KEBIJAKAN BVK BAGI PR SINGAPURA DISAMBUT BAIK PELAKU INDUSTRI PARIWISATA DI SINGAPURA DAN KEPRI
Tourism for Us – Pemerintah Indonesia memberikan fasilitas bebas visa kunjungan (BVK) bagi Permanent Resident (PR) di Singapura. Fasilitasi perjalanan itu guna menarik minat warga negara asing di sana mau berkunjung ke Kepulauan Riau (Kepri). Kebijakan baru tersebut diharapkan dapat meningkatkan kunjungan weekenders ke Batam, Bintan dan Karimun.

Bintan Resort.(Foto: Bintan Resort)
Wisatawan asing yang menggunakan fasilitas BVK ini diberikan masa tinggal paling lama empat hari sejak kedatangan. Izin itu tidak bisa diperpanjang dan dialihstatuskan. Dan hanya berlaku untuk kunjungan ke Batam, Bintan dan Karimun.
Bilamana wisatawan tersebut ingin melanjutkan perjalanan ke destinasi lain di Indonesia maka dia harus kembali ke Singapura dan mengajukan visa yang sesuai.
PR Singapura bisa memanfaatkan fasilitasi BVK melalui perlintasan di Pulau Batam, Pulau Bintan dan wilayah Kabupaten Karimun. Pelabuhan-pelabuhan yang melayani BVK untuk PR Singapura adalah Nongsa Terminal Bahari, Marina Teluk Senimba, Batam Centre, Citra Tri Tunas, Sekupang, Sri Bintan Pura, Bandar Bentan Telani Lagoi dan Tanjung Balai Karimun.
Anggit Suhandono, Analis Hukum Direktorat Lalu Lintas Keimigrasian, yang hadir sebagai narasumber mewakili Imigrasi pada kesempatan weekly press briefing yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (sekarang Kementerian Pariwisata), Senin (14/10/2024), menjelaskan, BVK ke Kepri berlaku bagi semua kewarganegaraan yang tinggal di Singapura. Tetapi, fasilitas BVK ini tidak berlaku bagi warga negara asing yang termasuk subyek Calling Visa (rawan) meskipun dia memiliki PR.
Kemudian dia menegaskan, sementara ini Pemerintah Indonesia belum memberikan fasilitasi perjalanan kepada warga negara asing pemegang izin kerja di Singapura.
Tidak ada batasan jangka waktu bagi PR Singapura untuk mengajukan BVK lagi ke Kepri. Seketika dia keluar dari wilayah Indonesia, pada hari yang sama atau esok harinya, dia bisa kembali masuk ke Kepri.
Profil potensi pasar WNA di Singapura bagi pariwisata Kepri
Badan data statistik nasional Singapura dalam situs resminya (singstat.gov.sg) mempublikasikan, jumlah penduduk Singapura sampai dengan pertengahan tahun 2024 diperkirakan sebanyak 6,0369 juta jiwa. Warga negara Singapura sendiri sebanyak 3,6359 juta jiwa. Dan populasi warga negara asing pemegang Permanent Resident (PR) sebanyak 544,9 ribu jiwa.
Selain PR, warga negara asing yang bekerja di Singapura banyak. Menurut data Kementerian Tenaga Kerja Singapura (Ministry of Manpower), warga negara asing yang memegang izin kerja sampai Juni 2024 sebanyak 1.545.200 orang. Ada beberapa jenis izin kerja yang dikeluarkan oleh Pemerintah Singapura yaitu Employment Pass, S Pass, Work Permit dan izin kerja lainnya (other works passes).
Seorang agen perjalanan Singapura mengapresiasi kebijakan BVK bagi PR di Singapura. Dia pun berharap, Indonesia akan memberikan kebijakan yang sama kepada warga negara asing pemegang izin kerja (work permit) di Singapura di masa mendatang. Menurutnya, kebijakan itu akan disambut antusias oleh para pekerja asing dan bakal menarik kunjungan wisman lebih banyak lagi ke Kepri.
