Tourism for Us – ITB Asia 2024 memecahkan rekor kunjungan bisnis pada penyelenggaraan tahun ini. Pameran dagang perjalanan terkemuka di Asia itu sudah berlangsung pada 23-25 Oktober 2024 di Sands Expo and Convention Centre, Marina Bay Sands, Singapura. Selama tiga hari pameran berlangsung berhasil menyelenggarakan [more]
Tourism for Us – Sekitar 40 persen pelaku usaha perjalanan Indonesia sudah mengadopsi penggunaan AI sebagai solusi digital. Para pelaku usaha perjalanan yang menggunakan AI mengatakan teknologi digital membantu kinerja operasional perusahaan. Selain itu, penggunaan teknologi juga membantu memahami profil pelanggan. Perusahaan dapat merencanakan target [more]
Tourism for Us – The World Luxury Awards, puncak penghargaan bagi industri perhotelan mewah global, sukses menyelenggarakan dua acara gala besar minggu lalu. AYANA Bali yang ikonik dan Galgorm, Irlandia Utara yang glamor menjadi latar belakang bergengsi untuk penganugerahan penghargaan ini. Masing-masing Gala diselenggarakan pada tanggal 16 dan 19 Oktober 2024.
(Foto: www.theworldluxurytravelawards.com)
Pada tanggal 16 Oktober 2024, AYANA Bali menyambut tamu-tamu terhormat dari seluruh dunia untuk malam yang tak terlupakan dengan keanggunan tropis. Suasana tepi pantai yang mewah memberikan suasana sempurna untuk memberikan pengakuan kepada tempat-tempat mewah terbaik. Para hadirin disuguhi pertunjukan budaya Bali yang spektakuler, termasuk tarian tradisional, kuliner lezat yang menampilkan hidangan lokal, dan semuanya dalam suasana cahaya dan kemewahan yang mempesona.
Hanya tiga hari berselang, acara penyerahan penghargaan dipindahkan ke Galgorm yang mempesona di Ballymena, Irlandia Utara. Pada tanggal 19 Oktober 2024, kawasan yang luas tersebut, yang terkenal dengan tamannya yang rimbun dan interiornya yang mewah, menjadi tuan rumah bagi malam perayaan yang mewah. Acara gala tersebut mengusung warisan budaya Irlandia Utara yang kaya, dengan pertunjukan musik langsung, jamuan makan gourmet, dan acara perpisahan khas Irlandia di McKendry’s Bar setelah acara penutupan.
Upacara di Galgorm untuk menghormati pencapaian luar biasa dalam perjalanan mewah, santapan lezat, pengalaman kesehatan yang dipesan lebih dahulu, dan yang terbaik di sektor perjalanan mewah. Para tamu terhormat berkumpul untuk merayakan pencapaian tersebut, berbicara di depan kamera, dan berjejaring dengan rekan-rekan mereka.
Pemenang dalam berbagai kategori mulai dari hotel mewah dan tempat peristirahatan kesehatan hingga restoran berbintang Michelin dan fasilitas perjalanan premium diumumkan di tengah tepuk tangan. Malam itu merupakan penghargaan bagi inovasi, keunggulan, dan pengejaran kesempurnaan tanpa henti di sektor perhotelan mewah.
Kedua malam gala tersebut menggarisbawahi komitmen World Luxury Awards untuk mengakui dan menghargai keunggulan dalam industri perjalanan mewah. Acara tersebut menyediakan platform bagi para pemimpin industri untuk memamerkan prestasi mereka, berbagi cerita, dan menginspirasi orang lain.
“Kami sangat senang telah menyelenggarakan perayaan yang luar biasa seperti itu di AYANA Bali dan Galgorm,” kata Anton Perold, Direktur Pelaksana World Luxury Awards.
“Acara ini merupakan bukti dedikasi dan semangat dari perusahaan-perusahaan mewah yang terus menetapkan standar baru keunggulan. Kami menyampaikan ucapan selamat yang tulus kepada semua pemenang dan peserta,’’ tambahnya.
Berikut daftar pemenang penghargaan tertinggi The World Luxury Awards 2024:
Global Travel Establishment of the Year – The Red Sea, Saudi Saudi
Restaurant of the Year – JAAN by Kirk Westaway, Singapura
Global Spa of the Year – The Spa at Carden, Inggris Raya
Global Hotel of the Year – The Ritz Hotel, London
Tahun ini juga menandakan untuk pertama kalinya penghargaan Hospitality Excellence diberikan. Penghargaan ini diberikan kepada mereka yang tak tergoyahkan terhadap keunggulan layanan perhotelan di seluruh bidang, dinominasikan untuk berpartisipasi dengan hotel, spa, dan restoran mereka. Dan penghargaan itu diberikan kepada Viceroy Bali, Akoya Spa, dan Apéritif Restaurant.
Chairman Award 2024 dengan bangga diberikan kepada Kebun Binatang Australia ang dipilih langsung oleh CEO World Luxury Awards. Penghargaan diberikan atas kontribusi besar mereka terhadap pendidikan kaum muda dunia, zoologi, dan rasa kasih sayang terhadap hewan di fasilitas wisata kelas dunia ini.
Selain Ayana Bali yang menjadi tuan rumah bersama penyerahan penghargaan dan Viceroy Bali yang menerima penghargaan Hospitality Excellence 2024, di dalam daftar pemenang penghargaan The World Luxury Awards 2024 juga terdapat lima perusahaan operator perjalanan Indonesia di kategori Global dan Negara.
Berikut perusahaan-perusahaan dari Indonesia yang masuk dalam daftar pemenang penghargaan The World Luxury Awards 2024:
Global region
Bunaken Oasis Dive Resort, Dive Destination
come2indonesia, Adventure Tour Company
Pacific High, Yacht Charters
Country region, Indonesia
Madyan Cruises, Adventure Cruises
PinkAlien Food Tours
Norberto Rodriguez Sanchez, Co-founder come2indonesia mengatakan,memenangkan penghargaan The World Luxury Awards 2024 di kategori Global untuk Perusahaan Tur Petualangan merupakan kehormatan besar.
‘’Penghargaan ini akan membantu menunjukkan kerja dan hasrat kami untuk menciptakan pengalaman perjalanan yang luar biasa. Penghargaan ini menyoroti upaya kami untuk menawarkan petualangan yang berkelanjutan dan budaya yang kaya di Indonesia,’’ ujar Norberto.
Penghargaan ini juga memotivasi seluruh tim come2indonesia untuk terus meningkatkan dan memperluas layanannya di seluruh pulau di Indonesia.
‘’Yang terpenting, penghargaan ini membuktikan bahwa tujuan kami untuk menghubungkan wisatawan dengan keindahan dan budaya Indonesia dihargai di sekitar para wisatawan kami sebelumnya,’’ tambahnya.
Penghargaan The World Luxury Awards juga menyoroti Indonesia sebagai destinasi wisata yang penting. Penghargaan ini menunjukkan betapa besar potensi industri pariwisata negara ini, terutama bagi operator tur dan agen perjalanan yang membantu wisatawan menemukan pengalaman autentik.
‘’Bagi industri pariwisata Indonesia, kemenangan ini mendorong pihak lain untuk meraih tujuan yang lebih tinggi dan menawarkan layanan perjalanan yang lebih baik. Penghargaan ini juga membantu mempromosikan Indonesia di panggung dunia, mendatangkan lebih banyak pengunjung untuk menjelajahi lansekap, budaya, dan petualangannya yang menakjubkan. Selain itu, penghargaan ini menyoroti bagaimana pariwisata yang bertanggung jawab dapat memberi manfaat bagi ekonomi dan masyarakat setempat,’’ tutur Norberto.
