Tourism for Us – West Java Travel Mart 2023 (WJTM) menjadi ajang products & destination update representatif dan efektif baik bagi buyers maupun sellers yang mengikutinya. Sejak perjalanan menuju Bandung hingga kembali ke daerah dan negaranya masing-masing, buyers terimpresi dengan pesatnya pembangunan infrastruktur aksesibilitas di [more]
Tourism for Us – Indonesia akan hadir kembali di Village International De La Gastronomie (VIG) 2023. Salah satu event gastro-diplomasi terpenting di Perancis ini berlangsung pada tanggal 7 sampai 10 September 2023 di kaki Menara Eiffel dan di dalam tembok bersejarah Musee de L’Homme, Paris. [more]
Tourism for Us – Indonesia Inbound Tour Operators Association (IINTOA) bekerja sama dengan Thai Travel Agents Association (TTAA), asosiasi agen perjalanan outbound Thailand, baru saja menyelenggarakan IINTOA Table Top 2023, Senin (28/8/2023), di Mandarin Hotel by Centre Point, Bangkok. Pertemuan business-to-business (B-to-B) yang diinisiasi dan diorganisasikan oleh asosiasi operator tur inbound Indonesia itu mendapat apresiasi pelaku-pelaku industri pariwisata Thailand karena mendatangi pasar dan menyampaikan informasi terkini mengenai keadaan destinasi-destinasi di Indonesia setelah pandemi Covid-19.
IINTOA dan non-anggota asosiasi kompak mempromosikan pariwisata Indonesia ke pasar Thailand. (Foto: IINTOA)
Sebanyak 83 buyers menghadiri IINTOA Table Top 2023. Mereka bertemu dengan 37 sellers dari Indonesia terdiri dari 20 anggota IINTOA dan 17 sellers di luar anggota asosiasi. IINTOA juga terbuka dan mengajak pelaku pariwisata dari seluruh Indonesia ikut berpartisipasi dalam misi table top.
Pertemuan bisnis tidak selesai sampai di table top. Pada hari kedua, sellers dari Indonesia melanjutkannya dengan sales call ke 15 travel agent yang tidak hadir di acara IINTOA Table Top 2023.
Candi Borobudur dan Bali masih menjadi highlight destinasi di pasar Thailand. Dari IINTOA Table Top 2023 diketahui, ada banyak permintaan dari wisatawan Thailand mau mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan air terjun Tumpak Sewu di Jawa Timur.
Selain itu, buyers sudah mendengar perihal destinasi Labuan Bajo. Tetapi, mereka masih memperhitungkan akses menuju destinasi dari Thailand. Mereka masih mempertimbangkan sebelum mengirimkan tamu-tamunya ke sana.
Ketua Umum IINTOA Paul Edmundus Talo mengatakan, respon buyers dari Bangkok sangat positif. Pasar Thailand besar. Namun, penerbangan dari Thailand hanya tersedia menuju Bali, Jakarta, dan Medan. Sampai saat ini, belum ada penerbangan ke Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Palembang, Padang dan kota-kota lainnya.
‘’Yang kurang adalah konektivitas. Bagaimanapun, kami dihargai karena mendatangi pasar, menceritakan keadaan Indonesia setelah pandemi Covid-19. Kami datang, ketuk pintunya. Kami menawarkan layanan dan memberikan informasi terbaru,’’ ujar Paul.
Senada dengan Ketum IINTOA, Monas Tjahjono, Ketua Panitia IINTOA Table Top 2023 di Bangkok, juga mengatakan, respon sangat positif datang dari buyers. Mereka mau menjual paket-paket perjalanan ke Indonesia dengan akomodasi hotel bintang 4.
‘’Karena tamu-tamu mereka maunya hotel bintang 4. Jadi mereka juga tidak pernah kasih ke tamunya hotel bintang 3. Mereka menganggap, tamu-tamunya ialah VIP. Maka yang dipakai oleh agen-agen di Thailand minimal hotel bintang 4. Tidak mau bintang 3,’’ tutur Monas.
