Tag: hospitality industry

ARTOTEL GROUP SOROTI PENTINGNYA RESTORASI ALAM BAGI KEBERLANJUTAN INDUSTRI HOSPITALITY INDONESIA

ARTOTEL GROUP SOROTI PENTINGNYA RESTORASI ALAM BAGI KEBERLANJUTAN INDUSTRI HOSPITALITY INDONESIA

Tourism for Us – Alam merupakan elemen yang tak terpisahkan dari ekosistem bisnis pariwisata, termasuk sektor perhotelan. Industri perhotelan sangat bergantung pada berbagai sumber daya alam yang ada. Oleh karena itu, restorasi alam menjadi bagian penting dalam upaya menciptakan keberlanjutan dan ketahanan bagi industri ini. [more]

30 TAHUN HIMPUNAN HUMAS HOTEL INDONESIA: PERKUAT PROFESI DAN PROMOSI PARIWISATA NASIONAL

30 TAHUN HIMPUNAN HUMAS HOTEL INDONESIA: PERKUAT PROFESI DAN PROMOSI PARIWISATA NASIONAL

Tourism for Us – Himpunan Humas Hotel (H3) Indonesia genap berusia 30 tahun pada 27 November 2025. Perayaan tiga dekade perjalanan organisasi menegaskan peran strategis humas hotel dalam memajukan industri perhotelan sekaligus mendorong kemajuan sektor pariwisata nasional. Momentum ini juga menandai posisi H3 Indonesia sebagai [more]

SINYAL SOS DARI INDUSTRI PERHOTELAN DAN RESTORAN JAKARTA: PENURUNAN OKUPANSI, KENAIKAN BIAYA OPERASIONAL, DAN ANCAMAN PHK MASSAL

SINYAL SOS DARI INDUSTRI PERHOTELAN DAN RESTORAN JAKARTA: PENURUNAN OKUPANSI, KENAIKAN BIAYA OPERASIONAL, DAN ANCAMAN PHK MASSAL

Tourism for Us – Hasil survei Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Daerah Khusus Jakarta (BPD PHRI DK Jakarta) menunjukkan bahwa 96,7% hotel melaporkan terjadinya penurunan tingkat hunian. Survei itu dilakukan terhadap anggotanya pada bulan April 2025. Dari hasil survey tersebut, asosiasi hotel dan restoran menyampaikan kekhawatiran terhadap kondisi industri hotel dan restoran di Jakarta yang menunjukkan tren menurun, terutama pada triwulan pertama tahun 2025. Pelaku industri berharap tren penurunan ini tidak berlanjut karena akan memberikan dampak domino yang lebih luas.  

(Foto: Kemenparekraf)

BPD PHRI DK Jakarta menyampaikan hasil surveinya dan mengungkapkan kondisi terkini industri perhotelan dan restoran di Jakarta dalam jumpa pers daring hari ini, Senin (26/5/2025). Hadir selaku narasumber Ketua BPD PHRI DK Jakarta Sutrisno Iwantono, Sekretaris BPD PHRI DK Jakarta Priyanto, dan Singgih Santoso, Dewan Pakar PHRI Pusat.  

Ketua BPD PHRI DK Jakarta Sutrisno Iwantono mengungkapkan bahwa industri ini tengah menghadapi tekanan berat dari berbagai sisi. Tingkat hunian hotel mengalami penurunan, sedangkan biaya operasional meningkat tajam dan membebani kelangsungan usaha. Seiring dengan itu, banyak pelaku usaha terpaksa melakukan berbagai strategi efisiensi operasional termasuk pengurangan tenaga kerja.

Dari hasil survei menunjukkan bahwa penurunan tingkat hunian dan pendapatan merupakan faktor utama yang memperburuk kondisi industri perhotelan di Jakarta. Sebanyak 66,7% responden menyebutkan bahwa penurunan tertinggi berasal dari segmen pasar pemerintah, seiring dengan kebijakan pengetatan anggaran yang diterapkan oleh pemerintah.

Pasar perhotelan di Jakarta 98% adalah pasar domestik/lokal, dan pasar pemerintah menyumbang 66% dari keseluruhan pasar tamu domestik. Oleh karena itu, penurunan dari pasar pemerintah semakin memperburuk ketergantungan industri hotel terhadap wisatawan domestik.

Sementara itu, kontribusi wisatawan mancanegara (wisman) terhadap kunjungan ke Jakarta masih tergolong sangat kecil. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), dari tahun 2019 hingga 2023, rata-rata persentase kunjungan wisman ke kota terbesar di Indonesia ini hanya mencapai 1,98% per tahun jika dibandingkan dengan wisatawan domestik. Kondisi itu mencerminkan strategi promosi dan program pemerintah kurang efektif dalam mendatangkan wisman, khususnya ke Jakarta.

Jumlah hotel di Jakarta sekitar 900 unit. PHRI DK Jakarta mencatat rata-rata tingkat keterisian kamar sekarang di kisaran 40%. Sebelum penghematan anggaran pemerintah, okupansi hotel berbintang antara 53% hingga 54%, tetapi sekarang sekitar 45%. Rata-rata tingkat keterisian kamar hotel non-bintang sebelumnya sekitar 40% dan sekarang di kisaran 20%.

Event, konser, dan lain-lain memang membantu keterisian kamar hotel, tetapi itu tidak berlangsung lama dan hanya di area-area tertentu. Kemudian, kampanye ‘’Lebaran di Jakarta’’ tahun ini berdampak sedikit sekali bagi hotel.

Berbeda dengan sebelum pandemi Covid-19 ketika warga Jakarta yang tidak pulang kampung menginap di hotel karena ditinggal asisten rumah tangganya dan mereka berbelanja banyak di hotel. Sekarang, hotel menurunkan harga kamar agar mereka mau menginap. Langkah ini bisa mengungkit volume keterisian kamar, tetapi belanja mereka di hotel sedikit sekali. Namun, ketika hotel-hotel berbintang menurunkan harga, maka keterisian kamar hotel yang berada di bawahnya dan hotel non-bintang akan terimbas.

Sektor swasta diharapkan dapat mengisi kekosongan akibat dari pasar pemerintah yang berkurang signifikan. Namun, mereka juga pasti sedang melakukan efisiensi saat ini.

“Ketidakseimbangan struktur pasar menunjukkan perlunya pembenahan strategi promosi dan kebijakan pariwisata yang lebih efektif untuk menjangkau pasar internasional,” ujar Sutrisno Iwantono.

Faktor berikutnya adalah kenaikan biaya operasional.Tidak hanya dihadapkan pada berkurangnya pasar, pelaku usaha hotel juga harus menanggung peningkatan biaya operasional yang signifikan. Tarif air dari PDAM mengalami kenaikan hingga 71%, sementara harga gas melonjak 20%. Beban ini diperberat dengan kenaikan tahunan Upah Minimum Provinsi (UMP) yang tercatat meningkat hingga 9% tahun ini.

Dengan tekanan dari sisi pendapatan dan biaya yang tidak seimbang, banyak pelaku usaha mulai mengambil langkah-langkah antisipatif. Sebanyak 70% responden dalam survei BPD PHRI DK Jakarta menyatakan bahwa jika kondisi ini terus berlanjut tanpa adanya intervensi kebijakan yang mendukung sektor pariwisata dan perhotelan, mereka akan terpaksa melakukan pengurangan jumlah karyawan. Responden memprediksi akan melakukan pengurangan karyawan sebanyak 10% hingga 30%. Selain itu, 90% responden melakukan pengurangan daily worker dan 36,7% responden akan melakukan pengurangan staf.

(Foto: Birkompublik Kemenparekraf)

Dari industri restoran diungkapkan bahwa pasar utama restoran di Jakarta adalah kelas menengah. Restoran menghadapi dampak dari daya beli kelas menengah yang menurun dan berkurangnya jumlah kelas menengah.

Industri restoran juga semakin tertekan dengan biaya operasional yang semakin meroket. Food cost naik antara 8% sampai 10%, sehingga biaya pembelian bahan baku mencapai 38% dari biaya operasional.

Sama seperti pelaku industri perhotelan, pelaku industri restoran pun sudah melakukan berbagai upaya antisipatif. Mulai dari membuat paket-paket khusus dan promosi setiap hari sampai pengurangan pegawai dan tidak melakukan rekrutmen pegawai. Rekrutmen pegawai baru di restoran berkurang antara 20% hingga 30%.

Faktor ketiga adalah kerumitan regulasi dan sertifikasi. Pelaku industri hotel dan restoran masih dihadapkan pada tantangan administratif berupa regulasi dan sertifikasi yang dinilai rumit dan memberatkan. Banyaknya jenis izin yang harus dipenuhi, seperti izin lingkungan, sertifikat laik fungsi, hingga perizinan minuman beralkohol. Selain itu, proses birokrasi yang panjang, duplikasi dokumen antarinstansi, serta biaya yang tidak transparan dinilai menghambat kelangsungan usaha. Kondisi ini menjadi peringatan serius bagi para pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat maupun daerah. Tanpa langkah konkret dan strategi pemulihan yang tepat, industri perhotelan sebagai salah satu tulang punggung pariwisata dan penyerap tenaga kerja berpotensi mengalami krisis berkepanjangan yang dampaknya bisa meluas ke sektor lain.

Dampak dari kondisi tersebut tidak terbatas pada sektor hotel dan restoran semata. Industri hotel dan restoran selama ini berkontribusi besar terhadap pendapatan asli daerah DK Jakarta dengan rata-rata sumbangan sekitar 13%. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2023 terdapat lebih dari 603 ribu tenaga kerja yang bergantung pada sektor akomodasi dan makanan-minuman di Jakarta.

Kemudian, penurunan kinerja sektor ini juga membawa efek domino terhadap sektor lain seperti UMKM, petani, dan pemasok logistik dari tetangga-tetangga Jakarta seperti Jawa Barat, Banten hingga Jawa Tengah, serta pelaku seni-budaya, mengingat eratnya keterkaitan rantai pasok dan ekosistem dalam industri pariwisata.

Menanggapi situasi ini, BPD PHRI DK Jakarta mendorong pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah strategis. Beberapa usulan yang disarankan meliputi:

1) pelonggaran kebijakan anggaran pemerintah untuk perjalanan dinas dan kegiatan rapat,

2) peningkatan promosi pariwisata yang lebih terarah dan berkesinambungan,

3) penertiban akomodasi ilegal yang merusak pasar dan tidak memiliki izin resmi,

4) peninjauan kembali terhadap kebijakan tarif air, harga gas industri, dan UMP sektoral, serta

5) penyederhanaan proses perizinan dan sertifikasi, termasuk mengintegrasikan sistem antarinstansi agar lebih efisien dan transparan.

PHRI DK Jakarta mengakui bahwa kondisi di perhotelan dan restoran saat ini masih sedikit lebih baik daripada saat pandemi Covid-19. Namun, para pengusaha tidak ingin kondisi sekarang menurun lagi. Oleh karena itu, pelaku industri perhotelan dan restoran di Jakarta berharap agar pemerintah dapat merespon secara cepat dan tepat terhadap berbagai permasalahan yang terjadi. Industri hotel dan restoran tidak hanya berperan penting dalam perekonomian, tetapi juga menjadi wajah pariwisata Jakarta di mata nasional maupun internasional. Dukungan nyata dari pemerintah akan menjadi kunci bagi kebangkitan sektor ini sebagai penggerak utama ekonomi Jakarta. ***(Yun Damayanti)

25HOURS HOTEL JAKARTA THE ODDBIRD RESMI DIBUKA, OPTIMISME TERHADAP MASA DEPAN INDUSTRI PERHOTELAN INDONESIA

25HOURS HOTEL JAKARTA THE ODDBIRD RESMI DIBUKA, OPTIMISME TERHADAP MASA DEPAN INDUSTRI PERHOTELAN INDONESIA

Tourism for Us – 25hours Hotel Jakarta The Oddbird telah resmi membuka pintunya bagi wisatawan dan business travelers pada 22 November 2024. Hotel ini menawarkan hal-hal baru yang menyegarkan dengan konsep dan desainnya yang tidak biasa. Kehadiran hotel itu menandai debut konsep perhotelan yang dinamis di [more]

IBIS RAYAKAN ULANG TAHUN KE-50 DENGAN KAMPANYE TERBARU “GO GET IT”, WUJUDKAN POLA PIKIR YANG UNIK DAN MEMBERDAYAKAN PARA WISATAWAN

IBIS RAYAKAN ULANG TAHUN KE-50 DENGAN KAMPANYE TERBARU “GO GET IT”, WUJUDKAN POLA PIKIR YANG UNIK DAN MEMBERDAYAKAN PARA WISATAWAN

Tourism for Us – ibis merayakan hari jadi ke-50 bulan September ini. Untuk merayakannya, merek hotel ekonomis paling terkenal di dunia dalam grup Accor itu meluncurkan kampanye merek global terbarunya ‘’Go get it’’. Dengan kampanye tersebut, hotel menempatkan orang (staf), tamu, dan merek di jantung [more]

PELAKU INDUSTRI PERHOTELAN DAN RESTORAN KOTA CIREBON SIAP MAKSIMALKAN INFRASTRUKTUR, BUTUH SINERGI ANTARPEMDA WILAYAH KARESIDENAN CIREBON

PELAKU INDUSTRI PERHOTELAN DAN RESTORAN KOTA CIREBON SIAP MAKSIMALKAN INFRASTRUKTUR, BUTUH SINERGI ANTARPEMDA WILAYAH KARESIDENAN CIREBON

Tourism for Us – Bangkit dari pandemi Covid-19, pelaku industri perhotelan dan restoran di Kota Cirebon siap memaksimalkan infrastruktur yang ada. Selain geliat ekonomi dari kawasan manufaktur dan industri lainnya, obyek-obyek wisata yang viral di Kuningan dan Majalengka turut menggerakan roda pariwisata di kota ini.

Swiss-cafe Restaurant di Swiss-belhotel Cirebon. (Foto: Yun Damayanti)

Ketua BPC PHRI Kota Cirebon Imam Reza Hakiki menerangkan, mulai dari 2020-2021 industri perhotelan di Cirebon lumayan membaik tetapi masih belum maksimal. Itu karena sektor pariwisata pulih paling akhir. Industri perhotelan di Kota Cirebon sangat terbantu dengan keberadaan pabrik-pabrik industri dan korporasi.

‘’Pada tahun 2022-2023, situasi dan kondisi menjadi lebih baik untuk teman-teman perhotelan. Karena pariwisata di Cirebon sudah mulai ramai lagi. Ditambah, banyak daerah wisata alam baru di Kuningan yang membawa dampak bagus juga bagi Cirebon,’’ ujar Imam.

‘’Perkembangan industri restoran dan kafe juga berkembang sangat pesat di Kota Cirebon. Tentu ini bisa menambah tempat-tempat tujuan kuliner bagi wisatawan,’’ tambahnya.

Tamu-tamu check-in dan check-out datang silih berganti di area lobby Swiss-belhotel Cirebon. Bila diperhatikan, ternyata tidak sedikit wisatawan yang memanfaatkan kelengangan pada hari-hari kerja untuk berlibur dan menikmati suasana Kota Udang. Sedangkan tamu-tamu bisnis, baik itu korporasi maupun pemerintahan, tidak tampak diburu waktu menuju tempat acara karena lalu lintas relatif tidak semacet di kota-kota besar.

Arlan, Manager Front Office Swiss-belhotel Cirebon, mengatakan, hotel tempatnya bekerja tutup selama satu bulan penuh pada April 2020, setelah pemerintah secara resmi menyatakan Covid-19 sebagai pandemi.

