireundeu tidak melawan perubahan zaman melainkan memilih mengikutinya sehingga di kampung menerima masuknya penerangan (listrik) sampai teknologi informatika. Ajaran leluhur ibarat kompas dalam menjalani kehidupan zaman modern yang berubah sangat cepat.

Agar pengunjung yang datang selepas PPKM dapat menikmati kunjungannya di Kampung Adat Cireundeu, pengelola telah mempersiapkan QR Code. Jadi, pengunjung tidak akan pulang tanpa memperoleh informasi. QR Code ini ditempatkan di pohon-pohon yang ada di dalam hutan maupun di beberapa bangunan penting di dalam kampung adat.

Selain tempat cuci tangan dan pengukur suhu,Kampung Adat Cireundeu juga menempatkan QR Code yang berisi informasi mengenai kampung.(Foto: Visit Cireundeu)

“Ini inovasi kami saat pandemi. Karena tatap muka pan agak sulit yah. Jadi kami buatkan QR Code di beberapa titik,“ ujar Kang Yana, salah seorang pembina Kampung Adat Cireundeu.

Paket-paket kunjungan di Kampung Adat Cireudeu juga sudah disiapkan. Mulai dari paket kunjungan sehari sampai bermalam. Harga paketnya mulai dari Rp 60.000,00 per orang untuk paket wisata kunjungan sehari sampai dengan Rp 400.000,00 per orang untuk paket bermalam selama 3 hari 2 malam. Programnya mulai dari trekking ringan di leuweung, makan nasi singkong, hingga praktik membuat kerajinan tangan khas kampung.

Ada juga paket atraksi seni. Di kampung ini masih hidup pertunjukan angklung buncis, kecapi suling, degung, karinding, tari jaipong, dan gondang. 

Kang Yana menjelaskan, di dalam harga paket sudah termasuk biaya parkir kendaraan dan keamanan. Sedangkan mengunjungi kampung tidak dipungut tiket masuk.

“Selain wisatawan, yang datang ke Cireundeu banyak juga mahasiswa untuk observasi, penelitian, dan masyarakat umum. Mereka hanya bayar untuk parkir umum. Biaya parkir motor kalau agak lama Rp 5.000,00 dan mobil antara Rp 10.000,00-Rp15.000,00,“ tambah Kang Yana.

Nasi singkong dari rasi,makanan pokok ciri khas Kampung Cireundeu.[Foto;Visit Cireundeu]

Rasi, Beras Singkong

Sejak 1924 masyarakat Kampung Adat Cireundeu mengonsumsi singkong yang diolah menjadi nasi. Ini berawal dari tahun 1918 yangmana pada tahun tersebut sawah-sawah mengalami kekeringan. Leluhur kampung menyarankan dan berpesan agar menanam singkong sebagai pengganti padi. Karena singkong dapat ditanam pada musim hujan dan kemarau.

Rasi atau beras singkong adalah singkong yang diolah dengan cara diparut, kemudian dibilas dengan air, digiling untuk diambil patinya. Kemudian dikeringkan dan dibuat jadi tepung. Rasi inilah yang menjadi makanan pokok warga Kampung Adat Cireundeu. Menurut warga, makan nasi singkong bisa menahan lapar lebih lama.

Kreativitas mengolah pangan di Cimahi juga tidak kalah dengan Bandung. Selain dijadikan rasi, singkong pun diolah jadi berbagai camilan dan lauk seperti opak, cireng, simping, eggroll, bolu, dan dendeng kulit singkong.***(Yun Damayanti) 



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *