Author: admin

KINERJA SEKTOR PARIWISATA INDONESIA CERAH DI AWAL TAHUN 2025

KINERJA SEKTOR PARIWISATA INDONESIA CERAH DI AWAL TAHUN 2025

Tourism for Us – Kinerja sektor pariwisata di awal tahun 2025 menunjukkan hasil yang positif. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada bulan Januari 2025 mencapai satu juta orang, meningkat  sebesar 32 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 sebanyak 760 ribu wisatawan. Namun, perlu [more]

KEMENPAR LAKUKAN PERSIAPAN OPTIMAL UNTUK LIBUR LEBARAN

KEMENPAR LAKUKAN PERSIAPAN OPTIMAL UNTUK LIBUR LEBARAN

Tourism for Us – Idul Fitri merupakan puncak dari rangkaian musim liburan yang dinanti-nanti di Indonesia. Semua orang berusaha memanfaatkan kesempatan ini untuk berkumpul dengan keluarga, merayakan kebersamaan, dan menjalani tradisi yang telah diwariskan. Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menjelaskan beberapa strategi Kementerian Pariwisata [more]

OUTLOOK  PARIWISATA PETUALANGAN GLOBAL:  PENGALAMAN PERJALANAN YANG MENGUBAH HIDUP

OUTLOOK PARIWISATA PETUALANGAN GLOBAL: PENGALAMAN PERJALANAN YANG MENGUBAH HIDUP

Tourism for Us – Secara global, industri pariwisata petualangan mengalami pemulihan yang signifikan. Permintaan untuk petualangan ringan (soft adventure) dan perjalanan menggunakan sepeda listrik (e-bike) semakin meningkat. Ini menunjukkan bahwa berpetualang tidak selalu harus melakukan kegiatan yang memompa adrenalin dan berisiko tinggi. Para petualang kini tengah mencari pengalaman baru yang tidak hanya memberikan kepuasan pribadi, tetapi juga memberikan dampak positif bagi diri mereka sendiri dan destinasi yang dikunjungi.

Russell Walters, Regional Director North America Adventure Travel Trade Association (ATTA), menyampaikan paparan outlook industri periwisata petualangan global terkini dan tren perjalanan petualangan di hampir seluruh kawasan pada webinar ‘’Adventure America 2025’’ bagi mitra-mitra di Asia Tenggara, Rabu (12/3/2025). Webinar ini merupakan kolaborasi antara Getting Global, ATTA, dan US Commercial Service-ASEAN, Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta. Berikut ini rangkuman paparannya.

Adventure Travel Trade Association melakukan survei terhadap anggotanya dan hasilnya begini: 66% responden mengatakan bahwa net profit usaha mereka pada tahun 2024 meningkat dibandingkan tahun 2023. Dan sebanyak 67% responden mengungkapkan bahwa net profit pada tahun 2024 telah melampaui net profit aktual tahun 2019 atau sebelum pandemi COVID-19.

ATTA juga merekam persebaran tour operator/travel agent (TO/TA) perjalanan petualangan sebanyak 35% berada di kawasan Amerika Utara, 23% di kawasan Eropa, 13% di kawasan Asia, dan 19% di kawasan Amerika Selatan, serta selebihnya di Amerika Tengah/Karibia, Timur Tengah, Pasifik, dan Afrika.

Kemudian, data berikutnya menunjukkan bahwa 38% TO/TA adalah inbound tour operators (suppliers), 30% outbound tour operators (buyers), dan selebihnya adalah outbound dan inbound tour operators.

Pasar terbesar perjalanan petualangan adalah mereka yang berada di rentang usia 45-54 tahun (38%) dan 55-64 tahun (35%).

‘’Karena merekalah orang-orang yang mempunyai cukup uang dan waktu luang,’’ ujar Walters. 

Sedangkan generasi Milenial atau direntang usia 35-44 tahun yang melakukan perjalanan petualangan hanya 16%, dan 2% dari Gen Z atau direntang usia 25-34 tahun yang melakukan perjalanan petualangan.

Menurut data yang diambil pada tahun 2023, ATTA mengelompokkan bahwa pada umumnya wisatawan petualang ialah pasangan. Secara global, rata-rata wisatawan berpetualang bersama pasangannya (36%), bersama grup dengan minat yang sama (24%), bersama keluarga (21%), dan solo traveling (17%).

Mengutip dari paparan Walters, khususnya di kawasan Asia, wisatawan yang berpetualang bersama pasangannya sebanyak 33%, bersama grup dengan minat yang sama 26%, bersama keluarga 24%, dan solo traveling 16%.

Beberapa kawasan menjadi tujuan populer di kalangan kelompok petualang tertentu, seperti kawasan Afrika yang populer di kalangan solo traveler dan perjalanan grup. Sementara itu, Timur Tengah dan Asia populer untuk perjalanan grup.

Fakta menarik adalah aktivitas petualangan yang terkesan maskulin itu justru paling banyak dijalani oleh wanita. Data ATTA menunjukkan bahwa wisatawan petualang didominasi oleh wanita (53%) dibandingkan dengan laki-laki (46%). Dan wisatawan wanita yang berpetualang itu 55% melakukannya dengan solo traveling dibandingkan dengan 38% laki-laki yang melakukannya dengan solo traveling.

Para pelaku industri perjalanan petualangan sedang mendiversifikasi basis pasarnya. Mereka meningkatkan fokus pada wisatawan keluarga (44%), wanita (38%), dan lansia di atas 50 tahun (37%), serta pasar-pasar lainnya.

Strategi jitu pemasaran perjalanan petualangan

Walters mengatakan bahwa promosi dari mulut ke mulut (words of mouth) merupakan taktik pemasaran paling menolong dalam industri perjalanan petualangan. ‘’Tidak ada perubahan dalam pemasaran perjalanan petualangan. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Khususnya di Amerika Serikat, email marketing menjadi pemasaran strategis setelah promosi dari mulut ke mulut,’’ katanya.

ATTA mengungkapkan 10 taktik pemasaran dan penjualan yang membantu penjualan produk petualangan, yakni promosi dari mulut ke mulut (80%), email marketing (54%), dan iklan media sosial (43%).

Taktik pemasaran berikutnya adalah bekerja sama dengan sesama operator tur (39%), beriklan di Google AdWords (36%), membangun kemitraan dengan agen perjalanan (34%), membuat konten pemasaran (34%), berpartisipasi di pameran perjalanan (32%), bekerja sama dengan media (19%), dan menempatkan iklan di media digital (19%).

Menurut survey yang dilakukan oleh ATTA kepada anggotanya pada 2023 lalu, sebanyak 43% responden menjawab bahwa mereka tidak bekerja sama dengan platform pemesanan online mana pun. Menurut mereka, platform pemesanan online tidak sepenuhnya bisa memenuhi kebutuhan wisatawan petulangan. platform pemesanan online bahkan tidak bisa mencapai setengahnya saja dari layanan yang diberikan oleh operator tur.

Namun, sebagian dari responden juga ada yang bekerja sama dengan platform pemesanan online. Tripadvisor, Viator, dan WeTravel menjadi pilihan platform pemesanan online populer untuk bekerja sama.  

Danau kawah Segara Anak dilihat dari Plawangan Sembalun,TN Gunung Rinjani. (Foto: Yun Damayanti)

Tren perjalanan petualangan

ATTA mencatat ada 10 tren perjalanan petualangan yang permintaannya sangat tinggi, yaitu rencana perjalanan yang dipersonalisasi (custom itineraries), petulangan ringan (soft adventure), mengunjungi destinasi/jalur terpencil (remote destinations/trails), petualangan yang berfokus pada kuliner (culinary-focused adventures), perjalanan dengan sepeda listrik (e-bike itineraries), perjalanan bersama ahli atau perjalanan yang dipandu oleh seorang spesialis di bidang tertentu (expert or specialist-guided trips), rencana perjalanan lambat (slow travel itineraries), perjalanan yang lebih hijau, berkelanjutan dan memberikan dampak minimum, serta perjalanan di luar musim puncak liburan, serta perjalanan keluarga dengan anggota multigenerasi.

Menurut Walters, permintaan rencana perjalanan dengan e-bike terus meningkat dan baru saja masuk dalam Top 10 tren petualangan. Begitu pula dengan permintaan petualangan ringan dan petualangan yang berfokus pada kuliner juga baru masuk dalam daftar permintaan teratas.

Hiking/trekking/walking masih menempati aktivitas teratas dalam rencana perjalanan petualangan. Kemudian aktivitas kuliner/gastronomi, budaya, safari atau pengamatan kehidupan liar (wildlife viewing), bersepeda dengan e-bike, fotografi, sepeda gunung dan bersepeda di jalan raya, birdwatching, dan aktivitas yang fokus pada wellness.

Sementara aktivitas petualangan yang menjadi tren khususnya di kawasan Asia adalah hiking/trekking/walking, berkemah (camping), mendaki gunung/panjat tebing, kuliner, dan budaya. 

