Author: admin

HOLIDAY BEACH, HAIKOU: TEMPAT MENIKMATI PANTAI TROPIS NAN NYAMAN DI IBUKOTA PROVINSI HAINAN

HOLIDAY BEACH, HAIKOU: TEMPAT MENIKMATI PANTAI TROPIS NAN NYAMAN DI IBUKOTA PROVINSI HAINAN

Tourism for Us – Hainan adalah salah satu destinasi wisata di China yang sudah cukup dikenal oleh wisatawan Indonesia. Namun, Haikou, sebagai ibukota Provinsi Hainan, masih kurang famliar di kalangan wisatawan dari Indonesia. Saat mengikuti The World Tourism Exchange China 2019 yang berlangsung di Haikou, [more]

INACA APRESIASI KEBIJAKAN PEMERINTAH HADAPI KENAIKAN HARGA AVTUR, HARGA TIKET PESAWAT NAIK MAKSIMAL 13 PERSEN

INACA APRESIASI KEBIJAKAN PEMERINTAH HADAPI KENAIKAN HARGA AVTUR, HARGA TIKET PESAWAT NAIK MAKSIMAL 13 PERSEN

Tourism for Us – Asosiasi maskapai penerbangan nasional INACA (Indonesia National Air Carriers Association) mengapresiasi kebijakan Pemerintah dalam menyikapi kenaikan harga avtur yang sangat tinggi imbas krisis geopolitik di Timur Tengah. Kebijakan yang disampaikan oleh Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto meliputi: 1. Fuel Surcharge ditetapkan [more]

INTERNATIONAL SYMPOSIUM INDONESIAN FOOD OUTSIDE INDONESIA: KUNCI PROMOSI KULINER INDONESIA MELALUI MAKANAN BERKUALITAS

INTERNATIONAL SYMPOSIUM INDONESIAN FOOD OUTSIDE INDONESIA: KUNCI PROMOSI KULINER INDONESIA MELALUI MAKANAN BERKUALITAS

Tourism for Us – Minat terhadap makanan Indonesia saat ini terus berkembang. Di panggung global, makanan Indonesia di luar negeri masih dalam tahap pengembangan, yang dipicu oleh ketertarikan terhadap bagaimana makanan ini direpresentasikan, diadaptasi, dan dipahami di luar Indonesia, baik dalam praktik maupun penelitian.

Selain itu, ada kebutuhan yang kuat untuk meningkatkan pertukaran dan kolaborasi di antara diaspora Indonesia guna mempromosikan makanan Indonesia. Banyak individu diaspora yang bekerja pada pertanyaan serupa secara terpisah. Oleh karena itu, penting untuk menyatukan mereka, menciptakan ruang untuk refleksi bersama, membangun koneksi baru, dan mengembangkan arah kolektif.

Salah satu sesi diskusi panel pada ‘’International Symposium Indonesian Food Outside Indonesia’’ pada 27 Maret 2026 di Old Leiden Obervatory, Belanda. dari kiri ke kanan: Eka Moncarré, Andita Schirmacher, Pepy Nasution, Helena Smit, Louie Buana dan moderator Janice Gabriel (membelakangi kamera). (Credit: Agung Haryanto/Stichting Eating Habits)

Alasan-alasan tersebut cukup kuat untuk menyelenggarakan ‘’International Symposium Indonesian Food Outside Indonesia’’. Simposium ini dilaksanakan pada tanggal 27 Maret 2026 di Old Leiden Obervatory, Belanda. Inisiatif simposium ini diprakarsai oleh Stichting Eating Habits, bekerja sama dengan Indonesia Diaspora Network Global dan KITLV (TASTE project,  https://www.kitlv.nl/trajectories-of-taste/ ).  

’The goal was to bring together chefs, writers, researchers and cultural practitioners from different countries to exchange perspectives, bridge gaps between disciplines, and contribute to a broader and more nuanced understanding of Indonesian food in a global context,’’ ujar Helena Smit dari Stichting Eating Habits.

International Symposium Indonesian Food Outside Indonesia dihadiri oleh peserta internasional terdiri dari koki, pemilik restoran, penulis buku masak, jurnalis, peneliti, dan penyelenggara acara budaya. Mereka datang dari berbagai negara seperti Belanda, Indonesia, Inggris Raya, Amerika Serikat, Perancis, dan Jerman, yang mewakili beragam perspektif yang ada di dalam diaspora Indonesia dan di luar diaspora. Selain itu, Duta Besar RI untuk Belanda Amrih Laurentius Jinangkung juga hadir dalam acara ini.

Selama simposium, banyak pembicara menekankan pada pentingnya menampilkan makanan Indonesia berkualitas tinggi yang dapat menarik perhatian berbagai audiens dalam konteks yang berbeda, alih-alih memusatkan perhatian pada otentifikasi sebagai konsep yang tetap.

Eka Moncarre, Founder La Maison De L’Indonesie Paris, salah seorang panelis, menyatakan bahwa keaslian tidak hanya berkaitan dengan rasa, tetapi juga melibatkan kemampuan untuk beradaptasi, mengganti, dan tetap menghormati inti dari hidangan tersebut.

‘’We don’t lose authenticity outside Indonesia. We redefine it with very ingredient we replace, and every story we continue to tell,’’ kata Eka.

Mempromosikan makanan Indonesia di luar negeri bukanlah tugas yag mudah. Ini merupakan tantangan besar, karena menurut Eka, makanan Indonesia masih dianggap kurang dikenal. Banyak orang di seluruh dunia yang belum menyadari kekayaan dan keberagaman kuliner Indonesia. Diaspora Indonesia sering kali menjalani perjalanan ini sendirian, membangun bisnis, menceritakan kisah, dan menemukan cara kreatif untuk memperkenalkan cita rasa Indonesia kepada dunia.   

Eka juga mengajak orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri untuk mengurangi persaingan sesama diaspora. Di negeri orang, kita adalah duta dari budaya yang sama, bukanlah pesaing. Kolaborasi yang lebih erat sangat diperlukan untuk mempromosikan kuliner Indonesia. Ketika orang Indonesia berhasil di luar negeri, keberhasilan tersebut seharusnya membuka peluang bagi yang lain dan bukan menutupnya. Kesuksesan seharusnya menjadi sumber inspirasi, bukan pemecah belah.

Selain itu, diaspora juga tidak bersaing dengan kedutaan dan perwakilan Indonesia di luar negeri, melainkan saling mendukung untuk mempromosikan budaya dan kuliner Indonesia di kancah internasional.

‘’Bersama-sama, kita dapat membuat makanan Indonesia menjadi perhatian yang tidak bisa diabaikan,’’ pungkas Eka.

Simposium ini mendapatkan umpan balik yang positif dan antusiasme yang tinggi. Helena mencatat adanya keinginan yang kuat dan luas untuk melanjutkan diskusi ini dalam edisi-edisi mendatang. ***(Yun Damayanti)

KEMENPAR SIAPKAN STRATEGI JAGA TARGET PARIWISATA TAHUN 2026 DI TENGAH TEKANAN GLOBAL

KEMENPAR SIAPKAN STRATEGI JAGA TARGET PARIWISATA TAHUN 2026 DI TENGAH TEKANAN GLOBAL

Tourism for Us – Penutupan wilayah udara Iran pada periode 28 Februari hingga 28 Maret 2026 telah menyebabkan gangguan penerbangan di enam hub utama penerbangan global, yakni Abu Dhabi dan Dubai (Uni Emirat Arab), Doha (Qatar), Jeddah dan Madinah (Arab Saudi), dan Muscat (Oman). Penutupan [more]

PEMERINTAH INDONESIA DORONG MASKAPAI PENERBANGAN JEPANG, JAL DAN ANA, TERBANG LANGSUNG KE YOGYAKARTA DAN DESTINASI LAINNYA

PEMERINTAH INDONESIA DORONG MASKAPAI PENERBANGAN JEPANG, JAL DAN ANA, TERBANG LANGSUNG KE YOGYAKARTA DAN DESTINASI LAINNYA

Tourism for Us – Pemerintah Indonesia mendorong dua maskapai penerbangan Jepang, Japan Airlines (JAL) dan All Nippon Airways (ANA), untuk memperluas layanannya ke berbagai destinasi di luar Jakarta dan Denpasar, Bali. Pemerintah juga mendorong kedua maskapai tersebut untuk terbang langsung ke Yogyakarta yang kaya akan [more]

LANGKAH-LANGKAH MEMPERBAIKI PENGALAMAN WISATA DI PANGANDARAN AGAR PENGALAMAN WISATAWAN TIDAK ANTI KLIMAKS

LANGKAH-LANGKAH MEMPERBAIKI PENGALAMAN WISATA DI PANGANDARAN AGAR PENGALAMAN WISATAWAN TIDAK ANTI KLIMAKS

Tourism for Us – Kawasan wisata pantai di Kabupaten Pangandaran selalu mengalami peningkatan jumlah pengunjung setiap kali liburan panjang, terutama saat libur Lebaran dan perayaan tahun baru. Namun, meskipun lonjakan pengunjung ini sudah terukur, kemacetan yang panjang menuju dan di dalam kawasan wisata pantai selalu terjadi dan dianggap sebagai hal yang wajar selama periode liburan, terutama saat libur Lebaran.

Pemerintah daerah Pangandaran mencatat bahwa antara tanggal 21 hingga 23 Maret 2026, jumlah pengunjung di enam daya tarik utama – Pantai Pangandaran, Batukaras, Karapyak, Madasari, Batuhiu, dan Green Canyon – mencapai 256.620 wisatawan. Jika dibandingkan dengan periode libur Lebaran tahun 2025 yang berlangsung selama 10 hari, total pengunjung mencapai 395.440 wisatawan di enam lokasi tersebut. Sementara itu, pada libur Lebaran 2024, Pantai Pangandaran sendiri mencatat 57.885 wisatawan.  

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Pangandaran Sarlan mengungkapkan bahwa jumlah kunjungan mengalami lonjakan signifikan, mencapai 100 persen dalam dua hari pertama liburan Lebaran tahun ini. (Detik, Selasa, 24/3/2026).

Dengan adanya data tersebut, para pemangku kepentingan di sektor pariwisata Pangandaran seharusnya sudah dapat mempersiapkan infrastruktur dan fasilitas wisata secara matang, termasuk pengelolaan sumber daya manusia, untuk menyambut kedatangan wisatawan sejak jauh hari. Pemerintah juga telah mengumumkan jadwal libur nasional dan cuti bersama 3-4 bulan sebelum akhir tahun, sehingga waktu yang tersedia untuk persiapan seharusnya lebih dari cukup.

Musim puncak liburan seharusnya menjadi momen bagi para pelaku usaha, mulai dari pedagang kaki lima hingga hotel dan restoran di Pantai Pangandaran. Namun, kemacetan yang parah justru membuat pengunjung enggan untuk turun dari kendaraan mereka, sehingga mengurangi potensi belanja di lokasi. (Foto: Yun Damayanti)

Tetapi, apa yang kami alami di Pantai Pangandaran pada 23 Maret 2026 memberikan kesan bahwa para pemangku kepentingan di sektor pariwisata tampaknya belum berupaya untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada dari tahun-tahun sebelumnya.

Mulai dari proses pembayaran tiket masuk yang sangat memakan waktu, lebih dari satu jam karena dilakukan secara manual oleh petugas Bapenda dan hanya menerima pembayaran tunai. Ironisnya, pembayaran tiket masuk tidak dilakukan di loket yang telah dibangun dengan megah, melainkan oleh beberapa petugas yang tampak berdiri di antara ratusan kendaraan yang mengantri dengan semrawut tanpa adanya pembatas lajur. Kondisi ini membuat sebagian pengunjung ingin membatalkan niatnya tetapi tidak bisa langsung keluar. Mereka terpaksa masuk ke dalam kawasan pantai dan membayar tiket.

Setelah pembayaran, semua kendaraan diarahkan ke satu jalur di sebelah kiri, yang menyebabkan penumpukan. Situasi ini semakin diperparah dengan tidak adanya petugas kepolisian maupun Satpol PP untuk mengatur arus kendaraan. Sehingga lalu lintas di dalam kawasan pantai menjadi tidak bergerak.

Kekacauan ini jelas menciptakan pengalaman yang tidak menyenangkan bagi pengunjung. Sebagai destinasi wisata populer, Pantai Pangandaran seharusnya memilliki sistem yang lebih efisien dan teratur untuk mengelola arus pengunjung. Dengan perbaikan dalam manajemen tiket dan pengaturan lalu lintas, pengalaman berwisata di pantai ini bisa menjadi lebih baik dan lebih memuaskan bagi pengunjung.

Musim puncak liburan seharusnya menjadi momen bagi para pelaku usaha, mulai dari pedagang kaki lima hingga hotel dan restoran. Namun, kemacetan yang parah justru membuat pengunjung enggan untuk turun dari kendaraan mereka, sehingga mengurangi potensi belanja di lokasi. Hal ini jelas merugikan semua pihak yang bergantung pada keramaian selama periode liburan.

Masih pada hari yang sama, pengalaman kami di Pantai Batukaras lebih baik dibandingkan dengan di Pantai Pangandaran. Antrian kendaraan di loket tiket masuk di lokasi ini terorganisir dengan baik, dibagi menjadi lajur khusus untuk mobil/bis, dan motor. Proses pembayaran tiket masuk juga lebih cepat dan efisien, dengan opsi pembayaran menggunakan QRIS, selain tunai, yang memudahkan pengunjung.

Kawasan Pantai Batukaras, Pangandaran sekarang. (Foto: Yun Damayanti)

Meskipun lalu lintas kendaraan di Pantai Batukaras di sore hari itu cukup padat, pergerakannya relatif lancar berkat kerja sama antara warga, staf hotel/restoran, dan petugas parkir yang saling membantu. Selain itu, kini tersedia jalur pedestrian yang meskipun belum mencakup seluruh area pantai, tetap memberikan kenyamanan bagi wisatawan untuk menikmati keindahan pantai dengan leluasa.

Dua pengalaman bertolak belakang yang kami alami selama sehari penuh itu menunjukkan bahwa pengelolaan kawasan pariwisata di selatan Jawa Barat, khususnya di kawasan wisata pantai di Pangandaran, belum dilakukan secara profesional sehingga standar kualitas pun tidak ada. Pada akhirnya, kualitas pengalaman pengunjung yang dikorbankan.

Mengacu pada data statistik kunjungan ke Pantai Pangandaran dari tahun ke tahun, penting untuk mengarahkan pengunjung sebelum mereka tiba di kawasan tersebut. Sepanjang perjalanan menuju pantai, kami melihat banyak penunjuk arah yang mengarahkan wisatawan ke Pangandaran.

Di setiap persimpangan jalan, terdapat pos-pos polisi yang berfungsi untuk menjaga keamanan selama libur Lebaran. Dengan koordinasi yang baik, pos-pos ini seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai pusat informasi wisata, dilengkapi dengan petunjuk mengenai pantai-pantai yang dapat dikunjungi oleh wisatawan. Ini akan membantu pengunjung merencanakan perjalanannya dengan lebih baik dan meningkatkan kepuasan saat berlibur.

Kawasan wisata pantai di Pangandaran memiliki beberapa pintu masuk yang seharusnya dibuka semua selama musim puncak, seperti libur Lebaran dan Tahun Baru. Di setiap pintu masuk, tersedia loket untuk pembayaran tiket. Namun, sistem yang ada saat ini membuat biaya total untuk mengunjungi semua pantai bisa setara atau bahkan lebih mahal dibandingkan tiket masuk ke Taman Impian Ancol di Jakarta, meskipun fasilitas yang ditawarkan tidak lebih baik.

Sudah saatnya Kabupaten Pangandaran menerapkan sistem pembayaran tunggal untuk akses ke semua pantai, sehingga pengunjung dapat menikmati berbagai destinasi tanpa harus membayar tiket terpisah. Selain itu, opsi pembayaran juga perlu diperluas, tidak hanya terbatas pada uang tunai, agar lebih memudahkan pengunjung dalam bertransaksi.

Pangandaran sebaiknya mengambil pelajaran dari Gunungkidul yang menerapkan sistem pembayaran tiket masuk tunggal untuk akses ke semua pantai. Dengan pendekatan ini, pengunjung dapat menikmati berbagai pantai tanpa harus membayar tiket terpisah, yang tentunya lebih praktis dan menarik bagi wisatawan.

Pantai seharusnya menjadi ruang publik yang dapat diakses secara gratis oleh masyarakat, sehingga pengaturan pungutan retribusi dan pajak perlu dilakukan dengan efisien agar tidak memberatkan wisatawan maupun pelaku usaha. Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa biaya diperlukan untuk pemeliharaan dan penyediaan infrastruktur di kawasan pantai.  Sudah saatnya para pemangku kepentingan pariwisata di Jawa Barat, khususnya di Pangandaran, mengambil langkah nyata untuk meningkatkan infrastruktur dan layanan demi kenyamanan wisatawan dan pengalaman yang berkualitas, tidak hanya pada periode libur Lebaran dan Tahun Baru. ***(Yun Damayanti)

MENGUNGKAP MISTERI BATU BERNADA DI SITUS GUNUNG PADANG, CIANJUR

MENGUNGKAP MISTERI BATU BERNADA DI SITUS GUNUNG PADANG, CIANJUR

Tourism for Us – Keunikan situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, salah satunya terletak pada beberapa batuan yang dapat mengeluarkan bunyi-bunyian bernada. Suara lembut dari desau rumpun bambu dan pepohonan di sekitarnya menambah keindahan, menciptakan harmoni musik alam yang terasa magis dan menawan.   [more]

STRATEGI DPD ASITA JAWA BARAT MENINGKATKAN PARIWISATA DI TENGAH KRISIS GLOBAL

STRATEGI DPD ASITA JAWA BARAT MENINGKATKAN PARIWISATA DI TENGAH KRISIS GLOBAL

Tourism for Us – Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah tidak hanya mengganggu perjalanan internasional, tetapi juga berdampak pada perjalanan domestik. Oleh karena itu, penting untuk memperkuat sektor perjalanan domestik melalui dukungan yang tepat dan stimulus yang efektif. Selain itu, intensifkasi promosi dan penciptaan permintaan [more]

KONEKTIVITAS DILI-KUPANG: JEMBATAN KERJA SAMA TIMOR LESTE DAN INDONESIA

KONEKTIVITAS DILI-KUPANG: JEMBATAN KERJA SAMA TIMOR LESTE DAN INDONESIA

Tourism for Us – Perkembangan transportasi darat antara Dili, ibukota Timor Leste, dan Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia, telah berlangsung pesat dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Saat ini, terdapat tujuh operator bus yang melayani rute ini setiap hari. Kemajuan yang cepat itu mendorong untuk merealisasikan konektivitas udara antara kedua kota tersebut.

PLBN Mota’ain,Kabupaten Belu, pos lntas batas utama dan paling ramai di perbatasan NTT, Indonesia dan Timor Leste. (Foto: Yun Damayanti)

Operator bus yang melayani rute Kupang, NTT dan Dili, Timor Leste di antaranya, DAMRI, PO Bus Bagong Kupang, dan Badadok Dili, Timor Leste. Terminal Bis Bimoku Kupang menjadi teminal bis yang melayani rute lintas antarnegara ini. Selain itu juga ada penyedia shuttle Timor Travel yang mempunyai pool di Kupang, Atambua, dan Dili.

Lima unit bus beroperasi melayani rute Dili-Kupang dengan ketepatan waktu yang baik setiap hari. Semua bus tersebut melewati Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Mota’ain di Belu, memastikan perjalanan darat di Trans Timor selama sembilan jam lancar bagi penumpang.

Konsulat Timor Leste di Kupang menegaskan komitmennya untuk memfasilitasi dan memperkuat kerja sama lintas batas antara Timor Leste dan Indonesia. Konsul Timor Leste Espedito da Conceicao Ribeiro menyatakan bahwa kerja sama ini sangat penting dan strategis bagi kedua negara bertetangga untuk mendorong pertumbuhan bersama di berbagai sektor, termasuk ekonomi, pariwisata, budaya, pendidikan, kesehatan, dan politik. (dikutip dari Fortuna Press, 10/3/2026).

Konektivitas udara antara Bandara El Tari di Kupang dan Nicola Lobato Airport di Dili dipandang penting bagi kedua belah pihak, terutama untuk urusan pemerintah dan layanan darurat kesehatan. Layanan penerbangan internasional yang akan menghubungkan kedua kota ini sedang diproses melalui kementerian transportasi di masing-masing negara. Penerbangan itu diharapkan dapat segera beroperasi.

’We hope that the air connectivity will be realized soon, with Wings Air-Lion Group and Aero Dili currently processing the necessary arrangement,’’ kata Ribeiro.  

Kota Kupang diharapkan dapat menjadi hub dan pusat produktivitas yang dapat memfasilitasi berbagai kerja sama permanen yang menguntungkan masyarakat di kedua negara.

Selain itu, Konsul Ribeiro juga mendukung rencana Tour de Timor melintasi negaranya. Ajang balap sepeda ini direncanakan akan dimulai dari Kupang, NTT dan berakhir di Lospalos, Timor Leste. Rencana ini masih didiskusikan oleh pemerintah di masing-masing negara dan membutuhkan persetujuan dari Presiden Timor Leste Jose Ramos Horta. ***(Yun Damayanti)

BISNIS OPERATOR TUR DAN DMC DI ERA DIGITALISASI DAN AI

BISNIS OPERATOR TUR DAN DMC DI ERA DIGITALISASI DAN AI

Tourism for Us – Transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah beberapa fungsi pekerjaan di industri pariwisata, terutama dalam bidang administratif. Perubahan ini secara signifikan mempengaruhi lanskap industri dan memerlukan penyesuaian peran yang lebih terdefinisi dan profesional. Meskipun demikian, aspek kreativitas, manajerial, dan layanan [more]