Sukses menggelar IINTOA Table Top 2023 di Bangkok, IINTOA berencana untuk menggelar table top di Vietnam, Laos, Filipina dan lain-lain. Sementara, sasaran dititikberatkan pada menggarap pasar terdekat yakni regional ASEAN. Event yang akan dilaksanakan sama yakni mempertemukan anggota IINTOA dengan tour operators/travel agents dari negara asal wisatawan.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggelar familiarization trip (famtrip) bagi influencer India. Famtrip kali ini fokus pada memperkenalkan destinasi super prioritas (DSP) Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Famtrip dilaksanakan pada 24-29 Juni 2023. Famtrip diikuti oleh [more]
Tourism for Us – IndiGo, salah satu maskapai berbiaya rendah asal India, mengumumkan, akan melayani penerbangan langsung dari Mumbai ke Jakarta setiap hari efektif mulai 7 Agustus 2023. Ibukota Republik Indonesia menjadi destinasi internasional ke-28 yang dilayani oleh maskapai ini. IndiGo menjadi maskapai India pertama [more]
Tourism for Us – Pada periode Januari hingga April 2023, recovery rate trafik penumpang domestik dan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali mencapai 83 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada masa sebelum pandemi di tahun 2019.
Seiring dengan membaiknya penangangan pandemi Covid-19 secara global, Pemerintah Indonesia kembali membuka perbatasan untuk penerbangan internasional menuju Bali pada 4 Februari 2022. Momentum ini dimanfaatkan oleh berbagai maskapai penerbangan yang sebelumnya melayani rute penerbangan internasional di Bali.
Dalam keterangan tertulis, Direktur Utama Angkasa Pura Airports Faik Fahmi mengatakan,‘’Pengoperasian Airbus A380 oleh Emirates ke Bali merupakan indikasi positif dari semakin membaiknya animo dan minat warga dunia untuk berwisata ke Bali. Dengan kapasitas pesawat hingga 615 penumpang, tentunya hal ini secara langsung akan berdampak positif terhadap jumlah kunjungan wisatawan dunia ke Bali, yang juga akan berdampak positif terhadap recovery pariwisata dan perekonomian di Bali khususnya, dan secara nasional pada umumnya.’’
Salah satu maskapai asal Uni Emirat Arab itu membuka kembali rute penerbangannya ke Bali mulai dari bulan Mei 2022. Jumlah penumpang yang diangkut oleh Emirates setelah beroperasi kembali setelah sempat terhenti karena pandemi global Covid-19 turut berkontribusi positif terhadap tingkat pemulihan atau recovery rate pergerakan penumpang total di Bandara I Gusti Ngurah Rai.
Dikutip dari Bali Tourim Board, menurut data Imigrasi, selama bulan Mei 2023 Bali menerima 476.393 wisatawan mancanegara (wisman). Australia, India, Cina, Amerika Serikat dan Inggris Raya menjadi negara-negara penyumbang terbesar wisman ke Bali saat ini.
Wisatawan India yang masih harus melalui transit untuk sampai ke Bali merupakan wisatawan paling antusias. Dengan kesamaan budaya dan religi serta keindahan alam membuat mereka ingin segera mengunjungi Pulau Dewata.
Pemerintah pun telah menyatakan pandemi telah berakhir di Indonesia pada bulan Juni ini. Tentu hal itu akan menambah optimisme para pelaku industri perjalanan dan pariwisata di puncak musim liburan tahun 2023 dan ke depannya.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Wisatawan asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) akhirnya kembali ke Bali. Pasar wisatawan internasional terbesar yang diharapkan oleh semua destinasi di Asia Tenggara ini datang ke Pulau Dewata dengan penerbangan charter (sewa). Dan waktunya bertepatan dengan musim liburan tahun baru Imlek. [more]
Tourism for Us – Bagi wisatawan Belanda tema liburan menjadi jauh lebih penting daripada tujuan/destinasi. Vakantiebeurs melakukan penelitian tentang perilaku pencarian daring (online) konsumen di sekitar hari libur. Tema-tema seperti berkemah, all-inclusive, dewasa saja (adult only) sangat populer. Pada tahun 2022, orang Belanda lebih sering [more]
Tourism for Us – Dengan apa yang akan menantinya di Bali, wisatawan Nepal lalui semua rintangan.
