PAPUA, SURGA BURUNG YANG DIRINDUKAN
Tourism for Us – Bagi burung-burung di dunia, Indonesia adalah surga yang dirindukan. Walaupun kenyataannya, surga mereka menghilang perlahan-lahan. Begitupun bagi banyak penggemar wisata minat khusus bird watching. Mereka bepergian dan menelusuri hutan-hutan tropis dalam grup-grup kecil untuk melihat, mengabadikan dan membuat catatan-catatan dari kerajaan-kerajaan burung di kepulauan Nusantara sebelum mereka punah.

Benny Lesomar dari Discover Papua membentuk Ekowisata Papua Birding khusus untuk melayani wisatawan dari mancanegara yang hendak melakukan bird watching. Sebelum pandemi, hampir setiap bulan ada grup-grup birding datang untuk mengunjungi surga terakhir bagi burung-burung mulai dari Papua sampai Papua Barat. Wisatawan datang dari Eropa maupun Asia. Setelah pemerintah Indonesia membuka perbatasan dan memberikan fasilitasi perjalanan, mereka tidak menunda-nunda lagi perjalanannya.
Discover Papua dan Ekowisata Papua Birding adalah operator tur lokal berbasis di Kabupaten Biak Numfor, Papua. Di Pulau Biak sendiri ada delapan sampai sembilan spesies burung endemik. Mulai dari salah satu anggota keluarga burung surga, cendrawasih merah (Paradisaea rubra), biak scops owl (Otus beccarii) hingga numfor paradise kingfisher (Tanysiptera carolinae). Pecinta burung biasanya punya kesukaan terhadap jenis-jenis tertentu. Mereka akan pergi ke manapun untuk dapat melihat dan mengabadikannya.
Menurut Benny, program perjalanan bird watching cukup berbeda daripada perjalanan lainnya. Durasi perjalanan dan program bergantung dari minat wisatawan. Karakter wisatawan bird watching lebih fokus pada aktivitas birding. Aktivitasnya sendiri bisa memakan waktu seharian atau bahkan sampai bermalam di dalam hutan. Di waktu jeda, mereka lebih memilih beristirahat di hotel.
Produk bird watching yang dioperasikan oleh Ekowisata Papua Birding/Discover Papua mulai dari Raja Ampat selama 4 hari 3 malam. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke Sorong selama 2 hari 1 malam dan ke Manokwari. Setelah itu, wisatawan meneruskan perjalanan ke Jayapura, Wamena dan Habema. Di setiap destinasi ada beberapa spesies endemik Papua, utamanya keluarga burung surga cendrawasih. Dan perjalanan mereka berakhir di Biak sebelum pulang ke negaranya.
‘’Kami masuk ke hutan-hutan di Biak. Di sini ada burung hantu kecil endemik Biak. Wisatawan juga bisa melihat cendrawasih dan kingfisher. Pecinta burung kingfisher banyak di dunia. Kami berangkat mulai dari pukul 2.30 dini hari sampai siang. Kemudian kembali ke hotel, istirahat. Sore hari kami berangkat lagi sampai malam. Begitu terus setiap hari,’’ ujar Benny.
Harga paketnya bergantung pada durasi perjalanan dan berapa banyak destinasi yang disinggahi. Selain mengurus keamanan dan kenyamanan wisatawan, operator juga harus menjaga keamanan peralatan yang dibawa oleh wisatawan birding selama perjalanan.***(Yun Damayanti)
