Tourism for Us – Saat wisatawan mencari destinasi di internet, pilihan yang muncul di layar gawai mereka kini semakin dipengaruhi oleh algoritma, mulai dari rekomendasi di media sosial hingga hasil pencarian. Teknologi perlahan mengubah cara orang menemukan, mempertimbangkan hingga memilih tempat untuk berwisata. Di tengah [more]
Tourism for Us – Perubahan tren perjalanan global memberikan peluang bagi Indonesia untuk meraih manfaat melalui berbagai strategi, seperti mendesain ulang paket wisata dan menyeimbangkan antara peluang dan tantangan. Dengan pendekatan ini, diharapkan investasi di sektor pariwisata dapat tetap menguntungkan dan berkelanjutan. Deputi Bidang Industri [more]
Tourism for Us – Pariwisata Indonesia berada dalam posisi yang sangat strategis, terutama dengan adanya tiga tren global yang berpotensi mengubah secara mendasar industri perjalanan. Ketiga tren ini menciptakan peluang besar bagi sektor pariwisata, yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif. Dengan strategi yang tepat, beberapa tahun ke depan bisa menjadi momen krusial untuk mewujudkan visi tersebut.
(Foto: Yun Damayanti)
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan bahwa pariwisata telah diakui sebagai mesin pertumbuhan ekonomi dunia yang vital, dengan dampak sosial yang luas dan signifikan. Pada tahun 2023, sektor pariwisata berkontribusi sekitar 10 persen terhadap PDB global dan menciptakan lapangan kerja bagi 330 juta orang di seluruh dunia. Sementara itu, di Indonesia, Bank Mandiri memperkirakan bahwa kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional mencapai 4,9 persen pada semester I tahun 2025 dan menyerap 25,88 juta tenaga kerja. Hal ini disampaikannya saat membuka Indonesia Tourism Outlook 2026 yang diinisiasi oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) di Hotel Artotel Harmoni Jakarta, Rabu (29/10/2025).
Kemudian, Menpar Widiyanti juga mengatakan bahwa Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengidentifikasi tiga tren global yang secara funndamental dapat mengubah lanskap industri perjalanan dan membuka peluang besar bagi sektor pariwisata Indonesia di masa mendatang.
Tren pertama adalah perubahan sumber wisatawan outbound. Sebelumnya, sumber pasar wisatawan didominasi oleh Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur. Namun, negara-negara di Amerika Selatan, Asia Selatan, dan Timur Tengah, bahkan juga termasuk Indonesia, diperkirakan akan masuk dalam 15 besar sumber pasar wisatawan outbound dunia pada 2040. Hal ini didasarkan pada proyeksi pertumbuhan populasi kelas menengah, peningkatan pendapatan per kapita, dan index harga konsumen.
‘’Kondisi ini menegaskan pentingnya menyesuaikan penawaran pariwisata Indonesia agar tetap relevan dan menarik bagi segmen wisatawan baru, sekaligus membuka peluang untuk mengembangkan pariwisata minat khusus, salah satunya adalah pariwisata ramah muslim,’’ ujar Menpar Widiyanti.
Menurut CrescentRating, pada 2030 total pengeluaran wisatawan muslim diperkirakan mencapai lebih dari 235 miliar dollar AS. Dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki ekosistem dan fasilitas yang mendukung kebutuhan wisatawan muslim.
‘’Hal ini memberikan Indonesia keunggulan kompetitif untuk memperkuat posisinya sebagai destinasi ramah muslim di tingkat global,’’ tambahnya.
Tren kedua adalah perubahan demografi wisatawan. Generasi Z dan Milenial kini menjadi motor baru pertumbuhan pariwisata dunia dengan minat berwisata yang tinggi. Oleh karena itu, pariwisata Indonesia perlu menghadirkan pengalaman yang sesuai dengan preferensi generasi ini.
Generasi muda cenderung mencari inspirasi melalui media sosial, kreator perjalanan, dan generative AI. Sebanyak 52 persen pasar Gen Z mengutamakan pengalaman yang bermakna dan naratif. Mereka rela membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman berwisata yang berkesan.