Dia juga optimis penghargaan ini akan membantu come2indonesia dalam membangun kepercayaan lebih antara calon prospek dan prospek potensial serta menciptakan peluang lebih baik untuk membuat prospek tersebut menjadi pemesanan nyata.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Pemerintah Indonesia memberikan fasilitas bebas visa kunjungan (BVK) bagi Permanent Resident (PR) di Singapura. Fasilitasi perjalanan itu guna menarik minat warga negara asing di sana mau berkunjung ke Kepulauan Riau (Kepri). Kebijakan baru tersebut diharapkan dapat meningkatkan kunjungan weekenders ke Batam, [more]
Tourism for Us – Widiyanti Putri Wardhana resmi mengemban tugas sebagai Menteri Pariwisata (Menpar) Republik Indonesia periode 2024-2029. Widiyanti merupakan Menteri Pariwisata perempuan kedua setelah Mari Elka Pangestu dan salah seorang menteri perempuan dalam Kabinet Merah Putih. Dalam sambutannya pada serah terima jabatan, Senin (21/10/2024), [more]
Tourism for Us – Dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia sebagai destinasi belum mengalami overtourism. Karena kunjungan wisatawan belum tersebar merata ke seluruh pulau. Tetapi benar, di destinasi-destinasi pariwisata tertentu, terutama di destinasi-destinasi primadona, sudah mengalami gejala-gejala dan/atau memasuki overtourism. Dan destinasi-destinasi pariwisata baru yang berkembang bukan tidak mungkin bisa jatuh ke dalam overtourism bila tidak dikelola dengan baik.
Prof. Dr. Drs. I Nyoman Sunarta, M.Si., Guru Besar Bidang Ilmu Pariwisata Berbasis Lingkungan di Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali. (Foto; Yun Damayanti)
Apa sebenarnya overtourism dan bagaimana destinasi-destinasi baru bisa terhindar dari overtourism, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Sunarta, M.Si., Guru Besar Bidang Ilmu Pariwisata Berbasis Lingkungan di Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali, menerangkannya begini:
Ada tiga variabel penilaian apakah suatu destinasi sudah mengalami overtourism. Bila salah satu dari tiga variabel merasa tidak nyaman itu mengindikasikan destinasi tersebut sudah mengalami overtourism.
Variabel paling sepele dan kasat mata adalah antara warga lokal (warlok atau host) dan wisatawannya (guest) baik asing maupun domestik, salah satu di antara mereka, sudah tidak merasa nyaman lagi.
‘’Pertama, kalau orang lokalnya sudah tidak nyaman dan membenci turis berarti sudah over. Kedua, bila wisatawannya merasa tidak mendapatkan ekspetasi perjalanannya di destinasi juga artinya sudah over. Pasti ada yang keliru di destinasi,’’ ujar Sunarta.
Variabel ketiga bisa dilihat dari fisik destinasi seperti terjadi kemacetan di mana-mana, suhu udara semakin panas, dan sumber daya alam semakin menurun baik kuantitas maupun kualitasnya.
Regenerative Tourism untuk Bali
Sunarta menegaskan, jangan membandingkan Bali dengan destinasi-destinasi lain di Indonesia. Posisi setiap destinasi berbeda-beda. Maka dari itu kebutuhan penerapan sustainable dan regenerativetourism tidak akan sama antara destinasi yang satu dengan yang lain.
‘’Untuk menerapkan yang mana paling pas di Bali, kita harus melihat pada kenyataan dan fakta-fakta yang ada. Di sini, menurut saya, sustainable tourism tidak pas. Di destinasi Bali yang sekarang jangan sekali-kali membicarakan masalah kuantitatif lagi,’’ katanya.
Tetapi, di destinasi-destinasi lain yang baru mulai didatangi wisatawan tidak harus membatasi jumlah kunjungan. Itu akan menghambat pariwisata di situ. Meskipun demikian, para pemangku kepentingan harus peduli terhadap daya dukung destinasi.
