Tourism for Us – Jaringan jalan raya yang semakin terkoneksi, khususnya di Pulau Jawa, membuat pelaku industri transportasi darat pun semakin kreatif. Pandemi COVID-19 mempercepat akselerasi kreatifitas guna memenuhi permintaan alat transportasi darat yang aman untuk perjalanan grup. Trans Jaya Bis Pariwisata, penyedia layanan sewa [more]
Tourism for Us – Pasar pariwisata dan pertemuan bisnis pelaku industri pariwisata di Indonesia bergeliat kembali setelah hiatus selama 18 bulan akibat pandemi COVID-19. Pasar pariwisata dan pertemuan bisnis mulai diselenggarakan secara offline dan online. BBTF 2021 Bali and Beyond Travel Fair (BBTF) 2021 merupakan [more]
Tourism for Us – Apakah traveler sudah datang ke Bali berkali-kali atau ini perjalanan pertama kali, ketahui tiga fakta unik ini yang akan membuat betah selama Work from Bali.
Desa Penglipuran,Bangli,Bali.(Foto: Puskompublik Kemenparekra)
Destinasi FavoritDigital Nomad
Sebenarnya, Bali sudah lama jadi tujuan bekerja dari jauh (working remotely) di kalangan traveler dari berbagai negara. Dua kawasan favorit para pekerja nomad adalah Canggu dan Ubud. Di kedua kawasan ini sudah mulai menjamur coworking spacedan tempat-tempat lain yang membuat bekerja dari sini asyik dan inspiratif.
Desa Terbersih di Dunia Ada di Bali
Mengunjungi Desa Wisata Panglipuran di Bangli bisa jadi recharge energi setelah bekerja. Desa ini pernah meraih predikat desa terbersih juga termasuk salah satu desa terindah di dunia. Pengunjung dibawa untuk menikmati suasana kampung asli di Pulau Dewata.
Subak, Warisan Dunia UNESCO
Jatiluwih, Tabanan adalah situs warisan dunia UNESCO. Di sini sistem pengairan tradisional subak masih dilakukan dan dipertahankan. Subak merupakan organisasi pengelolaan sawah di Bali yang menggabungkan harmonisasi antara hubungan Tuhan, manusia dan alam sekitar. Berada di kaki Gunung Batukaru, persawahan di Jatiluwih bukan hanya indah namun juga magis. Aktivitas pariwisata di daerah ini berlangsung dari pagi sampai pukul tiga sore saja.
Sarana dan prasarana di Bali sudah dikenal mumpuni menunjang berbagai aktivitas wisatawan dan pekerja nomad. Paket-paket wisata pun sudah dipersiapkan oleh para operator tur lokal. Dan program Work From Bali yang dicanangkan pemerintah diharapkan dapat mengungkit kembali pariwisata dan perekonomian di pulau ini.
“Work from Bali memberikan multiplier effect kepada produk-produk ekonomi kreatif dan UMKM seperti kuliner, suvenir maupun fesyen, juga kegiatan ekonomi rakyat lainnya hingga 70 persen,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno pada akhir Mei 2021.
Apapun aktivitas yang dilakukan selama Work from Bali, pekerja nomad dihimbau untuk selalu disiplin mematuhi protokol kesehatan yakni mengenakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Pasar merupakan salah satu tempat belanja suvenir khas Bali. Tawar-menawar jadi seninya berbelanja di sini. Agar bagaimanapun bisa mendapat harga terbaik dan barang yang dibeli lebih banyak. Selain produk-produk kerajinan dan seni seperti pakaian, tekstil (kain bali), lukisan, patung, asesoris dan [more]
Tourism for Us – Pulau Bali dengan alam yang indah dan budayanya yang kuat bukan hanya menjadi destinasi wisata semata tetapi juga merupakan tempat kerja yang inspiratif. Menurut rencana, pemerintah akan mulai menggulirkan program Work from Bali pada kuartal ketiga 2021. Museum-museum dan galeri-galeri seni [more]
Tourism for Us – Salah satu syarat utama tetap aman berwisata dalam masa pandemi Covid-19 adalah penerapan protokol kesehatan (prokes) berbasis Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability (CHSE) yang ketat di destinasi wisata. Ini akan menjamin keamanan wisatawan juga para pekerja pariwisata.
Pada akhir Mei 2021 ketika mengunjungi Alas Harum, daya tarik wisata yang dilengkapi dengan restoran dan sentra produksi kopi luwak di Ubud, Gianyar, Bali, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno mengatakan, “COVID-19 memaksa kita untuk terus berinovasi. Saya lihat, Alas Harum sudah membangun beberapa tambahan layanan. Ini adalah bentuk adaptasi kita. Saya juga mengapresiasi penerapan protokol kesehatan yang ketat dan disiplin di sini. Karena kita perlu mempersiapkan diri menghadapi beberapa agenda besar yang ada di Bali.”
Work from gallery
Galeri Siadja di Desa Mas,Ubud.[Credit to Desa Wisata Mas]
Kawasan Ubud didorong untuk menjadi destinasi work from gallery sebagai bagian dari program Work From Bali. Galeri-galeri dan museum-museum yang tersebar di seluruh Bali diharapkan dapat menyediakan tempat-tempat atau ruang-ruang yang dapat dimanfaatkan semacam co-working space ataupun untuk rapat-rapat kecil. Di mana mereka yang mengikuti program Work From Bali bisa bekerja dan rapat dengan dikelilingi karya-karya seni dan kriya.
Tentu saja work from gallery tetap memperhatikan dan menerapkan prokes standar 3M (memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan dengan sabun). Karena sejatinya kesehatan adalah tanggung jawab setiap orang. Untuk memperoleh lebih banyak inspirasi tentang Ubud beserta galeri dan museumnya dapat mengikuti akun Instagram resmi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif @pesonaid_travel.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Film dan Animasi buatan sineas Indonesia terus menunjukkan peningkatan kualitas. Satu di antaranya adalah Nussa The Movie. Film animasi ini merupakan pemenang kategori Film Animasi Pendek Terbaik Festival Film Indonesia 2019. Film tersebut diadaptasi dari serial animasi dengan judul yang sama. [more]
Tourism for Us – Bali, destinasi wisata utama di Indonesia dan salah satu tujuan primadona wisatawan dunia, terus berbenah. Setelah sertifikasi protokol kesehatan dan keamanan berstandar nasional di sektor akomodasi, restoran, atraksi dan aktivitas wisata, sampai dengan bulan Mei 2021 jumlah warga yang telah menerima [more]
Tourism for Us – Tasikmalaya adalah sentra kriya di bagian timur Jawa Barat. Kota ini merupakan rumah para perajin ulet dan telaten. Mereka dikenal mahir membuat hiasan bordir pada kain, membatik khas priangan, mengukir dan melukis pada kayu untuk alas kaki, dan membuat payung hiasan untuk dijadikan dekorasi maupun digunakan dalam perhelatan. Dan setiap kriyanya punya kisah menarik.
Bordir tasik
Melati,motif khas bordir tasik. [Foto; Barry Luqman/ironqustore]
Seni menghias kain dengan bordir adalah kriya paling terkenal dari Tasikmalaya dan masih bertahan. Kriya ini tidak hanya dibuat dengan tangan (handmade), atau dengan menggunakan mesin manual yang digerakan kaki, tetapi juga sudah menjadi sebuah industri dengan menggunakan mesin otomatis dan komputerisasi.
Seni bordir dimulai di Kawalu pada sekitar tahun 1925. Bermula dari seorang warga Tasikmalaya berhenti kerja dari suatu perusahaan mesin jahit kemudian mencoba mengembangkan usaha bordir. Lama kelamaan usahanya berkembang. Ilmu membordirnya kemudian dibagikan. Sehingga semakin banyak warga bisa membordir dan menekuninya.
Kawalu, Sukaraja dan Cikatomas adalah sentra-sentra bordir tasik yang bisa disambangi ketika berkunjung ke Tasikmalaya. Di sentra-sentra bordir bisa ditemukan beragam produk mulai dari busana, perlengkapan solat, asesoris, hingga pelengkap interior seperti taplak meja dan sarung bantal.
Motif utama bordir tasik adalah melati uter atau kerancang melati, mawar, aster, dan daun taleus heuneut.
Kelom geulis
Kelom, alas kaki yang terbuat dari kayu ini memang identik dengan Tasikmalaya. Pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1940-1950. Kata kelom diambil dari bahasa belanda, kelompen, yang berarti sandal kayu.