‘’Perubahan ini membuka peluang besar bagi promosi pariwisata Indonesia dengan pendekatan digital yang terarah dan berbasis pengalaman. Dengan strategi yag tepat, kita dapat menjangkau pasar global secara lebih efisien dan personal,’’ kata Menteri.
Tren ketiga adalah perubahan pola pemilihan destinasi. Destinasi yang sebelumnya bukan Top of Mind atau hanya menjadi detour destination kini semakin diminati oleh wisatawan.
‘’Di kawasan Asia Tenggara, proporsi kunjungan ke destinasi semacam ini diperkirakan meningkat dari 24 persen pada 2023 menjadi 30 persen pada 2030. Ini membuka peluang bagi Indonesia untuk mengemas ulang dan memperkaya produk wisata dengan menggabungkan destinasi populer dan destinasi niche di sekitarnya untuk menciptakan paket yang lebih otentik,’’ tutur Menpar.
Mewakili asosiasi inbound tour operator Indonesia (IINTOA) di acara Indonesia Tourism Outlook 2026, Hasiyana S. Ashadi mengungkapkan bahwa mitra-mitra kerja di luar negeri semakin mencari aktivitas di luar ruangan dalam beberapa tahun terakhir. Aktivitas yang memungkinkan wisatawan mancanegara (wisman) berada di alam lebih lama, selain dari program-program yang sudah tetap, selama di destinasi.
Pada kesempatan terpisah, DPD ASITA Jawa Barat menyatakan bahwa beberapa operator tur dari luar negeri yang mengikuti perjalanan pengenalan (famtrip) railways tourism di Jawa Barat pada bulan Oktober ini memberikan respon positif. Mereka tidak menyangka bahwa ada begitu banyak daya tarik selain Bandung. Beberapa daya tarik yang diperkenalkan itu, menurut mereka, dapat langsung diolah karena ada permintaan.
Lebih lanjut, Menpar menegaskan kembali bahwa Kemenpar telah menyiapkan sejumlah program unggulan unntuk memaksimalkan peluang tersebut. Di antaranya, Pariwisata Naik Kelas, Event by Indonesia, Desa Wisata, Tourism 5.0, dan Gerakan Wisata Bersih. Semua program itu berlandaskan pada visi pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.
‘’Selain itu, tahun depan, kami juga akan menambah fokus pada peningkatan keselamatan pariwisata, terutama di destinasi alam yang masih rawan insiden. Kami akan bekerja sama dengan Basarnas untuk melaksanakan berbagai pelatihan keselamatan bagi pelaku wisata dan masyarakat sekitar destinasi,’’ katanya.
Menutup paparannya, Menpar Widiyanti mengajak seluruh pihak untuk terus mendukung kemajuan pariwisata Indonesia, termasuk peran media yang sangat penting dalam membentuk narasi dan persepsi positif tentang pariwisata Indonesia di mata dunia.
‘’Pariwisata Indonesia kini berada di titik strategis, tren global berpihak pada kita, dan strategi kita sudah jelas. Beberapa tahun ke depan adalah momentum penting untuk mewujudkan pertumbuhan pariwisata yang berkelanjutan dan inklusif. Saya berharap rekan-rekan wartawan terus menyebarkan berita baik serta mempromosikan pariwisata Indonesia agar mengenal negeri ini melalui keindahan alam, keramahan bangsa, dan kekayaan budayanya,’’ pungkas Menpar Widiyanti. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Pembelajaran di luar ruang merupakan kebutuhan dalam pendidikan anak yang tidak terlepas dari pembelajaran di dalam kelas. Menanggapi polemik ‘’study tour’’ akhir-akhir ini, pemerintah, pendidik, dan pelaku pariwisata sepakat bahwa kegiatan study tour sebagai bentuk pembelajaran luar ruang perlu diatur dan [more]
Tourism for Us – Sekitar 40 persen pelaku usaha perjalanan Indonesia sudah mengadopsi penggunaan AI sebagai solusi digital. Para pelaku usaha perjalanan yang menggunakan AI mengatakan teknologi digital membantu kinerja operasional perusahaan. Selain itu, penggunaan teknologi juga membantu memahami profil pelanggan. Perusahaan dapat merencanakan target [more]
Tourism for Us – Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia sebagai destinasi belum mengalami overtourism. Karena kunjungan wisatawan belum tersebar merata ke seluruh pulau. Tetapi benar, di destinasi-destinasi pariwisata tertentu, terutama di destinasi-destinasi primadona, sudah mengalami gejala-gejala dan/atau memasuki overtourism. Dan destinasi-destinasi pariwisata baru yang berkembang bukan tidak mungkin bisa jatuh ke dalam overtourism bila tidak dikelola dengan baik.
Prof. Dr. Drs. I Nyoman Sunarta, M.Si., Guru Besar Bidang Ilmu Pariwisata Berbasis Lingkungan di Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali. (Foto; Yun Damayanti)
Apa sebenarnya overtourism dan bagaimana destinasi-destinasi baru bisa terhindar dari overtourism, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Sunarta, M.Si., Guru Besar Bidang Ilmu Pariwisata Berbasis Lingkungan di Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali, menerangkannya begini:
Ada tiga variabel penilaian apakah suatu destinasi sudah mengalami overtourism. Bila salah satu dari tiga variabel merasa tidak nyaman itu mengindikasikan destinasi tersebut sudah mengalami overtourism.
Variabel paling sepele dan kasat mata adalah antara warga lokal (warlok atau host) dan wisatawannya (guest) baik asing maupun domestik, salah satu di antara mereka, sudah tidak merasa nyaman lagi.
‘’Pertama, kalau orang lokalnya sudah tidak nyaman dan membenci turis berarti sudah over. Kedua, bila wisatawannya merasa tidak mendapatkan ekspetasi perjalanannya di destinasi juga artinya sudah over. Pasti ada yang keliru di destinasi,’’ ujar Sunarta.
Variabel ketiga bisa dilihat dari fisik destinasi seperti terjadi kemacetan di mana-mana, suhu udara semakin panas, dan sumber daya alam semakin menurun baik kuantitas maupun kualitasnya.
Regenerative Tourism untuk Bali
Sunarta menegaskan, jangan membandingkan Bali dengan destinasi-destinasi lain di Indonesia. Posisi setiap destinasi berbeda-beda. Maka dari itu kebutuhan penerapan sustainable dan regenerativetourism tidak akan sama antara destinasi yang satu dengan yang lain.
‘’Untuk menerapkan yang mana paling pas di Bali, kita harus melihat pada kenyataan dan fakta-fakta yang ada. Di sini, menurut saya, sustainable tourism tidak pas. Di destinasi Bali yang sekarang jangan sekali-kali membicarakan masalah kuantitatif lagi,’’ katanya.
Tetapi, di destinasi-destinasi lain yang baru mulai didatangi wisatawan tidak harus membatasi jumlah kunjungan. Itu akan menghambat pariwisata di situ. Meskipun demikian, para pemangku kepentingan harus peduli terhadap daya dukung destinasi.
Dia menjelaskan, Waterloo sudah melakukan penelitian tentang sustainable tourism di Bali sejak 1994. Dalam proyek penelitian bertajuk Bali Sustainable Development Project, Waterloo mendapati Pulau Dewata sudah mulai mengalami krisis air.
Pada tahun 2009, Sunarta melakukan penelitian di sembilan kabupaten dan kota di Bali. Waktu itu hasilnya, lima dari sembilan kota/kabupaten masih memiliki sumber air tanah yang cukup.
Penelitian yang sama dilakukannya lagi pada 2013. Hasilnya menunjukkan hanya Kabupaten Bangli yang masih memiliki surplus persediaan air tanah. Persediaan sumber air tanah di kota/kabupaten lain telah menyusut.
Sunarta juga mengungkapkan, Danau Buyan, Tamblingan, Batur dan Beratan semua mengalami sedimentasi tinggi. Volume air di keempat danau yang ada di Bali sudah berkurang.
‘’Bisa dibayangkan. Itu sumber air kita. Kalau sumber-sumber itu berkurang berarti air tanahnya berkurang,’’ katanya.
Ada wacana Bali tidak mungkin sampai kekurangan air tawar bersih. Teknologi penyulingan air laut dapat menjawab kebutuhan air bersih warlok dan pariwisata. Namun pertanyaan berikutnya yang muncul adalah akankah hal itu mampu menopang keberlanjutan daya dukung alam dan lingkungan pulau untuk kehidupan masyarakat dan wisatawan?
Kemudian dia mengungkapkan hasil riset lain yang dilakukannya pada 2023. Risetnya tahun lalu terkait emisi karbon. Hasilnya menunjukkan, di pusat-pusat pariwisata di Bali emisi karbonnya sudah tinggi. Bahkan di daerah yang tidak didatangi wisatawan seperti Desa Culik di timur laut pulau emisi karbonnya cukup tinggi.
Suhu di ibukota provinsi Denpasar rata-rata 34 derajat Celcius sekarang. Itu mengindikasikan kota ini harus membangun danau dan hutan kota di sekitarnya.
Dari penelitian-penelitiannya menunjukkan, daerah-daerah yang paling pesat perkembangan pariwisatanya berada di kantong-kantong sumber daya alam Pulau Bali. Karena di situ topografi dan alamnya nan indah.
‘’Kita harus mengetahui peta destinasi pada waktu ingin mengembangkan pariwisata. Ada di mana dia. Kami di akademik mempelajari teori Life Cycle Tourism. Itulah mengapa, menurut saya, sustainability sudah harus diperhatikan semenjak kita membangun destinasi,’’ terang Sunarta.
Dengan kondisi eksisting alam Bali sekarang, prinsip kehati-hatian merupakan salah satu kunci utama dalam upaya memperbaiki lingkungan dan masyarakat lokal.
Dia mencontohkan, misal di Desa Culik tadi ingin dikembangkan pariwisata. Maka desa itu tidak bisa langsung diinjeksi dengan hal-hal yang sama yang ada di Kuta dan Canggu.
‘’Kalau dia mau bertahan, apa dia punya keberanian menjual yang dia punya, bukan apa yang wisatawan mau?,’’ lanjutnya.
Dalam membangun destinasi pariwisata, mulai dari skala provinsi hingga desa, pemerintah daerah selaku regulator harus tegas menjalankan kebijakan tata ruang dan tata wilayahnya. Regulator harus mampu mengatur di mana boleh berbuat atau melakukan apa.
Dari situ bisa diidentifikasi daya dukung (carrying capacity) suatu wilayah dalam mengakomodasi warlok dan kegiatan wisata. Dan pelaku industri pariwisata dan investor juga punya acuan yang jelas untuk mengembangkan infrastruktur dan produk.
Sunarta mendorong daerah-daerah mengembangkan potensi yang tidak dimiliki daerah lain. Dalam hal ini diperlukan kemampuan mengidentifikasi dan memetakan potensi asli dan keunikan yang dimiliki daerah.
‘’Kalau dibandingkan dengan desa tetangga, adakah potensi kita yang sama seperti yang mereka miliki? Kalau dia ada untuk apa kita kembangkan potensi yang sama. Kita kembangkan potensi yang lain, yang sangat unik dan tidak ada di tempat lain,’’ kata Sunarta.
Setelah dipetakan, potensi itu dikemas. Begitu dikemas dia akan menjadi bagus. Baru kemudian dipasarkan dan dijual. Dia menyayangkan masih banyak destinasi yang mempraktikan belum mengetahui potensinya tetapi sudah dipasarkan.
‘’Alam dan budaya tidak bisa dipisahkan di Bali. Budaya dan adat-istiadat tanpa alam akan hancur. Tujuan dari penelitian-penelitian kami, kapan kita ke sustainability. Kapan kita ke regeneratif. Dan kapan kita ke quality tourism,’’ tambahnya.
Desa Penglipuran.(Foto: Yun Damayanti)
Pariwisata berkualitas bermula dari warga lokal
Seiring dengan adanya indikator overtourism maka variabel pariwisata berkualitas (quality tourism) juga ada tiga yakni sumber daya manusia (SDM) lokalnya harus berkualitas, wisatawan yang datang juga berkualitas, dan destinasinya pun harus berkualitas.
‘’Kalau semua itu belum berkualitas, jangan bicara quality tourism,’’ kata Sunarta.
