Tourism for Us – Gelaran Indonesia Outing Expo (IOE) tahun ini akan memberikan peluang pertemuan yang lebih luas. Dengan nama baru Indonesia Outing & Incentive Travel Expo (IOITE), acara ini menjadi salah satu platform pameran pariwisata MICE terlengkap di Indonesia, menawarkan sesi B-to-B dan B-to-C [more]
Tourism for Us – Sektor pariwisata ASEAN menunjukkan pemulihan positif yang berkelanjutan. Angka sementara menunjukkan bahwa ASEAN mencatat sekitar 144 juta kedatangan wisatawan internasional pada tahun 2025, yang mencerminkan tren kenaikan berkelanjutan yang didukung oleh langkah-langkah untuk meningkatkan konektivitas, mendiversifikasi penawaran pariwisata, dan memperkuat upaya [more]
Tourism for Us – Kawasan regional Sunda Kecil, yang meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan sebagai destinasi pariwisata unggulan Indonesia. Wilayah ini telah terbukti mampu menarik wisatawan dari berbagai kalangan. Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, diperlukan jaringan konektivitas yang baik serta kolaborasi yang solid antara ketiga pemerintah provinsi dan para pemangku kepentingan di sektor pariwisata.
Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama Regional di Golo Mori Convention Center (GMCC), Kawasan The Golo Mori, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Kamis (29/1/2026). Penandatanganan PKS ini dilakukan langsung oleh Gubernur Bali, NTB, dan NTT. Lingkup kerja samanya mencakup lima sektor, termasuk konektivitas, transportasi dan pengembangan pariwisata.
(Foto: InJourney)
Oleh karena itu, Holding BUMN Aviasi dan Pariwisata, P.T. Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, terus memperkuat pengembangan pariwisata terintegrasi di kawasan Bali, NTB, dan NTT melalui sinergi layanan bandar udara (bandara) dan pengelolalaan kawasan pariwisata. Dukungan tersebut diwujudkan melalui kolaborasi bersama Pemerintah Provinsi Bali, NTB, dan NTT (Bali-Nusra) yang ditandai dengan Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) Regional di Golo Mori Convention Center (GMCC), Kawasan The Golo Mori, Kabupaten Manggarai Barat, NTT, Kamis (29/1/2026). Penandatanganan PKS ini dilakukan langsung oleh masing-masing gubernur. Lingkup kerja samanya mencakup lima sektor, termasuk konektivitas, transportasi dan pengembangan pariwisata.
Para gubernur memberikan apresiasi atas model layanan pariwisata terintegrasi yang dikembangkan oleh InJourney Group, mulai dari akses bandara hingga pengelolaan kawasan, karena dinilai memperkuat kemudahan perjalanan wisatawan, efektivitas penyelenggaraan event, dan daya saing destinasi.
Sebagai holding BUMN di sektor aviasi dan pariwisata, InJourney berkomitmen mengintegrasikan konektivitas dari hulu ke hilir melalui layanan bandara, aviasi, hingga pengelolaan destinasi pariwisata. Melalui anak usahanya yaitu InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) sebagai pengelola kawasan, InJourney memastikan pengembangan destinasi dilakukan secara terintegrasi, berkualitas, dan berkelanjutan.
“Integrasi layanan ini tidak hanya memperkuat konektivitas antardestinasi, tetapi juga mendorong peningkatan lalu lintas wisatawan di Bali, NTB, dan NTT. Sinergi ini menjadi fondasi penting dalam mendukung kerja sama Bali–Nusra serta menciptakan peningkatan lalu lintas wisatawan dan dampak ekonomi sosial yang nyata bagi daerah,” tutur Direktur Utama InJourney Maya Watono.
Pelaku usaha pariwisata di Bali-Nusra juga mengapresiasi penandatanganan PKS tersebut. Salah satunya adalah Oyan Kristian, Ketua DPD ASITA NTT. Ia mengatakan bahwa kerja sama Sunda Kecil harus memungkinkan wisatawan bergerak lintas provinsi dengan lebih mudah. Konektivitas penerbangan menjadi kunci agar wisatawan dapat melanjutkan perjalanan ke destinasi lain setelah menyelesaikan kunjungan di satu daerah.
Pemerataan konvektivitas penerbangan akan mendukung distribusi wisatawan secara lebih seimbang, sehingga tidak hanya terkonsentrasi di Bali atau Labuan Bajo, tetapi juga menjangkau destinasi lain, baik di NTB maupun NTT. Langkah ini penting untuk mendorong kelancaran pergerakan wisatawan antardaerah serta memperkuat integrasi pariwisata tiga provinsi.
‘’Kami mendorong agar pintu masuk dari Bali ke NTT dibuka lebih banyak. Labuan Bajo saat ini sudah mulai padat pada waktu-waktu tertentu, sehingga perlu distribusi wisatawan ke wilayah lain,’’ kata Oyan. ‘’Begitu pula antara NTB dan NTT perlu adanya pengembangan penerbangan penghubung dari Lombok ke destinasi lain di NTT,’’ tambahnya.
Kolaborasi antara InJourney dan Pemerintah Provinsi Bali, NTB, dan NTT juga akan mendukung upaya mitigasi dari terkonsentrasinya wisatawan di satu destinasi tertentu yang dapat menimbulkan overtourism dan berdampak negatif terhadap destinasi. Selain itu, upaya ini pun diharapkan dapat meratakan dampak ekonomi dan pembangunan di sektor pariwisata di kawasan Bali dan Nusa Tenggara seperti yang dicita-citakan. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Makan malam merupakan salah satu tradisi penting dalam perayaan Tahun Baru Imlek, yang melambangkan kebersamaan dan harapan akan kemakmuran di tahun yang baru. Kegiatan ini menjadi momen spesial bagi keluarga untuk berkumpul dan menikmati hidangan khas yang melambangkan keberuntungan. Dalam rangka [more]
Tourism for Us – Industri penerbangan nasional belum sepenuhnya pulih pascapandemi COVID-19. Secara keseluruhan, jumlah pesawat yang ada belum mencapai level sebelum pandemi, sementara biaya operasional terus meningkat secara signifikan. Oleh karena itu, layanan transportasi udara yang tersedia belum optimal sepanjang tahun 2025. Dalam Laporan [more]
Tourism for Us – Travel Meet Asia dan ASITA telah menjalin kemitraan strategis untuk memajukan sektor pariwisata dan MICE Indonesia. Kolaborasi ini menggabungkan jangkauan B2B global Travel Meet Asia dengan jaringan domestik ASITA yang kuat untuk meningkatkan visibilitas dan peluang bisnis Indonesia di seluruh kawasan.
Travel Meet Asia, pasar perdagangan perjalanan regional dan rangkaian konferensi yang diselenggarakan oleh Messe Berlin Asia Pacific (MB APAC), dan Asosiasi Agen Perjalanan & Tur Indonesia (ASITA) secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman pada Rabu, 7 Januari 2026, di Jakarta. Penandatanganan tersebut berlangsung sebagai bagian dari perayaan Ulang Tahun ke-55 ASITA, menandai tonggak penting bagi asosiasi dan menggarisbawahi komitmen jangka panjangnya untuk membentuk industri pariwisata yang berkualitas tinggi dan berkelanjutan di Indonesia.
Nota Kesepahaman (MoU) tersebut ditandatangani oleh Darren Seah, Direktur Eksekutif Messe Berlin Asia Pacific, dan Budijanto Ardiansjah, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP ASITA dan Ketua ASITA Fair, serta disaksikan oleh Menteri Pariwisata Republik Indonesia Widiyanti Putri Wardhana, Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata Rizki Handayani Mustafa, dan Ketua Umum ASITA Dr. N. Rusmiati, M.Si., M.H.