Wisatawan bleisure asal Nepal baru mendarat di Bali.(Photo Courtesy: Eddie Tarsisius/Absolute Indonesia DMC)
Mereka tersenyum bersama pendaki dari seluruh dunia. Sementara para pendaki merayakan pencapaiannya menggapai titik tertinggi di muka bumi di Sagarmatha, mereka melihat ke arah lain. Mereka mencari garis putih keemasan dan warna biru tua yang terbentang di bawah sana.
Syukurlah, tidak ada seorangpun yang mendengar ketika mereka berbisik, ‘’I will go home safely. Then, going down with my love ones toward the end of the land. Where we can feel the warm breeze and enjoying sunny days. There is no avalanche to worry about. That would be my greatest achievement, to make my family happy.’’
Ada beberapa keinginan yang hendak diwujudkan yakni dapat melihat pura di Tanah Lot dan berada di Ubud. Kemudian bermain di pantai berpasir putih di Nusa Penida dan Gili Trawangan. Menurut berita, itu semua ada di Indonesia. Sebuah negeri kepulauan di ujung tenggara Benua Asia.
Maskapai Batik Air dan AirAsia menjawab persoalan mereka untuk mencapai Pulau Bali sekarang. Kedua maskapai penerbangan ini melayani rute Kathmandu-Kualalumpur-Denpasar. Dan tantangan mereka berikutnya adalah mendapatkan visa.
Indonesia tidak memberikan fasilitas perjalanan kepada Nepal. Saat ini, wisatawan Nepal bisa berkunjung ke Bali dengan menggunakan electronic visa (e-visa). Mereka harus mengajukan e-visa melalui agen penjamin di Indonesia. Agen penjamin itu yang akan mengajukan dan mengurus e-visa ke Imigrasi.
Wisatawan Nepal sangat menyukai pantai. Itu karena Nepal adalah negara landlock. Bali merupakan destinasi favoritnya. Selama berada di Pulau Dewata, mereka merasa wajib mengunjungi Tanah Lot, Ubud, dan Nusa Penida lalu shopping. Setelah itu ke Gili Trawangan di Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Wisatawan Nepal rata-rata menghabiskan 5 hari 4 malam berlibur di Bali. Tidak sedikit dari mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk reuni. Setelah sekian lama terpisah, mereka dapat berkumpul lagi dengan keluarga dan teman-temannya yang kini tinggal di Australia, Eropa dan Amerika.
Pulau Dewata ternyata juga menjadi tujuan perusahaan-perusahaan di Nepal mengirim karyawannya untuk mengikuti pelatihan ataupun menghadiri pertemuan-pertemuan bisnis. Setelah itu, mereka diberi kesempatan jalan-jalan. Durasi perjalanan bleisure lebih lama, rata-rata 7 hari 6 malam.
‘’Saya mulai mempromosikan group series dari Nepal ke Bali sekitar tahun 2017. Pada waktu itu bersamaan dengan semakin banyak kunjungan wisatawan dari sana,’’ ujar Eddie Tarsisius, Managing Director Absolute Indonesia DMC.
Eddie menambahkan, issue terkait visa yang merepotkan. Dia berharap, pengajuan dan pengurusan visa dapat dilakukan melalui Kedutaan Besar RI di Bangladesh. Karena Indonesia tidak mempunyai perwakilan di Nepal.
‘’Yah, paling bagus kalau mereka juga dapat diberikan fasilitas visa on arrival (VOA),’’ katanya.
Menurut data Asdep Litbangjakpar Kementerian Pariwisata yang diolah dari data Ditjen Imigrasi dan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan dari Nepal naik signifikan pada 2016 dengan total 11.589. Dan pada 2019 jumlah kunjungannya mencapai 14.912 wisatawan.
