PERAN MISI PENJUALAN: LEBIH DARI SEKADAR TARGET DAN PROMOSI
Tourism for Us – Pelaku industri pariwisata di berbagai destinasi di Indonesia menghadapi kesulitan ketika pemerintah menerapkan efisiensi anggaran dan mendorong pelaku industri untuk mencari alternatif lain. Dengan ketangguhan yang sudah teruji dalam menghadapi berbagai tekanan dan tantangan, DPD ASITA Jawa Barat mulai memfungsikan misi penjualan di Penang, Ipoh, dan Kuala Lumpur, Malaysia yang dilaksanakan pada akhir Juli lalu sebagai sarana untuk memperkenalkan strategi pemasaran pasar inbound, khususnya bagi pelaku industri pariwisata di Jawa Barat. Kegiatan misi penjualan tidak hanya berfokus pada promosi langsung dan pencapaian target penjualan paket wisata, tetapi juga bertujuan untuk menginspirasi para pelaku industri pariwisata, terutama di Bandung, yang selama ini lebih mengutamakan pasar domestik dan pemerintahan. Dengan tanggapan positif dari para pembeli di ketiga kota tersebut, diharapkan mereka mulai menjajaki peluang di pasar inbound, dimulai dari kawasan ASEAN.
Misi Penjualan kali ini dimulai dari Penang yang berlangsung pada 29 Juli 2025 di Hotel Cititel Penang. Di sini mempertemukan 28 sellers dari Indonesia dengan 60 operator tur/agen perjalanan (TO/TA) dari Kota Penang. Kemudian, misi berlanjut pada 30 Juli 2025 di Hotel Weil Ipoh, Perak yang mempertemukan 28 sellers dengan 24 buyers. Misi penjualan terakhir pada 31 Juli 2025 di Hotel Berjaya Time Square Kuala Lumpur yang mempertemukan 26 sellers dengan 40 buyers.

(Foto: DPD ASITA Jawa Barat)
Peserta sellers TO/TA berasal dari Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Pada misi penjualan kali ini, jumlah peserta TO/TA dari Bandung mengalami peningkatan, dengan tujuh peserta yang berpartisipasi. Di antara mereka, lima perusahaan, yaitu Megatama, Nuansa Holidays, Universal Holiday, Marvelouse, dan Exodus Tour, baru pertama kali memasarkan produk mereka ke luar negeri. Sementara itu, dua peserta lainnya, Exotic Java Trails dan Bhara Tours, merupakan operator tur asal Bandung yang memiliki pengalaman puluhan tahun mendatangkan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia.
Peserta sellers lainnya terdiri dari pelaku industri perhotelan dan restoran. Seperti halnya peserta TO/TA yang baru pertama kali menjual produk di luar negeri, beberapa peserta dari sektor hotel dan restoran juga mengikuti misi penjualan ke luar negeri untuk pertama kalinya. Pada umumnya, mereka yang sebelumnya lebih fokus pada pasar domestik dan sektor pemerintahan.
Sellers melaporkan bahwa tanggapan dari pembeli di tiga kota di Malaysia sangat positif. Terutama, pembeli dari Penang dan Ipoh menunjukkan antusiasme yang tinggi, mengingat banyak di antara mereka yang belum mengenal destinasi Bandung.
Herman Rukmanadi dari Bhara Tours mengungkapkan bahwa buyers yang paling antusias dari Penang dan Ipoh karena banyak dari mereka yang belum mengetahui destinasi Bandung. Mereka bertambah senang karena destinasi ini dapat diakses melalui Jakarta.
‘’Pola perjalanannya tidak ada yang berubah,’’ ujar Herman.
Wisatawan dari Penang dan Ipoh sama seperti wisatawan Malaysia pada umumnya. Durasi perjalanan mereka di Bandung selama 4 hari 3 malam atau 5 hari 4 malam. Untuk paket perjalanan 4 hari 3 malam, mereka akan langsung ke Bandung setelah tiba di Jakarta. Sementara untuk paket perjalanan 5 hari 4 malam, mereka akan menginap semalam lagi di Jakarta.
