Tourism for Us – Pengalaman wisata yang dirancang dengan baik akan menjadi kunci masa depan pengembangan pariwisata di Indonesia. Dengan menciptakan pengalaman yang mendalam dan otentik, wisatawan tidak hanya sekadar berkunjung, tetapi juga merasakan budaya dan keindahan alam Indonesia. Untuk mewujudkannya, pelaku pariwisata Indonesia sangat [more]
Tourism for Us – Indonesia Tourism Outlook 2025/2026 mengidentifikasi Meetings, Incentives, Conventions, and Exhibitions (MICE) dan bleisure, perpaduan perjalanan bisnis dan rekreasi, merupakan salah satu dari enam tren utama pariwisata Indonesia. Tren ini menujukkan bahwa perjalanan bisnis semakin erat dengan aktivitas rekreasi dan pencarian pengalaman [more]
Tourism for Us – Saat wisatawan mencari destinasi di internet, pilihan yang muncul di layar gawai mereka kini semakin dipengaruhi oleh algoritma, mulai dari rekomendasi di media sosial hingga hasil pencarian. Teknologi perlahan mengubah cara orang menemukan, mempertimbangkan hingga memilih tempat untuk berwisata. Di tengah perubahan tersebut, industri pariwisata tidak lagi hanya berbicara soal promosi atau keindahan destinasi, tetapi yang semakin penting adalah membangun cerita, kedekatan, dan kepercayaan di ruang digital.
(Foto: Forwaparekraf)
Untuk merespon perubahan perilaku wisatawan global, Kementerian Pariwisata mulai mengintegrasikan kecerdasan buatan (AI) ke dalam ekosistem digital melalui peluncuran Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia (MaiA), sebuah kecerdasan buatan yang dirancang untuk meningkatkan kualitas pelayanan pariwisata nasional melalui teknologi yang adaptif, cerdas, dan berorientasi pada kebutuhan wisatawan.
Platform ini dapat diakses melalui indonesia.travel dan menjadi wajah baru transformasi. MaiA juga disesuaikan dengan salah satu program utama Kementerian Pariwisata yakni Tourism 5.0 yang menekankan pentingnya adopsi digitalisasi untuk menyasar target pasar dengan lebih efektif.
Deputi Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini, dalam diskusi Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Ngoprek) yang digagas oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwaparekraf), Jumat (5/6/2026), di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Kementerian Pariwisata, Jakarta, menyebut pemanfaatan kecerdasan buatan sebagai keniscayaan dalam industri.
‘’Ini bukan sekedar ikut-ikutan tren. Ini fondasi dalam membangun pengalaman wisata yang lebih personal, efisien, dan berbasis data,’’ ujar Made.
MaiA dirancang untuk membantu wisatawan di setiap tahap perjalanan, mulai dari fase membayangkan (dreaming), merencanakan (planning), memesan (booking), merasakan pengalaman berwisata (experiencing), hingga berbagi pengalaman (sharing). Sebagai ekosistem, MaiA dapat digunakan oleh pelaku industri. Sementara bagi Kementerian Pariwisata, MaiA menjadi instrumen pengumpulan data perilaku wisatawan.
‘’Dalam tujuh bulan sejak peluncuran pada November 2025, kami bisa mengetahui bahwa ada sekitas 60 persen pengguna berasal dari pasar domestik dan 40 persen dari mancanegara, dengan dominasi wisatawan dari Tiongkok, Singapura, dan Jerman,’’ kata Made.
Data yang disajikan MaiA memberikan gambaran yang jauh lebih rinci dibanding metode survei konvensional. Dengan MaiA, pemerintah dapat memahami perilaku wisatawan terkini, termasuk preferensi destinasi, aktivitas, hingga preferensi pengalaman yang diinginkan wisatawan.
Algoritma dan perebutan perhatian wisatawan
Perubahan tidak hanya terjadi di level pemerintah, tetapi juga pada cara informasi bekerja di ruang digital. Menurut Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi Publik dan Media, Apni Jaya Putra, masyarakat kini hidup dalam ekosistem yang dikendalikan oleh big data dan algoritma.
Setiap aktivitas digital, mulai dari pencarian hingga interaksi media sosial, diproses untuk membentuk profil pengguna. ‘’Profil inilah yang kemudian menentukan konten apa yang muncul di layar mereka,’’ kata Apni dalam diskusi Ngoprek.
Dalam konteks pariwisata, kondisi ini membuat wisatawan tidak lagi sepenuhnya ‘’memilih’’ tetapi diarahkan oleh sistem rekomendasi yang dikuasai platform global seperti Google, Meta, dan TikTok.
‘’Mereka menentukan destinasi apa yang terlihat, paket wisata apa yang direkomendasikan, hingga narasi mana yang paling dominan di ruang digital,’’ lanjut Apni.
Karena itu, tantangan komunikasi pariwisata saat ini bukan hanya soal menciptakan konten yang menarik. Tantangan sesungguhnya adalah membangun kepercayaan di tengah banjir informasi.
Apni menyebut, ketika informasi tersedia dalam jumlah nyaris tak terbatas, publik tidak hanya mencari rekomendasi, tetapi juga sumber yang dapat dipercaya. Di sinilah manusia kembali menjadi faktor penentu. Kecerdasan buatan mampu mengumpulkan data, memproses informasi, dan menghasilkaan rekomendasi dengan kecepatan yang mustahil dilakukan manusia.
‘’Yang lebih penting adalah memastikan bahwa teknologi digunakan untuk memperkuat kepercayaan publik, bukan menggantikannya,’’ tegas Apni.
Narasi, bukan sekadar teknologi
Di tengah dominasi algoritma, Brand Strategist dan Founder Konner Advisory, Silih Agung Wasesa, menilai bahwa teknologi tidak akan pernah cukup tanpa narasi yang kuat.
Ia mencontohkan, keberhasilan Malaysia dalam wisata kesehatan yang berhasil menarik wisatawan Indonesia bukan karena promosi besar-besaran, melainkan karena mereka memahami kecemasan mendasar pasien, ketidakjelasan biaya dan pengalaman layanan.
‘’Kalau narasinya tidak dibangun, AI tidak akan ke mana-mana. Untuk itu, kekuatan narasi, terutama experience storytelling, sangat diperlukan untuk mengangkat citra destinasi di era AI,’’ tuturnya.
Dalam ekosistem marketing pemasaran digital, kekuatan narasi tersebut tidak lagi digaungkan melaluil google ads ataupun mega influencers. ‘’Justru sekarang yang paling efektif itu suara Pejuang Keadilan Sosial (SJW) dan nano influencers. Kenapa? Karena mereka dianggap relevan dengan kehidupan keseharian netizen,’’ kata Silih.
Dari sisi industri, teknologi AI juga mulai mengubah cara operasional hotel bekerja. COO ARTOTEL Group Eduard Rudolf Pangkerego menyebut industri kini tidak lagi hanya bersaing di ranah layanan, teteapi juga di ranah data dan algoritma.
Kecerdasan buatan memungkinkan hotel membaca perilaku tamu, memprediksi kebutuhan, hingga mengarahkan strategi pemasaran secara presisi. Namun, ia menegaskan bahwa hospitality tetap membutuhkan sentuhan manusia.
‘’Yang membedakan industri hospitality dan pariwisata dengan industri lainnya adalah rasa, pengalaman, dan sentuhan manusia. Jadi meskipun kita bisa mengoptimalisasi teknologi, tetap yang menentukan pengalaman dan rasa adalah manusia.’’
Karena itu, lanjut Eduard, masa depan pariwisata Indonesia tidak hanya bergantung pada seberapa canggih teknologi yang digunakan, tetapi pada seberapa kuat manusia mampu mengendalikan narasi di tengah dominasi mesin. Tanpa itu, teknologi kecerdasan buatan hanya akan menciptakan impresi tanpa pengalaman.