Kesepakatan ini memanfaatkan jaringan internasional MB APAC, sebagai penyelenggara ITB Asia, pameran perdagangan perjalanan terbesar di kawasan Asia-Pasifik, bersama dengan jangkauan domestik ASITA yang luas, menciptakan platform yang kuat untuk meningkatkan kehadiran Indonesia di sektor pariwisata dan MICE regional.
Travel Meet Asia telah memantapkan dirinya sebagai rangkaian acara yang sukses dan berkembang pesat di seluruh Asia, menyelenggarakan berbagai pertemuan B2B, konferensi, dan aktivitas pasar berkualitas tinggi yang disambut baik oleh para profesional perjalanan internasional dan regional. Dengan berlandaskan fondasi yang kuat ini, kemitraan baru dengan ASITA siap untuk semakin memperkuat peran Indonesia sebagai pusat pengembangan bisnis dan kolaborasi pariwisata di kawasan ini.
Cara Kerja Kemitraan: Bersama Lebih Kuat
Berdasarkan MoU, MB APAC akan memimpin upaya penjualan dan pemasaran internasional, perekrutan pembeli global, branding secara keseluruhan, dan pengelolaan operasional acara: mulai dari pengembangan tata ruang hingga pengawasan keuangan. Organisasi ini juga akan menyusun konten konferensi internasional, tema, dan keterlibatan pembicara yang membahas tren industri regional dan global utama.
Sementara itu, ASITA akan fokus pada mobilisasi komunitas pariwisata domestik Indonesia, mengamankan peserta pameran dan sponsor lokal, serta membentuk sesi konferensi, forum, pertunjukan budaya, dan kegiatan pencocokan bisnis yang berpusat pada Indonesia. Lebih lanjut, ASITA akan berfungsi sebagai penghubung utama dengan Kementerian Pariwisata, pemerintah daerah, dan asosiasi nasional/regional. Komitmen tambahan meliputi penyediaan petugas penghubung melalui sekolah-sekolah pariwisata Indonesia dan koordinasi tur pengenalan pascaacara untuk memperkenalkan pembeli internasional keberagam destinasi di Indonesia.
“Kemitraan ini merupakan tonggak penting bagi Travel Meet Asia dan sektor pariwisata Indonesia,” kata Darren Seah, Direktur Eksekutif, Messe Berlin Asia Pacific. “Dengan menggabungkan keahlian internasional kami dengan jejak domestik ASITA yang luas, kami menciptakan platform B2B yang kuat yang mendukung koneksi bisnis yang bermakna, mendorong pertumbuhan pasar, dan menampilkan Indonesia sebagai pemain yang dinamis dan kompetitif dalam ekosistem pariwisata dan MICE regional.”
Mewakili ASITA, Budijanto Ardiansjah, Sekjen ASITA dan Ketua ASITA Fair, menyoroti pentingnya kolaborasi ini bagi kawasan yang lebih luas. “Kami senang menyaksikan MoU strategis ini diformalkan. Travel Meet Asia telah membuktikan nilainya sebagai platform berkualitas tinggi di Asia, dan keterlibatan ASITA tidak diragukan lagi akan meningkatkan peluang yang tersedia bagi industri. Kemitraan seperti ini memperkuat seluruh ekosistem perjalanan dan mencerminkan momentum pertumbuhan pasar pariwisata Asia.”
Ia pun menambahkan, ‘’Anggota ASITA tentu saja dapat memanfaatkannya dengan menjadi eksibitor untuk mempromosikan produknya atau menjadi buyers untuk menguatkan network-nya.’’ ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Keselamatan wisatawan merupakan hal yang sangat penting dalam sektor pariwisata. Aspek ini tidak bisa diabaikan dalam setiap kegiatan wisata yang diselenggarakan. Setelah terjadinya insiden kapal wisata yang tenggelam di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) dan merenggut korban jiwa pada akhir tahun [more]
Tourism for Us – Destinasi Sumatera Utara akan mendapatkan tambahan penerbangan langsung tahun ini. SalamAir, maskapai penerbangan berbiaya rendah asal Oman, telah mengumumkan peluncuran rute baru yang menghubungkan Muscat, Oman dengan Medan, Sumatera Utara, Indonesia. Layanan ini dijadwalkan akan dimulai pada 3 Juli 2026 dan [more]
Tourism for Us – Tahukah kamu bahwa komodo bukanlah satu-satunya hewan purba yang masih ada di Indonesia? Selain komodo, terdapat juga ekidna moncong panjang yang hidup di dalam hutan hujan tropis Papua. Menariknya, ada tiga spesies ekidna yang masih bertahan hingga kini.
Ekidna moncong panjang barat (Zoglossus bruijnii) yang mudah ditemukan di hutan desa Kampung Klalik. (Foto: Ones Paa)
Ekidna adalah hewan mamalia bertelur dan merupakan satwa asli Papua. Salah satu satwa endemik ini diduga sebagai hasil evolusi dari mamalia bertelur (monotremata) pada periode 65,5 hingga 23 juta tahun lalu. Ketiga jenis ekidna yang ada di Papua yakni ekidna moncong panjang barat (Zoglossus bruijnii), ekidna moncong panjang timur (Zoglossus bartoni), dan ekidna moncong panjang cyclops atau payangko (Zoglossus attenboroghi). Payangko sempat menghebohkan dunia karena kemunculannya kembali pada 2023 setelah terakhir kali terlihat pada tahun 1961.
Di antara tiga spesies yang masih bertahan, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan ekidna moncong panjang barat (Zoglossus bruijnii) dan ekidna moncong panjang cyclops (Zoglossus attenboroghi) dalam daftar merah dan merupakan spesies yang terancam punah (critically endangered/CR). Ekidna moncong panjang barat merupakan jenis yang terbesar dalam kelompok monotremata. Habitatnya terutama di semenanjung kepala burung Pulau Papua yang sekarang termasuk dalam wilayah Provinsi Papua Barat Daya.
Secara fisik, ekidna memiliki duri seperti landak. Ekidna dinamai babi duri dalam bahasa lokal. Selain itu, dia juga hewan berkantung, aktif pada malam hari (nokturnal), dan hidupnya menyendiri.
Panjang tubuh ekidna antara 30-55 sentimeter dan panjang ekornya antara tujuh hingga sembilan sentimeter. Beratnya antara tiga sampai delapan kilogram. Betina umumnya lebih berat daripada jantan.
Ekidna hidup di lubang di tanah yang lembab. Pakan utamanya adalah rayap dan cacing. Walaupun tidak ada gigi, ekidna mempunyai lidah yang lengket untuk menangkap mangsa. Moncongnya berfungsi untuk mendeteksi bau makanan, menghindar dari predator, dan mengenali ekidna lainnya.
Klalik Echidna Park
Para penelitii dan wisatawan kini memiliki akses yang lebih mudah untuk mengamati ekidna moncong panjang barat. Warga Kampung Klalik di Distrik Klaso, Papua Barat Daya, telah mengambil inisiatif untuk melestarikan habitat hewan ini dengan mengembangkan ekowisata Klalik Echidna Park di perbukitan hutan Kawakyr. Taman ekidna ini terletak di hutan Klalik yang telah diakui sebagai hutan desa, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk menikmati keindahan alam sekaligus mendukung upaya konservasi.
Warga Kampung Klalik masih berburu dan meramu di hutan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, tidak seperti di wilayah lain di Papua, warga kampung ini tidak berburu ekidna.
