Author: admin

PEMERINTAH AKAN MENDUKUNG PENGEMBANGAN WISATA AIR

PEMERINTAH AKAN MENDUKUNG PENGEMBANGAN WISATA AIR

Tourism for Us – Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki berbagai jenis potensi wisata air. Seperti kawasan ekowisata mangrove, sungai dan danau. Potensi wisata danau misalnya. Indonesia memiliki 840 danau dengan tipologi sangat bervariasi. Sejumlah danau yang ada telah menjadi atraksi wisata kelas dunia. Melalui kepemimpinan [more]

KEMENPAREKRAF LAKUKAN MISI PENJUALAN DI BUSAN UNTUK MENINGKATKAN KEMBALI BRAND ‘WONDERFUL INDONESIA’ DI PASAR KORSEL

KEMENPAREKRAF LAKUKAN MISI PENJUALAN DI BUSAN UNTUK MENINGKATKAN KEMBALI BRAND ‘WONDERFUL INDONESIA’ DI PASAR KORSEL

Tourism for Us – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) melaksanakan misi penjualan (sales mission) di Busan, Korea Selatan (Korsel), guna meningkatkan kembali brand ‘Wonderful Indonesia’ dan menjaring wisatawan Korsel untuk datang ke Indonesia. Misi penjualan berlangsung di Busan Indonesia Center, [more]

PIK JAKARTA AKAN JADI TUAN RUMAH ITIF 2024

PIK JAKARTA AKAN JADI TUAN RUMAH ITIF 2024

Tourism for Us – Indonesia kembali menjadi tuan rumah pelaksanaan International Tourism Investment Forum (ITIF). ITIF 2024 akan digelar pada 5-6 Juni 2024 di Swissotel Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta.

(Foto: Birkompublik Kemenparekraf)

Dalam ’The Weekly Brief with Sandi Uno’’, Senin (13/5/2024), di Jakarta, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan, kegiatan ini telah diadakan untuk kedua kalinya di Indonesia. Kali ini ITIF akan dilaksanakan di kawasan proyek strategis nasional (PSN) Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Sebelumnya, ITIF 2023 dilakasanakan di Nusa Dua, Bali.

‘’ITIF 2024 mengusung tema ‘Elevating Tourism Investment for Sustainable Growth’ dan platform ini memang kita arahkan kepada sustainable tourism karena planet, people dan prosperity selalu menjadi acuan (pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif/parekraf),’’ kata Sandiaga.  

Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf)  Rizki Handayani menambahkan, pertemuan ITIF 2024 juga akan diisi dengan sejumlah side event seperti roundtable session dengan beberapa negara seperti India dan Rusia terkait investasi di sektor parekraf.

‘’Ada juga roundtable yang terkait dengan potensi peluang Indonesia secara umum di mana pemerintah daerah (pemda) yang punya proyek yang akan ditampilkan project plan di hadapan calon investor,’’ ujar Rizki.   

Sementara, Direktur Promosi Wilayah Amerika dan Eropa Kementerian Investasi/BKPM Sri Endang Novitasari menjelaskan, investasi di sektor parekraf memiliki masa pemulihan yang sangat cepat. Tercatat, pada masa pandemi COVID-19 atau sekitar tahun 2020, investasi di sektor parekraf mengalami penurunan hingga 35 persen. Kemudian memasuki tahun 2021 terjadi peningkatan investasi di sektor parekraf Indonesia hingga 46 persen. Endang menilai, investasi di sektor parekraf ini sangat menjanjikan.

‘’Dengan adanya ITIF ini harapannya tentu saja bisa mendorong masuknya lebih banyak investasi asing,’’ kata Endang.

Wakil Ketua Umum Bidang Parekraf Kamar Dagang Indonesia (KADIN) Triawan Munaf berharap, ITIF mampu meningkatkan investasi asing di sektor parekraf Indonesia. Sehingga sektor ini dapat tumbuh dan berkembang pesat.

‘’ITIF juga salah satu kolaborasi dunia usaha dan pemerintah untuk menarik investor untuk mendorong pertumbuhan sektor parekraf lebih cepat dan besar. Kami berharap investasi yang masuk dapat terus mendukung pertumbuhan sektor parekraf berkelanjutan,’’ kata Triawan.

