Tourism for Us – Deep and Extreme Indonesia 2023 (DXI), pameran selam, bahari dan petualangan terbesar di Asia, menawarkan pengalaman untuk mencoba extreme sport di venue pameran. Pengunjung tidak hanya dapat melihat-lihat dan membeli beragam produk untuk kegiatan selam dan kegiatan petualangan lainnya, tetapi juga [more]
Tourism for Us – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) kembali menggelar misi penjualan ke Tiongkok. Kali ini misi penjualan berlangsung di kota Shanghai pada 16 Mei 2023 bertempat di The Langham, Shanghai, Xintiandi. Dan di kota Hangzhou pada 18 Mei [more]
Tourism for Us – Antara budget perjalanan dan perilaku turis tidak selamanya otomatis ekivalen. Kami rekonstruksi ulang latar belakang dan faktor penyebabnya di sini.
Biaya transportasi yang membuat traveling ke Indonesia lebih mahal
Transportasi udara menjadi pilihan utama bepergian ke Indonesia. Negeri kepulauan ini letaknya paling ujung tenggara benua Asia dan terpisah dari daratan utama benua. Perjalanan multidestinasi lompat pulau (island hopping) diperkirakan dapat menghabiskan 30-40 persen dari total anggaran.
Eka Moncarre, eks Country Manager VITO Perancis, menerangkan, bepergian ke Indonesia jauh lebih mahal daripada ke Thailand dan banyak negara. Ini diungkapkannya di Live Chat Tourism Talks Club ‘’Pariwisata Indonesia Gak Murahan (Indonesian Tourism: Cheap vs Expensive?)’’ pada Senin, 3 April 2023, via Zoom.
‘’Untuk perjalanan long haul, tiket pesawat ke Thailand dan banyak negara lebih murah daripada ke Indonesia. Khususnya di pasar Perancis, dari Paris ke Bali tiketnya sekitar 1500 Euro. Sekarang minimal 1000 Euro. Apakah Indonesia merupakan negara yang murah untuk orang Perancis atau orang Eropa, sama sekali tidak. Indonesia tidak pernah menjadi negara yang murah,’’ ujar Eka.
Diolah oleh Tourism for Us
Dalam masa pemulihan menuju tingkat sebelum pandemi, maskapai-maskapai penerbangan melakukan kerja sama code share. Maskapai memilih solusi ini untuk melayani permintaan dan kebutuhan penumpang yang terus meningkat walaupun tidak melayani penerbangan langsung hingga destinasi terakhir.
Bagi wisatawan dan pelaku industri pariwisata, ketersediaan penerbangan langsung ke destinasi merupakan salah satu upaya mereduksi biaya dan mengefektifkan waktu perjalanan. Penerbangan langsung juga menjadi kampanye yang bagus bagi destinasi.
Namun, maskapai penerbangan pasti akan melihat tingkat keterisian pesawat pergi dan pulang (PP) waktu akan membuka rute penerbangan langsung. Para pemangku kepentingan di destinasi perlu memahami, jika mau menarik penerbangan langsung hanya bertumpu pada satu sektor, pariwisata misalnya, dan tidak bisa menumbuhkan permintaan lainnya, itu tidak akan menarik bagi bisnis penerbangan. Sementara untuk mendorong code share, maskapai akan melihat pada level layanan maskapai lain yang akan bekerja sama.
Budget Perjalanan vs Perilaku Turis
Antara budget perjalanan dan perilaku turis tidak 100% dan selamanya otomatis ekivalen. Wajib diingat, di era informasi berada di genggaman setiap orang, kita dituntut harus bekerja lebih tekun dan cermat memperbarui informasi (baca: update).
Dalam memperbarui informasi, kita harus memastikan informasi yang disampaikan dapat dimengerti oleh orang lain. Karena yang memahami informasi adalah MANUSIA, bukan kecerdasan buatan (artificial intelligent) yang ditanamkan ke dalam mesin pencari (search engine).
Sayangnya, di Indonesia telah terbentuk opini, wisatawan FIT (free individual traveler) yang merencanakan dan mengelola perjalanannya sendiri paling banyak melanggar aturan. Karena mereka traveling dengan biaya sehemat mungkin jadi otomatis tidak terpandu dengan informasi yang baik. Akhirnya, mereka dinilai kurang sensitif terhadap budaya lokal, berani melanggar peraturan, dan tidak peduli dengan kelestarian lingkungan.
Tetapi, tidak semua wisatawan mancanegara (wisman) FIT yang berkunjung ke Indonesia pasti melanggar peraturan. Mereka memang tidak menggunakan jasa agen perjalanan untuk mengatur keseluruhan perjalanannya. Barangkali banyak juga yang belum tahu atau menyadari, mereka akan mencari operator-operator lokal dan dapat dipercaya ketika sudah berada di destinasi.
Dari sudut pandang FIT, mereka ingin lebih bebas melihat dan merasakan di luar yang ada dalam brosur agen perjalanan. Ada juga mereka yang cukup idealis, ingin memastikan pengeluarannya diterima langsung oleh warga lokal.
‘’Sama sekali tidak ada hubungan turis yang berbuat hal-hal yang melanggar peraturan atau bad tourists dengan Indonesia yang dikatakan menjual murah pariwisatanya seperti di satu unggahan TikTok beberapa waktu lalu. Ada banyak sekali salah paham yang harus diluruskan di sini,’’ kata Eka.
‘’Wisatawan yang bertujuan mengeksplorasi dan ingin mengenal Indonesia tidak akan mau melanggar peraturan. Kita harus menjelaskannya sebagai tuan rumah. Kita harus menginformasikannya kepada wisatawan. Bukan hanya satu kali tapi berkali-kali. Ini penting!,’’ tambahnya.
Indonesia terkenal mempunyai tradisi dan adat-istiadat. Kita yang harus menjelaskannya kepada wisman bahkan sebelum dia berangkat dari negaranya. Bagaimana traveling di Indonesia: bagaimana adat istiadat dan yang dibolehkan dan tidak dibolehkan di Bali; adat istiadat dan yang dibolehkan dan tidak dibolehkan di Jawa, dan seterusnya penjelasan terkait adat istiadat dan yang dibolehkan dan tidak dibolehkan di Sumatera, di Kalimantan, di Sulawesi, di Papua, di Nusa Tenggara, di Maluku. Penjelasan-penjelasan itu sekaligus mempromosikan destinasi.
Eka menuturkan pengalamannya, ‘’Sampai sekarang, setiap orang Perancis yang mau ke Indonesia datang ke saya. Mereka bertanya, ‘Apa yang harus saya lakukan kalau ke Indonesia?’, ‘Apa yang harus saya lakukan kalau saya di Bali?’, Jadi, mereka itu selalu mau bertanya dahulu bagaimana tata tertib dan apa kebudayaan di Indonesia.’’
Dijelaskannya lebih lanjut, sejak dipercaya dan diangkat menjadi Country Manager Visit Indonesia Tourism Officer (VITO) Perancis pada 2016, dia dan timnya tidak pernah membawa Indonesia untuk dijual murah. Indonesia dipromosikan sebagai destinasi yang value for your money.
‘’Jadi, kalau ada orang Eropa yang dengan harga mahal kemudian dia masih mengatakan itu murah, itu suatu kebanggaan bagi kita. Itu berarti untuk dia harganya bukan murah karena murahan. Tetapi dia merasa, lebih baik ke Indonesia daripada jalan-jalan ke negara lain. Itu yang sudah kami lakukan di sini, yang sedang kami lakukan saat ini, dan kami akan terus lakukan itu,’’ tambahnya.
Percayalah! Menjadi FIT tuh tidak seindah foto dan video yang diunggah di Instagram dan TikTok. Perlu investasi waktu untuk meriset sebelum perjalanan dilakukan. Belum lagi, semua resiko selama perjalanan ditanggung sendiri. Maka pada umumnya, FIT asing sudah merencanakan perjalanannya dengan baik dan hati-hati, termasuk memperhitungkan total biaya yang dibutuhkan. Hanya segelintir dari mereka yang ceroboh hingga kehabisan bekal dan lain-lain sampai nekad melanggar peraturan.Mereka yang melanggar harus menanggung konsekuensinya.
Bagaimana mencegah turis asing melakukan pelanggaran
Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh turis asing sudah berlangsung jauh sebelum pandemi. Jadi bukan marak terjadi saat ini saja. Hanya saja hal tersebut tidak diekspos dan diviralkan melalui media sosial. Pun bagaimana konsekuensi penyelesaian hukumnya tidak pernah jelas dan publik tidak pernah tahu.
Pemangku kepentingan pariwisata di Indonesia sudah saatnya berkontemplasi: apakah wisman sudah mengetahui peraturan/tata tertib yang berlaku di Indonesia? Apakah mereka cukup mengerti peraturan/tata tertib di setiap destinasi? Tetapi, kenapa masih ada wisman yang melanggar aturan/tata tertib? Apakah kita sudah menyampaikan atau menerangkan peraturan sejelas-jelasnya?
Dengan slogan ‘hidup seperti orang lokal’ (live like locals) yang diagungkan oleh wisatawan FIT, mungkinkah mereka melanggar karena melihatnya di media sosial atau menyaksikannya sendiri bagaimana warga lokal, misalnya, tidak menggunakan helm, melawan arah lalu lintas, kemudian ‘’membayar’’ aparat ketika melakukan pelanggaran di jalan raya? Sehingga mereka berpikir dan mengambil kesimpulan, ‘’Oh, itu memang kebiasaan dan budaya di sini.’’
Di zaman media sosial, tidak bisa ditampik, orang-orang berlomba-lomba membuat konten-konten yang mampu mendulang banyak perhatian. Tanpa mendiskreditkan sebuah atau beberapa negara, tetapi juga termasuk warga negara Indonesia sendiri, demi konten tidak sedikit dari mereka mengabaikan aturan, tata tertib, nilai-nilai budaya lokal, kelestarian alam dan bahkan keselamatan dirinya sendiri.
Bila ingin kedaulatan hukum Republik Indonesia tidak diremehkan, mulai dari aparat sampai masyarakatnya harus berkomitmen menaati peraturan yang ada. Kita semua konsekuen menjalankannya. Atau jangan-jangan, dunia sudah menertawakan kita, ’’Mereka yang membuat peraturan tapi mereka yang melanggarnya sendiri.’’
Daniel Nugraha, Direktur Exotic Java Trails, salah satu operator tur inbound berbasis di Bandung, berpendapat, ‘’Peraturan atau tata tertib di Indonesia bisa disosialisasikan melalui Kementerian Luar Negeri, melalui kedutaan besar dan perwakilan-perwakilan Indonesia lainnya di luar negeri, tidak hanya di Eropa. Apalagi sekarang, Indonesia sudah tidak punya perwakilan dari Kementerian Pariwisata di luar negeri. Kami, pelaku industri, pasti akan menjelaskan atau mensosialisasikannya pada saat wisatawan mau sewa.’’
Yun Damayanti, travel writer juga Founder The J-Team dan Tourism for Us, melihat, sosialisasi peraturan-peraturan yang berlaku secara nasional di seluruh Indonesia, tata tertib sosial yang berakar pada budaya di mana di masing-masing destinasi berbeda-beda, sudah semestinya menjadi materi konten dalam mempromosikan pariwisata Indonesia, baik di dalam negeri maupun di mancanegara.
‘’Konten-konten informatif seperti peraturan, tata tertib, Dos & Donts di setiap destinasi sama pentingnya dengan konten-konten berisi visual yang indah-indah dan membuat orang lain bermimpi. Wisatawan di luar sana membutuhkannya. Kita punya peraturan yang berlaku secara nasional. Kita juga memiliki tata tertib sosial yang berlaku di masyarakat. Tata tertib sosial di Bali tidak akan sama dengan di Jogja, di Labuan Bajo, di Toba, di Raja Ampat dan lain-lain. Itu merupakan salah satu cara yang mudah dan bisa kita lakukan untuk mencegah pelanggaran. Negara-negara lain sudah melakukannya,’’ kata Yun.
Aturan seperti punya izin mengemudi dan menggunakan helm memang diterapkan di seluruh dunia. Tetapi, masing-masing negara mempunyai peraturannya sendiri.
‘’Hanya karena itu diterapkan secara internasional, bukan berarti kita menganggap warga dari negara lain sudah pasti tahu aturan berlalu lintas ketika berada di Indonesia. Itu salah satu contoh saja,’’ tambahnya.
Eka mengusulkan, Indonesia dapat membuat konten-konten video ‘How to Drive in Indonesia’, ‘How to Drive in Bali’. Konten-konten informatif seperti itu, dikemas dengan menampilkan visual destinasi, akan jauh lebih baik dan membuat citra Indonesia bagus di mata wisman.
Destinasi lain pun menghadapi persoalan serupa dengan Indonesia
Pelanggaran hukum dan tata tertib oleh orang asing bukan hanya terjadi di Bali dan Indonesia saja. Destinasi di seluruh dunia juga menghadapinya.
Destinasi ternama seperti Paris sekalipun menghadapi pencuri dan pencopet. Pelakunya bukan orang Perancis melainkan orang-orang dari negara-negara lain. Thailand yang dikunjungi wisman lebih dari dua kali lipat Indonesia juga menghadapi persoalan overstay, wisatawan yang bekerja secara ilegal misalnya menjadi tour guide, tindakan yang dinilai menghina raja atau tidak menghormati budaya dan lain-lain. Di kedua destinasi tersebut, hukum ditegakkan tanpa bisa ditawar-tawar.
‘’Saya pikir, semua negara punya masalah seperti itu. Oleh karena itu, kita harus bersama-sama, bersatu, saling menjaga keamanan pariwisata Indonesia,’’ ucap Eka.
Dia sendiri pernah beberapa kali mendapat laporan dari pemandu-pemandu di Bali. Ada orang-orang asing yang membuka usaha biro perjalanan gelap. Laporan itu diteruskannya ke Dinas Pariwisata Bali.
‘’Saya akan lakukan apa yang saya bisa,’’ katanya.
Tourism for Us berkolaborasi dengan Le Maison De L’Indonesie dan Jelajah Bandung menggelar Live Chat Tourism Talks Club ‘’Pariwisata Indonesia Gak Murahan (Indonesian Tourism: Cheap vs Expensive?)’’ bulan lalu. Live Chat mendiskusikan issue terkini yang meresahkan pelaku industri pariwisata maupun wisatawan yaitu pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh turis asing. Sampai-sampai ada tudingan, pariwisata Indonesia dijual murah karena itu semakin banyak turis asing melanggar aturan.
Melalui diskusi ini diharapkan, semua pihak (pelaku industri, pemerintah, dan masyarakat), pemangku kepentingan pariwisata Indonesia, dapat melihat persoalan-persoalan yang terjadi secara lebih proposional dan komprehensif. Agar kesalahpahaman yang telah terjadi karena viralisasi issue tersebut tidak berlarut-larut dan akhirnya mengacaukan pariwisata Indonesia yang masih berada di tahap survival.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Garuda Indonesia kembali menggelar Garuda Indonesia Online Travel Fair (GOTF) 2023 pada 22-28 Mei 2023 mendatang. Di travel fair yang hanya berlangsung secara online, maskapai penerbangan nasional ini menghadirkan promo diskon tiket penerbangan hingga 80 persen. Pada gelaran GOTF yang kedua [more]
Tourism for Us – Industri hospitality di Batam, Kepulauan Riau, terus meningkatkan kualitas sumber daya manusianya (SDM). Sebagai salah satu pintu masuk utama wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia, standar mutu SDM sangat dibutuhkan. Karena itu akan mempengaruhi mutu layanan yang diberikan. Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) [more]
Tourism for Us – Misi penjualan (sales mission) Indonesia Spice Up the World (ISUTW) pertama di Perancis minggu lalu berhasil menarik perhatian chef, asosiasi pemilik restoran Perancis, sekolah gastronomi, media hingga supermarket halal di Paris.