Para pelaku industri perjalanan petualangan perlu memahami motivasi yang sedang tren di kalangan wisatawan petualang saat ini, yaitu mencari pengalaman baru, bepergian ke off the beaten track, travel like a local, dan bertemu dengan budaya baru.

Motivasi berpetualang berikutnya adalah untuk mencapai kesejahteraan fisik dan mental, kesempatan terakhir melakukan perjalanan, menikmati kemewahan, memutuskan keterhubungan dengan dunia untuk sementara waktu (digital detox), dan memompa adrenalin. Pemangku kepentingan pariwisata di destinasi juga perlu mengetahui bahwa perjalanan petualangan sekarang sudah menjadi simbol status seseorang. ***(Yun Damayanti)  

HOTEL TRANSIT NYAMAN DEKAT KLIA UNTUK PERJALANAN BEBAS STRES

HOTEL TRANSIT NYAMAN DEKAT KLIA UNTUK PERJALANAN BEBAS STRES

Tourism for Us – Malaysia bukan hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga transit hub bagi warga negara Indonesia. Traveler dari Indonesia perlu tahu bahwa sekarang bertambah lagi satu hotel transit yang terletak dekat dengan Kuala Lumpur International Airport (KLIA) juga tidak terlalu jauh dari Petronas [more]

TRANSAKSI POTENSIAL MENJANJIKAN DARI AIME 2025 MELBOURNE, AUSTRALIA

TRANSAKSI POTENSIAL MENJANJIKAN DARI AIME 2025 MELBOURNE, AUSTRALIA

Tourism for Us – Partisipasi Indonesia dalam pameran B-to-B MICE terbesar di Australia, The Asia Pacific Incentives and Meetings Events (AIME) 2025, menghasilkan peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) potensial lebih dari 1000 persen. Sektor MICE telah terbukti menjadi salah satu pendorong utama dalam menarik kunjungan [more]

EKSPLORASI REMPAH DAN COKELAT INDONESIA BERSAMA ANAK-ANAK DI PARIS

EKSPLORASI REMPAH DAN COKELAT INDONESIA BERSAMA ANAK-ANAK DI PARIS

Tourism for Us – Dalam rangka memperkenalkan rempah dan cokelat Indonesia, La Maison De L’Indonesie (LMDI/Rumah Indonesia Paris) bekerja sama dengan berbagai pihak di Perancis. Kerja sama terbaru adalah dengan empat Centres Loisirs (tempat penitipan anak) di Paris. Kegiatannya berupa workshop memperkenalkan rempah-rempah dan cokelat Indonesia kepada anak-anak berumur mulai dari 5 sampai 8 tahun (tingkat sekolah taman kanak-kanak/TK dan sekolah dasar/SD).

Kegiatan workshop digelar pada hari Kamis, 27 Februari 2025, di LMDI. Workshop diikuti sekitar total 50 anak. Mereka dibagi ke dalam dua grup. Setiap sesi berlangsung selama satu jam. Selama workshop, mereka melihat dan mengenal aneka rempah, produk buatan Indonesia dan budaya Nusantara.

‘’Kami memperkenalkan rempah-rempah kepada anak-anak lebih dekat. Kita juga ceritakan tentang sejarah jalur rempah dan keindahan wisata di Indonesia,’’ ujar Eka Moncarre, pendiri LMDI.

Workshop digelar pada masa liburan sekolah musim dingin di Perancis. Anak-anak semakin senang dengan sajian kue wingko babat, cokelat Indonesia, dan es teh pandan di akhir sesi.

Eka berharap, dengan semakin banyaknya kegiatan promosi semoga rempah-rempah Indonesia semakin dikenal oleh dunia, khususnya di Perancis. ***(Yun Damayanti)  

DI ITB BERLIN 2025, INDONESIA TAWARKAN PENGALAMAN PERJALANAN OTENTIK

DI ITB BERLIN 2025, INDONESIA TAWARKAN PENGALAMAN PERJALANAN OTENTIK

Tourism for Us – Indonesia hadir di ajang pameran pariwisata terbesar di dunia Internationale Tourismus Borse (ITB) Berlin 2025 dengan menawarkan pengalaman perjalanan mendalam, personal dan ototentik. Paviliun Wonderful Indonesia tahun ini menampilkan keindahan Provinsi Sumatera Utara sebagai fokus utama. ITB Berlin 2025 berlangsung pada [more]

SATTE 2025 INDIA: STRATEGI INDONESIA MEMPERKUAT POSISI DI PASAR WISATAWAN ASIA SELATAN

SATTE 2025 INDIA: STRATEGI INDONESIA MEMPERKUAT POSISI DI PASAR WISATAWAN ASIA SELATAN

Tourism for Us – Kunjungan wisatawan asal India ke Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun terutama pascapandemi. Dalam rangka memperkuat eksistensi pariwisata Indonesia di kawasan Asia Selatan dan meningkatkan kunjungan wisatawan India ke Indonesia khususnya, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) kembali mengikuti South Asia’s Travel and [more]

DPD ASITA JAWA BARAT MINTA LARANGAN STUDY TOUR DIPERTIMBANGKAN, INI ALASAN DAN SOLUSI KREATIFNYA

DPD ASITA JAWA BARAT MINTA LARANGAN STUDY TOUR DIPERTIMBANGKAN, INI ALASAN DAN SOLUSI KREATIFNYA

Tourism for Us – Pernyataan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi yang melarang study tour oleh sekolah mendapat reaksi beragam dari orang tua dan pelaku industri pariwisata. Pernyataan yang menganggap study tour sama dengan kegiatan piknik tidak sepenuhnya akurat. Study tour seharusnya diatur dengan ketat dan mengikuti standar nasional.

Study tour yang semestinya mendukung pembelajaran di dalam kelas dan memberikan pengalaman nyata kepada siswa, dinilai memberatkan orang tua siswa karena memerlukan pengeluaran tambahan. Kemudian, study tour seringkali dianggap sebagai upaya segelintir pendidik untuk meraih keuntungan finansial pribadi.

Sekolah mungkin kurang terorganisir dalam merencanakan perjalanannya sehingga materi study tour tidak sejalan dengan kurikulum yang ada. Sekolah pun memilih vendor atau penyedia jasa dengan harga rendah demi menekan pengeluaran.

Lalu, apakah dengan melarang study tour akan menyelesaikan permasalahannya?

Demi masa depan anak-anak, kita semua mesti mengerti bahwa pembelajaran di luar kelas sangat penting untuk memperkaya pengalaman belajarnya. Metode ini menciptakan suasana belajar yang interaktif, menyenangkan, dan aplikatif, sehingga materi lebih mudah dipahami oleh siswa. Dan yang tidak kalah penting adalah mereka dapat mengembangkan berbagai keterampilan.

Pembelajaran di luar kelas lebih dari sekadar hiburan. Melalui pengalaman langsung, siswa dapat mengembangkan pengetahuan yang mendalam, keterampilan sosial yang lebih baik, serta sikap kreatif dan mandiri. Oleh karena itu, pembelajaran di luar kelas sebaiknya menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan di sekolah.

Belajar di luar ruang kelas juga dapat membatu pendidikan karakter. Gubernur Dedi Mulyadi, dalam hal ini, menegaskan kembali pentingnya pendidikan yang berkarakter kesundaan (local wisdom) kepada siswa. Karena krisis identitas lokal di kalangan generasi muda semakin mengkhawatirkannya.

Kegiatan study tour sangat bisa dilakukan di dalam provinsi. Karena Jawa Barat memiliki beragam obyek dan aktivitas untuk kegiatan pembelajaran di luar ruang kelas. Kualitasnya pun tidak kalah bagus dibandingkan provinsi-provinsi lain. Para pemimpin daerah sebaiknya mendorong sekolah-sekolah untuk memperkenalkan siswa pada lingkungan di sekitar mereka sebelum melakukan kunjungan ke daerah lain.

Dari sudut pandang pariwisata, ASITA sebagai wadah Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata, berkewajiban menyampaikan keluhan dan kekhawatiran yang dirasakan oleh anggotanya. Implementasi dari Peraturan Gubernur Jawa Barat mengenai larangan study tour dinilai dapat mengancam masa depan bisnis perjalanan wisata.

Pernyataan tidak diperbolehkannya lagi kegiatan study tour juga merupakan ‘tamparan keras’ kepada para pelaku usaha perjalanan. Itu berarti, pelayanan perjalanan wisata harus lebih bertanggung jawab dan menjaga kualitas layanan yang telah dijanjikan sesuai biaya yang dikeluarkan oleh konsumen.

‘’Kewajiban kita sebagai orang tua memperkenalkan akar budaya kita. Sekolah dan penyelenggara study tour bisa memperkenalkan akar budaya melalui pariwisata,’’ ujar Daniel Guna Nugraha, Ketua DPD ASITA Jawa Barat.  

