Tourism for Us – Cirebon sebagai destinasi wisata religi sudah berlangsung lama dan sangat dikenal terutama di kalangan wisatawan domestik. Kota ini juga merupakan salah satu destinasi utama dalam rute ziarah Wali Songo. Keberadaan makam Sunan Gunung Jati yang menyebarkan agama Islam pada awal masuknya [more]
Tourism for Us – Capaian pariwisata Indonesia pada 2022 melampaui target. Setelah penanganan krisis pandemi yang baik, pelonggaran syarat perjalanan dan fasilitasi perjalanan internasional menjadi kunci berikutnya untuk memulihkan sektor pariwisata. Pemerintah menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 3,5 juta hingga 7,4 juta pada tahun [more]
Tourism for Us – Pelayanan dan sikap warga Desa Riam Tinggi membuat setiap wisatawan yang datang betah. Mereka merasa menjadi bagian dari kampung Dayak Tomun walaupun hanya tinggal sesaat. Hospitality warga di salah satu desa wisata di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, ini telah diakui baik oleh wisatawan mancanegara, wisatawan domestik maupun para operator tur/agen perjalanan.
Ritual potong garung pantan yakni prosesi membuka gerbang sebelum memasuki Desa Riam Tinggi. (Foto: Gogo/Dewi Riam Tinggi)
Pengalaman wisatawan sudah dimulai sejak tiba di pintu desa. Upacara menyambut tamu merupakan salah satu ritual penting dalam relasi sosial masyarakat Nusantara. Di situ ada adab saling menghormati antara tamu dan tuan rumah, pun doa-doa keselamatan dipanjatkan. Namun, ada hal menarik dari masyarakat Dayak Tomun di Riam Tinggi.
Sama seperti di desa-desa lain yang masih memegang teguh adat-istiadat, wisatawan yang datang akan disambut dengan ritual-ritual penyambutan tamu. Di Riam Tinggi, pertama, wisatawan mengikuti ritual potong garung pantan yakni prosesi membuka gerbang sebelum memasuki desa. Pintu gerbang terdiri dari tiga batang kayu garung dalam posisi memalangi. Palang kayu itu dihias sedemikian rupa.
Tetua kampung akan menyodorkan minuman tradisional selamat datang. Setelah meminumnya, wisatawan memotong ketiga batang kayu garung. Baru kemudian mereka diizinkan masuk.
Kemudian, di rumah yang menjadi tempat homestay, wisatawan mengikuti ritual penyambutan kedua yaitu bonoik bonaki. Dalam ritual ini, tuan rumah menyiapkan beberapa sajian termasuk minuman tradisional. Ritual itu bertujuan untuk mendoakan keselamatan dan kesehatan tamu yang baru pertama kali datang ke Desa Wisata Riam Tinggi. Sehingga ketika mereka kembali pulang tidak akan kekurangan segala sesuatu.
Lalu ritual dilanjutkan dengan bagondang. Pada ritual ini tuan rumah memimpin tamu menari diiringi musik tradisional. Anggota keluarga tuan rumah juga ikut menari bersama. Ritual itu berakhir dengan ramah-tamah yang mendekatkan tamu dengan anggota keluarga tuan rumah dan warga yang ikut hadir.
Minuman tradisional yang disajikan pada ritual potong garung pantan maupun bonoik bonaki berupa tuak (rice wine). Bagi tamu muslim tidak dipaksakan untuk meminumnya. Walaupun demikian, tetua kampung dan tuan rumah tetap akan memperkenalkan tempat khusus minuman tradisional yang digunakan dan bagaimana sub suku Dayak Tomun melakukan ritual minumnya.
‘’Kami tidak akan memaksakan jika tamu tidak bisa mengkonsumsi tuak. Biasanya cuma diminta memegang tempat tuak yang disuguhkan. Tidak bisa minum tuak tidak akan merusak acara adat yang berlangsung. Kami sudah memahami apapun keadaan tamu. Yang penting mereka enjoy, menikmati jalannya acara adat,’’ ujar Gogo, seorang warga Desa Riam Tinggi menerangkan. Dia juga salah seorang anggota kelompok sadar wisata (pokdarwis) desa yang didaulat sebagai juru marketing.