Direktur Pemasaran Ekonomi Kreatif Kemenparekraf Erwita Dianti (kelima dari kiri) memimpin delegasi misi penjualan subsektor kuliner Indonesia ke Paris, Perancis. (Photo credit to LMDI)
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) bekerja sama dengan House of Indonesia Paris (La Maison de L’Indonesie/LMDI) menggelar Sales Mission Pemasaran subsektor Kuliner pertama kali di Paris, Perancis, dengan mengangkat tema ‘’1er Edition Festival Des Epices Indonesiennes’’ (Festival Rempah-Rempah Indonesia Edisi Pertama). Sales Mission telah berlangsung pada tanggal 9, 10 dan 12 Mei 2023. Usai misi penjualan diikuti dengan pameran beragam produk makanan dan bumbu Indonesia selama tiga minggu pada bulan Mei 2023 bertempat di House of Indonesia Paris.
Sales Mission diikuti oleh tiga sellers produsen beragam produk makanan buatan Indonesia. Ketiga sellers adalah Lemonilo, Murni dan grup JIKA yang membawa merek JIKA Chocolat, Spice from the East, dan sambal Sweet & Pedas.
Credit photo to LMDI
Agenda pertama misi penjualan ‘’Special Chef Lunch’’, Selasa (9/5/2023), dihadiri 12 orang. Mereka terdiri dari Didier Desert dari Association Francaise des Maitres Restaurateurs; Patric Obin, Academie Nationale de Cuisine; Mathieu La Fay, Euro Toques France; Laetitia Plaut, Maitres Cuisiners de France; Romain Besseron dan Thierry Charrier dari Cuisiners de la Republique Francaise; Dominique Saffre, Union Compagnonnique; Pierre Koch, Academie Culinaire de France; Pierre Sanner, Mission Francaise du Patrimoine & des Cultures Alimentaires; Anne-Laure Descombin, Village International de la Gastronomie; Edouard Cointreau,Gourmand International; dan Marie Sauce-Bourreau
Program hari pertama, peserta diperkenalkan dengan rempah-rempah Indonesia yang digunakan untuk memasak jamuan makan siang. Menu makan siang terdiri dari soto ayam sebagai makanan pembuka. Kemudian dilanjutkan dengan hidangan utama yakni nasi kuning yang dibentuk jadi tumpeng mini dengan lauk pauknya rendang, tempe dan serundeng. Dan sebagai penutupnya, kue lapis legit ditemani kopi, teh dan cokelat Indonesia.
Eka Moncarre, founder House of Indonesia Paris (La Maison De L’Indonesie/LMDI), menerangkan, ketiga menu jamuan makan siang merupakan kuliner Indonesia paling populer di kalangan warga Perancis. Selain itu, menu tersebut cocok dengan bahan-bahan yang dibawa oleh peserta misi penjualan.
Agenda kedua ‘’Press Conference’’ berlangsung, Rabu (10/5/2023), dihadiri oleh 50 media Perancis.
Agenda ‘’Business Workshop’’, Jumat (12/5/2023), juga dihadiri oleh 50 buyers. Program ini tidak hanya mempertemukan sellers dengan buyers. Tetapi juga termasuk mengunjungi salah satu supermarket halal di Paris sehingga sellers dari Indonesia dapat melihat langsung kondisi pasar.
‘’Kita juga lakukan visit ke supermarket halal di Paris yang tertarik dengan produk-produk Indonesia,’’ ujar Eka.
Setelah rangkaian agenda misi penjualan tersebut, dilanjutkan dengan pameran ragam produk kuliner Indonesia mulai tanggal 10 sampai dengan 31 Mei 2023 di House of Indonesia Paris.
Dalam keterangan tertulis sebelum misi penjualan berlangsung, Direktur Pemasaran Ekonomi Kreatif Kemenparekraf Erwita Dianti mengatakan, ‘’Selain komoditi rempah, kita juga mengangkat para artisan kuliner yang makin beragam produknya. Harapan kami adalah mempromosikan produk artisan lokal ini supaya produk Indonesia semakin mendunia.”