‘’Jangan lupa, manusia makhluk sosial dan untuk merebut perhatian mereka dibutuhkan kepercayaan yang dibangun berdasarkan pengalaman dan rasa. AI mempercepat distribusi informasi, algoritma menentukan apa yang terlihat, dan data membentuk pengalaman wisata. Namun pada akhirnya, semua itu hanya alat. Peran manusia di balik teknologi tersebut yang tidak dapat tergantikan dalam industri ini,’’ kata Eduard. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Perubahan tren perjalanan global memberikan peluang bagi Indonesia untuk meraih manfaat melalui berbagai strategi, seperti mendesain ulang paket wisata dan menyeimbangkan antara peluang dan tantangan. Dengan pendekatan ini, diharapkan investasi di sektor pariwisata dapat tetap menguntungkan dan berkelanjutan. Deputi Bidang Industri [more]
Tourism for Us – Pariwisata Indonesia berada dalam posisi yang sangat strategis, terutama dengan adanya tiga tren global yang berpotensi mengubah secara mendasar industri perjalanan. Ketiga tren ini menciptakan peluang besar bagi sektor pariwisata, yang dapat dimanfaatkan untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan inklusif. Dengan [more]
Tourism for Us – Pembelajaran di luar ruang merupakan kebutuhan dalam pendidikan anak yang tidak terlepas dari pembelajaran di dalam kelas. Menanggapi polemik ‘’study tour’’ akhir-akhir ini, pemerintah, pendidik, dan pelaku pariwisata sepakat bahwa kegiatan study tour sebagai bentuk pembelajaran luar ruang perlu diatur dan distandardisasi. Hal ini penting agar tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai dengan efektif.
(Foto: Forwaparekraf)
Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi (Forwaparekraf) menggelar acara Ngoprek (Ngobrolin Pariwisata dan Ekonomi Kreatif) edisi perdana di Balairung Soesilo Soedarman, Kementerian Pariwisata, Jakarta, Rabu (14/5/2025). Tema yang diangkat adalah “Dilarang atau Diatur? Mencari Titik Temu Antara Study Tour dan Masa Depan Pariwisata”.
Diskusi ini menghadirkan narasumber dari berbagai bidang, yaitu Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Rizki Handayani Mustafa, Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriawan Salim, Managing Director Adonta Education Donny D., Direktur Utama Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Intan Ayu Kartika, penggerak Desa Wisata Nglanggeran Sugeng Handoko, dan Herdi Herdiansyah, Kasubag Umum dan Kepegawaian Dinas Pendidikan Provinsi Banten.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa dalam sambutannya menegaskan bahwa fokus utama pemerintah bukan pada larangan, tetapi pada upaya menciptakan pedoman yang menjamin keselamatan dan kebermanfaatan wisata edukasi.
“Bukan soal menghasilkan angka pariwisata, tapi bagaimana kegiatan ini memberi manfaat nyata bagi adik-adik kita. Kita ingin solusi jangka panjang, bukan sekadar memadamkan polemik sesaat,” ujar Ni Luh.
Menurutnya, Kemenpar tengah berproses menyusun pedoman wisata edukasi yang berfokus pada keamanan siswa, kesiapan destinasi, dan nilai pembelajaran.
“Wisata edukasi perlu dirancang dengan hati-hati, tapi jangan sampai anak-anak kehilangan kesempatan belajar langsung dari lingkungan,” katanya.
Selama diskusi berlangsung, narasumber dan peserta berbagi pandangan dan solusi terkait kekhawatiran orang tua, keamanan, serta berbagi best practices yang sudah dilakukan oleh beberapa pelaku operator perjalanan edukasi dan manfaat edukatif dalam setiap perjalanan study tour.
Dalam paparannya, Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar Rizki Handayani mengakui bahwa selama ini belum ada pedoman nasional yang secara khusus mengatur penyelenggaraan wisata edukatif. Ia menyambut baik perhatian berbagai pemerintah daerah (pemda) yang mendorong penataan ulang.
“Ini bisa jadi blessing in disguise. Diskusi seperti ini penting agar kita tidak terjebak pada pelarangan, tapi membahas model penyelenggaraan yang bertanggung jawab,” ujar Rizki.
Sementara itu, Kasubag Umum dan Kepegawaian Dinas Pendidikan Provinsi Banten Herdi Herdiansyah menyampaikan bahwa Dinas Pendidikan Provinsi Banten menerima banyak aduan terkait study tour, terutama dari sisi beban biaya dan keamanan. “Karena itu kami tidak melarang, tapi mengimbau kegiatan dilakukan di dalam provinsi. Banyak destinasi lokal yang cocok untuk tujuan edukasi,” kata Herdi.
Dari sisi pendidik, Satriawan Salim, Koordinator Nasional P2G, menyoroti pentingnya membedakan antara “study” dan “tour”. Ia menyatakan bahwa pelarangan total justru bisa menghilangkan potensi pembelajaran yang kontekstual.
“Yang harus dihindari adalah tour tanpa study. Kita butuh standardisasi—dari proporsi pembimbing, keamanan, sampai substansi edukasinya,” katanya.
Hal senada disampaikan oleh Direktur Utama TMII Intan Ayu Kartika. Ia melihat perlunya regulasi dan standar nasional untuk memastikan study tour berjalan aman dan bermakna.
“Anak-anak perlu ruang belajar di luar kelas untuk membentuk karakter. Tapi, tentu harus ada aturan yang mengatur jumlah pendamping, kurasi materi, hingga transportasi,” jelasnya.
TMII sendiri selama ini menjadi salah satu tujuan utama wisata edukatif di Indonesia. Intan menegaskan pentingnya memperkenalkan kebudayaan dan keragaman sejak usia dini.
“Daripada terlalu jauh, TMII menawarkan pengalaman belajar budaya Indonesia yang kaya. Di sinilah anak-anak bisa mengenal akar keindonesiaan mereka,” tambahnya.
Dari pelaku industri, Donny D. dari Adonta Education menyampaikan perlunya pemisahan antara biro perjalanan umum dengan operator khusus edutrip.
“Travel agent biasa akan mengoptimalkan waktu untuk kunjungan, sementara edutrip butuh pendekatan berbeda—dari aspek keamanan, compliance, sampai nilai akademik. Negara seperti Australia dan Jepang sudah punya sistem ini,” tuturnya.
Sugeng Handoko, tokoh Desa Wisata dari Nglanggeran, Yogyakarta, turut menyoroti dampak positif study tour terhadap pembentukan karakter siswa. Ia mencontohkan pengalaman siswa yang belajar langsung dari alam dan masyarakat lokal di desanya.
“Ada anak yang berubah jadi lebih menghargai makanan setelah melihat sendiri bagaimana menanam dan memasak di desa. Ini nilai yang tidak bisa didapat dari buku pelajaran,” katanya.
Forum ini memperlihatkan bahwa semua pihak—dari pemerintah, pelaku industri, hingga masyarakat—memiliki peran vital dalam menciptakan format study tour yang aman, inklusif, dan bermakna. Baik narasumber maupun peserta sepakat bahwa kolaborasi antarsektor—pemerintah, sektor pariwisata, dan dunia pendidikan—adalah kunci untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan potensi wisata edukasi secara maksimal. Pelarangan bukanlah solusi, melainkan regulasi yang adil dan kolaborasi lintas sektor yang diperlukan.
Diskusi Ngoprek edisi perdana menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam merumuskan kebijakan yang tidak hanya melindungi siswa, tetapi juga mendorong terciptanya ekosistem wisata edukatif yang sehat, aman, dan berdampak positif.
Di akhir diskusi berhasil menemukan titik temu penting dalam polemik terkait pelaksanaan study tour bahwa penyusunan regulasi yang adil dan pendekatan kolaboratif untuk menciptakan pelaksanaan study tour yang lebih terorganisir dan berdampak positif menjadi penting.
Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenpar menambahkan bahwa pemerintah akan mempersiapkan peraturan menteri atau SK bersama dengan kementerian terkait untuk mengatur perihal study tour.
Ngoprek akan diadakan secara rutin setiap bulan sebagai ruang dialog terbuka antara pemangku kepentingan di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Dengan semangat partisipatif, kolaborasi antar berbagai pihak sangat diharapkan untuk mendukung masa depan industri yang lebih sehat, relevan, dan berkelanjutan.
Penyelenggaraan Ngoprek edisi perdana ini berhasil terlaksana berkat dukungan dari Kementerian Pariwisata, Adonta Education, ARTOTEL Group, HABITARE Rasuna Jakarta, serta Aston Kemayoran City Hotel sebagai mitra tempat. Kehadiran mereka menunjukkan komitmen bersama dalam mendorong praktik pariwisata edukatif yang bertanggung jawab. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Sekitar 40 persen pelaku usaha perjalanan Indonesia sudah mengadopsi penggunaan AI sebagai solusi digital. Para pelaku usaha perjalanan yang menggunakan AI mengatakan teknologi digital membantu kinerja operasional perusahaan. Selain itu, penggunaan teknologi juga membantu memahami profil pelanggan. Perusahaan dapat merencanakan target [more]
Tourism for Us – Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia sebagai destinasi belum mengalami overtourism. Karena kunjungan wisatawan belum tersebar merata ke seluruh pulau. Tetapi benar, di destinasi-destinasi pariwisata tertentu, terutama di destinasi-destinasi primadona, sudah mengalami gejala-gejala dan/atau memasuki overtourism. Dan destinasi-destinasi pariwisata baru yang [more]
Tourism for Us – Pariwisata Indonesia beserta industrinya akan menghadapi tiga issue besar pada tahun 2025 yaitu beberapa destinasi favorit sudah menghadapi gejala-gejala overtourism, tantangan untuk menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan (sustainability) dalam membangun destinasi wisata dan mengembangkan bisnis, serta kegamangan pelaku industri pariwisata menghadapi disrupsi artificial intelligent (AI) dan generative artificial intelligent (GenAI).
(Foto: Forwaparekraf)
Ketiga issue tersebut menjadi topik utama yang diperbincangkan dalam Indonesia Tourism Outlook 2025 (ITO) yang digelar oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Fowaparekraf), Kamis (10/10/2024), di Hotel Aston Kemayoran, Jakarta.
Pada kegiatan yang berlangsung sehari itu menampilkan narasumber Direktur Kajian Strategis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) Agustini Rahayu, Guru Besar Fakultas Pariwisata Universitas Udayana Bali I Nyoman Sunarta, SVP Marketing Taman Safari Indonesia Alexander Zulkarnain, Direktur Pembangunan dan Pegembangan Usaha Pusat Pengelolaan Kompleks Gelora Bung Karno Mokhamad Rofik Anwar, Direktur Strategi dan Pengembangan Teknologi InJourney Airport Ferry Kusnowo dan CMO dan Co-Founder Feedlop AI Muhammad Ajie Santika.
Dalam keynote speech sekaligus sambutan yang dilaksanakan secara daring, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengapresiasi kegiatan ITO 2025 yang diselenggarakan oleh Forwaparekraf. Tema Blue, Green and Circular Economy (BGCE) dan AI yang diangkat sesuai dengan kondisi pariwisata saat ini.
Menparekraf mengatakan, konsep ekonomi berkelanjutan yang mencakup Blue, Green and Circular Economy (BGCE) menjadi semakin relevan. Selain itu, tidak ada kata ‘’Tidak’’ untuk mengadopsi teknologi AI sebagai salah satu transformasi digital.
Selanjutnya, Menparekraf mendorong seluruh unsur pentahelix yakni pemerintah, pelaku bisnis, akademisi, komunitas dan media untuk berkolaborasi mengembangkan pariwisata berkulitas dan berkelanjutan.
‘’Integrasi konsep BGCE dengan teknologi AI dalam rangka mewujudkan pariwisata yang ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan sudah selayaknya dilakukan sejak dini,’’ ujar Menparekraf.
Menparekraf juga menyampaikan performa kinerja pariwisata Indonesia. Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), salah satu indikator penilaian pariwisata secara internasional, menunjukkan peningkatan positif. Begitu pun dengan pergerakan perjalanan wisatawan Nusantara (wisnus) yang terus membaik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Menurutnya, tren peningkatan tersebut akan terus terjadi. Kebutuhan akan pariwisata berkelanjutan merupakan masa depan di sektor pariwisata. Dan transformasi digital yang sedang berlangsung secara global harus diadopsi oleh para pelaku pariwisata di Tanah Air.
Ketua Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Pasha Yudha Ernowo dalam sambutannya berharap, diskusi di ITO 2025 dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang konkret serta membangun sinergi antara pemerintah, sektor swasta dan masyarakat.
‘’Mari kita bersama-sama menjadikan Indonesia sebagai pemimpin dalam pariwisata berkelanjutan dengan dukungan inovasi teknologi dan praktik ekonomi yang berkelanjutan,’’ kata Pasha.
