JALUR REMPAH NUSANTARA DAN JALUR SUTRA TIONGKOK LEBIH DARI SEKEDAR SEJARAH JARINGAN PERDAGANGAN DI PARIS
Tourism for Us – Jalur Sutra dan Jalur Rempah mewakili lebih dari sekadar sejarah jaringan perdagangan. Jalur-jalur ini berfungsi sebagai saluran utama untuk penyebaran pengetahuan, teknik, dan praktik budaya, yang secara mendalam membentuk tradisi kuliner di berbagai benua.

Kilas balik ke abad 2 SM. Para pedagang Austronesia dari Nusantara telah aktif memperdagangkan cengkeh dan pala dari Maluku hingga ke India, Arab, dan Romawi. Selanjutnya, pada masa Dinasti Tang antara abad ke-7 hingga ke ke-9 M, terjadi integrasi antara Jalur Rempah Nusantara dan Jalur Sutra Tiongkok, yang membuat perdagangan menjadi lebih masif. Integrasi ini tidak hanya meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga memperlancar lalu lintas orang, terutama di wilayah Nusantara.
Pertukaran budaya yang terjadi seiring dengan perdagangan ini turut memperkaya kuliner lokal. Budaya kuliner Tiongkok berasimilasi dengan kekayaan rempah-rempah Nusantara, menciptakan kombinasi yang unik. Di abad Milenial, kedua tradisi kuliner ini bertemu lagi di Perancis, yang dikenal sebagai kiblat gastronomi dunia, dan membawa pengalaman kuliner ke tingkat yang lebih tinggi.
Asosiasi Budaya dan Media Perancis-Tiongkok (ACMFC) menggelar seminar bertajuk ‘’DELICIEUSES ROUTES DE LA SOIE, une recontre entre la Chine, l’Indonesie et la France’’ (Jalan Sutra yang Lezat, Sebuah Pertemuan antara Cina, Indonesia, dan Perancis), Selasa (5/5/206), di Foire de Paris, agar publik di Perancis lebih memahami budaya kuliner yang dibawa dalam dua jalur perdagangan yang menjadi cikal bakal jalur perdagangan modern.
Seminar ini mengangkat tema keterkaitan antara gastronomi, perjalanan, transmisi budaya serta dialog antarbangsa. Melalui perspektif yang beragam namun saling melengkapi, para pembicara mengajak publik untuk memahami bagaimana masakan, cita rasa, dan kuliner mampu menjadi jembatan otentik antarperadaban – menghubungkan Jalur Sutra dan Jalur Rempah hingga ke Perancis.
Seminar ini menghadirkan tiga pakar internasional dari Tiongkok, Indonesia, dan Perancis yakni, Dan Jin dari Asosiasi Kebudayaan Perancis-Tiongkok dan Perpustakaan Media, Eka Moncarre, Founder La Maison De L’Indonesie, dan Sophie Brissaud, seorang jurnalis gastronomi dan anggur (wine) Perancis.
Sophie Brissaud mengatakan bahwa secara lebih dalam jalur-jalur ini menyoroti proses pertukaran budaya dan hibridisasi yang mendasari pembentukan identitas gastronomi. Hal ini mengingatkan kita bahwa kuliner, pada dasarnya, adalah bahasa universal—lahir dari pertemuan, adaptasi, dan transmisi.
‘’From this perspective, French gastronomy should not be viewed as a closed system, but rather as a dynamic and evolving space, historically enriched by external influences. The introduction of spices, new ingredients, and culinary methods has continuously expanded its repertoire, contributing to both its development and its global prestige,’’ ujar Brissaud.
Bahkan hingga hari ini, warisan-warisan ini tetap bertahan. Gastronomi kontemporer di Perancis terus berkembang melalui keterbukaannya terhadap dunia, menegaskan kembali kapasitasnya untuk berinovasi sambil tetap berakar pada sejarah pertukaran yang kaya.
Sementara, Eka Moncarre mengungkapkan bahwa kehadiran Indonesia di seminar ini diharapkan dapat semakin memperluas pengenalan rempah Indonesia di dunia internasional, dan mendorong pengakuan Jalur Rempah Indonesia sebagai Warisan Budaya Tak Benda Dunia oleh UNESCO.
Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian program Silk Road Reborn (SiRoRe) 2026, la Route de la Soie Reinventee, yang berlangsung pada 30 April – 11 Mei 2026 di Foire de Paris. Program yang diselenggarakan oleh ACMFC ini didedikasikan untuk memperkuat dialog lintas budaya, warisan kuliner,dan eksplorasi imajinasi Jalur Sutra dalam konteks modern. ACMFC adalah sebuah lembaga nirlaba yang didirikan di Paris pada tahun 2014 dan diakui oleh pemerintah Perancis.
La Maison De L’Indonesie (LMDI) mendapat kehormatan besar sebagai pembicara di forum ini karena dinilai aktif dalam mempromosikan budaya dan gastronomi Indonesia di Perancis dengan berbagai inovasinya untuk mempekenalkan kekayaan kuliner Nusantara. Oleh karena itu, LMDI dipercaya untuk mewakili Indonesia meskipun bukan perwakilan resmi dari Pemerintah Republik Indonesia.
‘’Kami tentu sangat bangga bisa berpartisipasi dalam forum bergengsi ini karena ini menjadi sebuah pengakuan atas peran dan kontribusi nyata kami untuk memperkenalkan kuliner dan rempah-rempah Indonesia,’’ kata Eka, seorang diaspora Indonesia yang telah bermukim di Perancis lebih dari 30 tahun.
LMDI dibangun dengan konsep 1-stop place, di mana orang lain bisa melihat dan merasakan langsung produk-produk dari Indonesia di coffee shop dan toko butiknya, serta terlibat dalam berbagai kegiatan budaya Indonesia di galerinya. Selain itu, Eka menerbitkan sebuah buku budaya dan gastronomi Indonesia berjudul L’Indonesie a la Maison akhir tahun lalu dan buku itu memenangkan penghargaan bergengsi Gourmand Awards 2026 di Riyadh, Arab Saudi. Buku tersebut mengangkat kisah sejarah dan kekayaan jalur rempah Indonesia. ***(Yun Damayanti)