Tingginya permintaan ekspor rempah menunjukkan, kualitas produk rempah Indonesia telah diakui dunia. Maka tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mempromosikan beberapa bumbu dan masakan Indonesia. Selain itu, diharapkan ada kesepakatan bisnis dan terjadi transaksi antara sellers dari Indonesia dan buyers dari Perancis.
Program nasional Indonesia Spice Up the World adalah strategi memperkenalkan produk rempah dan bumbu masakan Indonesia di mancanegara. Strategi ini juga memacu pengembangan jaringan restoran Indonesia di luar negeri sebagai diplomasi gastronomi Indonesia. Kampanye ISUTW menargetkan nilai ekspor rempah dan bumbu mencapai dua miliar dolar AS dan menghadirkan 4.000 restoran Indonesia di luar negeri pada 2024.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) bekerja sama dengan House of Indonesia Paris (La Maison de L’Indonesie/LMDI) akan menggelar Sales Mission Pemasaran subsektor Kuliner pertama kali di Paris, Perancis, minggu depan. Sales Mission diikuti dengan pameran beragam [more]
Tourism for Us – Indonesia lebih percaya diri hadir di Arabian Travel Market (ATM) Dubai 2023. Salah satunya, berbekal berita kesuksesan penyelenggaraan KTT G20 tahun lalu. Berita itu telah menarik buyers datang ke pavilun Wonderful Indonesia. Mereka ingin mencari tahu lebih jauh mengenai MICE dan [more]
Tourism for Us – Pemerintah merevisi target jumlah wisatawan mancanegara (wisman) pada 2023 menjadi 8,5 juta. Sebelumnya pemerintah menargetkan 7,4 juta wisman pada tahun ini. Tambahan target 1,1 juta wisman itu dikarenakan akan ada momentum kuat.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, ‘’Kami semula targetnya 7,4 juta, batas atas, wisatawan mancanegara. Mungkin, karena terllihat ada momentum yang lebih kuat, jadi ditambah satu juta menjadi 8,5 juta. Ini harus terus kita pantau. Jika dikalikan empat per quarter, ini kalau dikalikan 2,5 juta, hingga akhir tahun bisa menembus sekitar angka 9 juta.’’
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, sebanyak 809.960 wisman mengunjungi berbagai destinasi di Indonesia pada bulan Maret 2023. Jumlah ini meningkat 15,39 persen dibanding bulan sebelumnya.
Jumlah kunjungan wisman secara kumulatif Januari-Maret 2023 mencapai 2,25 juta atau naik 508,87 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2022.
Wisman terbanyak yang berkunjung ke Indonesia pada Maret 2023: Malaysia sebanyak 124,62 ribu (15,39%), Singapura 111,26 ribu (13,74%), Australia 96,16 ribu (11,87%), Timor Leste 63,59 ribu (7,85%) dan Tiongkok 51,97 ribu (6,42%).
‘’Ini sesuai proyeksi kami. Angka tersebut ada di target atas sesuai dengan penambahan jumlah penerbangan dan jumlah ketersediaan kursi yang terus meningkat,’’ ujar Menparekraf seusai ‘’The Weekly Press Brief With Sandi Uno’’ yang berlangsung secara hybrid di Jakarta, Selasa (2/5/2023).
Akses adalah faktor teratas dalam mendatangkan wisatawan. Pada kesempatan sebelumnya, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf Ni Made Ayu Marthini menekankan, pentingnya konektivitas untuk mempercepat pemulihan sektor pariwisata.
Menparekraf juga mewanti-wanti akan terjadi penurunan wisman di low season setelah puncak liburan di musim panas. Dan low season itu pun harus diantisipasi sebelum peak season pada akhir tahun.***(Yun Damayanti)
Tourism for Us – Media sosial telah menjadi pemain utama dan terpenting dalam pemasaran. Pemilihan platform media sosial yang tepat menjadi krusial untuk menjangkau konsumen yang diinginkan. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) berkolaborasi dengan DouYin untuk memasarkan pariwisata dan ekonomi [more]