Baik warga negara Singapura maupun orang-orang asing selalu mencari tujuan keluar negeri untuk menghabiskan akhir pekan. Kepri, Indonesia dan Johor Bahru, Malaysia menjadi destinasi terdekat.
Sampai sekarang, mereka melihat Pulau Bintan sebagai destinasi sun, sea and sand dan quick getaway. Sedangkan Pulau Batam sebagai destinasi wisata kuliner, belanja dan destinasi yang mudah dijangkau.
Itu karena jadwal penyeberangan kapal ferry ke Batam yang banyak sehingga mereka bisa merencanakan liburan mendadak dan membeli tiket langsung di konter di menit-menit terakhir. Dan mencari dan membeli tiket penerbangan pun tidak sulit.
Banyak tempat wisata dan hotel baru di Batam menarik perhatian warga Singapura. Kehadiran transportasi online Grab membuat pengalaman perjalanan di pulau ini lebih baik.
Harga-harga makanan dan minuman serta tempat menginap relatif tidak banyak perbedaan sekalipun dibandingkan dengan sebelum pandemi. Jadi tidak mengherankan setiap akhir pekan panjang di Singapura, Batam selalui dipenuhi oleh wisatawan dari Singapura.
Ada dua tantangan terbesar yang dihadapi Kepri untuk mengembalikan jumlah kunjungan ke tingkat sebelum pandemi atau bahkan untuk melampauinya. Tantangan pertama adalah harga tiket ferry Singapura-Batam yang naik dua kali lipat pascapandemi. Dari sebelumnya antara S$35 – S$40 per trip sekarang harganya menjadi S$76 per trip.
Johor Bahru, tetangga sekaligus kompetitor Kepri, tidak hanya memiliki penyeberangan ferry tetapi juga jembatan antarnegara. Meskipun penyeberangan ferry hanya ke destinasi Desaru Coast, kota Johor Bahru dan sekitarnya bisa dicapai dengan berkendara sendiri dan bis. Harga tiket bis PP hanya sekitar S$5.
Tantangan kedua adalah sepinya kegiatan pemasaran langsung destinasi Kepri di Singapura pascapandemi dibandingkan dengan destinasi-destinasi kompetitor. Sementara Malaysia, Thailand dan Vietnam begitu sibuk mempromosikan destinasinya. Dengan Bandara Changi sebagai ibukota hub udara di Asia Tenggara, warga Singapura dan warga asing sangat mudah untuk bepergian ke destinasi-destinasi itu.
Bagaimanapun, pelaku industri pariwisata di Kepri khususnya di Pulau Batam dan Bintan menunggu-nunggu kebijakan BVK bagi PR Singapura. Dan mereka bersyukur pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dinanti tersebut.
Yossie, Public Relations Hotel Santika Batam, sangat senang dan mengapresiasi kebijakan ini akhirnya diterbitkan. Walaupun tamu terbanyak di hotel ini tamu domestik, tamu-tamu asing mulai menunjukkan kenaikan dibandingkan tahun lalu.
‘’Dari awal tahun ini program-program untuk tamu-tamu asing memang sudah berjalan. Sudah ada kenaikan daripada tahun lalu. Ini merupakan salah satu hasil dari pameran internasional yang kami ikuti, social media marketing, kerja sama B-to-B dengan operator kapal ferry dan pendekatan ke travel agents,’’ ujar Yossie.
Untuk menyambut musim liburan akhir tahun, manajemen hotel masih akan menjalankan program yang sama seperti tahun sebelumnya.
‘’Kami tetap confidence dengan tingkat kunjungan tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Meskipun jumlah turis yang masuk tetap harus digenjot. Ini mengingat perkembangan akomodasi (perhotelan, apartemen, dan homestay) di Batam sangat pesat,’’ kata Yossie.
Ditambahkannya lagi, ‘’Jadi sambil meng-grab pasar luar negeri, kita juga harus mempertahankan pasar lokal.’’ ***(Yun Damayanti)