Swiss-belhotel Cirebon melihat tingkat keterisian kamar/okupansi mulai membaik sejak bulan Oktober 2021 sampai sekarang. Tingkat keterisian kamar di city hotel ini pada tahun 2022 sudah mencapai rata-rata 75 persen. Itu lebih tinggi daripada city occupancy di Kota Cirebon yang rata-rata berada di 70 persen pada tahun 2022. Pada periode Januari-Juli 2023, hotel ini membukukan keterisian kamar mencapai 77 persen.

‘’Kenaikannya terutama setelah tol Cisumdawu beroperasi. Perjalanan dari Swiss-belhotel Cirebon yang berada di tengah kota sampai ke Bandara Kertajati antara 45-60 menit. Jadi, kami optimis dengan perkembangan yang ada,’’ tutur Arlan.

Perkembangan pariwisata kota  di Cirebon cukup menjanjikan. Dia melihat, pangsa pasar wisatawan pada umumnya memesan secara daring (online). Pertumbuhan pangsa pasar ini pada tahun 2023 naik antara 2 hingga 3 persen YoY dibandingkan tahun 2022. Tujuan wisatawan ke Cirebon masih didominasi untuk wisata kuliner dan belanja. Dan itu juga merupakan salah satu efek dari Tol Cisumdawu.

Pangsa pasar pemerintahan dan korporasi untuk meeting dan residential juga tetap tumbuh.

Ketua BPC PHRI Kota Cirebon berharap, Kota Cirebon harus lebih siap dalam memperbaiki segala fasilitas umum baik tempat wisata alam dan wisata religi. Dinas-dinas pariwisata di wilayah karesidenan Cirebon harus bisa bersinergi dan bersama-sama memajukan pariwisata. Karena semua daerah mempunyai potensi yang sangat besar

‘’Dengan adanya Bandara Kertajati, Kota Cirebon harus bisa menarik wisatawan dari luar Pulau Jawa dan luar negeri terutama dari Malaysia,’’ kata Imam.

Kota Cirebon menargetkan kunjungan wisatawan sebanyak 2,3 juta pada tahun 2023. Kota ini dikunjungi total 4,2 juta wisatawan sepanjang tahun 2022, baik wisatawan Nusantara maupun mancanegara. Capaian kunjungan tahun lalu sudah melampaui target yang ditetapkan yakni sebanyak 2,2 juta wisatawan. Dan daerah asal wisatawan terbanyak adalah dari Jabodetabek dan Bandung. ***(Yun Damayanti)

80 PEKERJA PERHOTELAN DI KOTA BATAM IKUTI UJI KOMPETENSI BERSTANDAR ASEAN DARI BNSP

80 PEKERJA PERHOTELAN DI KOTA BATAM IKUTI UJI KOMPETENSI BERSTANDAR ASEAN DARI BNSP

Tourism for Us – Industri hospitality di Batam, Kepulauan Riau, terus meningkatkan kualitas sumber daya manusianya (SDM). Sebagai salah satu pintu masuk utama wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia, standar mutu SDM sangat dibutuhkan. Karena itu akan mempengaruhi mutu layanan yang diberikan. Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) [more]

‘SANTIKA ICONIC FOOD 2023’ SELAMA SEBULAN DI SELURUH JARINGAN HOTEL SANTIKA INDONESIA

‘SANTIKA ICONIC FOOD 2023’ SELAMA SEBULAN DI SELURUH JARINGAN HOTEL SANTIKA INDONESIA

Tourism for Us – Kekayaan khasanah kuliner Nusantara merupakan salah satu keunggulan industri perhotelan di Indonesia. Bagi hotel berjaringan, ini merupakan kesempatan memberikan pengalaman autentik dari setiap merek yang berada di destinasi yang berbeda-beda. Siapa yang tidak mengenal enaknya cita rasa Nusantara yang disuguhkan di [more]