Kelom geulis,alas kaki kayu dari Tasikmalaya.(Foto: Adira Oktariza)
Kelahiran kelom geulis konon berawal dari seorang warga Gobras, Tasikmalaya, menciptakan sandal mentah atau kelom geulis mentah kemudian dijualnya ke Bandung sekitar tahun 1950-an. Dia hanya membuat alas kakinya saja karena kurang pengetahuan dan keterampilan untuk menjadikan kelom mentah tadi siap pakai. Suatu hari, dia mendapat pesanan dari pelanggannya di Bandung untuk membuat kelom mentah dengan hiasan ukiran. Terinspirasi dari lingkungan tempat tinggalnya, diukirlah bunga-bunga pada kayu kelom mentah. Produk setengah jadi itu berhasil. Sampai sekarang kelom geulis ada yang berukir dan ada pula yang dilukis. Lukisan di kelom geulis kemungkinan dipengaruhi oleh para perajin payung geulis yang juga tertarik membuat kreasi kelom.
Sentra kelom geulis berada di Kampung Gobras, sekarang secara administratif termasuk dalam Dusun Rahayu, Desa Sukahurip, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya. Kampung ini ternyata punya pengalaman panjang dalam hal alas kaki dari kayu.
Gobras sudah dikenal sebagai daerah pengrajin bakiak sebelum menjadi sentra kelom geulis. Bakiak Gobras adalah sejenis alas kaki terbuat dari bahan kayu dan bagian atasnya diberi tali hitam dari ban bekas sebagai sabuk pengikat. Selain bakiak, di sini juga membuat gamparani yaitu alas kaki dari bahan kayu dengan ciri khasnya lilingga. Bila bakiak pengikatnya berbentuk tali melintang, lilingga bisa dicapit ibu jari dan telunjuk kaki, seperti sandal jepit. Gamparan biasanya digunakan oleh pria. Dari situlah cikal bakal kemampuan membuat kelom geulis di Kampung Gobras.
Batik tasik
Seni batik tulis di Tasikmalaya diperkirakan sudah ada sejak zaman Kerajaan Tarumanagara yang beribukota di Sukapura. Sedangkan batik tasik yang kita kenal saat ini merupakan akibat peperangan yang terjadi di wilayah Jawa Tengah yang membuat pengusaha dan perajin batik di Pekalongan, Tegal, Kudus, dan Banyumas mengungsi ke wilayah Jawa Barat, salah satunya ke Tasikmalaya. Sebagian dari pengungsi itu akhirnya menetap. Batik pun berkembang dengan motif dan corak yang menyesuaikan alam dan lingkungan sekitarnya.
Merak ngibing,salah satu motif khas batik tasik. [Foto; Yun Damayanti]
Batik tasik punya tiga motif yakni batik sukaraja, batik sawoan, dan batik tasik. Batik sukaraja menyerupai batik madura dengan ciri karakter motif dan warna yang kontras serta warna tanah yang dominan. Batik sawoan didominasi warna cokelat sawo yang dipadu warna indgo dan putih. Batik tasik berwarna cerah, kaya motif, dan tidak banyak isen-isen. Batik tasik mirip dengan batik garut namun mendapat pengaruh batik pesisiran yang cukup kuat. Motif khas batik tasik di antaranya, merak ngibing, cala-culu, pisang-bali, sapu jagat, dan awi ngarambat.
Sentra batik tasik ada di Nagarasari Cipedes, Gudang Jero, Gudang Pesantren, Bojongkaum, Panglayungan, Sayuran, dan Sukaraja.
Payung geulis
Payung geulis adalah kriya khas Tasikmalaya yang hampir punah. Payung kertas berwarna cerah berlukiskan bunga-bunga pernah digandrungi oleh nona-nona Belanda pada tahun 1926. Payung hiasan ini mencapai masa jayanya pada kurun waktu 1955-1968. Setelah itu merosot, tergantikan dengan payung buatan pabrik yang bisa melindungi dari hujan dan panas. Sekarang, fungsi payung geulis memang sebatas menjadi dekorasi ruangan, dan properti yang digunakan dalam suatu perhelatan seperti upacara pernikahan dan pertunjukan seni.
Payung geulis masih dibuat secara manual. [Foto; Yun Damayanti]
Dalam perkembangannya, payung geulis tidak hanya dibuat dari kertas tetapi juga dari kain. Kecuali gagang kayu yang sudah dibuat dengan menggunakan mesin, proses pembuatan payung ini tetap manual. Pembuatan payung geulis bisa dilihat di sentra payung geulis Panyingkiran, Indihiang, Kota Tasikmalaya.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Pemerintah kembali menyiapkan bantuan insentif bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf). Total anggaran Bantuan Insentif Pemerintah (BIP) tahun 2021 sebesar Rp 60 miliar dan akan segera dimulai pada 4 Juni 2021. Pemberian BIP tahun ini tidak ada destinasi wisata yang [more]