GUNUNG DUKONO, PERMATA BARU PARIWISATA HALMAHERA UTARA, AKAN DITATA ULANG UNTUK JADI DESTINASI PENDAKIAN YANG AMAN

Tourism for Us – Dari area camping yang terletak antara tiga dan empat kilometer dari kawah Gunung Dukono di Halmahera Utara, wisatawan dapat merasakan langsung pengalaman unik berada di dekat gunung berapi yang sedang erupsi. Semburan lava pijar berwarna merah yang menyala di bawah langit malam yang dipenuhi bintang menciptakan pemandangan yang sangat menakjubkan. Keindahan ini menjadi daya tarik utama bagi salah satu gunung berapi paling aktif di Provinsi Maluku Utara.

Gunung Dukono, Halmahera Utara, Maluku Utara. (Foto: Aleksius Djangu)

Aleksius Djangu, seorang Ecotourism Guide bersertifikat nasional, pemandu lokal untuk pendakian Gunung Dukono, mengatakan bahwa momen saat gunung ini erupsi dan mengeluarkan semburan lava yang berpijar menjadi daya tarik utama, khususnya bagi wisatawan Eropa.

Namun, dia mengingatkan bahwa untuk menikmati pengalaman seperti itu wisatawan harus:  

  1. Mematuhi jarak aman yang direkomendasikan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
  2. Mengikuti arahan pemandu.
  3. Tidak boleh bertindak sesuai keinginan sediri atau terpengaruh konten-konten dari media sosial yang memperlihatkan posisi pendaki di bibir kawah.

Sejak tahun 1996, Gunung Dukono telah menarik perhatian wisatawan asing, bahkan mungkin sudah lebih lama lagi. Meskipun banyak pengunjung yang datang, sayangnya belum ada fasilitas pendakian yang tersedia di sepanjang jalur hingga saat ini. Oleh karena itu, bagi para pendaki yang ingin menjelajahi gunung ini, penting untuk mempersiapkan segala kebutuhan logistik mulai dari makanan, air minum, tenda, alat masak, masker gas, helm, dan kotak obat dengan baik dan cermat.

‘’Sejak saya jadi tour guide tahun 1996, saat itu sudah ada wisatawan Eropa yang sering mendaki Gunung Dukono. Tapi, di sini tidak ada fasilitas di sepanjang jalur pendakian. Ini mungkin karena Dukono bukan taman nasional. Ada guide dan porter setelah sering dikunjungi wisatawan,’’ tutur Aleksius.

Di Gunung Dukono terdapat dua jalur pendakian yaitu jalur timur yang bermula dari Desa Ruko. Jalur ini aman dari aliran lahar panas dan lahar dingin. Sementara, jalur utara dari Desa Mamuya beresiko tinggi terkena aliran lahar panas dan lahar dingin karena bukaan kawah mengarah ke utara.

Dari pengalaman memandu pendakian di Gunung Dukono selama 30 tahun, Aleksius merekomendasikan untuk berkemah di area camping di sebelah timur. Di sini terdapat dua area camping, satu berada di tiga kilometer dari kawah, dan yang lainnya terletak di empat kilometer dari kawah. Di kedua area camping ini terdapat tameng alami untuk berlindung dari semburan material vulkanik yang bisa terjadi kapanpun.    

Kunci pendakian ke Gunung Dukono adalah memastikan status gunung dengan mengecek informasi yang dikeluarkan oleh PVMBG. Gunung ini aman untuk didaki selama berada di level II dan pendaki boleh mendekat dalam radius empat kilometer dari kawah. ‘’Kalau status gunung di level III, apalagi di level IV, tidak boleh didaki,’’ kata Aleksius.

Gunung Dukono bukan kawasan konservasi. Kawasan gunung berapi ini hanya diatur oleh tiga institusi yakni PVMBG, melalui Pos Pengamatan Gunung Api (PGA), yang bertugas mengawasi dan memberi informasi status gunung api; pemerintah daerah melalui Sekretariat Daerah (Sekda) yang mengeluarkan surat buka-tutup pendakian ke Gunung Dukono dengan merujuk pada informasi resmi dari PGA Gunung Dukono; dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang mengkoordinasi evakuasi dan pendataan warga/pendaki terdampak.

Sebelum mendaki, pendaki wajib melaporkan diri dan mengisi buku tamu di Pos PGA Gunung Dukono di Desa Mamuya. Pendaki mesti memberikan data diri, rencana pendakian, dan jumlah rombongan. Beberapa tahun belakangan, pendaki juga diharuskan untuk menggunakan pemandu lokal karena jalur pendakian yang rawan dan status gunung berapi yang terus aktif.

Administrasi dan pengawasan di Gunung Dukono relatif tidak seketat seperti di gunung berapi yang berada di dalam kawasan konservasi taman nasional/wisata alam. Di kawasan konservasi, para pendaki diwajibkan untuk mendaftar secara daring (online) dan membayar tiket masuk. Namun, hal ini tidak berarti bahwa pendaki di Gunung Dukono bisa bertindak sembarangan dan mengabaikan keselamatan mereka.   

Setelah insiden tragis di awal Mei 2026 yang mengakibatkan dua wisatawan Singapura dan seorang warga negara Indonesia kehilangan nyawa, pemerintah daerah Halmahera Utara memutuskan untuk menutup semua aktivitas pendakian di Gunung Dukono. Sementara, menyusul kejadian tersebut, para pegiat pendakian di Halmahera Utara mengungkapkan bahwa jalur pendakian di gunung ini sedang dalam proses penataan ulang. Rencananya, Gunung Dukono akan dibuka kembali sepenuhnya dengan peraturan yang lebih jelas, yang akan disusun berdasarkan pedoman peraturan pendakian yang berlaku di Pulau Jawa pada umumnya. ***(Yun Damayanti)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *