40 PERSEN PELAKU USAHA PERJALANAN INDONESIA SUDAH ADOPSI AI UNTUK SOLUSI DIGITAL
Tourism for Us – Sekitar 40 persen pelaku usaha perjalanan Indonesia sudah mengadopsi penggunaan AI sebagai solusi digital. Para pelaku usaha perjalanan yang menggunakan AI mengatakan teknologi digital membantu kinerja operasional perusahaan. Selain itu, penggunaan teknologi juga membantu memahami profil pelanggan. Perusahaan dapat merencanakan target yang lebih tepat sasaran dan meningkatkan layananan pelanggan.
(Foto: Forwaparekraf)
CMO dan Co-founder Feedloop AI Muhammad Ajie Santika mengatakan, 30 persen pelaku usaha wisata sudah membuktikan bahwa teknologi digital masa kini dan masa depan, salah satunya Artificial Intelligence (AI),membantu pemulihan operasional pascapandemi COVID-19.
Dalam paparan Ajie menunjukkan, penggunaan teknologi digital AI dan/ataupun Generative Artificial Intelligence (GenAI) mampu meningkatkan optimalisasi layanan hingga 40 persen, efisiensi operasional hingga 30 persen, dan pengelolaan usaha meningkat 30 persen.
“Pemerintah saat ini terus mendorongnya dengan harapan mudah-mudahan di 2025 mendatang sudah tercapai 60 persen pelaku usaha yang mengadopsi teknologi digital,” ujar Muhammad Ajie Santika saat menjadi narasumber Sesi II Indonesia Tourism Oulook (ITO) 2025 yang digelar oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Forwarparekraf) di Hotel Aston Kemayoran, Jakarta, Kamis (10/10/2024).
Tetapi, regulasi mengenai penggunaan AI belum ada di Indonesia. Ajie mengatakan, regulasinya masih dibahas oleh pemerintah bersama para pemangku kepentingan terkait. Di sisi lain pada saat bersamaan, pemerintah mendorong para pelaku usaha perjalanan segera mengadopsi teknologi AI.
“Jika sudah ada regulasi itu, saya yakin pariwisata kita bisa berkembang lebih cepat. Tapi sekali lagi, tantangannya di Indonesia tidak mudah. Di antaranya, kesenjangan integrasi teknologi hingga ketidakcocokan budaya dan layanan AI itu,” tambah Ajie.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Strategi dan Pengembangan Teknologi Injourney Airport Ferry Kusnowo, yang diwakili oleh Technology and Digitalization Group Head PT Angkasa Pura Indonesia (API)Wahyu Chayadi mengungkapkan, selaku pengelola bandara-bandara di Indonesia API sudah mulai mengadopsi AI. Pengguanaan AI guna memaksimalkan pelayanan dan pengalaman penumpang pesawat hingga pelaku usaha di bandara.
“Adopsi teknologi digital bagi kami adalah sebuah keniscayaan karena semua operasional bandara harus terintegrasi. Ini agar konektivitas penerbangan terjalin. Jika tidak maka akan kacau,” kata Wahyu.
Apalagi, saat ini sudah tidak ada Angkasa Pura I dan Angkasa Pura II namun digabung menjadi Angkasa Pura Indonesia. Maka integrasi sistem lewat teknologi, salah satunya AI, seperti menjadi kewajiban. Pengelola bandara juga harus memenuhi tuntutan pengguna jasa layanan penerbangan yang semakin butuh efisiensi dan kecepatan.
“AI tidak hanya mempermudah petugas dan bandara, namun juga memudahkan penumpang. Kami punya CCTV Analytics yang mempermudah petugas melihat kepadatan di beberapa titik. Termasuk untuk mendeteksi ancaman bahaya di bandara dengan mengenali beberapa gerak mencurigakan yang berpotensi membahayakan,” tutur Wahyu.
Diungkapkannya lebih lanjut, saat ini Bandara Soekarno Hatta tengah melakukan uji coba autogate di Terminal 3 yang mengadopsi AI. AI itu akan memudahkan wisatawan dan pengguna jasa bandara lainnya untuk check-in lebih cepat. Penumpang tidak perlu lagi menunjukkan dokumen fisik KTP atau boarding pass dan bertatap muka saat check-in.
“Jadi cukup dengan menunjukkan wajah ke mesin nanti datamu akan disesuaikan hingga gate terbuka. Dengan teknologi itu kita tak hanya mempercepat, namun juga mengurangi penggunaan kertas dan dokumen cetak. Jadi efisiensi bukan hanya bagi pengguna jasa tapi bagi perusahaan juga,” tambah Wahyu.
Selain memanfaatkan CCTV Analytics dan biometrik, Angkasa Pura Tengah mengembangkan aplikasi ‘Traveling: Injourney Airport’. Aplikasi yang memanfaatkan AI itu akan memberikan kemudahan bagi wisatawan mencari informasi seperti rekomendasi perjalanan hingga informasi akurat seputar penerbangan dan bandara.
“Bicara soal kecanggihan biometrik, salah satu bandara yang paling canggih dalam memanfaatkan AI adalah Korea Selatan.Teknologi Korea Selatan terkait biometrik merupakan yang terbaik di dunia. Mulai dari CCTV hingga gate-nya. Kita semua tahu, warga Korea suka operasi plastik dan satu orang bisa beberapa kali melakukan operasi. Nah, untuk mengidentifikasi perubahan itu butuh teknologi canggih yang menunjukkan dia adalah orang yang sama,” katanya.
Selain Korea Selatan, Tiongkok juga memiliki teknologi serupa yang canggih. Karena itu, Indonesia terus belajar dan bekerja sama dengan produsen-produsen teknologi masa kini. Yangmana teknologi itu bisa diadopsi di Indonesia untuk mendukung pariwisata nasional.
Output utama pariwisata adalah memberikan pengalaman berkesan dari satu komunitas kepada komunitas-komunitas lain. Apalagi Indonesia yang mengandalkan wisata budaya di mana interaksi manusia (human touch) memegang peranan penting. Disrupsi teknologi digital dalam industri pariwisata dikhawatirkan akan mengurangi nilai pengalaman wisatawan dan menggantikan peran manusia sebagai pemberi layanan humanis.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Ajie mengungkapkan, AI/GenAI dilatih dengan menginjeksikan milayaran data. Contoh Gemini dan chatGPT. Menurutnya, peran manusia dalam pariwisata tidak akan tergantikan.
Wahyu pun ikut menambahkan, rencana implementasi penggunaan teknologi seperti face recognition di bandara juga menyiapkan layanan manual.
‘’Wayout secara manual tetap disediakan,’’ pungkas Wahyu.
Teknologi face recognition menurut rencana akan diterapkan di bandara-bandara besar yang ramai dan banyak antrian. Sedangkan waktunya belum bisa dipastikan karena API masih menunggu legalitasnya. Secara umum, perusahaan sudah menggunakan AI untuk keperluan internal.
Biaya set up AI/GenAI di perusahaan mulai dari develop hingga live antara Rp 20 juta-100 juta. Biaya per bulannya sekitar Rp 20 juta. Biaya ini sudah termasuk analisis data dan internal dokumen berkapasitas besar.
Menurut Ajie, perusahaan juga bisa memasang AI/GenAI mulai dari Rp 300 ribu -500 ribu dengan layanan yang lebih terbatas. Ini bisa digunakan untuk keperluan internal perusahaan saja.
Dan waktu yag dibutuhan untuk memasang AI/GenAI mulai dari 7 hari hingga 2-3 bulan tergantung besaran data yang akan diinjeksikan dan dilatih. ***(Yun Damayanti)

