PELAKU INDUSTRI PERHOTELAN DAN RESTORAN KOTA CIREBON SIAP MAKSIMALKAN INFRASTRUKTUR, BUTUH SINERGI ANTARPEMDA WILAYAH KARESIDENAN CIREBON

Tourism for Us – Bangkit dari pandemi Covid-19, pelaku industri perhotelan dan restoran di Kota Cirebon siap memaksimalkan infrastruktur yang ada. Selain geliat ekonomi dari kawasan manufaktur dan industri lainnya, obyek-obyek wisata yang viral di Kuningan dan Majalengka turut menggerakan roda pariwisata di kota ini.

Swiss-cafe Restaurant di Swiss-belhotel Cirebon. (Foto: Yun Damayanti)

Ketua BPC PHRI Kota Cirebon Imam Reza Hakiki menerangkan, mulai dari 2020-2021 industri perhotelan di Cirebon lumayan membaik tetapi masih belum maksimal. Itu karena sektor pariwisata pulih paling akhir. Industri perhotelan di Kota Cirebon sangat terbantu dengan keberadaan pabrik-pabrik industri dan korporasi.

‘’Pada tahun 2022-2023, situasi dan kondisi menjadi lebih baik untuk teman-teman perhotelan. Karena pariwisata di Cirebon sudah mulai ramai lagi. Ditambah, banyak daerah wisata alam baru di Kuningan yang membawa dampak bagus juga bagi Cirebon,’’ ujar Imam.

‘’Perkembangan industri restoran dan kafe juga berkembang sangat pesat di Kota Cirebon. Tentu ini bisa menambah tempat-tempat tujuan kuliner bagi wisatawan,’’ tambahnya.

Tamu-tamu check-in dan check-out datang silih berganti di area lobby Swiss-belhotel Cirebon. Bila diperhatikan, ternyata tidak sedikit wisatawan yang memanfaatkan kelengangan pada hari-hari kerja untuk berlibur dan menikmati suasana Kota Udang. Sedangkan tamu-tamu bisnis, baik itu korporasi maupun pemerintahan, tidak tampak diburu waktu menuju tempat acara karena lalu lintas relatif tidak semacet di kota-kota besar.

Arlan, Manager Front Office Swiss-belhotel Cirebon, mengatakan, hotel tempatnya bekerja tutup selama satu bulan penuh pada April 2020, setelah pemerintah secara resmi menyatakan Covid-19 sebagai pandemi.

Swiss-belhotel Cirebon melihat tingkat keterisian kamar/okupansi mulai membaik sejak bulan Oktober 2021 sampai sekarang. Tingkat keterisian kamar di city hotel ini pada tahun 2022 sudah mencapai rata-rata 75 persen. Itu lebih tinggi daripada city occupancy di Kota Cirebon yang rata-rata berada di 70 persen pada tahun 2022. Pada periode Januari-Juli 2023, hotel ini membukukan keterisian kamar mencapai 77 persen.

‘’Kenaikannya terutama setelah tol Cisumdawu beroperasi. Perjalanan dari Swiss-belhotel Cirebon yang berada di tengah kota sampai ke Bandara Kertajati antara 45-60 menit. Jadi, kami optimis dengan perkembangan yang ada,’’ tutur Arlan.

Perkembangan pariwisata kota  di Cirebon cukup menjanjikan. Dia melihat, pangsa pasar wisatawan pada umumnya memesan secara daring (online). Pertumbuhan pangsa pasar ini pada tahun 2023 naik antara 2 hingga 3 persen YoY dibandingkan tahun 2022. Tujuan wisatawan ke Cirebon masih didominasi untuk wisata kuliner dan belanja. Dan itu juga merupakan salah satu efek dari Tol Cisumdawu.

Pangsa pasar pemerintahan dan korporasi untuk meeting dan residential juga tetap tumbuh.

Ketua BPC PHRI Kota Cirebon berharap, Kota Cirebon harus lebih siap dalam memperbaiki segala fasilitas umum baik tempat wisata alam dan wisata religi. Dinas-dinas pariwisata di wilayah karesidenan Cirebon harus bisa bersinergi dan bersama-sama memajukan pariwisata. Karena semua daerah mempunyai potensi yang sangat besar

‘’Dengan adanya Bandara Kertajati, Kota Cirebon harus bisa menarik wisatawan dari luar Pulau Jawa dan luar negeri terutama dari Malaysia,’’ kata Imam.

Kota Cirebon menargetkan kunjungan wisatawan sebanyak 2,3 juta pada tahun 2023. Kota ini dikunjungi total 4,2 juta wisatawan sepanjang tahun 2022, baik wisatawan Nusantara maupun mancanegara. Capaian kunjungan tahun lalu sudah melampaui target yang ditetapkan yakni sebanyak 2,2 juta wisatawan. Dan daerah asal wisatawan terbanyak adalah dari Jabodetabek dan Bandung. ***(Yun Damayanti)



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *