Author: admin

TIGA PASAR DI UBUD TEMPAT BELANJA SUVENIR KHAS BALI

TIGA PASAR DI UBUD TEMPAT BELANJA SUVENIR KHAS BALI

Tourism for Us – Pasar merupakan salah satu tempat belanja suvenir khas Bali. Tawar-menawar jadi seninya berbelanja di sini. Agar bagaimanapun bisa mendapat harga terbaik dan barang yang dibeli lebih banyak. Selain produk-produk kerajinan dan seni seperti pakaian, tekstil (kain bali), lukisan, patung, asesoris dan [more]

WORK FROM BALI, KERJA RASA LIBURAN

WORK FROM BALI, KERJA RASA LIBURAN

Tourism for Us – Pulau Bali dengan alam yang indah dan budayanya yang kuat bukan hanya menjadi destinasi wisata semata tetapi juga merupakan tempat kerja yang inspiratif. Menurut rencana, pemerintah akan mulai menggulirkan program Work from Bali pada kuartal ketiga 2021. Museum-museum dan galeri-galeri seni [more]

Liburan Sambil Kerja di Bali Makin Aman dengan Prokes Berbasis CHSE

Liburan Sambil Kerja di Bali Makin Aman dengan Prokes Berbasis CHSE

Tourism for Us – Salah satu syarat utama tetap aman berwisata dalam masa pandemi Covid-19 adalah penerapan protokol kesehatan (prokes) berbasis Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) yang ketat di destinasi wisata. Ini akan menjamin keamanan wisatawan juga para pekerja pariwisata.

Pada akhir Mei 2021 ketika mengunjungi Alas Harum, daya tarik wisata yang dilengkapi dengan restoran dan sentra produksi kopi luwak di Ubud, Gianyar, Bali, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan, “COVID-19 memaksa kita untuk terus berinovasi. Saya lihat, Alas Harum sudah membangun beberapa tambahan layanan. Ini adalah bentuk adaptasi kita. Saya juga mengapresiasi penerapan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin di sini. Karena kita perlu mempersiapkan diri menghadapi beberapa agenda besar yang ada di Bali.”

Work from gallery

Galeri Siadja di Desa Mas,Ubud.[Credit to Desa Wisata Mas]

Kawasan Ubud didorong untuk menjadi destinasi work from gallery sebagai bagian dari program Work From Bali. Galeri-galeri dan museum-museum yang tersebar di seluruh Bali diharapkan dapat menyediakan tempat-tempat atau ruang-ruang yang dapat dimanfaatkan semacam co-working space ataupun untuk rapat-rapat kecil. Di mana mereka yang mengikuti program Work From Bali bisa bekerja dan rapat dengan dikelilingi karya-karya seni dan kriya.

Tentu saja work from gallery tetap memperhatikan dan menerapkan prokes standar 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun). Karena sejatinya kesehatan adalah tanggung jawab setiap orang. Untuk memperoleh lebih banyak inspirasi tentang Ubud beserta galeri dan museumnya dapat mengikuti akun Instagram resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif @pesonaid_travel.***(Yun Damayanti) 

Yuk, Dukung Terus Film Animasi Karya Anak Bangsa

Yuk, Dukung Terus Film Animasi Karya Anak Bangsa

Tourism for Us – Film dan Animasi buatan sineas Indonesia terus menunjukkan peningkatan kualitas. Satu di antaranya adalah Nussa The Movie. Film animasi ini merupakan pemenang kategori Film Animasi Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2019. Film tersebut diadaptasi dari serial animasi dengan judul yang sama. [more]

Mari Geliatkan Kembali Wisata di Bali

Mari Geliatkan Kembali Wisata di Bali

Tourism for Us – Bali, destinasi wisata utama di Indonesia dan salah satu tujuan primadona wisatawan dunia, terus berbenah. Setelah sertifikasi protokol kesehatan dan keamanan berstandar nasional di sektor akomodasi, restoran, atraksi dan aktivitas wisata, sampai dengan bulan Mei 2021 jumlah warga yang telah menerima [more]

TASIKMALAYA, DESTINASI KRIYA KLASIK DAN CANTIK

TASIKMALAYA, DESTINASI KRIYA KLASIK DAN CANTIK

Tourism for Us – Tasikmalaya adalah sentra kriya di bagian timur Jawa Barat. Kota ini merupakan rumah para perajin ulet dan telaten. Mereka dikenal mahir membuat hiasan bordir pada kain, membatik khas priangan, mengukir dan melukis pada kayu untuk alas kaki, dan membuat payung hiasan untuk dijadikan dekorasi maupun digunakan dalam perhelatan. Dan setiap kriyanya punya kisah menarik.

Bordir tasik

Melati,motif khas bordir tasik. [Foto; Barry Luqman/ironqustore]

Seni menghias kain dengan bordir adalah kriya paling terkenal dari Tasikmalaya dan masih bertahan. Kriya ini tidak hanya dibuat dengan tangan (handmade), atau dengan menggunakan mesin manual yang digerakan kaki, tetapi juga sudah menjadi sebuah industri dengan menggunakan mesin otomatis dan komputerisasi.

Seni bordir dimulai di Kawalu pada sekitar tahun 1925. Bermula dari seorang warga Tasikmalaya berhenti kerja dari suatu perusahaan mesin jahit kemudian mencoba mengembangkan usaha bordir. Lama kelamaan usahanya berkembang. Ilmu membordirnya kemudian dibagikan. Sehingga semakin banyak warga bisa membordir dan menekuninya.

Kawalu, Sukaraja dan Cikatomas adalah sentra-sentra bordir tasik yang bisa disambangi ketika berkunjung ke Tasikmalaya. Di sentra-sentra bordir bisa ditemukan beragam produk mulai dari busana, perlengkapan solat, asesoris, hingga pelengkap interior seperti taplak meja dan sarung bantal.

Motif utama bordir tasik adalah melati uter atau kerancang melati, mawar, aster, dan daun taleus heuneut.

Kelom geulis

Kelom, alas kaki yang terbuat dari kayu ini memang identik dengan Tasikmalaya. Pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1940-1950. Kata kelom diambil dari bahasa belanda, kelompen, yang berarti sandal kayu.

Kelom geulis,alas kaki kayu dari Tasikmalaya.(Foto: Adira Oktariza)

Kelahiran kelom geulis konon berawal dari seorang warga Gobras, Tasikmalaya, menciptakan sandal mentah atau kelom geulis mentah kemudian dijualnya ke Bandung sekitar tahun 1950-an. Dia hanya membuat alas kakinya saja karena kurang pengetahuan dan keterampilan untuk menjadikan kelom mentah tadi siap pakai. Suatu hari, dia mendapat pesanan dari pelanggannya di Bandung untuk membuat kelom mentah dengan hiasan ukiran. Terinspirasi dari lingkungan tempat tinggalnya, diukirlah bunga-bunga pada kayu kelom mentah. Produk setengah jadi itu berhasil. Sampai sekarang kelom geulis ada yang berukir dan ada pula yang dilukis. Lukisan di kelom geulis kemungkinan dipengaruhi oleh para perajin payung geulis yang juga tertarik membuat kreasi kelom.

Sentra kelom geulis berada di Kampung Gobras, sekarang secara administratif termasuk dalam Dusun Rahayu, Desa Sukahurip, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya. Kampung ini ternyata punya pengalaman panjang dalam hal alas kaki dari kayu.

Gobras sudah dikenal sebagai daerah pengrajin bakiak sebelum menjadi sentra kelom geulis. Bakiak Gobras adalah sejenis alas kaki terbuat dari bahan kayu dan bagian atasnya diberi tali hitam dari ban bekas sebagai sabuk pengikat. Selain bakiak, di sini juga membuat gamparani yaitu alas kaki dari bahan kayu dengan ciri khasnya lilingga. Bila bakiak pengikatnya berbentuk tali melintang, lilingga bisa dicapit ibu jari dan telunjuk kaki, seperti sandal jepit. Gamparan biasanya digunakan oleh pria. Dari situlah cikal bakal kemampuan membuat kelom geulis di Kampung Gobras.

Batik tasik

Seni batik tulis di Tasikmalaya diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Tarumanagara yang beribukota di Sukapura. Sedangkan batik tasik yang kita kenal saat ini merupakan akibat peperangan yang terjadi di wilayah Jawa Tengah yang membuat pengusaha dan perajin batik di Pekalongan, Tegal, Kudus, dan Banyumas mengungsi ke wilayah Jawa Barat, salah satunya ke Tasikmalaya. Sebagian dari pengungsi itu akhirnya menetap. Batik pun berkembang dengan motif dan corak yang menyesuaikan alam dan lingkungan sekitarnya.

Merak ngibing,salah satu motif khas batik tasik. [Foto; Yun Damayanti]

Batik tasik punya tiga motif yakni batik sukaraja, batik sawoan, dan batik tasik. Batik sukaraja menyerupai batik madura dengan ciri karakter motif dan warna yang kontras serta warna tanah yang dominan. Batik sawoan didominasi warna cokelat sawo yang dipadu warna indgo dan putih. Batik tasik berwarna cerah, kaya motif, dan tidak banyak isen-isen. Batik tasik mirip dengan batik garut namun mendapat pengaruh batik pesisiran yang cukup kuat. Motif khas batik tasik di antaranya, merak ngibing, cala-culu, pisang-bali, sapu jagat, dan awi ngarambat.

Sentra batik tasik ada di Nagarasari Cipedes, Gudang Jero, Gudang Pesantren, Bojongkaum, Panglayungan, Sayuran, dan Sukaraja.

Payung geulis

Payung geulis adalah kriya khas Tasikmalaya yang hampir punah. Payung kertas berwarna cerah berlukiskan bunga-bunga pernah digandrungi oleh nona-nona Belanda pada tahun 1926. Payung hiasan ini mencapai masa jayanya pada kurun waktu 1955-1968. Setelah itu merosot, tergantikan dengan payung buatan pabrik yang bisa melindungi dari hujan dan panas. Sekarang, fungsi payung geulis memang sebatas menjadi dekorasi ruangan, dan properti yang digunakan dalam suatu perhelatan seperti upacara pernikahan dan pertunjukan seni.

Payung geulis masih dibuat secara manual. [Foto; Yun Damayanti]

Dalam perkembangannya, payung geulis tidak hanya dibuat dari kertas tetapi juga dari kain. Kecuali gagang kayu yang sudah dibuat dengan menggunakan mesin, proses pembuatan payung ini tetap manual. Pembuatan payung geulis bisa dilihat di sentra payung geulis Panyingkiran, Indihiang, Kota Tasikmalaya.***(Yun Damayanti) 

PEMERINTAH SIAPKAN BANTUAN INSENTIF 2021 UNTUK SEKTOR PAREKRAF, TIDAK ADA PRIORITAS DESTINASI

PEMERINTAH SIAPKAN BANTUAN INSENTIF 2021 UNTUK SEKTOR PAREKRAF, TIDAK ADA PRIORITAS DESTINASI

Tourism for Us – Pemerintah kembali menyiapkan bantuan insentif bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf). Total anggaran Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) tahun 2021 sebesar Rp 60 miliar dan akan segera dimulai pada 4 Juni 2021. Pemberian BIP tahun ini tidak ada destinasi wisata yang [more]

SEMBALUN SEVEN WONDERS DI RINJANI GEOPARK

SEMBALUN SEVEN WONDERS DI RINJANI GEOPARK

Tourism for Us – Gunung Rinjani, salah satu gunung tertinggi di Indonesia, dikitari perbukitan yang menawan. Selain puncaknya, ada enam puncak bukit yang dipersiapkan sebagai alternatif pilihan menikmati kawasan Rinjani. Komite Sembalun Seven Summits pertama kali mencetuskan branding Sembalun Seven Summits pada 25 Oktober 2020. [more]

PENGEMBANGAN KONSEP DESA WISATA MANDIRI DAN MENGHADIRKAN PRODUK OTENTIK

PENGEMBANGAN KONSEP DESA WISATA MANDIRI DAN MENGHADIRKAN PRODUK OTENTIK

Tourism for Us – Desa wisata didorong untuk menghadirkan produk-produk unggulan otentik sesuai dengan potensi daerahnya masing-masing. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) akan menindaklanjuti pengembangan desa wisata mandiri dengan pendekatan fungsi yakni aspek produk dan layanan, aspek pemberdayaan masyarakat, dan aspek pemasaran. Ketiga  aspek itu bertujuan untuk mempercepat pengembangan desa wisata mandiri.

Desa wisata Huta Tinggi,Samosir,Danau Toba,yang telah menarik kunjungan wisnus dan wisman serta bekerja sama dengan operator tur inbound.(Foto: Desa Wisata Huta Tinggi)

Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Angela Tanoesoedibjo dalam rapat pimpinan yang digelar secara hybrid (10/5/2021) lalu mengatakan, pendekatan fungsi aspek produk dan layanan nantinya akan fokus pada beberapa program diantaranya, sertifikasi desa berkelanjutan, membuat paket wisata inovatif, mengidentifikasi dan mengembangkan potensi 3A (atraksi, amenitas, aksesibilitas). Sedangkan aspek pemberdayaan masyarakat akan dilakukan program-program di antaranya pendampingan dan pengembangan sumber daya masyarakat dan penguatan lembaga pengelola desa. Dan pada aspek pemasaran dan penjualannya dilakukan dengan pendekatan supply and demand. Kemenparekraf menargetkan sebanyak 244 desa wisata tersertifikasi menjadi desa wisata mandiri hingga 2024.

Pengalaman otentik

Desa Penglipuran diperkirakan sudah ada sejak abad VIII. Tradisi rumah-rumah bambu di Bali masih dipertahankan. Bangunan paling tua berusia lebih dari 200 tahun. Desa ini dihuni 236 kepala keluarga yang menempati 76 kavling.