‘’Selama itu mereka hanya berwisata di Bandung saja. Daya tariknya juga tetap sama, yakni ke Pasar Baru, kuliner, dan belanja,’’ kata Herman.
Edwin I. Himna dari Trend Tours & Travel, operator tur inbound yang berbasis di Yogyakarta, mengungkapkan hal serupa. Tanggapan buyers dari tiga kota tujuan misi penjualan kali ini cukup bagus. Mereka juga sudah mengetahui destinasi Yogyakarta.
Hanya saja, harga tiket pesawat ke Yogyakarta dan kurangnya promosi destinasi menjadi tantangan untuk bersaing dengan Jakarta, Bangkok, dan Vietnam.
Sampai saat ini, hanya AirAsia yang melayani penerbangan langsung Kuala Lumpur-Yogyakarta sebanyak dua kali sehari setiap hari dengan harga tiket pergi dan pulang (PP) lebih dari RM 1000. Sementara, harga tiket PP Kuala Lumpur-Jakarta bisa kurang dari RM 1000, dan harga tiket PP ke Vietnam dari ibukota Malaysia itu hanya di kisaran RM 700-800.
‘’Wisatawan dari Penang dan Ipoh harus ke Kuala Lumpur dahulu. Misalnya, orang Kuala Lumpur, Ipoh, dan Penang dihadapkan pada pilihan ke Jogja atau destinasi lain seperti Jakarta, atau Vietnam, atau Bangkok, Jogja pasti kalah. Mereka rata-rata mengeluhkan tingginya harga tiket pesawat dari Kuala Lumpur ke Jogja. Jadi, kami sudah dikalahkan duluan oleh harga tiket,’’ tutur Edwin.
Sementara terkait destinasi, Edwin mengungkapkan bahwa daya tarik wisata baru, terutama yang buatan, banyak bermunculan di Yogyakarta. Tetapi karena kurang promosi, pada akhirnya Yogyakarta tertinggal dari Vietnam dan Bangkok.
‘’Wisatawan dari Malaysia ke Yogyakarta tidak hanya untuk melihat candi. Bagaimanapun, kami di Yogyakarta tetap optimis, dalam beberapa bulan ke depan sebelum tutup tahun, kunjungan wisatawan mancanegara khususnya dari Malaysia masih akan meningkat,’’ tambahnya.
Wisnu Arimbawa dari GD Tour, operator tur asal Bali, optimis bisa menggarap potensi pasar dari Penang.
‘’Penang sangat prospektif terutama untuk luxury market. Karena banyak ekspatriat tinggal di sana dan termasuk kota yang sejahtera di Malaysia. Selain itu, pasar ini juga mempunyai ability to travel yang bagus. Mereka berangkat dari Penang bukan untuk ke Bali saja, tapi juga ke Labuan Bajo, Sumba, bahkan sampai ke Raja Ampat dan Timor Leste,’’ kata Wisnu.
Sementara Ipoh yang merupakan kota kecil, potensi pasarnya belum sebesar Penang. Sebagian besar tamu dari kota ini adalah etnis Cina dan sering memesan pemandu berbahasa Mandarin. Mereka hanya berkunjung ke Bali.
Dia juga megungkapkan bahwa saat ini penerbangan langsung dari Malaysia ke Bali hanya dari Kuala Lumpur sebanyak 13 kali sehari setiap hari yang dilayani oleh beberapa maskapai internasional dan nasional. Penerbangan langsung lainnya dari Kota Kinabalu telah berhenti beroperasi sejak bulan Juni 2025. Durasi paket wisata ke Bali yang diminati oleh wisatawan Malaysia pada umumnya pun belum berubah, yakni 4 hari 3 malam.