Tamu akan tidur di salah satu kamar yang telah disiapkan tuan rumah. Kamarnya bersih dan ditata rapi sehingga nyaman. Ada wisatawan asing yang memuji, dia mendapat kamar yang dilengkapi kamar mandi dengan kloset duduk.
Pada pagi hari, wisatawan sarapan bersama tuan rumah di teras. Menunya makanan tradisional: ada nasi, telur, dan buah-buahan.
Setelah sarapan, wisatawan diajak walking tour keliling kampung. Warga desa yang menjadi pemandu lokal akan bercerita mengenai kampung beserta sejarahnya.
Selain mendengarkan cerita selama keliling kampung, wisatawan diajak menyinggahi beberapa tempat. Persinggahan pertama adalah sebuah altar tersembunyi pada sebuah pohon di pinggir sungai. Altar itu merupakan tempat menaruh gerabah-gerabah yang berisi kerangka pendiri desa dan ibunya. Warga desa melakukan ritual persembahan terpentingnya di situ.
Persinggahan kedua adalah rumah panjang tua di atas bukit. Rumah ini difungsikan sebagai tempat menyimpan topeng-topeng seremonial desa. Wisatawan dapat masuk dan melihatnya. Bahkan tamu diizinkan untuk mengenakan topeng. Dan jangan kaget bila pemandu lokal mendadak menarikan tari-tarian.
‘’Iya. Itu rumah khusus. Bisa juga disebut museum topeng dayak. Tamu boleh masuk dan mencoba topeng karena memang tujuannya untuk memperkenalkan topeng asli Dayak,’’ kata Gogo melanjutkan.
Bagi wisatawan yang ingin berkegiatan lebih aktif bisa mengikuti jungle trekking atau berarung jeram di Sungai Delang. Untuk kegiatan trekking, Desa Riam Tinggi punya tempat tertinggi di Bukit Lubang Kilat di Dusun Bingal.
Sebelum mencapai bukit, wisatawan mesti meniti sebuah jembatan gantung yang telah dicat warna pelangi. Warga telah membangun dek panorama di atas bukit. Wisatawan bisa menikmati hamparan hutan hujan tropis dari sana. Waktu terbaiknya saat matahari terbit.
Ada juga aktifitas-aktifitas lain yang lebih ringan. Wisatawan bisa ikut anggota keluarga tuan rumah ke ladang dan membantu mereka bercocok tanam atau memetik hasil panen. Atau, tetap berada di rumah sambil belajar memasak kuliner tradisional seperti pulut lomang, nasi putut dan wadai sango, serta belajar menganyam.
Suku Dayak ialah pemburu ulung. Mereka berburu menggunakan sumpit. Wisatawan tidak perlu ikut berburu ke dalam hutan tetapi bisa belajar menyumpit di pekarangan rumah.
Di desa ada dua festival penting yakni Festival Balayah Lanting dan upacara adat Babantan Laman. Bila pas waktunya, wisatawan bisa melihat upacara Babantan Laman yang dilaksanakan setiap tahun pada tanggal 7 bulan 7.
Desa Riam Tinggi kian hari semakin berkembang. Desa ini sudah punya area parkir, balai pertemuan, kamar mandi umum, kios suvenir hingga area yang dilengkapi WiFi dan tempat-tempat swafoto.
Akses ganda
Desa Riam Tinggi berada di lintas Trans Kalimantan. Posisinya berada di perbatasan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Desa ini bisa diakses dari Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, juga bisa dari Pontianak, ibukota Provinsi Kalimantan Barat.
Dari Bandara Iskandar di Pangkalan Bun sampai ke Desa Riam Tinggi dapat dicapai dengan perjalanan darat selama empat jam. Dari Nanga Bulik, ibukota Kabupaten Lamandau, desa ini berjarak dua jam perjalanan darat.
Dari Pontianak, wisatawan dapat naik bis DAMRI rute Pontianak-Pangkalan Bun. Petunjuk menuju lokasi desa telah dipasang di pinggir jalan Trans Kalimantan sehingga memudahkan wisatawan.
‘’Jalan darat Trans Kalimantan ke Riam Tinggi bagus, kok. Kampung itu berbatasan dengan Kalimantan Barat. Malah ongkosnya lebih murah dari Pontianak. Naik bis DAMRI,’’ kata Bachriansyah, salah seorang operator tur berbasis di Pangkalan Bun.
Pemandangan dari dek panorama di Bukit Lubang Kilat. [Foto; Gogo/Dewi Riam Tinggi]
Cerita sukses Riam Tinggi
Tidak pernah terlintas dalam pikiran warga Desa Riam Tinggi bahwa desanya akan menjadi desa wisata. Semua berawal ketika suatu hari di penghujung tahun 2017 ada satu perusahaan operator tur mengirimkan lima wisatawan asing ke desa itu.
‘’Jujur. Kami bingung mau diapakan tamu ini pada waktu itu. Kami tidak tahu bagaimana cara melayani tamu. Dengan pengetahuan terbatas, kami sambut mereka dengan acara adat dan melihat keindahan yang ada di Riam Tinggi,’’ tutur Gogo mengingat kembali hari bersejarah itu.
Memang, lanjutnya, sekitar satu minggu sebelumnya desa menerima kunjungan pengenalan perjalanan (familiarization trip/famtrip) yang diikuti beberapa operator tur yang ada di Pangkalan Bun. Famtrip ini untuk mengeksplorasi Desa Riam Tinggi. Melalui famtrip itu peserta menilai apakah desa tersebut sudah layak dijual atau belum.
‘’Rupanya, tamu itu senang dan suka berada di Riam Tinggi. Ketika pulang, mereka menyampaikan respon yang bagus kepada operator tur yang membawanya,’’ tambahnya.
Sejak itu, wisatawan demi wisatawan berdatangan ke Riam Tinggi. Warga mulai tahu, kalau ada tamu pasti mereka akan kebagian uang dari paket tamu yang datang. Lama-lama mereka paham bahwa pariwisata banyak manfaatnya.
Ada yang mulai berjualan makanan dan minuman. Ada yang berjualan cendera mata dengan menawarkan hasil kerajinan tangan yang dibuat sehari-hari. Sekarang, cendera matanya berkembang tidak hanya berupa produk anyaman tetapi juga hasil bumi yang diproduksi di kampung seperti beras dari ladang, kopi dan makanan ringan.
Didampingi oleh operator tur yang membawa wisatawan-wisatawan ke desa, warga semakin semangat untuk menjaga adat istiadat, tradisi dan kearifan lokal. Pelan-pelan warga mengerti dan paham yang dinamakan wisata. Sekarang, mereka malah sudah terbiasa dengan wisatawan-wisatawan asing dan menganggap tamu-tamu itu bagian dari orang kampung Riam Tinggi
‘’Kami masih memegang teguh menjaga hutan alam dan sebagainya. Warga sudah mengerti batasan-batasan yang bisa dilakukan agar tidak merusak hutan. Yang jelas, sampai hari ini, kami masih memegang teguh adat istiadat yang telah diturunkan dari leluhur dan bisa ditampilkan kapan saja dan di mana saja. Kalau tidak didukung oleh warga, tidak mungkin kami berjalan sampai sekarang,’’ kata Gogo.
Alhasil, semakin banyak operator tur yang mempercayakan tamunya dikirim ke Riam Tinggi. Dan itu masih berjalan sampai hari ini.
Transformasi Riam Tinggi jadi desa wisata
Pada tahun 2015, Bupati Lamandau saat itu mengeluarkan sebuah surat keputusan (SK). Isinya, menetapkan Kecamatan Delang menjadi tujuan wisata adat dan budaya. Tetapi, penetapan itu tidak langsung direspon oleh desa-desa di Kecamatan Delang, termasuk Desa Riam Tinggi. Karena warga tidak tahu apa itu desa wisata dan apa itu pariwisata.
Riam Tinggi menjadi desa wisata sekitar pertengahan tahun 2017. Pada tahun yang sama ada famtrip. Pesertanya beberapa operator tur yang ada di Pangkalan Bun yang biasa beroperasi di kawasan Tanjung Puting. Famtrip tersebut mencari data apakah Riam Tinggi bisa atau layak dijual atau tidak. Sekitar satu minggu kemudian, ada operator tur yang langsung mengirimkan tamunya.
Semenjak kedatangan wisatawan mancanegara pertama itu, warga desa, khususnya generasi muda, aktif mencari-cari dan bertanya-tanya kepada orang-orang yang memang paham industri pariwisata. Para operator tur diakui sangat membantu Riam Tinggi berkembang menjadi desa wisata. Hingga akhirnya dibentuk pokdarwis pada tahun 2018. Dan kerja sama antara desa dan operator tur masih berlanjut sampai sekarang.