‘’Kami masih berburu tapi hanya babi dan rusa. Kalau ekidna, kami jaga. Tidak kami makan. Kami jaga ekidna karena dia seperti nenek moyang,’’ ujar Titus Malak, tetua adat Kampung Klalik.
Titus mengungkapkan bahwa hutan Klalik telah diakui dan memperoleh pengakuan sebagai hutan desa pada 2024. ‘’Sebenarnya kami lebih setuju jika hutan adat, meski SK Hutan Desa sudah ada. Kalau sudah ada pengakuan hutan adat, hutan terlindungi dan tak ada perusahaan masuk,’’ imbuhnya
Kampung Klalik, pintu menuju Klalik Echidna Park, berjarak 82 kilometer dari Bandara Domine Eduard Osok di Sorong. Perjalanan dari bandara ke kampung selama tiga jam dengan menggunakan mobil 4WD. Oleh karena itu, pengunjung mesti menginap di kampung. Tamu rata-rata menginap selama 3 hari 2 malam.
Ones Paa, Ketua Lembaga Pengelolaan Hutan Kawakyr, mengatakan bahwa pengamatan ekidna dapat dilakukan sepanjang tahun, berdasarkan informasi dari pemantauan yang dilakukan oleh warga di hutan. Mereka melaporkan bahwa setiap hari mereka menemukan ekidna di habitatnya. Umumnya, waktu pengamatan antara pukul 20.00 hingga 02.00 dini hari.
Kelompok Pengembangan Ekowisata Klalik Echidna Park, yang terdiri dari warga setempat, telah menetapkan prosedur untuk pengamatan ekidna. Empat pemandu lokal akan terlebih dahulu menjelajahi hutan untuk mencari keberadaan ekidna. Setelah ekidna ditemukan, satu pemandu tambahan akan mengantar pengunjung ke lokasi tersebut. Sebelum memasuki hutan, pengunjung akan mendapatkan pengarahan mengenai etika yang harus diikuti, termasuk pentingnya menjaga jarak dengan ekidna demi keselamatan dan kenyamanan satwa tersebut maupun pengunjung.
Ones Paa (paling knan), penggagas Klalik Echidna Park juga Ketua Lembaga Pengelolaan Hutan Kawakyr, (Foto: Ones Paa)
Tidak hanya pengamatan ekidna, pada pagi hingga siang hari tamu juga dapat mengamati kehidupan alam liar di sekitar kampung ataupun di Klalik Echidna Park. Mereka berkesempatan untuk menjelajahi keanekaragaman spesies endemik Papua lainnya, seperti walabi, long fingerek triok, dan bila beruntung, kanguru pohon.
Selain itu, terdapat juga beragam jenis burung dataran rendah mulai dari spesies cendrawasih seperti cendrawasih raja (Cicinnurus regius) dan cendrawasih 12 kawat (Saleucidis melanoleucus); cekakak pita bidadari atau red-breasted paradise kingfisher (Tanysiptera nympha) dan cekakak biru-hitam atau blue-black kingfisher; paok papua atau papuan pitta (Erythropitta mackioti) dan paok hitam atau melampitta (Melampitta spp); mambruk ubiaat atau western crowned pigeon (Goura cristata), kakatua raja hitam (Probosciger aterrimus), burung kalkun semak atau brashturkey, nuri kate, rangkong, dan masih banyak lagi.
Selama tinggal di Kampung Klalik, tamu juga berkesempatan mempelajari cara hidup masyarakat lokal, sehingga memberikan pengalaman yang lebih mendalam selama kunjungan.
Klalik Echidna Park secara resmi berdiri pada tahun 2024. Namun, proses pembentukan taman ini sudah dimulai sejak 2016. Ones menuturkan bahwa dirinya, dibantu oleh tetua dan warga kampung, melakukan survey dan mempelajari perilaku satwa, khususnya ekidna, sepanjang 2016-2023. Selain itu, dia juga mempelajari lebih dalam tentang ekidna, ekosistem hutan tempat hidupnya beserta keanekaragaman satwa yang ada di dalamnya, secara otodidak dengan memanfaatkan jaringan internet.
