Author: admin

IMIGRASI SIAGA, ANTISIPASI DAMPAK PENUTUPAN RUANG UDARA DI KAWASAN TIMUR TENGAH

IMIGRASI SIAGA, ANTISIPASI DAMPAK PENUTUPAN RUANG UDARA DI KAWASAN TIMUR TENGAH

Tourism for Us – Wisatawan asing maupun penumpang internasional lainnya yang belum bisa keluar dari wilayah Republik Indonesia akibat gangguan penerbangan pulang karena konflik di Timur Tengah diimbau untuk terus memperbarui informasi dengan maskapai penerbangan serta mengurus surat keterangan dari maskapai atau otoritas bandara. Pemerintah [more]

PEMERINTAH DORONG GASTRONOMI INDONESIA MENJADI IP DAN MESIN PERTUMBUHAN BARU

PEMERINTAH DORONG GASTRONOMI INDONESIA MENJADI IP DAN MESIN PERTUMBUHAN BARU

Tourism for Us – Pemerintah mendorong gastronomi Indonesia menjadi intellectual property (IP) agar dapat memberikan nilai tambah. Gastronomi Indonesia semakin diakui sebagai the new engine of growth yang sangat potensial karena bertumpu pada potensi daerah yang memiliki kekuatan budaya dan diferensisi tinggi. Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala [more]

PESONA LOKAL MALAYSIA DI GRAND MERCURE KUALA LUMPUR BUKIT BINTANG

PESONA LOKAL MALAYSIA DI GRAND MERCURE KUALA LUMPUR BUKIT BINTANG

Tourism for Us – Dalam mencari pengalaman perjalanan, banyak wisatawan cenderung memilih merek hotel yang sudah mereka kenal dan percayai saat mengunjungi suatu destinasi. Familiaritas dengan layanan dan kualitas hotel, terutama yang tergabung dalam jaringan yang sama, membuat proses reservasi lebih mudah melalui portal resmi hotel. Selain itu, penawaran menarik yang ditawarkan bagi anggota program loyalitas semakin menambah daya tarik.

Grand Mercure Kuala Lumpur Bukit Bintang (Foto: Accor)

Oleh karena itu, Worldwide Hotels bekerja sama dengan Accor untuk menghadirkan Grand Mercure Kuala Lumpur Bukit Bintang. Kehadiran hotel ini diharapkan dapat menarik minat wisatawan, khususnya dari Indonesia, yang sudah mengenal merek ini, untuk berkunjung ke Malaysia. Secara keseluruhan, hotel dirancang untuk memenuhi ekspektasi para wisatawan modern yang semakin selektif.

Grand Mercure Kuala Lumpur Bukit Bintang diresmikan pada 19 Januari 2026, menandai debut merek Grand Mercure di ibukota Malaysia. Momen bersejarah itu turut dihadiri oleh Mohd. Amirul Rizal Bin Abdul Rahim, Director General Tourism Malaysia, bersama para mitra utama dan tamu undangan.

“Wisatawan masa kini mencari pengalaman yang bermakna dan mampu menghubungkan mereka lebih dalam dengan budaya lokal serta destinasi yang dikunjungi. Grand Mercure dirancang untuk merayakan identitas nasional dan menggugah indra, mengubah setiap masa menginap menjadi sebuah perjalanan penuh penemuan. Dengan dibukanya Grand Mercure Kuala Lumpur Bukit Bintang, brand ini hadir di Malaysia melalui desain yang terinspirasi warisan budaya, cita rasa tradisional, dan sentuhan kerajinan tangan, mengundang para tamu untuk terhubung dengan kisah, budaya, dan semangat destinasi ini,” ungkap Garth Simmons, Chief Operating Officer, Premium, Midscale and Economy Division, Accor Asia.

Carolyn Choo, Chief Executive Officer, Worldwide Hotels,menambahkan, “Pembukaan Grand Mercure Kuala Lumpur Bukit Bintang menjadi tonggak penting bagi Worldwide Hotels. Pengembangan ini mencerminkan visi jangka panjang kami untuk berinvestasi pada aset perhotelan berkualitas yang diakui secara internasional sekaligus berakar kuat pada budaya lokal. Bermitra dengan Accor memungkinkan kami menghadirkan hotel berstandar kelas dunia yang merayakan warisan Malaysia sekaligus memenuhi ekspektasi para wisatawan modern yang semakin selektif.”

