LION GROUP TAMBAH AKSES BARU DARI KUPANG KE PULAU JAWA
Tourism for Us – Opsi akses ke Pulau Jawa bagi warga di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini bertambah. Lion Group membuka rute baru dari Kupang ke Semarang dan Solo mulai awal November 2023. Selain itu, akses ke Jakarta dan Denpasar, Bali, juga bertambah menjadi dua kali dalam sehari.

Rinus T. Zebua,Area Manager Lion Air NTT, mengatakan, permintaan penambahan frekuensi penerbangan dari Kupang, ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur, sudah sejak lama diajukan. Permintaan datang baik dari pemerintah daerah maupun masyarakat. Hal itu memperhatikan kebutuhan transportasi lintas provinsi yang semakin meningkat.
Lion Group mengumumkan, Batik Air melayani rute Jakarta (Soekarno Hatta Airport/CGK) ke Kupang sebanyak dua kali sehari mulai 26 Oktober 2023. Dari Jakarta (CGK) berangkat pada pukul 02.00 dan 07.00 WIB. Sedangkan penerbangan dari Kupang ke Jakarta berangkat pada pukul 06.50 dan 11.40 WITA.
Frekuensi penerbangan Lion Air dari Bali ke Kupang juga bertambah menjadi dua kali sehari mulai 1 November 2023. Penerbangan dari Denpasar pada pukul 11.40 dan 13.30 WITA.
Selain menambah frekuensi penerbangan, Lion Group melayani rute baru dari Kupang ke Semarang dan Solo di Jawa Tengah melalui Bali mulai 1 November 2023. Penerbangan Lion Air ke Semarang berangkat dari Kupang pukul 11.40 WITA. Dan penerbangan ke Solo berangkat pada pukul 13.30 WITA.
‘’Pembukaan rute ke Semarang dan Solo untuk mengakomodir kebutuhan akses ke Jawa Tengah. Karena jalur penerbangan dari Kupang selama ini masih mengandalkan rute via Surabaya,’’ ujar Rinus.
Reaktivasi rute Darwin-Kupang-Dili
Dengan adanya rute baru ke Semarang dan Solo selain ke Jakarta dan Surabaya, memungkinkan untuk mendorong wisatawan domestik dari Pulau Jawa berkunjung ke Pulau Timor dan Rote, wilayah terdepan paling selatan Indonesia.
Pelaku industri pariwisata NTT khususnya di Kupang menilai, penambahan frekuensi penerbangan dari Jakarta dan Bali ke Kupang itu sudah baik. Mereka juga berharap penerbangan ke Yogyakarta dibuka. Mereka berpendapat, rute ini akan lebih prospektif.
Pertama, karena banyak putra-putri daerah dari NTT bersekolah di Jogja. Dari perspektif pariwisata, NTT punya peluang mempromosikan destinasi kepada wisatawan mancanegara (wisman) di Yogyakarta. Karena daya tarik wisata di NTT condong lebih cocok untuk pasar wisman.
‘’Di kota Kupang sendiri sekarang mulai banyak kegiatan MICE dari skala provinsi hingga nasional. Banyak kegiatan MICE dari pemerintah pusat dilakukan di sini. Kupang pun masih menjadi hub ke Rote. Di sana ada bandara kecil tapi sekarang sudah tidak berfugsi lagi. Namun demikian, dampak kunjungan wisman ke Rote terhadap perkembangan kunjungan wisman ke kota Kupang sedikit,’’ tutur Abed Frans, Ketua DPD ASITA NTT.
Abed menambahkan, wisatawan dari Jakarta yang hendak ke Rote bila tiba pada pagi hari di Kupang tidak perlu menginap karena bisa naik kapal feri pada hari yang sama. Sedangkan mereka yang datang dari Bali harus menginap semalam di Kupang untuk naik kapal feri keesokan harinya. Selama menunggu waktu naik feri atau penerbangan kembali ke Bali atau Jakarta, banyak wisman berjalan kaki keliling kota.
‘’Rote itu niche market. Akomodasi yang berkembang di sana untuk kelas wisman memang meningkat. Resor, villa. Targetnya memang untuk meningkatkan kunjungan overseas. Di sana itu kan tujuan surfing,’’ kata Abed.
‘’Oleh karena itu, menurut kami, akan lebih baik lagi menghidupkan rute segitiga Kupang-Darwin-Dili yang dahulu pernah dilayani oleh Merpati. Waktu Merpati melayani rute itu, ramai sekali penumpangnya,’’ imbuhnya.
Posisi Kupang berada di tengah-tengah antara Darwin di utara Australia dan Dili, ibukota Timor Leste. Ibukota Provinsi NTT bisa menggantikan posisi hub Bali dari Darwin ke Dili dan sebaliknya. Dari sisi jarak, Darwin lebih dekat ke Kupang daripada ke Bali. Begitu pun dari Dili ke Kupang. Bandara El Tari juga telah direncanakan sebagai bandara internasional. Isu-isu yang menjadi kendala reaktivasi rute tersebut perlu diatasi.
Mereaktivasi rute Darwin-Kupang-Dili bisa mengakomodasi kebutuhan pejalan bisnis dari Australia dan Timor Leste serta pengusaha lokal NTT. Kemudian, membuka akses lalu lintas wisatawan dari ketiga negara.
Bila akses tersebut direaktivasi, wisman yang hendak berselancar di Rote akan lebih mudah. Selain itu juga membuka akses bagi wisatawan penikmat budaya dan petualangan untuk mengalami keindahan otentik di alam yang masih alami dan budaya yang masih hidup di kampung-kampung adat di Pulau Timor di wilayah Indonesia.***(Yun Damayanti)