Dua sahabat Ones kebetulan memiliki kenalan di kalangan wisatawan yang merupakan penggemar mamalia. Mereka mendokumentasikan penemuan-penemuan menarik di hutan Kampung Klalik dan mengirimkan informasi tersebut kepada kenalannya. Alhasil, tujuh tamu pertama datang pada bulan Juli 2023.
‘’Saya anak kampung yang punya rasa cinta terhadap satwa-satwa sebelum saya tahu ekowisata. Jadi pas dapat manfaatnya maka waktunya untuk kolaborasi pengetahuan lokal dengan pengetahuan umum tentang pengembangan ekowisata. Pelajari perilaku satwa dan belajar penyebutan satwa dalam bahasa Inggris. Akhirnya bisa menjadi pemandu lokal. Walaupun bahasa Inggris hanya bisa ‘Yes’ dan ‘No’,’’ kata Ones.
Hingga awal Desember 2025, Kelompok Pengembangan Ekowisata Klalik Echidna Park mencatat lebih dari 150 pengunjung telah datang ke Klalik. Mereka berasal dari India, Malaysia, Spanyol, Jepang, Tiongkok, Singapura, dan lainnya. Sementara ini, tamu yang datang lebih banyak peneliti, tetapi ada juga yang datang karena penasaran dengan ekidna.
‘’Ini menjadi kampung satu-satunya di Papua yang menjadi tempat pengamatan mamalia ekidna,’’ tambah Ones
Paket Wisata Echidna Watching
Ones mengakui bahwa ekowisata Klalik Echidna Park dikembangkan secara swadaya oleh masyarakat. Hasil dari penjualan paket Echidna Watching tidak hanya memberikan manfaat ekonomi pada warga tetapi juga digunakan untuk menjaga ekosistem habitat ekidna dan membangun beberapa fasilitas dasar yang dibutuhkan oleh wisatawan.
Di Kampung Klalik, empat rumah warga dijadikan homestay. Setiap homestay dapat menampung dua orang. Kemudian, ada satu restoran dan kamar mandi yang dilengkapi dengan kakus (WC).
Harga paket Echidna Watching di Kampung Klalik mulai dari Rp 2.350.000,00 per orang untuk masa tinggal selama 3 hari 2 malam. Paketnya sudah termasuk jasa kepemanduan, biaya menginap dan makan, serta retribusi untuk kampung sebesar Rp 50.000,00/orang/hari. Namun, biaya paket tersebut belum termasuk sewa kendaraan 4WD sebesar Rp 1.500.000,00 sekali jalan.
‘’Menurut rencana, kami akan mendapat empat homestay tambahan tahun 2026. Homestay ini merupakan bantuan dari Kabupaten Sorong,’’ ucap Ones.
Namun, semangat warga Kampung Klalik dalam mengembangkan ekowisata kini mengahadapi tantangan. Ada rencana untuk mengubah kawasan hutan di Kampung Klalik dan sekitarnya menjadi lahan perkebunan industri dan lokasi pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Keputusan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat lokal, yang takut akan hilangnya hutan di Lembah Klaso. Jika hutan tersebut lenyap, bukan hanya ekidna yang terancam punah, tetapi juga keanekaragaman hayati lainnya. Selain itu, hilangnya hutan akan berdampak negatif pada kegiatan ekowisata yang selama ini memberikan manfaat langsung bagi masyarakat setempat. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Aksesibilitas dan promosi destinasi merupakan tantangan utama yang dihadapi sektor pariwisata Indonesia sepanjang tahun 2025. Jika tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan dari pemerintah, pelaku industri pariwisata akan terus menghadapi masalah serupa pada tahun 2026. Dalam refleksi akhir tahun 2025, Association [more]