KOMITMEN DAN STRATEGI IINTOA MENINGKATKAN KUNJUNGAN WISMAN KE INDONESIA
Tourism for Us – Asosiasi operator tur inbound, Indonesia Inbound Tour Operators Association (IINTOA), berkomitmen untuk terus meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia. Anggotanya tidak pernah berhenti memasarkan dan mempromosikan pariwisata Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia pada tahun 2024 mencapai 13,90 juta, naik 19 persen dibandingkan kunjungan wisman tahun 2023 sebanyak 11,68 juta. Kontribusi pelaku operator tur inbound dalam mendatangkan wisman diperkirakan antara 30 persen hingga 40 persen.
Dr. Paul Edmundus Talo, Ketua Umum Indonesia Inbound Tour Operators Association, pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) IINTOA ke-2 di Yogyakarta, Minggu (2/2/2025), menyampaikan bahwa sudah menjadi kewajiban asosiasi yang dipimpinnya untuk mendukung pemerintah dalam meningkatkan jumlah wisman ke Indonesia, dengan kontribusi sebesar 30 persen dari total kedatangan wisman pada tahun 2024. IINTOA juga mendorong anggotanya menuju kepariwisataan inbound Indonesia yang kompetitif, berkualitas, bertanggung jawab, dan berkelanjutan.
Adapun salah satu hasil dari Munas ke-2 IINTOA adalah terpilihnya kembali Paul Edmundus Talo untuk periode jabatan 2025 – 2029. Di periode keduanya, ada empat program prioritas IINTOA.
Program prioritas pertama adalah bekerja sama dengan organisasi-organisasi outbound travel agents/tour operators dari negara-negara asal wisatawan. Termasuk di dalam kerja sama tersebut adalah menggelar Table Top, sebuah program ‘jemput bola’ di sumber pasar.
Program ini sudah dijalankan tahun lalu di Thailand dan Vietnam dan akan terus ditingkatkan ke depannya, tidak hanya di kawasan regional ASEAN dan Asia tetapi juga hingga Eropa. Kerja sama ini diharapkan dapat lebih mudah mendatangkan wisman, khususnya dari segmen B-to-B.
Program prioritas berikutnya adalah memberikan pelatihan kepada anggota tentang bagaimana mencapai pasar dan berjualan. Di samping itu, menyiapkan produk ini dalam bentuk kursus online.
Program prioritas ketiga adalah menambah anggota di luar Bali, dan program prioritas keempat adalah melaksanakan kegiatan Table Top untuk semua kalangan industri pariwisata.
Dia juga mengungkapkan bahwa anggota IINTOA tidak pernah berhenti memasarkan dan mempromosikan pariwisata Indonesia. Mereka juga mengeluarkan biaya untuk pemasaran dan promosi ke negara-negara asal wisatawan asing yang menjadi target pasarnya. Pada saat mempromosikan produknya, maka otomatis mempromosikan destinasinya.
Bagaimanapun, pemerintah memiliki peran yang lebih dominan dibandingkan swasta dalam memasarkan seluruh destinasi wisata di Indonesia. Bila mengandalkan upaya sektor swasta dalam memasarkan dan mempromosikan Indonesia sebagai destinasi pariwisata, maka hasilnya tidak akan optimal.
Kontribusi sektor pariwisata dalam pembangunan semakin diakui. Harapan pelaku industri pariwisata adalah pemerintah menggunakan sebagian dari devisa dari sektor ini untuk mendukung kegiatan pemasaran dan promosi. Dengan begitu, kolaborAksi yang digaungkan dalam beberapa tahun terakhir ini betul-betul tercapai.
‘’Kami tidak meminta-minta, begging, untuk selalu dibantu biaya promosi. Tapi, devisa negara dari 13 juta lebih wisman yang datang tahun lalu, ada kontribusi dari operator tur inbound di situ. Wisatawan asing datang tidak hanya lewat online travel agents (OTA). Ada grup-grup seri yang ditangani oleh operator-operator tur besar seperti Panorama, Pacto, Aneka Kartika, Triuma, Marintur, Pegasus, TUI dan lain-lain. Operator tur yang lebih kecil saja bisa melayani lebih dari 4000 wisatawan dalam setahun,’’ ujar Paul.
Operator tur inbound yang aktif di Indonesia saat ini diperkirakan lebih dari 200 perusahaan. Anggota IINTOA sendiri meliputi 133 biro perjalanan wisata (BPW) yang tersebar di 10 daerah, yakni DPD Sumatera, Jakarta dan Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan D.I Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT.
Pada kesempatan lain, Paul mengatakan bahwa capaian 13,90 juta wisman ke Indonesia tahun 2024 sudah sesuai target. Apalagi mengingat konektivitas langsung dari negara-negara asal wisatawan ke Indonesia sangat kurang.
‘’Dengan keadaan infrastruktur serta kondisi pemasaran dan promosi pariwisata Indonesia seperti sekarang, kami masih optimis hasilnya bisa naik. Saya memperkirakan bisa meningkat antara 15 persen sampai 20 persen. Indonesia tetap merupakan daya tarik bagi wisatawan dunia. Jikalau kita lebih gencar lagi berpromosi, national air carrier kita, Garuda Indonesia, serta maskapai-maskapai penerbangan nasional seperti grup Lion Air dan lain-lain bisa lebih go international lagi, hasilnya pasti bisa lebih besar. Kita mungkin bisa mencapai kenaikan sampai 30 persen,’’ tambahnya.
Tidak ada salahnya pemerintah melihat kembali apa yang pernah dikerjakan untuk kemudian disesuaikan dengan strategi pemasaran yang berkelanjutan. Karena untuk menarik wisatawan berkualitas pun memerlukan pemasaran yang efektif. ***(Yun Damayanti)