Desa Penglipuran,Bangli,Bali.[Foto; Birkom publik Kemenparekraf]

Luas desa total 112 hektar. Pada awalnya, desa ini fokus membangun desa konservasi. Setelah beberapa operator tur seperti Pacto, Nitour, dan Natrabu membawa wisatawan dari kapal-kapal pesiar yang sedang singgah di Bali ke desa mulai dari tahun 1975, lama-kelamaan Desa Penglipuran beralih menjadi desa wisata.

Produk utamanya adalah barang-barang dari bambu. Luas hutan bambu milik desa 45 hektar. Wisatawan pun bisa menginap di sini. Ada 25 homestay dengan total 30 kamar dan tiga unit guesthouse milik desa. Selain itu, ada cemcem, minuman herbal khas buatan Desa Penglipuran yang jarang terekspos.

Kampung Naga,Tasikmalaya.[Foto; Yun Damayanti]

Kampung Naga adalah kampung adat di mana filosofi Sunda Buhun masih dipraktikan sampai sekarang. Di desa ini pengunjung bisa merasakan kehidupan di pedesaan yang diperkirakan berdiri pada masa transisi dari pengaruh hindu ke masuknya islam di Jawa Barat.

Di dalam kampung seluas 1,5 hektar berdiri 103 bangunan termasuk bangunan utama Bumi Ageung, balai pertemuan dan mesjid desa. Wilayahnya dibatasi hutan adat, persawahan organik warga dan Sungai Cijulang. Sebanyak 101 keluarga menempati kampung. Jumlah bangunan tidak boleh bertambah ataupun berkurang.

Semua bangunan dibuat dari bambu dan kayu. Atapnya dari rumbia. Tidak banyak furnitur di dalam rumah yang dibagi jadi lima ruangan. Ini merupakan bagian dari aturan adat yang harus diikuti.

Kampung Naga termasuk ke dalam wilayah Desa Neglasari, Tasikmalaya. Lokasinya 500 meter dari jalan raya yang menghubungkan Tasikmalaya dan Garut. Sebanyak 400 anak tangga permanen dengan menggunakan batu kali mempermudah pengunjung menuju kampung. Di pintu gerbangnya sudah dilengkapi dengan parkir yang cukup luas, pusat informasi/loket tiket, toko-toko yang menjual makanan, minuman dan oleh-oleh, serta toilet dan mushola.

Pulau Seliu di sebelah selatan Pulau Belitung.[Foto;Yun Damayanti]

Pulau Seliu di sebelah selatan Pulau Belitung adalah tipikal kampung-kampung nelayan di pulau kecil. Di pulau ini rumah-rumah panggung Melayu Belitung yang telah didiami dua hingga tiga generasi masih berdiri tegak. Aktivitas sehari-hari warga seperti memancing, membuat emping dari melinjo pada pagi hingga siang hari bisa diikuti oleh wisatawan.

Alam di Pulau Seliu juga masih natural. Pantai Tanjung Marang Bulo di barat pulau adalah pantai perawan dengan formasi batu-batu granit seperti di Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi, hanya dalam jumlah yang lebih sedikit. Pantai dibatasi hutan tropis dan padang rumput yang membingkai garis lengkung pantai berpasir putih sehalus tepung. Di bagian lain, wisatawan bisa menikmati hutan rawa Danau Purun karena di situ telah dibagun jembatan kayu dan sebuah pondokan untuk tempat istirahat.

Di pulau, wisatawan dan pelancong bisa menyewa motor warga untuk mengelilingi Desa Seliu, bisa menginap di rumah panggung tradisional yang dijadikan homestay, dan mengikuti beragam program aktivitas bersama warga. Tamu-tamu akan disambut welcome drink kelapa mangga, dibuat dari kelapa muda dan irisan mangga. Minuman ini ada terutama ketika pohon-pohon mangga di pulau sedang berbuah.***(Yun Damayanti) 

DAFTAR ANUGERAH DESA WISATA INDONESIA 2021 AKAN MASUK DALAM JARINGAN DESA WISATA INDONESIA

DAFTAR ANUGERAH DESA WISATA INDONESIA 2021 AKAN MASUK DALAM JARINGAN DESA WISATA INDONESIA

Tourism for Us – Pemerintah akan memberikan penghargaan kepada desa-desa wisata di Indonesia melalui ANUGERAH DESA WISATA INDONESIA 2021. Seluruh desa wisata yang terdaftar dalam penghargaan ini akan masuk dalam Jaringan Desa Wisata Indonesia atau Jadesta. Pendaftaran untuk mengikuti ANUGERAH DESA WISATA INDONESIA 2021 sudah [more]