Sementara itu, Danny Koh, General Manager, Grand Mercure Kuala Lumpur Bukit Bintang, menyampaikan, “Peran kami sebagai pelaku industri perhotelan tidak hanya sebatas menyediakan akomodasi, tetapi juga merancang pengalaman yang berakar pada budaya, kepedulian, dan konsistensi. Di Grand Mercure Kuala Lumpur Bukit Bintang, tim kami bangga menghadirkan keramahan khas Malaysia melalui layanan yang personal, sajian kuliner yang mengangkat cita rasa lokal, serta ruang-ruang yang dikurasi dengan penuh perhatian. Hotel ini mencerminkan komitmen kami terhadap keunggulan operasional sekaligus penghormatan terhadap warisan destinasi kami.”

Merek Grand Mercure menghadirkan pengalaman perhotelan premium yang begitu kental dengan nuansa lokal namun tetap terasa megah dan berkelas. Dengan lebih dari 80 properti di lebih dari 10 negara, destinasi unggulan mencakup Grand Mercure Mysuru di India, serta Grand Mercure Belém do Pará dan Grand Mercure Rio de Janeiro Copacabana di Brasil. Grand Mercure merupakan bagian dari Accor, grup perhotelan terkemuka di dunia dengan lebih dari 5.700 properti di 110+ negara, serta menjadi salah satu merek yang berpartisipasi dalam ALL Accor, program loyalitas gaya hidup yang menawarkan akses eksklusif ke beragam reward, layanan, dan pengalaman berkesan. ***(Yun Damayanti)

ADA TEMPAT STAYCATION BARU NIH DEKAT SITUGUNUNG, MERCURE CIBADAK SUKABUMI RESORT

ADA TEMPAT STAYCATION BARU NIH DEKAT SITUGUNUNG, MERCURE CIBADAK SUKABUMI RESORT

Tourism for Us – Aksesibilitas ke Sukabumi terus meningkat secara bertahap, yang menarik perhatian para investor, termasuk jaringan hotel internasional yang mulai membuka cabang di daerah ini. Meskipun Sukabumi bukanlah destinasi wisata baru di Provinsi Jawa Barat, tantangan dalam hal aksesibilitas sebelumnya membuatnya kurang kompetitif [more]

INDONESIA OUTING & INCENTIVE TRAVEL EXPO 2026: PLATFORM STRATEGIS KEBUTUHAN OUTING, ENGAGEMENT, DAN PERJALANAN INSENTIF

INDONESIA OUTING & INCENTIVE TRAVEL EXPO 2026: PLATFORM STRATEGIS KEBUTUHAN OUTING, ENGAGEMENT, DAN PERJALANAN INSENTIF

Tourism for Us – Gelaran Indonesia Outing Expo (IOE) tahun ini akan memberikan peluang pertemuan yang lebih luas. Dengan nama baru Indonesia Outing & Incentive Travel Expo (IOITE), acara ini menjadi salah satu platform pameran pariwisata MICE terlengkap di Indonesia, menawarkan sesi B-to-B dan B-to-C [more]

KONEKTIVITAS DAN DIVERSIFIKASI PENAWARAN ADALAH KUNCI PEMASARAN PARIWISATA ASEAN

KONEKTIVITAS DAN DIVERSIFIKASI PENAWARAN ADALAH KUNCI PEMASARAN PARIWISATA ASEAN

Tourism for Us – Sektor pariwisata ASEAN menunjukkan pemulihan positif yang berkelanjutan. Angka sementara menunjukkan bahwa ASEAN mencatat sekitar 144 juta kedatangan wisatawan internasional pada tahun 2025, yang mencerminkan tren kenaikan berkelanjutan yang didukung oleh langkah-langkah untuk meningkatkan konektivitas, mendiversifikasi penawaran pariwisata, dan memperkuat upaya pemasaran dan promosi. Hal ini diungkapkan dalam Pertemuan Menteri Pariwisata ASEAN ke-29 (M-ATM) yang diselenggarakan pada tanggal 29 Januari 2026, di Cebu, Filipina, di bawah kepemimpinan Menteri Pariwisata Filipina Christina Garcia Frasco. Pertemuan tingkat menteri ini merupakan bagian dari agenda tahunan ASEAN Tourism Forum.

(Foto: Bikompublik Kemenpar/ASEAN Tourism Forum)

Pertemuan menteri-menteri pariwisata ASEAN menyoroti pentingnya mempromosikan lebih lanjut pariwisata berkelanjutan, inklusif, tangguh, dan berkualitas, sejalan dengan Deklarasi Pemimpin ASEAN tentang Pariwisata Berkualitas yang diadopsi pada tahun 2025. Dalam pertemuan ini menggarisbawahi pentingnya implementasi Rencana Sektor Pariwisata ASEAN 2026–2030 (ATSP 2026–2030) dan Strategi Pemasaran Pariwisata ASEAN 2026–2030 (ATMS 2026–2030) untuk memandu tindakan kolektif, memperkuat branding dan pembangunan narasi, serta meningkatkan visibilitas regional ASEAN di tahun-tahun mendatang.

Para menteri pariwisata ASEAN sepakat mendorong upaya berkelanjutan untuk mengoperasionalkan ATMS 2026–2030, dengan fokus kuat pada promosi Asia Tenggara sebagai destinasi wisata tunggal, terpadu, dan berkualitas tinggi melalui inisiatif pemasaran regional berbasis data, berpusat pada audiens, dan didukung teknologi digital. Selain itu juga penting memperdalam kolaborasi dengan sektor swasta, platform daring global, dan mekanisme subregional untuk memperkuat visibilitas merek dan memperkuat identitas regional ASEAN melalui kampanye bersama dan pendanaan bersama.

Kolaborasi berkelanjutan antara sektor pariwisata dan transportasi, termasuk upaya bersama di bawah Gugus Tugas Ad-Hoc tentang Pariwisata dan Transportasi untuk mengatasi kesenjangan konektivitas, telah terbukti meningkatkan akses ke destinasi yang sedang berkembang, dan memperkuat kegiatan promosi bersama. Kolaborasi berkelanjutan dengan Badan Sektoral ASEAN yang relevan, Mitra Dialog, dan pemangku kepentingan industri untuk memajukan konektivitas terpadu dan mempromosikan solusi perjalanan multi-moda akan terus didorong.

Sementara itu, potensi pertumbuhan pariwisata kapal pesiar semakin menjadi segmen pasar yang penting di kawasan Asia Tenggara. Menteri-menteri pariwisata yang hadir mendorong kerja sama berkelanjutan untuk meningkatkan konektivitas pelabuhan, menyederhanakan fasilitasi perjalanan, meningkatkan standar layanan dan keselamatan, memperkuat praktik keberlanjutan di destinasi kapal pesiar, dan mempromosikan rencana perjalanan kapal pesiar multi-destinasi di seluruh perairan dan wilayah pesisir ASEAN.

Kerja sama dalam memajukan pariwisata berkualitas, termasuk inisiatif untuk memperkuat standar pariwisata, langkah-langkah kebersihan dan keselamatan, serta peningkatan kapasitas bagi masyarakat setempat, perempuan, dan pemuda, akan dilanjutkan dan dipromosikan. Pertemuan tersebut menyoroti pentingnya memperkuat praktik pengelolaan destinasi berkelanjutan, sejalan dengan Kerangka Kerja ASEAN tentang Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan dan Peta Jalan Aksi ASEAN untuk Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan.

Produk pariwisata baru dan inovatif, termasuk pariwisata berbasis alam, budaya, gastronomi, kesehatan, petualangan, dan pengalaman pariwisata kreatif terus bermunculan di Asia Tenggara. Untuk mendukung pengembangan produk tersebut, diperlukan infrastruktur yang memadai. Oleh karena itu, para menteri pariwisata ASEAN menegaskan kembali dukungan untuk peningkatan investasi dalam infrastruktur pariwisata, khususnya di destinasi sekunder dan tersier, guna mempromosikan pembangunan pariwisata yang lebih seimbang dan inklusif di seluruh wilayah.

