APGI DORONG PENGUATAN EKOSISTEM KESELAMATAN PENDAKIAN GUNUNG

Tourism for Us – Kecelakaan fatal saat pendakian gunung di Indonesia menunjukkan peningkatan yang mulai mengkhawatirkan, terutama di kalangan generasi muda berusia 17-25 tahun. Hal ini seharusnya menjadi sinyal bagi semua pemangku kepentingan untuk lebih serius memperkuat ekosistem keselamatan dalam aktivitas pendakian sebelum lebih banyak lagi menelan korban.

Oleh karena itu, Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Penyebab Kecelakaan dengan Fatalitas di Pendakian Gunung: Perspektif Pemandu Wisata Gunung Indonesia” pada Selasa, 11 Agustus 2026, secara daring. FGD ini diikuti oleh 67 pemandu wisata gunung dari 23 provinsi serta lima tamu undangan.

FGD diselenggarakan untuk menghimpun pengalaman dan pandangan praktisi mengenai faktor-faktor yang dapat berkontribusi terhadap kecelakaan dengan fatalitas dalam pendakian gunung. Selain itu, diskusi ini juga merumuskan langkah pencegahan yang dapat dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan.

Statistik kecelakaan dengan fatalitas dalam pendakian gunung di Indonesia

Data yang dihimpun oleh APGI terkait kecelakaan dengan fatalitas dalam pendakian gunung menunjukkan bahwa persoalan keselamatan masih memerlukan perhatian serius. Sepanjang tahun 2022 sampai dengan 10 Agustus 2026 tercatat 116 fatalitas di kawasan pendakian gunung di Indonesia.

Data tahunan menunjukkan, rata-rata fatalitas meningkat dari 12 orang per tahun pada masa pandemi 2020–2021 menjadi 23,2 orang per tahun pada periode tahun 2022–10 Agustus 2026.

Berdasarkan jenis insiden, “Jatuh” merupakan kejadian dengan jumlah fatalitas tertinggi, yaitu 31 orang, diikuti dengan gunung meletus atau erupsi sebanyak 27 orang. Kemudian, kecelakaan yang disebabkan sakit atau kondisi fisik menurun seperti serangan jantung sebanyak 14 orang, mengalami hipotermia sebanyak 13 orang, kondisi fisik menurun (fisik drop) 12 orang, dan tersesat 5 orang, serta penyebab lainnya 14 orang.

Dari sisi usia, kelompok 17–25 tahun merupakan kelompok dengan jumlah korban terbesar, yaitu 49 orang atau 42,2 persen dari seluruh fatalitas pada periode tahun 2022–10 Agustus 2026. Kelompok berikutnya adalah usia 26–35 tahun sebanyak 17 orang, 36–45 tahun sebanyak 16 orang, 46–55 tahun sebanyak 15 orang, 56–65 tahun sebanyak 12 orang, 12–16 tahun sebanyak empat orang, dan 66–80 tahun sebanyak tiga orang.

Dari sisi sebaran secara geografis, kasus fatal tersebut tersebar pada 51 gunung di 17 provinsi, menunjukkan bahwa persoalan keselamatan pendakian bukan merupakan fenomena yang terbatas pada satu destinasi atau wilayah tertentu. Provinsi-provinsi di Pulau Jawa merupakan penyumbang fatalitas terbesar dimana hal ini sejalan dengan kepadatan penduduk, sekitar 50 persen penduduk Indonesia berada di pulau ini.

Data-data di atas dihimpun dari berbagai sumber, antara lain dokumen digital, pemberitaan media daring, media sosial, serta keterangan saksi. Oleh karena itu, angka yang tercatat dapat berbeda dengan data dari instansi atau sumber lainnya dan dapat diperbarui apabila terdapat informasi baru. Statistik ini disusun untuk kepentingan pembelajaran, pengembangan prosedur dan kebijakan, serta peningkatan kesadaran keselamatan, bukan untuk menyalahkan individu, organisasi, maupun instansi tertentu.

Rekomendasi APGI: Perkuat ekosistem keselamatan pendakian gunung

Hasil diskusi mengemukakan bahwa kecelakaan di gunung tidak dapat dipandang sebagai akibat satu faktor tunggal. Peserta diskusi melihat kecelakaan sebagai rangkaian faktor yang saling berinteraksi, meliputi faktor pendaki, peralatan dan perbekalan, kondisi alam, serta pengelolaan jalur pendakian.

APGI merekomendasikan kolaborasi di antara pemangku kepentingan, komunitas dan influenncer/kreator konten untuk membangun ekosistem keselamatan pendakian gunung di Indonesia. (Foto: Ruslan Budiarto)

Pada faktor pendaki, isu yang paling banyak mengemuka meliputi keterbatasan keterampilan dan pengalaman, rendahnya persepsi terhadap risiko, kondisi fisik dan kesehatan yang tidak memadai, kelemahan navigasi, serta pengambilan keputusan yang kurang berorientasi pada keselamatan. Fenomena FOMO (fear of missing out/merasa takut ketinggalan tren), kebutuhan akan validasi sosial, serta pengaruh konten media sosial juga dinilai dapat memengaruhi keputusan sebagian pendaki dan membentuk persepsi bahwa aktivitas pendakian lebih mudah daripada kondisi sebenarnya.

Dari aspek peralatan dan perbekalan, peserta diskusi menyoroti peralatan yang tidak sesuai dengan karakteristik perjalanan, keterbatasan peralatan keselamatan, serta perencanaan air dan perbekalan yang tidak memadai. Pemilihan peralatan diharapkan lebih berorientasi pada fungsi, kondisi medan, cuaca, dan durasi perjalanan daripada sekadar tren.

Kondisi alam seperti perubahan cuaca, kabut, gempa bumi, longsor, medan dengan risiko jatuh, kondisi kawah, hingga risiko panas pada pendakian yang dimulai dari dataran rendah tetap menjadi bahaya penting. Namun, dampak bahaya tersebut sangat dipengaruhi oleh kesiapan pendaki, kualitas keputusan, dan kemampuan sistem pengelolaan dalam mengantisipasi keadaan darurat.

FGD juga menekankan perlunya penguatan pengelolaan jalur berbasis risiko, antara lain melalui SOP yang spesifik untuk setiap jalur, informasi bahaya yang jelas, pengaturan kapasitas pengunjung, pemeriksaan kesiapan pendaki, sistem komunikasi, rambu keselamatan, pengawasan jalur tidak resmi, serta kesiapan emergency response.

Sebagai tindak lanjut, APGI diminta untuk memperkuat perannya sebagai rujukan praktik pemanduan dan keselamatan pendakian melalui penyusunan pedoman keselamatan, peningkatan standar kompetensi dan kepemimpinan pemandu, dokumentasi serta pembelajaran dari kecelakaan dan near miss, serta kampanye literasi keselamatan secara nasional.

‘’Di dalam FGD, praktisi dan akademisi yang terdiri dari pemandu dan pendaki gunung meminta agar peran kami ini semakin diperkuat,’’ kata Ruslan Budiarto, Ketua Harian APGI.  APGI juga mendorong kolaborasi antara pendaki, pemandu, tour operator, pengelola kawasan, pemerintah, komunitas, produsen peralatan dan makanan, serta influencer dan content creator. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk membangun ekosistem keselamatan pendakian gunung di Indonesia yang lebih kuat, di mana risiko dikenali, dikelola, dikomunikasikan, dan dipertanggungjawabkan secara bersama. ***( Yun Damayanti)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *