STRATEGI DPD ASITA JAWA BARAT MENINGKATKAN PARIWISATA DI TENGAH KRISIS GLOBAL
Tourism for Us – Ketegangan militer di kawasan Timur Tengah tidak hanya mengganggu perjalanan internasional, tetapi juga berdampak pada perjalanan domestik. Oleh karena itu, penting untuk memperkuat sektor perjalanan domestik melalui dukungan yang tepat dan stimulus yang efektif. Selain itu, intensifkasi promosi dan penciptaan permintaan di pasar regional terdekat, seperti Asia Tenggara dan Asia Pasifik, akan sangat membantu dalam mengatasi dampak negatif tersebut.

Menanggapi situasi yang berkembang saat ini, DPD ASITA Jawa Barat menyatakan sikapnya bahwa asosiasi akan semakin memperkuat segmen pariwisata domestik dan menjadikan Jawa Barat menjadi destinasi wisata utama yang aman dan terjangkau bagi wisatawan Nusantara.
“Kita harus memperkuat pasar domestik. Ketika akses internasional terhambat biaya tinggi, Jawa Barat harus menjadi destinasi utama yang aman dan terjangkau bagi warga kita sendiri. Inilah saatnya memperkuat narasi ‘Bangga Berwisata di Indonesia’,” ujar Daniel Guna Nugraha, S.IP, Ketua DPD ASITA Jawa Barat.
Oleh karena itu, DPD ASITA Jawa Barat mendorong anggotanya untuk membuat paket-paket wisata yang lebih efisien (compact), dan inovatif serta berbasis darat; mengulang kembali tren perjalanan darat guna meminalisir ketergantungan pada komponen biaya tiket pesawat yang fluktuatif; dan mendiversifikasi pasar dengan mengalihkan fokus promosi ke pasar wisatawan mancanegara (wisman) yang tidak melewati jalur konflik Timur Tengah, seperti penguatan pasar Australia, India, dan sesama negara ASEAN.
“Saya menghimbau seluruh anggota ASITA untuk mulai menyusun paket wisata yang lebih compact dan berbasis darat (tren overland) guna meminimalisir ketergantungan pada komponen biaya tiket pesawat yang fluktuatif,” kata Daniel.
Insentif energi untuk industri pariwisata Indonesia
Agar perjalanan domestik berjalan optimal, pelaku industri pariwisata mendorong pemerintah untuk mempertimbangkan pemberian insentif atau stabilisasi harga avtur domestik guna menjaga konektivitas antarpulau tidak terputus akibat lonjakan harga minyak dunia.
Eskalasi di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga minyak mentah dunia secara signifikan. Bagi industri perjalanan dan pariwisata, kenaikan biaya avtur secara otomatis akan melambungkan harga tiket pesawat, baik di rute domestik maupun internasional. Selain itu, dengan penutupan ruang udara di wilayah konflik memaksa maskapai melakukan rerouting yang berarti menambah durasi penerbangan dan meningkatkan biaya operasional yang dibebankan kepada konsumen.
Penurunan daya beli masyarakat global maupun domestik adalah risiko nyata yang harus dimitigasi bersama. Ketidakpastian situasi geopolitik saat ini berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi nasional dan melemahkan nilai tukar Rupiah. Dalam situasi di mana biaya hidup meningkat akibat inflasi energi, pariwisata — sebagai kebutuhan tersier — akan mengalami tantangan besar.
‘’Krisis kali ini tidak hanya berimbas terhadap pelaku industri perjalanan inbound semata, tetapi juga dirasakan oleh pelaku industri perjalanan outbound dan domestik,’’ tutur Daniel.
Dia tetap optimis bahwa pariwisata Indonesia telah teruji melalui berbagai krisis, mulai dari pandemi hingga bencana alam. ‘’Kami yakin, dengan sinergi antara pelaku industri dan kebijakan pemerintah yang tepat sasaran, pariwisata Jawa Barat akan tetap tegak berdiri sebagai pilar ekonomi rakyat. Tetap tenang, tetap kreatif, dan mari kita jaga momentum pemulihan ini dengan strategi yang adaptif,” pungkasnya. ***(Yun Damayanti)