Terkait sumber daya manusia (SDM) pariwisata, pertemuan tersebut mengakui kemajuan berkelanjutan dalam memperkuat implementasi ASEAN MRA-TP dan standar kompetensi terkait, yang akan berkontribusi pada tenaga kerja pariwisata yang lebih terampil dan siap menghadapi masa depan. Upaya pengembangan kemampuan lebih lanjut, termasuk pelatihan keterampilan digital dan dukungan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pariwisata akan terus didorong. Untuk mendukungnya, Sekretariat Regional untuk Implementasi MRA-TP ditargetkan bisa beroperasi pada tahun 2026.***(Yun Damayanti)

INJOURNEY DAN PEMPROV BALI-NUSRA: MEMBANGUN PARIWISATA BERSAMA

INJOURNEY DAN PEMPROV BALI-NUSRA: MEMBANGUN PARIWISATA BERSAMA

Tourism for Us – Kawasan regional Sunda Kecil, yang meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT), memiliki potensi yang sangat besar untuk dijadikan sebagai destinasi pariwisata unggulan Indonesia. Wilayah ini telah terbukti mampu menarik wisatawan dari berbagai kalangan. Untuk mengoptimalkan potensi [more]

MENGENAL TRADISI LOU HEI YU SHENG PADA MALAM PERAYAAN IMLEK 2026 DI OAKWOOD HOTEL & APARTMENTS GRAND BATAM

MENGENAL TRADISI LOU HEI YU SHENG PADA MALAM PERAYAAN IMLEK 2026 DI OAKWOOD HOTEL & APARTMENTS GRAND BATAM

Tourism for Us – Makan malam merupakan salah satu tradisi penting dalam perayaan Tahun Baru Imlek, yang melambangkan kebersamaan dan harapan akan kemakmuran di tahun yang baru. Kegiatan ini menjadi momen spesial bagi keluarga untuk berkumpul dan menikmati hidangan khas yang melambangkan keberuntungan. Dalam rangka [more]

INACA: DUKUNGAN KUAT DARI PEMERINTAH KUNCI PEMULIHAN PENERBANGAN NASIONAL

INACA: DUKUNGAN KUAT DARI PEMERINTAH KUNCI PEMULIHAN PENERBANGAN NASIONAL

Tourism for Us – Industri penerbangan nasional belum sepenuhnya pulih pascapandemi COVID-19. Secara keseluruhan, jumlah pesawat yang ada belum mencapai level sebelum pandemi, sementara biaya operasional terus meningkat secara signifikan. Oleh karena itu, layanan transportasi udara yang tersedia belum optimal sepanjang tahun 2025.

Dalam Laporan Akhir Tahun 2025 Indonesia National Air Carrier Association (INACA), asosiasi maskapai penerbangan nasional menekankan bahwa biaya operasional saat ini telah melampaui tarif batas atas yang ditetapkan oleh pemerintah pada tahun 2019 dan belum mengalami perubahan hingga kini. Kenaikan biaya operasional ini sebagian besar disebabkan oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, lonjakan harga avtur, serta bea masuk untuk suku cadang pesawat.

Biaya operasional penerbangan nasional sebesar 70% menggunakan dolar AS, sementara pendapatan maskapai penerbangan dalam rupiah. Oleh karena itu, setiap perubahan nilai tukar dapat berdampak signifikan terhadap kondisi keuangan maskapai. Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS semakin memperburuk kondisi keuangan maskapai, yang sudah tertekan oleh berbagai faktor.

Pemeliharaan pesawat menjadi suatu keharusan dalam industri penerbangan yang tidak mentolerir pengabaian keselamatan. Lebih dari 22 ribu suku cadang pesawat diimpor dengan bea masuk yang bervariasi antara 2 hingga 74 persen. Selain itu, fluktuasi harga avtur juga menambah beban biaya operasional, menjadikan situasi ini semakin kompleks bagi maskapai penerbangan nasional. 

Dalam laporannya, INACA juga menyebutkan bahwa secara statistik industri transportasi udara nasional pada tahun 2025, terutama dari sisi maskapai penerbangan berjadwal dan tidak berjadwal (charter), cenderung menurun dibandingkan tahun 2024, dan belum dapat kembali (rebound) ke kondisi sebelum pandemi COVID-19.

(Foto: Jeff J. Mitchell/Getty Images)

Sampai dengan Desember 2025, pesawat yang terdaftar sebanyak 568 unit. Pesawat yang layak beroperasi hanya 368 unit, sementara 200 unit pesawat tidak bisa digunakan karena masih dalam perawatan. Jumlah pesawat yang layak beroperasi tersebut hanya 74% dibandingkan tahun 2024 sebanyak 500 unit, tetapi jumlah pesawat dalam perawatan meningkat 244% dibandingkan tahun 2024 yang hanya 82 unit. Keterbatasan jumlah pesawat mengakibatkan penerbangan berkurang dan volume penumpang dan kargo yang diangkut pun turun.

Sampai dengan bulan September 2025, jumlah penerbangan domestik sebanyak 359.504 kali, atau 72% daripada periode yang sama tahun 2024. INACA memprediksi, sampai akhir tahun 2025 penerbangan domestik hanya akan mencapai 440 ribu penerbangan atau 88% daripada tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan tahun 2019 dimana jumlah penerbangan domestik mencapai 729.446 kali maka sampai akhir tahun 2025 recovery rate penerbangan domestik baru mencapai sekitar 60% dari sebelum pandemi. Hal ini mengakibatkan konektivitas nasional yang ditopang oleh transportasi udara, dalam menghubungkan masyarakat dan pengiriman logistik antarpulau, menjadi tidak maksimal.

Selama periode Januari – September 2025, penumpang domestik yang diangkut oleh maskapai penerbangan nasional sebanyak 46,7 juta, atau 71% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024 sebanyak 65,8 juta penumpang. Sampai akhir tahun 2025, jumlah penumpang domestik diprediksi 61,2 juta, atau sekitar 93% dibandingkan tahun 2024 (YoY). Ini menunjukkan bahwa recovery rate penerbangan domestik baru mencapai 77% dibandingkan tahun 2019 yang mengangkut 79,5 juta  penumpang.

Pada periode yang sama, kargo domestik yang diangkut sebanyak 418.361 ton, atau sekitar 77% dibanding periode yang sama tahun 2024 sebanyak 541.900 ton. INACA juga memprediksi, pada akhir tahun 2025 jumlah kargo yang diangkut hanya mencapai 521,8 ribu ton, atau 96% dibanding tahun 2024 (YoY). Recovery rate angkutan kargo domestik telah mencapai 90% dibandingkan tahun 2019 di mana kargo domestik yang diangkut sebanyak 577.806 ton. Recovery rate angkutan kargo domestik lebih baik daripada di sektor penumpang.

Selama kurun waktu Januari – September 2025, penerbangan internasional yang dilayani oleh maskapai penerbangan nasional sebanyak 165.235 kali, atau 80% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024. Jumlah penerbangan internasional sampai dengan akhir tahun 2025 diprediksi hanya akan mencapai 196 ribu penerbangan, atau 95% daripada tahun 2024 (YoY). Jika dibandingkan dengan tahun 2019 di mana jumlah penerbangan internasional sebanyak 226.870 kali maka recovery rate penerbangan internasional baru sekitar 87%.

Tetapi, recovery rate jumlah penumpang di rute internasional yang dilayani oleh maskapai penerbangan nasional sudah mencapai 93% dibandingkan tahun 2019 di mana jumlah penumpang yang diangkut sebanyak 37,3 juta. Kecepatan pemulihan di rute internasional ini dapat dilihat bahwa sampai dengan bulan September 2025, penumpang internasional yang diangkut sebanyak 29 juta, atau 81% dibandingkan periode yang sama tahun 2024 sebanyak 36 juta penumpang. Sampai akhir tahun 2025, jumlah penumpang internasional diperkirakan mencapai 34,7 juta, atau 96% dibandingkan tahun 2024 (YoY).

Sebaliknya di angkutan kargo internasional, recovery rate sampai akhir tahun 2025 diprediksi baru mencapai 77% jika dibandingkan tahun 2019 di mana kargo internasional yang diangkut pada tahun itu sebanyak 516.629 ton. Sampai dengan bulan September 2025, kargo internasional yang diangkut sebanyak 352.585 ton, atau sekitar 77% dibanding periode yang sama tahun 2024 sebesar 459.068 ton. Jumlah kargo internasional yang diangkut oleh maskapai nasional sampai akhir tahun 2025 diprediksi hanya akan mencapai 398 ribu ton, atau 87% dibandingkan dengan tahun 2024 (YoY).

