SAAT RASA MENJADI CERITA DESTINASI DI BBTF 2026
Tourism for Us – Alokasi anggaran wisatawan untuk menikmati pengalaman kuliner lokal semakin menunjukkan tren positif. Selain itu, beberapa makanan khas Indonesia telah mendapatkan pengakuan di tingkat internasional. Dengan kekayaan ribuan kuliner yang dimiliki Indonesia, Bali & Beyond Travel Fair mengangkat tema gastronomi sebagai bagian dari upaya meningkatkan visibilitas destinasi wisata di kalangan pelaku industri pariwisata global.

Dengan mengangkat tema “Redefining Indonesia’s Gastronomy Journey: A Celebration of Taste, Culture, and Sustainable Heritage,” Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026 tidak hanya berbicara tentang makanan, tetapi tentang bagaimana rasa, budaya, sejarah, dan keberlanjutan dapat menjadi bagian dari pengalaman perjalanan yang bernilai.
Semangat tersebut terasa sejak malam pembukaan BBTF 2026 pada Kamis (28/5/2026), di Heritage Garden, The Westin Resort Nusa Dua, Bali. Marriott Bonvoy dan The Westin Resort Nusa Dua memilih tema ‘’Megibung Nusantara Culinary’’ untuk jamuan makan malam. Dalam jamuan itu dihidangkan ragam hidangan Nusantara dan pilihan makanan penutup Indonesia yang merepresentasikan cita rasa lokal dalam kemasan yang elegan. Megibung sendiri mempunyai makna kebersamaan, kesetaraan, penghormatan, dan pengalaman yang dibangun bersama. Konsep megibung dalam konteks hospitality internasional dikenal sebagai family-style dining.
Kekayaan rasa Indonesia tampil dalam berbagai sajian, mulai dari Seblak Bandung yang merepresentasikan energi street food perkotaan Jawa Barat, hingga Nasi Campur Bali yang memadukan identitas kuliner Bali dengan ragam inspirasi rasa dari berbagai daerah Indonesia. Kehadiran hidangan ini menunjukkan bahwa gastronomi Indonesia dapat bergerak lentur – dari tradisi, street food, hingga interpretasi modern yang tetap berpijak pada akar budaya.
Malam pembukaan BBTF 2026 juga menjadi ajang memperkenalkan bahwa Indonesia memiliki teknik fermentasi tradisional yang menghasilkan minuman beralkohol yang telah dikenal masyarakat. Arak Karangasem, salah satu minuman tradisional Bali, hadir menemani suasana makan malam. Selain itu, Matahari cocktail yang diciptakan dari perasan jeruk keprok, markisa, dan arak Bali menghadirkan rasa segar, berwarna cerah, dan uplifting. Kedua minuman itu membuktikan bahwa minuman tradisional Bali bisa diinterpretasi ulang dan dikemas secara modern dan elegan. Kekayaan minuman produk lokal Bali tersebut semakin memperkuat pengalaman gastronomi Indonesia.
Sementara itu, Sababay Winery memperkenalkan wine yang diproduksi secara lokal di Bali. Sababay dikenal luas sebagai artisan wine dan winery yang dipimpin oleh seorang perempuan. Wine lokal Bali ini dibuat dengan pendekatan yang terinspirasi dari filosofi anggur Perancis, vin de garage. Kehadirannya menunjukkan bahwa Bali tidak hanya memiliki budaya dan alam, tetapi juga kemampuan menghasilkan produk wine yang memiliki karakter, cerita, dan menjadi kebanggaan lokal.
Pengalaman gastronomi Bali semakin lengkap dengan cokelat Jembrana, Jungle Pod, dan Kopi Akasa Kintamani. Tanaman kopi dan kakao tumbuh subur di Pulau Dewata. Masing-masing dari produk cokelat dan kopi lokal tersebut membawa cerita tentang tanah, petani, proses produksi, dan identitas daerah. Kehadiran produk-produk ini memperlihatkan bahwa gastronomi Indonesia tidak berdiri sendiri sebagai hidangan, tetapi juga sebagai ekosistem yang menghubungkan petani, produsen, komunitas, pelaku hospitality, dan destinasi.
Gastronomi menjadi bahasa universal yang mudah dipahami pasar global. Di balik sebuah hidangan, terdapat cerita tentang tanah, laut, rempah, tradisi, keluarga, upacara, komunitas, dan cara hidup masyarakat setempat. Dengan ribuan pulau dan keragaman budaya yang sangat luas, Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang tidak hanya menarik untuk dicicipi, tetapi juga layak dikembangkan sebagai produk wisata yang terstruktur dan dapat dijual. Inilah kekuatan Indonesia.
I Putu Winastra, S.AB, M.A.P.,Ketua Panitia BBTF 2026, menerangkan bahwa gastronomi diposisikan sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi secara lebih mendalam di BBTF 2026. Bali, misalnya, sekarang tidak hanya menghadirkan keindahan alam dan budaya saja, tetapi juga melalui kekayaan rasa yang hidup dalam tradisi, upacara, desa, pasar, dapur keluarga, hingga meja makan modern. Di luar Bali, semangat Bali and Beyond pun membuka ruang bagi destinasi lain di berbagai daerah untuk memperlihatkan identitas kuliner mereka sebagai bagian dari daya tarik wisata.
“Dalam konteks tema gastronomi, BBTF 2026 menampilkan kekayaan destinasi kuliner dan budaya dari berbagai daerah. Tahun ini, kita hadirkan 12 provinsi yang menampilkan cerita dari Bali, Jakarta, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timut, Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Papua dan Lampung. Narasi rempah dan kuliner Nusantara juga kita hadirkan untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi gastronomi berbasis budaya dan pengalaman lokal,” kata I Putu Winastra.
Pendekatan ini menjadi semakin relevan ketika wisatawan global tidak lagi hanya mencari tempat untuk dikunjungi, tetapi juga pengalaman yang bermakna. Mereka ingin mengetahui asal-usul makanan, bertemu dengan komunitas lokal, belajar memasak, mencicipi produk daerah, memahami rempah, dan membawa pulang cerita yang lebih personal dari sebuah perjalanan.
Melalui travel exchange (travex), pertemuan buyers dan sellers, serta program post-tour, BBTF 2026 memberi ruang bagi gastronomi Indonesia untuk bergerak dari sekadar promosi menjadi peluang bisnis. Produk seperti heritage dining, spice routes, market visits, cooking class, farm-to-table, sea-to-table, wine tasting, hingga pengalaman kuliner desa dapat dikembangkan sebagai paket wisata yang lebih kuat dan bernilai.
Pada akhirnya, gastronomi bukan hanya tentang apa yang disajikan di atas piring. Gastronomi adalah cara Indonesia menceritakan dirinya kepada dunia – melalui rasa, budaya, keramahan, dan keberlanjutan. Di BBTF 2026, pesan itu menjadi jelas: Indonesia tidak hanya indah untuk dilihat, tetapi juga kaya untuk dirasakan, dipelajari, dan dialami. ***(Yun Damayanti)