Agustini Rahayu, Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf, menjelaskan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 ditetapkan, pembangunan pariwisata berkualitas dilakukan sesuai preferensi pasar yang berkembang ke arah pariwisata berkelanjutan dan regeneratif.
‘’Itu dengan perluasan pariwisata yang fokus pada BGCE. Termasuk pembangunan infrastruktur hijau untuk infrastruktur dasar dan pendukung pariwisata hingga peningkatan sumber daya manusia (SDM),’’ jelas Ayu.
Dalam kajiannya Kemenparekraf menemukan, regulasi yang mendukung untuk mencapai BGCE baru mencapai 36,82%. Kemudian, edukasi BGCE kepada masyarakat juga baru mencapai 18,42%. Dan pelaku industri pariwisata pun belum konsisten menerapkan BGCE pada bisnisnya.
Merujuk pada paparan Direktur Kajian Strategis Kemenparekraf di ITO 2025, pemerintah menargetkan sektor pariwisata berkontribusi 8% terhadap PDB dan menghasilkan devisa 100 miliar USD pada tahun 2045.
I Nyoman Sunarta, Guru Besar Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali, mengungkapkan pernyataan ‘menggigit’ bahwa pariwisata berkualitas dimulai dari warga lokal di destinasi. Baru kemudian wisatawan yang datang berkualitas dan destinasi wisatanya pun harus berkualitas.
‘’Pariwisata berkualitas bukan hanya tentang wisatawan yang datang membawa uang banyak ke destinasi,’’ kata Nyoman Sunarta.
Dia pun mengingatkan, pembangunan pariwisata di Bali tidak bisa disamakan dengan destinasi lain yang baru mengalami euforia didatangi wisatawan. Bila Bali dikatakan agar membatasi jumlah wisatawan yang datang maka tidak serta merta semua destinasi di luar Bali juga harus membatasi jumlah wisatawan yang datang.
Bali sebagai destinasi wisata primadona dan andalan terdepan dalam menarik kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sudah memasuki tahap regeneratif. Karena alamnya sudah terdegredasi. Perubahan sosial dalan kehidupan sehari-hari warganya dikhawatirkan akan berdampak pada keberlanjutan budaya bali. Dan itu mengancam eksistensi pariwisata Pulau Dewata yang berbasis pada budaya.
‘’Dulu yang datang ke Bali adalah para seniman. Sekarang saya ingin yang datang ke Bali ialah para peneliti (researcher),’’ tuturnya.
Narasumber yang hadir di ITO 2025 sepakat, kehadiran teknologi AI/GenAI tidak akan mengambil alih peran manusia khususnya di industri perjalanan dan pariwisata. Taman Safari Indonesia dan Angkasa Pura Airport mengakui, AI berperan dalam menjalankan operasional perusahaan secara lebih efisien. Dengan AI mereka dapat menganalisa profil pelanggan dari data yang besar sehingga perusahaan dapat mengambil kebijakan yang lebih akurat dan menetapkan target yang lebih tepat sasaran.
CMO dan Co-Founder Feedlop AI Muhammad Ajie Santika menerangkan, penggunaan AI/Gen-AI dapat mengoptimalkan layanan pelanggan sampai 40%, meningkatkan efisiensi operasional 30% dan meningkatkan kemampuan pengelolaan sebesar 30%.
Ajie mengatakan, teknologi AI/GenAI ‘’dilatih’’ dengan jutaan hingga miliaran data yang diinjeksikan oleh manusia. Kecerdasan buatan ini juga harus dikontrol oleh manusia. Oleh karena itu dia meyakinkan para pelaku industri perjalanan dan pariwisata tidak perlu khawatir peran manusia akan tergantikan oleh teknologi.
Penyelenggaraan ITO 2025 didukung penuh Biro Komunikasi Kemenparekraf/Baparekraf, Telkomsel, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Indofood, Kokola, MEG Cheese, Cap Panda, Y.O.U, dan Swissbel Hotel and Resorts. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif ke depan di Indonesia, khususnya dalam bidang investasi, harus memperhatikan isu-isu keberlanjutan lingkungan dalam konsep investasi hijau sebagai kunci sukses utama. Indonesia dengan berbagai potensi sumber daya alam dan keragaman budaya memiliki potensi yang tinggi [more]