Dia mengingatkan kembali, quality tourism is not about money. Suatu destinasi pariwisata berkualitas bukan berarti hanya mendatangkan orang-orang kaya. Wisatawan berkualitas ialah mereka datang ke destinasi membawa pengaruh dan manfaat yang baik bagi tuan rumah.
‘’Tahun 1930-an, wisatawan yang datang ke Ubud ialah para seniman. Sekarang writers juga datang ke Ubud. Berikutnya, saya ingin yang datang ke Bali ialah para peneliti (researcher),’’ tuturnya.
Dia berbagi pengalaman ketika bekerja sama dengan seorang peneliti kelautan asal Perancis. Sang peneliti itu sedang melakukan riset hubungan antara terumbu karang (coral) yang sehat dengan wellness tourism. Sang peneliti mencari di mana bisa menemukan hal itu. Selaku orang bali dikatakannya kepada peneliti Perancis itu, wisatawan yang datang untuk menyelam (diving) dan melihat terumbu karangnya sehat maka dia juga akan merasa sehat. Namun bila melihat terumbu karangnya rusak saat menyelam dia akan merasa sedih dan tentu itu tidak baik bagi kesehatannya.
I Nyoman Sunarta menerangkan semua itu di Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2025 yang digelar oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Fowaparekraf), Kamis (10/10/2024), di Hotel Aston Kemayoran, Jakarta.
Dari penjelasan Guru Besar Pariwisata di Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali, tersebut kami mencatat poin-poin yang bisa diambil untuk dipahami bersama:
Pariwisata sebagai kegiatan ekonomi pasti membawa dampak baik dan buruk terhadap lingkungan maupun masyarakat. Maka pada setiap tahapan dalam membangun destinasi alam mesti ditempatkan sebagai salah satu pemangku kepentingan (stakeholder) utama. Dan kesejahteraan warlok ditempatkan sebagai titik awal dan tujuan akhirnya.
Alam adalah sumber utama pembentuk budaya Nusantara. Pariwisata Indonesia bertumpu pada budaya sehingga kita tidak bisa mengabaikan peran alam.
Alam yang indah dengan segala macam karakter spesifiknya telah menciptakan beragam budaya berbeda-beda di setiap destinasi. Itulah yang mendorong orang-orang mau berkunjung ke Indonesia.
Pembangunan pariwisata harus bisa memastikan destinasi tidak kehilangan sumber daya alamnya untuk menghidupi populasi penduduk yang terus berkembang. Semakin banyak penduduk membutuhkan sumber daya yang besar.
Oleh karena itu prinsip kehati-hatian harus diterapkan sejak awal membangun destinasi. Dan dalam prosesnya membutuhkan kebijakan dan regulasi yang jelas dan tegas serta komitmen menjalankan peraturan oleh semua pihak.
Pertumbuhan jumlah penduduk pasti akan mendorong kebutuhan jaringan aksesibilitas yang lebih luas dan multimoda transportasi. Untuk mengakomodasi kebutuhan itu daerah harus memikirkan bagaimana memindahkan orang-orang dari satu tempat ke tempat lain secara efektif dengan biaya terjangkau.
Kunjungan wisatawan semakin mendorong kebutuhan aksesibilitas dan transportasi di daerah wisata. Wisatawan pasti akan memanfaatkan infrastruktur dan fasilitas publik yang ada di destinasi termasuk transportasi lokal.
Mobilitas masyarakat harus didahulukan ketika membangun infrastruktur aksesibilitas dan sarana publik di daerah. Karena mereka hidup selamanya di destinasi. Sementara wisatawan hanya tinggal dalam jangka waktu tertentu.
Host tidak bisa mengatur/menentukan ke mana wisatawan pergi. Tetapi host bisa menciptakan daya tarik-daya tarik di berbagai titik. Dengan begitu, wisatawan tidak terkonsentrasi di satu area atau wilayah tertentu sehingga di area/wilayah tersebut mengalami kelebihan (over).
Daya tarik yang unik dan berbeda harus dikemas dengan baik sebelum dipasarkan. Dan untuk dapat mencapai daya tarik-daya tarik tersebut wisatawan memerlukan jejaring aksesibilitas dan multimoda transportasi tadi.