Dia menjelaskan, Waterloo sudah melakukan penelitian tentang sustainable tourism di Bali sejak 1994. Dalam proyek penelitian bertajuk Bali Sustainable Development Project, Waterloo mendapati Pulau Dewata sudah mulai mengalami krisis air.
Pada tahun 2009, Sunarta melakukan penelitian di sembilan kabupaten dan kota di Bali. Waktu itu hasilnya, lima dari sembilan kota/kabupaten masih memiliki sumber air tanah yang cukup.
Penelitian yang sama dilakukannya lagi pada 2013. Hasilnya menunjukkan hanya Kabupaten Bangli yang masih memiliki surplus persediaan air tanah. Persediaan sumber air tanah di kota/kabupaten lain telah menyusut.
Sunarta juga mengungkapkan, Danau Buyan, Tamblingan, Batur dan Beratan semua mengalami sedimentasi tinggi. Volume air di keempat danau yang ada di Bali sudah berkurang.
‘’Bisa dibayangkan. Itu sumber air kita. Kalau sumber-sumber itu berkurang berarti air tanahnya berkurang,’’ katanya.
Ada wacana Bali tidak mungkin sampai kekurangan air tawar bersih. Teknologi penyulingan air laut dapat menjawab kebutuhan air bersih warlok dan pariwisata. Namun pertanyaan berikutnya yang muncul adalah akankah hal itu mampu menopang keberlanjutan daya dukung alam dan lingkungan pulau untuk kehidupan masyarakat dan wisatawan?
Kemudian dia mengungkapkan hasil riset lain yang dilakukannya pada 2023. Risetnya tahun lalu terkait emisi karbon. Hasilnya menunjukkan, di pusat-pusat pariwisata di Bali emisi karbonnya sudah tinggi. Bahkan di daerah yang tidak didatangi wisatawan seperti Desa Culik di timur laut pulau emisi karbonnya cukup tinggi.
Suhu di ibukota provinsi Denpasar rata-rata 34 derajat Celcius sekarang. Itu mengindikasikan kota ini harus membangun danau dan hutan kota di sekitarnya.
Dari penelitian-penelitiannya menunjukkan, daerah-daerah yang paling pesat perkembangan pariwisatanya berada di kantong-kantong sumber daya alam Pulau Bali. Karena di situ topografi dan alamnya nan indah.
‘’Kita harus mengetahui peta destinasi pada waktu ingin mengembangkan pariwisata. Ada di mana dia. Kami di akademik mempelajari teori Life Cycle Tourism. Itulah mengapa, menurut saya, sustainability sudah harus diperhatikan semenjak kita membangun destinasi,’’ terang Sunarta.
Dengan kondisi eksisting alam Bali sekarang, prinsip kehati-hatian merupakan salah satu kunci utama dalam upaya memperbaiki lingkungan dan masyarakat lokal.
Dia mencontohkan, misal di Desa Culik tadi ingin dikembangkan pariwisata. Maka desa itu tidak bisa langsung diinjeksi dengan hal-hal yang sama yang ada di Kuta dan Canggu.
‘’Kalau dia mau bertahan, apa dia punya keberanian menjual yang dia punya, bukan apa yang wisatawan mau?,’’ lanjutnya.
Dalam membangun destinasi pariwisata, mulai dari skala provinsi hingga desa, pemerintah daerah selaku regulator harus tegas menjalankan kebijakan tata ruang dan tata wilayahnya. Regulator harus mampu mengatur di mana boleh berbuat atau melakukan apa.
Dari situ bisa diidentifikasi daya dukung (carrying capacity) suatu wilayah dalam mengakomodasi warlok dan kegiatan wisata. Dan pelaku industri pariwisata dan investor juga punya acuan yang jelas untuk mengembangkan infrastruktur dan produk.