‘’Mereka selalu memberikan masukan, saran, dan itu kami pahami. Kami terapkan sampai sekarang. Di samping, tentunya, mereka akan terus mengirim tamu-tamunya,’’ pungkas Gogo.
Bupati Lamandau telah mengeluarkan SK baru pada tahun 2022. Kali ini isinya, menetapkan Riam Tinggi sebagai desa wisata berkembang.
Pokdarwis Desa Wisata Riam Tinggi juga aktif ikut berbagai ajang penghargaan pariwisata. Di ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), desa ini masuk Top 300 pada keikutsertaan tahun 2021 dan masuk jajaran Top 100 desa wisata pada 2022. Selain itu, Desa Riam Tinggi sudah masuk dalam jejaring desa wisata (jadesta).
Desa Riam Tinggi telah memenangkan banyak hati wisatawan dengan pesona budaya Dayak Tomunnya. Dan tidak kalah penting, mereka pun berupaya menjaga kepercayaan para operator tur dan tidak pernah berhenti bertanya dan belajar.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Pasar pariwisata tahunan Jogja International Travel Mart 2022 berhasil meyakinkan pelaku industri pariwisata mancanegara bahwa selalu ada sesuatu yang baru di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Jogja International Travel Mart (JITM) memasuki penyelenggaraan ketiga belas tahun ini. Pasar pariwisata bertaraf internasional di [more]
Tourism for Us – Tiga desa wisata mewakili Indonesia di ajang UNWTO Best Tourism Villages 2021. Dua dari tiga desa pernah mendapat penghargaan di tingkat ASEAN dan UNWTO, dan satu desa lagi rupanya telah dikenal sebagai kawasan tetirah para pejabat di masa kolonial Belanda. Desa [more]
Tourism for Us – Jakarta punya desa wisata? Ada. Desa wisata di Ibukota merupakan kampung-kampung urban di tengah ‘hutan beton’ pencakar langit. Nah, di kampung-kampung itu riwayat perjalanan hidup Jakarta menjadi sebuah kota metropolitan cukup terawat. Dua diantaranya adalah Kampung Budaya Betawi di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan dan Pulau Untung Jawa di Kepulauan Seribu. Mengunjungi kedua desa wisata (kampung urban) tersebut bisa dipertimbangkan pada masa staycation.
Seni bela diri pencak silat khas Betawi masih hidup. Di Kampung Budaya Betawi pengunjung bisa melihat bagaimana seni bela diri itu dirawat dan dihidupkan. [Foto; Birkompublik Kemenparekraf]
Kampung Budaya Betawi Jagakarsa
Kampung Budaya Betawi di Kelurahan Srengseng Sawah, Jagakarsa merupakan sebuah kawasan yang difungsikan sebagai tempat pelestarian budaya Betawi. Di sini pengunjung bisa merasakan kehidupan sehari-hari dan adat-istiadat masyarakat Betawi. Hal yang semakin langka bisa ditemui.
Warga di Kampung Budaya Betawi rutin menggelar latihan pencak silat, palang pintu dan lain-lain. Kegiatan yang bersifat ritual seperti upacara injak tanah bagi bayi yang baru mulai melangkah, selamatan akikah, hingga ngarak penganten sunat masih dilakukan. Selain itu, kampung budaya telah dilengkapi dengan Museum Betawi. Museum sudah tersertifikasi Indonesia Care berbasis CHSE.
Setu Babakan dan Setu Mangga Bolong yang telah dikenal luas berada di Kampung Budaya Betawi. Di sepanjang tepian setu, pohon kecapi, rambutan, sawo, nangka, melinjo dan pisang tumbuh dengan baik. Buah-buahan tersebut sangat dekat dengan keseharian masyarakat Betawi. Pengunjung juga dapat ikut memetik buah alpukat di kebun saat musimnya. Kawasan setu pun dimanfaatkan untuk wisata air seperti sepeda air, kano dan memancing.
Di sini pengunjung dapat mencicipi rasa asli kuliner Betawi di antaranya, laksa, toge goreng, kerok telor, es selendang mayang dan bir pletok.
Kondisi perairan di Pulau Untung Jawa semakin membaik. Menikmati wisata bahari di Kepulauan Seribu semakin asyik. (Foto: Birkompublik Kemenparekraf)
Pulau Untung Jawa, Kepulauan Seribu
Pulau Untung Jawa adalah salah satu pulau berpenduduk di Kepulauan Seribu yang juga menjadi tujuan wisata. Kelebihan pulau ini, posisinya terdekat dengan daratan Jakarta dan Tangerang. Sekarang, kondisi perairan lautnya cukup baik. Pengunjung bisa menikmati hamparan pasir putih lembut dan bermain di laut berair hijau toska bersih.
Bagi yang mau menginap, tersedia 220 kamar homestay yang diusahakan oleh 51 warga Pulau Untung Jawa. Masyarakat secara swadaya membangun 12 unit toilet yang difungsikan juga sebagai kamar bilas bagi pengunjung yang berwisata sehari. Untuk keliling pulau, pengunjung dapat menyewa sepeda ontel. Saking suburnya pohon sukun tumbuh di sini, pengunjung mudah sekali menemukan dan mencicipi aneka kuliner lokal terbuat dari sukun untuk dimakan di tempat ataupun dibawa pulang sebagai oleh-oleh.*** (Yun Damayanti)
Tourism for Us – Desa-desa di Sumatera Barat ini layak dipertimbangkan untuk dikunjungi setelah PPKM. Ada apa saja yang menarik di sana? Desa Wisata Nagari Sumpu, Tanah Datar Desa wisata Nagari Sumpu patut dipertimbangkan oleh pecinta kuliner. Di desa ini, traveler bisa mencicipi rendang sumpu [more]
Tourism for Us – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menargetkan sebanyak 244 desa wisata tersertifikasi menjadi desa wisata mandiri hingga 2024. Dari 244 desa wisata, sebanyak 150 desa wisata berada di lima destinasi super prioritas (5 DSP) dan akan diperluas. Salah satu langkah yang sudah [more]
Tourism for Us – Daya tarik desa wisata tidak melulu mengenai atmosfer pedesaan yang bersahaja dan panorama alam nan indah. Setiap desa wisata juga memiliki produk-produk khasnya. Mulai dari kuliner hingga kerajinan tangan yang bisa dijadikan oleh-oleh.
Produk ekonomi kreatif yang bisa ditemukan di desa-desa wisata.(Foto: Puskompublik Kemenparekraf)
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno menjelaskan, pengembangan desa wisata menjadi salah satu program unggulan Kemenparekraf. Program ini diharapkan dapat menjadi lokomotif penggerak pemulihan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Program unggulan Kemenparekraf yang diharapkan bisa menyentuh masyarakat di seluruh Nusantara yaitu pengembangan 244 desa wisata yang kita targetkan hingga 2024 menjadi desa wisata mandiri,” kata Menparekraf Sandiaga Uno, pertengahan Maret 2021.
Apa saja produk ekonomi kreatif yang bisa ditemui di desa wisata?
Wastra
Kain tradisonal atau wastra merupakan salah satu kekayaan Indonesia yang bisa ditemukan di desa-desa wisata. Seperti Desa Wisata Lumban Bulbul di Toba, Provinsi Sumatera Utara, merupakan salah satu sentra ulos, wastra khas Toba.
Kuliner
Petualangan kuliner tidak akan pernah berakhir di Indonesia. Saat berkunjung ke suatu daerah, kita akan disuguhi beragam menu makanan dan minuman. Misalnya di Desa Wisata Penglipuran, Bangli, Provinsi Bali, cobalah kuliner khasnya, loloh cemcem dan sueg.
Kerajinan tangan
Kerajinan tangan juga merupakan produk ekonomi kreatif yang bisa dijadikan oleh-oleh. Jika ingin sesuatu yang berbeda, cobalah berkunjung ke Desa Wisata Karangrejo di Magelang, Provinsi Jawa Tengah, untuk berburu kerajinan pahat batu khas kawasan Borobudur.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Penasaran dengan istilah desa wisata yang sering didengar akhir-akhir ini? Nah, kalau traveler sedang berada di Pulau Bali, Pulau Lombok, atau Pulau Flores, tiga desa berikut bisa dikunjungi. Ketiga desa wisata itu bisa jadi referensi awal untuk menjawab rasa penasaran kamu. [more]