Ketua DPD ASITA Jawa Barat Daniel G. Nugraha mengatakan bahwa kegiatan misi penjualan di tiga kota di Malaysia ini sekaligus menjadi ajang benchmarking showcase pariwisata Malaysia yang dapat ditiru oleh pemangku kepentingan pariwisata Jawa Barat khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Masing-masing kota memiliki kekuatan tersendiri: Penang dikenal sebagai pusat health tourism; Ipoh sebagai kota wisata kuliner; dan Kuala Lumpur sebagai pusat jaringan bisnis dan agen perjalanan internasional. Selain itu, ketiga kota tersebut juga memiliki aksesibilitas yang baik yang dapat memudahkan wisatawan menuju Indonesia, khususnya ke destinasi Jawa Barat.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Ni Made Ayu Marthini, dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (31/7/2025), menjelaskan bahwa business matching (misi penjualan) ini menjadi ajang strategis untuk mempertemukan pelaku usaha pariwisata Indonesia dengan travel agent, tour operator, dan mitra industri setempat.
“Pemilihan tiga kota ini bukan tanpa alasan. Kuala Lumpur merupakan pusat industri perjalanan dan wisata outbound terbesar di Malaysia, sementara Penang dan Ipoh memiliki potensi pertumbuhan pasar yang sangat menjanjikan. Ketiganya mewakili wilayah utama di Malaysia Barat yang dapat membuka peluang kerja sama promosi pariwisata yang lebih luas,” ujar Ni Made Ayu Marthini.
“Hal tersebut penting karena menjadi salah satu syarat untuk mengikuti pameran pariwisata di Malaysia, yaitu memiliki mitra lokal yang terdaftar sebagai anggota Malaysian Association of Tour & Travel Agents (MATTA),” kata Ni Made Ayu Marthini.
Misi penjualan di tiga kota di Malaysia ini diinisiasi dan diorganisasikan oleh DPD ASITA Jawa Barat dan didukung oleh Kementerian Pariwisata dan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kota Bandung. Sebelumnya, ASITA Jawa Barat telah menggelar misi yang sama di Kota Kinabalu, dan akan menggelar misi penjualan lagi di kota-kota lainnya.
Inisiatif baru: Mengintegrasikan pelatihan Inbound Tour Planner dan kegiatan promosi pariwisata di luar negeri
DPD ASITA Jawa Barat sudah menyelenggarakan dua kali pelatihan Inbound Tour Planner yang masing-masing diikuti oleh 40 dan 30 peserta. Kemudian, yang sudah mendapatkan Sertifikasi BNSP Tour Operations sebanyak 42orang.
‘’Alumni dari pelatihan Inbound Tour Planner ini akan diajak mengikuti Sales Mission di tiga kota lainnya di Malaysia yang rencananya digelar pada bulan September mendatang. Lalu, mereka itu nanti juga akan dihadirkan kembali di MATTA Fair,’’ terang Daniel.
Dia berharap, dengan stimulus semacam ini dapat meningkatkan kunjungan wisman ke Jawa Barat dan menumbuhkan sumber ekonomi baru dari sektor pariwisata. Tentu saja program ini harus dilaksanakan dengan berkolaborasi dengan berbagai pihak, terutama dengan Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kota Bandung, Dinas Pariwisata & Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, dan Kementerian Pariwisata.
DPD ASITA Jawa Barat menyampaikan bahwa pada misi penjualan di Penang, Ipoh, dan Kuala Lumpur yang baru saja berlangsung tidak memberangkatkan agen perjalanan baru melainkan menciptakan pasar baru. Kelima operator tur/agen perjalanan dari Bandung yang mengikuti misi penjualan tersebut memang ‘wajah baru’ yang baru pertama kali tertarik untuk berekspansi ke pasar luar negeri.
‘’Kita ciptakan dengan melatih tour planner-nya supaya mau fokus menangani inbound, selain captive market-nya yang sudah eksis di segmen Outbound, Domestic, dan Goverment group,’’ kata Daniel.
‘’Hotel juga begitu. Mereka yang biasanya goverment dan domestic market oriented, kita berikan masukan untuk menggarap pasar inbound ASEAN. Akhirnya, mereka mengikuti misi penjualan yang kami adakan. Karena biaya pemasaran relatif sama dan jaraknya dekat. Inbound adalah market baru alternatif bagi mereka,’’ pungkasnya.
Sekali lagi, industri ini telah menunjukkan ketangguhannya dalam menghadapi berbagai tekanan dan tantangan yang ada. ***(Yun Damayanti)