Selayang pandang pariwisata Nepal
Semua pendaki di dunia bermimpi dapat mencapai puncak Sagarmatha, atau yang dikenal dengan nama internasionalnya Mount Everest. Berada di tempat tertinggi di bumi (8.848 mdpl) merupakan capaian tertinggi sekaligus prestise bagi individu pendaki maupun bangsanya.
Pendaki berdatangan ke pegunungan Himalaya dari berbagai penjuru sejak Sir Edmund Hillary bersama pemandu Sherpa Tenzig Norgay berhasil mencapai puncak Everest untuk pertama kali pada 29 Mei 1953. Kehadiran para pendaki kemudian mengembangkan pariwisata pegunungan (mountaineering tourism) di Nepal.
Jumlah pendaki ke Himalaya terus bertambah setiap tahun. Sejalan dengan meningkatnya aktivitas manusia di pegunungan maka beragam masalah pun bermunculan. Mulai dari meningkatnya resiko kecelakaan hingga polusi yang mencemari lingkungan dan mengancam kehidupan warga lokal.
Ancaman terbesar lainnya adalah ego manusia. Semua upaya dan sumber daya dikerahkan demi menggapai puncak. Setiap ekspedisi melibatkan puluhan orang. Dan itu sama artinya dengan membuka lapangan kerja dan menggerakan perekonomian.
1996 Mount Everest Disaster merenggut nyawa delapan pendaki. Itu merupakan kejadian paling mematikan ketiga setelah gempa tahun 2015 dan Everest avalanche pada 2014. Namun, malapetaka yang terjadi pada tahun 1996 mendapat perhatian luas secara internasional. Kejadian tersebut menimbulkan pertanyaan atas komersialisasi Mount Everest.
Menurut World Bank (3/6/2022), industri pariwisata berkontribusi 6,7% terhadap PDB Nepal pada 2019. Selain itu, pariwisata juga membuka lebih dari satu juta lapangan pekerjaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan 80% dari lapangan pekerjaan tersebut berada di daerah-daerah paling terpencil.
Nepal Tourism Statistics 2021 yang dirilis oleh Kementerian Kebudayaan, Pariwisata dan Penerbangan Sipil Nepal menyebutkan, dari seluruh wisatawan yang datang sepanjang 2020-2021, yang bertujuan trekking dan mountaineering hanya 10,3%. Sedangkan yang bertujuan untuk berlibur (leisure) sebesar 66,8%.
Meskipun begitu, Pemerintah Nepal tetap berupaya mengatur pariwisata pegunungannya dengan serius.
Keselamatan dan keamanan wisatawan, pendaki dan tim ekspedisi menjadi prioritas utama. Meningkatkan kualitas manajemen pengolahan limbah di gunung guna merawat alam dan lingkungan sekaligus meningkatkan kenyamanan pendaki dan menjaga kehidupan warga lokal juga sudah menjadi prioritas.
Pemerintah Nepal mengatur kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan di pegunungan Himalaya yang berada di wilayahnya. Peraturan-peraturan itu wajib diketauhui dan dipatuhi oleh siapapun. Standar prosedur operasional yang menjadi standar mountaineering di berbagai belahan dunia pun dilaksanakan.
Sherpa, salah satu etnis di Nepal, terkenal dengan keahliannya mendaki puncak-puncak tertinggi di pegunungan Himalaya. Meskipun tidak semua orang Sherpa berprofesi sebagai pemandu gunung, tetapi rata-rata pemandu dalam ekspedisi Everest ialah orang Sherpa. Dan kearifan lokal Sherpa tersebut diorkestrasikan dengan standar operasional mountaineering yang berlaku secara internasional.
Karena wisatawan Nepal sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu di negaranya, ‘’Ya, mereka sangat memperhatikan standar pelayanan dan SOP safety juga ketika berada di sini,’’ pungkas Eddie.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Secara global, permintaan perjalanan tidak akan berkurang tahun depan. Pariwisata inbound Indonesia diproyeksikan akan lebih baik pada 2023 daripada tahun 2022. Meskipun kunjungan wisatawan mancanegara belum akan mencapai level pra pandemi. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) [more]