Kualitas SDM warga lokal pun harus terus diperbaiki dan ditingkatkan. Agar mereka tidak hanya menjadi obyek atraksi dan sumber tenaga kerja. Tetapi lebih daripada itu, warlok sebagai subyek pemilik destinasi mesti bisa memahami bagaimana mengelola lingkungan dan kehidupannya. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Pariwisata Indonesia beserta industrinya akan menghadapi tiga issue besar pada tahun 2025 yaitu beberapa destinasi favorit sudah menghadapi gejala-gejala overtourism, tantangan untuk menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan (sustainability) dalam membangun destinasi wisata dan mengembangkan bisnis, serta kegamangan pelaku industri pariwisata menghadapi disrupsi artificial [more]
Tourism for Us – Pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif ke depan di Indonesia, khususnya dalam bidang investasi, harus memperhatikan isu-isu keberlanjutan lingkungan dalam konsep investasi hijau sebagai kunci sukses utama. Indonesia dengan berbagai potensi sumber daya alam dan keragaman budaya memiliki potensi yang tinggi [more]
Tourism for Us – Pemerintah memproyeksikan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) dapat mencapai antara 11 juta hingga 11,5 juta pada akhir tahun 2023. Oleh karena itu, pemerintah optimis menargetkan 14 juta wisman pada 2024. Dan lifestyle-centric yang menawarkan keindahan lansekap dan kuliner akan menjadi kunci pemasaran destinasi, menurut Check-in Asia.
Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf), menyelenggarakan Indonesia Tourism Outlook 2024, Selasa, (28/11/2023), di Hotel AOne Jakarta. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno (ketiga kiri) hadir sebagai narasumber utama. Sesi pertama juga menghadirkan Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang juga Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Hariyadi Sukamdani (kedua kiri), Director of Check-in Asia Gary Bowerman (kedua kanan), dan Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf/Baparekraf Agustini Rahayu (kanan). Ketua Forwaparekraf Pasha Ernowo (ketiga kanan) dan moderator sesi pertama Tiara Maharani dari TTG Asia (kiri),
Kedua hal tersebut terungkap di Indonesia Tourism Outlook 2024 (ITO) yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf) bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) Selasa, (28/11/2023), di Hotel AOne Jakarta. Indonesia Tourism Outlook 2024 mengangkat tema ‘’Peluang dan Tantangan Investasi untuk Pariwisata Berkelanjutan’’. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno hadir sebagai narasumber utama.
‘’Capaian kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia tahun ini sekitar 11 juta atau di atas target 8,5 juta. Pada 2024 kita menargetkan 14 juta kunjungan wisman. Atau masih di bawah capaian 2019 sebesar 16,11 juta. Kita optimis di tahun 2025 sektor pariwisata akan pulih seperti semula,’’ ujar Menparekraf Sandiaga Uno.
Untuk mencapai target 14 juta kunjungan wisman pada 2024, pariwisata inbound Indonesia dihadapkan pada sejumlah tantangan. Pertama adalah bagaimana memperkuat konektivitas penerbangan dari negara-negara sumber wisman dan menyediakan kursi pesawat (seat) yang mencukupi.
Tantangan kedua adalah menyebarkan wisman ke berbagai destinasi unggulan setelah berada di Indonesia. Bali sebagai magnet utama menarik kunjungan wisman diharapkan dapat menyebarkannya ke destinasi-destinasi lain.
Untuk itu, pemerintah gencar mempromosikan ‘Bali and Beyond’ terutama ke lima destinasi pariwisata super prioritas (DPSP) Danau Toba (Sumatera Utara), Borobudur (Jawa Tengah), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur), dan Likupang (Sulawesi Utara).
Kemudian, sejumlah lembaga internasional memprediksikan berbagai tantangan yang akan dihadapi di tingkat global pada 2024 seperti konflik geopolitik, gejolak perekonomian, hingga krisis lingkungan yang dapat mempengaruhi pertumbuhan sektoral termasuk industri perjalanan.
Guna menghadapi situasi global yang tidak menentu, pemerintah masih akan terus mendorong pariwisata domestik sebagai kekuatan pariwisata nasional tahun depan. Untuk menggerakan perjalanan domestik pun tantangan yang dihadapi tidak jauh berbeda dengan mendatangkan perjalanan internasional (inbound).