Sunarta mendorong daerah-daerah mengembangkan potensi yang tidak dimiliki daerah lain. Dalam hal ini diperlukan kemampuan mengidentifikasi dan memetakan potensi asli dan keunikan yang dimiliki daerah.
‘’Kalau dibandingkan dengan desa tetangga, adakah potensi kita yang sama seperti yang mereka miliki? Kalau dia ada untuk apa kita kembangkan potensi yang sama. Kita kembangkan potensi yang lain, yang sangat unik dan tidak ada di tempat lain,’’ kata Sunarta.
Setelah dipetakan, potensi itu dikemas. Begitu dikemas dia akan menjadi bagus. Baru kemudian dipasarkan dan dijual. Dia menyayangkan masih banyak destinasi yang mempraktikan belum mengetahui potensinya tetapi sudah dipasarkan.
‘’Alam dan budaya tidak bisa dipisahkan di Bali. Budaya dan adat-istiadat tanpa alam akan hancur. Tujuan dari penelitian-penelitian kami, kapan kita ke sustainability. Kapan kita ke regeneratif. Dan kapan kita ke quality tourism,’’ tambahnya.
Desa Penglipuran.(Foto: Yun Damayanti)
Pariwisata berkualitas bermula dari warga lokal
Seiring dengan adanya indikator overtourism maka variabel pariwisata berkualitas (quality tourism) juga ada tiga yakni sumber daya manusia (SDM) lokalnya harus berkualitas, wisatawan yang datang juga berkualitas, dan destinasinya pun harus berkualitas.
‘’Kalau semua itu belum berkualitas, jangan bicara quality tourism,’’ kata Sunarta.
Dia mengingatkan kembali, quality tourism is not about money. Suatu destinasi pariwisata berkualitas bukan berarti hanya mendatangkan orang-orang kaya. Wisatawan berkualitas ialah mereka datang ke destinasi membawa pengaruh dan manfaat yang baik bagi tuan rumah.
‘’Tahun 1930-an, wisatawan yang datang ke Ubud ialah para seniman. Sekarang writers juga datang ke Ubud. Berikutnya, saya ingin yang datang ke Bali ialah para peneliti (researcher),’’ tuturnya.
Dia berbagi pengalaman ketika bekerja sama dengan seorang peneliti kelautan asal Perancis. Sang peneliti itu sedang melakukan riset hubungan antara terumbu karang (coral) yang sehat dengan wellness tourism. Sang peneliti mencari di mana bisa menemukan hal itu. Selaku orang bali dikatakannya kepada peneliti Perancis itu, wisatawan yang datang untuk menyelam (diving) dan melihat terumbu karangnya sehat maka dia juga akan merasa sehat. Namun bila melihat terumbu karangnya rusak saat menyelam dia akan merasa sedih dan tentu itu tidak baik bagi kesehatannya.
I Nyoman Sunarta menerangkan semua itu di Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2025 yang digelar oleh Forum Wartawan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Fowaparekraf), Kamis (10/10/2024), di Hotel Aston Kemayoran, Jakarta.
Dari penjelasan Guru Besar Pariwisata di Fakultas Pariwisata Universitas Udayana, Bali, tersebut kami mencatat poin-poin yang bisa diambil untuk dipahami bersama:
Pariwisata sebagai kegiatan ekonomi pasti membawa dampak baik dan buruk terhadap lingkungan maupun masyarakat. Maka pada setiap tahapan dalam membangun destinasi alam mesti ditempatkan sebagai salah satu pemangku kepentingan (stakeholder) utama. Dan kesejahteraan warlok ditempatkan sebagai titik awal dan tujuan akhirnya.
Alam adalah sumber utama pembentuk budaya Nusantara. Pariwisata Indonesia bertumpu pada budaya sehingga kita tidak bisa mengabaikan peran alam.
Alam yang indah dengan segala macam karakter spesifiknya telah menciptakan beragam budaya berbeda-beda di setiap destinasi. Itulah yang mendorong orang-orang mau berkunjung ke Indonesia.
Pembangunan pariwisata harus bisa memastikan destinasi tidak kehilangan sumber daya alamnya untuk menghidupi populasi penduduk yang terus berkembang. Semakin banyak penduduk membutuhkan sumber daya yang besar.
Oleh karena itu prinsip kehati-hatian harus diterapkan sejak awal membangun destinasi. Dan dalam prosesnya membutuhkan kebijakan dan regulasi yang jelas dan tegas serta komitmen menjalankan peraturan oleh semua pihak.
Pertumbuhan jumlah penduduk pasti akan mendorong kebutuhan jaringan aksesibilitas yang lebih luas dan multimoda transportasi. Untuk mengakomodasi kebutuhan itu daerah harus memikirkan bagaimana memindahkan orang-orang dari satu tempat ke tempat lain secara efektif dengan biaya terjangkau.
Kunjungan wisatawan semakin mendorong kebutuhan aksesibilitas dan transportasi di daerah wisata. Wisatawan pasti akan memanfaatkan infrastruktur dan fasilitas publik yang ada di destinasi termasuk transportasi lokal.
Mobilitas masyarakat harus didahulukan ketika membangun infrastruktur aksesibilitas dan sarana publik di daerah. Karena mereka hidup selamanya di destinasi. Sementara wisatawan hanya tinggal dalam jangka waktu tertentu.
Host tidak bisa mengatur/menentukan ke mana wisatawan pergi. Tetapi host bisa menciptakan daya tarik-daya tarik di berbagai titik. Dengan begitu, wisatawan tidak terkonsentrasi di satu area atau wilayah tertentu sehingga di area/wilayah tersebut mengalami kelebihan (over).
Daya tarik yang unik dan berbeda harus dikemas dengan baik sebelum dipasarkan. Dan untuk dapat mencapai daya tarik-daya tarik tersebut wisatawan memerlukan jejaring aksesibilitas dan multimoda transportasi tadi.
Kualitas SDM warga lokal pun harus terus diperbaiki dan ditingkatkan. Agar mereka tidak hanya menjadi obyek atraksi dan sumber tenaga kerja. Tetapi lebih daripada itu, warlok sebagai subyek pemilik destinasi mesti bisa memahami bagaimana mengelola lingkungan dan kehidupannya. ***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Peluncuran rencana induk (master plan) daya tarik wisata di daerah penyangga destinasi prioritas guna memperkuat posisi tawar destinasi-destinasi baru di luar Bali. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno meluncurkan dokumen rencana induk (master [more]
Tourism for Us – Kebijakan Bebas Visa Kunjungan (BVK) bagi Permanent Residence (PR) Singapura akan menggenjot kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kepulauan Riau (Kepri). Kebijakan terbaru yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi ini diharapkan dapat mendorong mencapai target batas atas kunjungan wisman ke Indonesia sebesar [more]
Tourism for Us – Program pelatihan, sertifikasi, dan pemberdayaan membuktikan keefektifannya dalam meningkatkan kompetensi dan daya saing sumber daya manusia (SDM) pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf). Dan dalam menjalankan program-program unggulan itu Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) berkolaborasi dengan berbagai pihak.
(Foto: Birkompublik Kemenparekraf)
Adyatama Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif Ahli Utama Kemenparekraf/Baparekraf Nia Niscaya pada “The Final Episode of Weekly Brief With Sandi Uno” di Gedung Sapta Pesona, Jakarta Pusat, Senin (14/10/2024), mengatakan, Kemenparekraf berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam mengembangkan berbagai program sepanjang tahun 2020 hingga 2024. Semua program guna mewujudkan SDM parekraf yang unggul dan berdaya saing.