SANTIKA INDONESIA GELAR SANTIKA FAIR 2023, AJAK PELAKU INDUSTRI PARIWISATA BERKOLABORASI LAGI

SANTIKA INDONESIA GELAR SANTIKA FAIR 2023, AJAK PELAKU INDUSTRI PARIWISATA BERKOLABORASI LAGI

Tourism for Us – Grup hotel Santika mengajak pelaku industri pariwisata untuk berkolaborasi lagi demi membangun bisnis dan ekonomi yang lebih baik. Jaringan hotel nasional ini siap menggelar empat Santika Fair B2B sepanjang tahun 2023 dengan mengangkat tema ‘’Let’s Collaborating!’’ Event B2B itu sekaligus untuk meningkatkan promosi pariwisata dalam negeri.

Santika Fair 2023 batch pertama di Hotel Santika Pandegiling-Surabaya, 17-18 Januari 2023. (Foto: Santika Indonesia)

Dalam siaran persnya disebutkan, Santika Fair B2B akan ada empat batch secara keseluruhan. Batch pertama untuk Regional Jawa Timur telah berlangsung pada 17-18 Januari 2023 di Hotel Santika Pandegiling-Surabaya. Pada batch pertama ini, Santika Indonesia menyapa seluruh klien travel agents, corporates, government dan media di Jawa Timur. Salah seorang operator tur asal Surabaya yang hadir mengungkapkan, dia bisa memilih waktu dan pertemuan tersebut baik untuk memperbarui informasi dan jejaring.

Santika Fair B2B batch berikutnya akan diselenggarakan berturut-turut pada bulan Maret 2023 untuk Regional Jakarta, Agustus 2023 untuk regional Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara. Masih di bulan Agustus juga akan digelar batch terakhir untuk regional Sumatera dan Kalimantan.

Di Santika Fair B2B, tour operators/travel agents, korporasi dan lembaga pemerintahan dapat berkomunikasi langsung dengan para sales leader dari 110 unit hotel di bawah grup Santika Indonesia Hotels & Resorts, baik secara tatap muka maupun virtual.    

Prita Gero, Corporate Marcomm Manager Santika Indonesia Hotels & Resorts, mengatakan, ada tujuh merek yang akan berpartisipasi di event ini yakni Amaris Hotel, Kampi Hotel, Hotel Santika, Hotel Santika Premier, The ANVAYA, The Kayana dan The Samaya.

Pada event ini, Santika Indonesia akan memperkenalkan secara lebih mendalam lima unit hotel terbarunya yang dibuka saat pandemik berlangsung. Kelima hotel itu adalah Hotel Santika Bukittinggi dan Amaris Hotel Tasikmalaya pada tahun 2020; Hotel Santika Premier Padang pada tahun 2021; Hotel Santika Gunungkidul-Jogja dan Hotel Santika Batam pada tahun 2022. Selain itu, Santika Indonesia juga akan memperkenalkan secara singkat terkait tujuh unit hotel yang akan dibuka pada tahun 2023.

Santika Indonesia Hotels & Resorts saat ini mengelola 110 unit hotel dengan tujuh merek utama yakni The ANVAYA Beach Resorts sebagai hotel berbintang 5, Hotel Santika Premier sebagai hotel berbintang 4, Hotel Santika sebagai hotel berbintang 3, Kampi Hotel sebagai instagenic hotel berbintang 3, Amaris Hotel sebagai smart hotel, dan The Royal Collection (The Samaya dan The Kayana) sebagai boutique villas.***(Yun Damayanti)        

MELIHAT MASA DEPAN B-TO-B HOSPITALITY DI MGCONNECT

MELIHAT MASA DEPAN B-TO-B HOSPITALITY DI MGCONNECT

Tourism for Us – Pasar B-to-B di pariwisata masih eksis. B-to-B di industri apa pun akan cerah saat beralih ke platform digital. Dan itu juga berlaku untuk industri hospitality, salah satu sektor di pariwisata. Sama seperti pasar konsumen, mekanisme pasar B-to-B hospitality juga semakin terdigitalisasi. [more]