Untuk mengurangi biaya operasional, INACA mengusulkan beberapa langkah, termasuk perlindungan terhadap kerugian akibat fluktuasi nilai tukar, penurunan harga avtur, serta penghapusan semua pajak pertambahan nilai (PPN) dan bea masuk untuk pesawat dan suku cadangnya. Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu maskapai dalam menjaga keberlanjutan operasionalnya.

Selain itu, INACA juga meminta pemerintah untuk melakukan penyesuaian terhadap regulasi tarif batas atas, baik untuk rute penerbangan jarak pendek maupun jarak panjang, serta untuk rute yang padat dan kurang padat.

Pemerintah perlu melakukan intervensi yang efektif terkait harga tiket pesawat, terutama untuk rute domestik. Langkah ini diperlukan agar transportasi udara dapat diakses oleh masyarakat dan maskapai tetap dapat menjalankan operasionalnya dengan berkelanjutan. Sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat memerlukan konektivitas udara yang tidak hanya mendukung mobilitas penumpang dan pengiriman barang, tetapi juga berperan penting dalam pengembangan sektor pariwisata.

INACA pun menyoroti penerbangan charter ilegal yang semakin marak di wilayah Republik Indonesia. Asosiasi meminta kepada pemerintah untuk memberikan sanksi tegas kepada operator penerbangan charter asing (OC 91 asing)  yang melanggar aturan regulasi penerbangan di Indonesia. Menurut azas Cabotage, pesawat registrasi non-PK (non-Indonesia) dilarang melakukan penerbangan komersial di Indonesia.

Kondisi industri penerbangan di Indonesia saat ini memerlukan perbaikan yang menyeluruh, bukan hanya secara parsial. INACA mengharapkan dukungan dari pemerintah pusat melalui lintas kementerian dan lembaga untuk memberikan political will yang kuat dalam upaya merevitalisasi industri penerbangan nasional.

Industri penerbangan memiliki dampak signifikan (multiplier effect) terhadap perekonomian Indonesia. Menurut Asosiasi Maskapai Penerbangan Internasional (IATA), kontribusi sektor ini beserta sektor terkait diperkirakan mencapai 62,6 miliar dolar AS pada tahun 2023, atau setara dengan 4,6 % dari Produk Domestik Bruto (PDB). Selain itu, industri penerbangan juga menyerap enam juta tenaga kerja, menunjukkan pentingnya sektor ini dalam menciptakan lapangan kerja dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Ketua Umum INACA Denon Prawiraatmadja berharap pemerintah dapat segera menindaklanjuti Undang-Undang Pengelolaan Ruang Udara Nasional dengan aturan-aturan operasionalnya, terutama terkait dengan penggunaan ruang udara bersama (flexibility use  airspace) antara penerbangan sipil dan militer sehingga operasional penerbangan pesawat menjadi lebih efektif dan efisien (dikutip dari Bloomberg Technoz, Jumat, 9/1/2026).

Pemerintah pun diharapkan untuk mencari skema yang lebih efektif dan efisien, baik bagi maskapai penerbangan maupun penumpang pesawat, dengan membandingkan skema penggunaan sustainable aviation fuel (SAF) dengan skema carbon offset. Hal ini terkait rencana pengaplikasian penerbangan berkelanjutan dan ramah lingkungan melalui skema CORSIA (Carbon Offsetting and Reduction Scheme for International Aviation) ICAO secara voluntary tahun 2026 dan mandatory tahun 2027. ***(Yun Damayanti)

TRAVEL MEET ASIA DAN ASITA TANDA TANGANI MOU STRATEGIS, PERKUAT KEHADIRAN PARIWISATA INDONESIA DI KAWASAN REGIONAL

TRAVEL MEET ASIA DAN ASITA TANDA TANGANI MOU STRATEGIS, PERKUAT KEHADIRAN PARIWISATA INDONESIA DI KAWASAN REGIONAL

Tourism for Us – Travel Meet Asia dan ASITA telah menjalin kemitraan strategis untuk memajukan sektor pariwisata dan MICE Indonesia. Kolaborasi ini menggabungkan jangkauan B2B global Travel Meet Asia dengan jaringan domestik ASITA yang kuat untuk meningkatkan visibilitas dan peluang bisnis Indonesia di seluruh kawasan. [more]