Salah satu tantangan yang harus segera dapat diatasi adalah mencapai tingkat harga tiket pesawat yang terjangkau oleh wisatawan Nusantara (wisnus). Sehingga mereka dapat melakukan perjalanan mengunjungi berbagai destinasi di dalam negeri. Konektivitas udara juga berperan penting dalam menyukseskan kampanye ‘Bangga Berwisata di Indonesia’ dan #DiIndonesiaAja.
Menparekraf Sandiaga menerangkan, Indonesia mempunyai pertumbuhan ekonomi yang baik sehingga diharapkan itu mampu mendorong daya beli masyarakat dan meningkatkan perjalanan di dalam negeri pada 2024. Target perjalanan domestik tahun depan masih berkisar 1,2 hingga 1,4 miliar perjalanan.
‘’Meskipun perekonomian global diproyeksikan akan terjadi perlambatan, namun tren pertumbuhan perekonomian nasional diprediksi masih akan terus kuat di 2024, mencapai 5 persen, menurut IMF dan OECD. Angka tersebut cukup tinggi dibandingkan proyeksi pertumbuhan perekonomian negara-negara kuat seperti Tiongkok dan Amerika Serikat. Meski sedikit lebih rendah dibandingkan India,’’ jelas Menparekraf Sandiaga Uno..
Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) yang juga Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Hariyadi Sukamdani mengatakan, daya beli masyarakat yang menurun menjadi kendala dalam meningkatkan pariwisata dalam negeri.
‘’Daya beli masyarakat belum rebound. Jika dibiarkan, ini bisa terjadi stagnasi. Pada periode festivities seperti Natal dan Tahun Baru tidak ada masalah. Tetapi, di luar periode tersebut kan juga harus pikirkan. Daya beli wisman tidak ada masalah. Terkait harga tiket pesawat, ya, itu memang menjadi tantangan baik bagi pasar domestik maupun mancanegara,’’ ucap Haryadi.
Selanjutnya, penting sekali untuk menyinkronkan program promosi bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan pelaku usaha industri pariwisata agar dapat meningkatkan kunjungan wisatawan.
Gary Bowerman, Director of Check-in Asia, menyarankan, Indonesia harus mulai menaruh perhatian besar terhadap pasar Tiongkok dan India. Kedua negara tersebut diperkirakan, akan menjadi pasar dengan pertumbuhan tertinggi tahun depan.
‘’Bagaimana menemukan strategi pemasaran yang tepat agar dapat menarik minat wisatawan Cina dari berwisata hanya di dalam negeri menuju berbagai destinasi di Asia Tenggara, terutama Indonesia,’’ kata Gary.
Selain itu, Gary mengungkapkan, highlight pemasaran destinasi sekarang adalah lifestyle-centric yang menawarkan dua komponen utama yaitu landscape dan cuisine. Dia mencontohkan salah satunya adalah perjalanan dengan kereta (train travel) yang sekarang banyak dipilih oleh wisatawan.
‘’Train travel is tourism experience. It is much used in tourism right now. Like theme train that brings travelers enjoy the landscape, the cuisine and the culture,’’ tutur Gary.
Gary salut dengan kehadiran kereta cepat di Indonesia. Perjalanan dengan kereta juga terus berkembang di kawasan Asia Tenggara yang mana nantinya akan menghubungkan antarnegara di kawasan ini.
Perjalanan kereta di masa depan mungkin bukan lagi perjalanan yang lambat (slow travel). Karena Cina kini tengah menguji coba kereta berkecepatan hingga 1000 kilometer/jam.
Ketua Forwaparekraf Pasha Ernowo dalam sambutannya mengatakan, dipilihnya tema ‘’Peluang dan Tantangan Investasi untuk Pariwisata Berkelanjutan’’ mengingat Indonesia punya kekayaan alam melimpah dan geografis yang mendukung maka sudah saatnya untuk lebih fokus terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).
ITO 2024 juga disponsori oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan didukung oleh Jambuluwuk Hotels & Resorts, Sariayu Martha Tilaar, Intiwhiz Hospitality Management, Bookcabin by Lion Group, Amarylis Boutique Resort, Wings Group, dan MEG Cheese.***(Yun Damayanti)