“Sebanyak 27.200 pelaku pariwisata dan 54.302 pelaku ekonomi kreatif telah mendapatkan pelatihan kompetensi. Sementara sebanyak 63.412 pelaku parekraf telah diberikan fasilitasi sertifikasi,” ujar Nia.
Untuk mengukur dampak program pelatihan dan sertifikasi tersebut, Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf bekerja sama dengan Poltekpar NHI Bandung melakukan survei atas program strategis ini. Survei dilakukan terhadap 1.143 pelaku parekraf di 34 provinsi. Responden paling banyak adalah generasi milenial sebesar 57,7 persen.
Hasilnya, program pelatihan dan sertifikasi SDM di sektor parekraf telah memberikan dampak positif. Antara lain, kenaikan pendapatan, kesempatan mendapatkan pekerjaan baru, peningkatan pengetahuan, kenaikan jabatan, memperluas relasi, dan pengakuan serta beberapa manfaat lainnya. Dampak yang paling dirasakan adalah terutama dalam meningkatkan pendapatan, peluang kerja baru, dan pengembangan karier.
Hasil survei juga menunjukkan, sebagian besar tenaga kerja di sektor parekraf memiliki masa kerja lebih dari lima tahun: 64,5 persen di sektor pariwisata dan 49,6 persen di sektor ekonomi kreatif. Angka ini menandakan stabilitas yang tinggi di sektor parekraf dengan tenaga kerja yang berpengalaman dan mapan di bidangnya.
Persentase masa kerja antara satu sampai tiga tahun juga cukup tinggi baik di sektor pariwisata juga ekonomi kreatif masing-masing di atas 20 persen.
“Hal itu menandakan adanya regenerasi dan masuknya tenaga kerja baru yang relatif cepat. Ini juga mencerminkan pertumbuhan yang dinamis di sektor parekraf dengan banyaknya peluang bagi tenaga kerja baru,” kata Nia.
Sebanyak 60,3 persen responden menyatakan mengalami peningkatan pendapatan. Persentase kenaikan pendapatan antara 15 sampai 20 persen. Dan sebanyak 52,8 persen responden mengalami peningkatan karier.
Dari hasil survei tersebut didapatkan data, indeks kesesuaian pelatihan mencapai 4,16 (nilai indeks 5). Ini mencerminkan relevansi program pelatihan terhadap kebutuhan industri. Indeks keberhasilannya mencapai 3,80 dan itu menunjukkan bahwa pelatihan telah memberikan dampak yang cukup baik dalam meningkatkan kompetensi peserta. Dari sisi kemudahan, skor 3,91 menunjukkan, pelatihan ini cukup mudah diikuti oleh para peserta.
“Survei ini menjangkau 36,2 persen SDM yang belum pernah mengikuti pelatihan untuk mengetahui harapan mereka terhadap bidang pelatihan yang diminati. Selain pelatihan usaha perhotelan atau akomodasi dan pemahaman daya tarik atau destinasi wisata, pelatihan pemasaran, wirausaha, desain dan kreator konten juga memiliki peminat yang besar,’’ terang Nia.
Hasil survei pun menunjukkan, 71,5 persen kegiatan sertifikasi kompetensi SDM parekraf masih difasilitasi oleh pemerintah. Sementara swasta hanya berkontribusi sebesar 4,5 persen. “Ini masih menunjukkan peran dominan pemerintah. Kami berharap swasta berperan lebih aktif. Sehingga program sertifikasi bisa lebih inklusif dan mencakup lebih banyak tenaga kerja,” tutup Nia.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Pariwisata Indonesia beserta industrinya akan menghadapi tiga issue besar pada tahun 2025 yaitu beberapa destinasi favorit sudah menghadapi gejala-gejala overtourism, tantangan untuk menerapkan prinsip-prinsip berkelanjutan (sustainability) dalam membangun destinasi wisata dan mengembangkan bisnis, serta kegamangan pelaku industri pariwisata menghadapi disrupsi artificial [more]