Dia mencontohkan, banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh siswa di Kampung Naga, Tasikmalaya. Di situ mereka bisa belajar menganyam bambu, pergi ke sawah untuk ikut bercocok tanam dan memanen dengan beradab dan berbudaya, serta memasak dan makan bersama keluarga tuan rumah.

Untuk memperkenalkan warisan budaya tak benda Indonesia seperti batik, yang sudah diakui oleh UNESCO, sekolah dapat mengatur perjalanan ke sentra-sentra batik Jawa Barat seperti Kampung Trusmi di Cirebon. Di situ siswa bisa praktik membatik di bawah bimbingan pebatik, mengenal motif-motif batik dan mengetahui makna dan filosofinya dari keluarga pengusaha batik dan lain-lain.

‘’Kegiatan pariwisata seperti di atas jarang dilakukan oleh sekolah-sekolah di Jawa Barat. Padahal, penekanan mengenal potensi dan citra diri di wilayah kita sangatlah penting dengan kemajuan dan perkembangan zaman seperti sekarang,’’ tutur Daniel.

Dari pengalamannya menangani field trip dari Singapura, di sana sekolah memilih vendor kegiatan melalui lelang. Tour operator yang mengikuti lelang wajib mengisi assesment. Materi assesment sudah diatur dan ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan Singapura. Vendor yang menjalakan kegiatan tidak sesuai dengan standar akan mendapat sanksi. Menurut Daniel, sistem semacam ini sangat mungkin untuk diterapkan di Jawa Barat. 

Materi assesment meliputi: pemilihan tema study tour yang wajib berkorelasi dengan mata pelajaran di sekolah; penginapan/hotel harus memenuhi syarat minimal akomodasi yakni bersertifikat CHSE/PHRI dan verifikasi dari Dinas Kesehatan setempat dengan memperlihatkan bukti sertifikat kelayakannya; restoran dan menu makanan yang akan disajikan sesuai dengan kebutuhan gizi sehat yang diperlukan siswa/peserta dan dibuktikan dengan uji kalayakan dari Dinas Kesehatan dan PHRI; kendaraan pariwisata yang digunakan laik jalan, memiliki perizinan dari Kementerian Perhubungan RI berupa Izin Operasional dan Kartu Pengawasan, KIR dari DISHUB, dan STNK yang masih berlaku; rombongan siswa wajib ditemami pemandu wisata atau penerjemah yang berpengalaman dan tersertifikasi dari BNSP dan berafiliasi dengan Himpunan Pemandu Wisata resmi di Indonesia; travel agent/tour operator wajib memiliki izin usaha, berlisensi, dan berafiliasi dengan Asosiasi Perjalanan Wisata resmi di Indonesia dengan menunjukan NIA, NIB dan NPWP; perusahaan travel agent/tour operator juga wajib mempunyai Travel Consultant/Tour Manager berpengalaman dan tersertifikasi dari BNSP; jaminan asuransi perjalanan wisata; dan wajib mencantumkan alamat dan nomor layanan Kepolisian di sepanjang rute perjalanan.

‘’Prinsip dari assesment itu adalah untuk melindungi siswa. Dan tour operator wajib memberikan pelayanan prima sesuai dengan yang telah ditentukan oleh sekolah dan peraturan pemerintah di negara itu,’’ tambahnya.

Efek larangan study tour telah menimbulkan kekhawatiran, bukan hanya di kalangan pelaku industri pariwisata di Jawa Barat saja tetapi juga menjalar ke provinsi lain di Jawa Tengah, Yogyakarta dan Bali. Karena dampak industri pariwisata terhadap perekonomian suatu wilayah mencakup pendapatan masyarakat, penciptaan lapangan kerja, kesejahteraan sosial dan pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah perlu segera menetapkan standar penyelenggaraan study tour. Kolaborasi antara Kementerian Pendidikan, Kementerian Pariwisata dan Kementerian Perhubungan, serta asosiasi komite sekolah dan pelaku industri pariwisata sangat penting untuk menemukan solusi dan menetapkan standar yang jelas. ***(Yun Damayanti)

ASTINDO FAIR 2025: MENDORONG PERTUMBUHAN PARIWISATA

ASTINDO FAIR 2025: MENDORONG PERTUMBUHAN PARIWISATA

Tourism for Us – Ajang pameran wisata terbesar di Indonesia, ASTINDO Travel Fair 2025, memperlihatkan optimisme pelaku industri bahwa pariwisata akan tetap tumbuh positif tahun ini. Optimisme di kalangan industri pariwisata di dalam negeri maupun di kawasan regional menunjukkan ketahanan pariwisata terhadap berbagai tantangan. ASTINDO [more]