Bagi masyarakat dan pelaku parekraf yang berminat mengikuti rangkaian pertemuan ini bisa mendaftarkan diri di situs itif.co.id

Pada kesempatan sosialisasi ITIF 2024, turut hadir Ketua Dewan Direktur/CEO Indonesia Investment Authority (INA) Ridha Wirakusumah. ***(Yun Damayanti) 

IBIS STYLES KINI HADIR DI BSD, CITY HOTEL RASA RESORT

IBIS STYLES KINI HADIR DI BSD, CITY HOTEL RASA RESORT

Tourism for Us – Berlokasi di area sekitar taman kota Bumi Serpong Damai (BSD) dan menempati gedung sendiri, ibis Styles Serpong BSD City tidak seperti sebuah city hotel. Grup Accor kembali mengumumkan telah membuka hotel baru di Indonesia yakni ibis Styles Serpong BSD City, Tangerang,  [more]

PEMERINTAH TARGETKAN WISATAWAN KORSEL NAIK 43%, WONDERFUL INDONESIA HADIR KEMBALI DI SITF 2024

PEMERINTAH TARGETKAN WISATAWAN KORSEL NAIK 43%, WONDERFUL INDONESIA HADIR KEMBALI DI SITF 2024

Tourism for Us – Wonderful Indonesia kembali hadir di pameran pariwisata internasional terbesar Korea Selatan yakni Seoul International Travel Fair (SITF) 2024. SITF telah berlangsung pada 9-12 Mei 2024 di Coex Hall A, Seoul. Sebanyak 14 pelaku industri pariwisata terdiri dari operator tur/agen perjalanan, DMC, [more]

MENPAREKRAF PAPARKAN KEUNTUNGAN BERINVESTASI DI INDONESIA DALAM AIM CONGRESS 2024 ABU DHABI

MENPAREKRAF PAPARKAN KEUNTUNGAN BERINVESTASI DI INDONESIA DALAM AIM CONGRESS 2024 ABU DHABI

Tourism for Us – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno memaparkan berbagai keuntungan berinvestasi di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) Indonesia di Annual Investment Meeting (AIM) Congress 2024 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Kongres ini menjadi tempat para investor besar dunia berkumpul untuk mempromosikan investasi. Peserta yang datang mewakili pemerintahan, swasta dan komunitas.

(Foto: Birkompublik Kemenparekraf)

Saat sesi Round Table Discussion AIM 2024, Kamis (9/5/2024), Menparekraf menjelaskan, ekonomi Indonesia tumbuh 5,05 persen pada tahun 2023. Tingkat pertumbuhan PDB rata-rata  melebihi 5 persen dalam beberapa dekade terakhir dan diperkirakan akan tetap di atas 5,0 persen pada tahun 2024.

Indonesia juga telah memasuki era bonus demografi dengan populasi mencapai 277 juta pada tahun 2023. Dua per tiga penduduk berada di usia kerja produktif. Maka setiap menanamkan investasi di Indonesia dapat menciptakan enam kali lipat lebih banyak lapangan pekerjaan.

‘’Bukan hanya lapangan pekerjaan biasa tetapi lapangan kerja yang dikaitkan dengan  sustainability, dengan green economy, juga dengan women empowerment, memberdayakan perempuan. Dan juga menciptakan lapangan kerja yang bisa meningkatkan kesejahteraan,’’ kata Menparekraf Sandiaga.  

Menparekraf melanjutkan, ‘’Kami menyampaikan parekraf di Indonesia sangat dominan. Indonesia pun memiliki kebijakan yang sangat terbuka untuk investasi di berbagai bidang terutama di sektor parekraf.’’

Menparekraf yakin partisipasi Indonesia di AIM Congress 2024 akan membuat Indonesia semakin memiliki daya tarik. Sehingga semakin banyak investasi di sektor parekraf Indonesia. ***(Yun Damayanti)

INFORMASI SATU ATAP ‘WONDERFUL INDONESIA CORNER’ DI KANTOR VFS GLOBAL DUBAI, UEA

INFORMASI SATU ATAP ‘WONDERFUL INDONESIA CORNER’ DI KANTOR VFS GLOBAL DUBAI, UEA

Tourism for Us – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) berkolaborasi dengan VFS Global, perusahaan penyedia jasa pembuatan visa, menghadirkan Wonderful Indonesia Corner di kantornya di Wafi City Mall Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Di situ menjadi pusat sumber informasi satu [more]

JEMBATAN KOTA INTAN YANG SEMAKIN INSTAGRAMABLE

JEMBATAN KOTA INTAN YANG SEMAKIN INSTAGRAMABLE

Tourism for Us – Jembatan Kota Intan semakin terlihat Instagramable usai pemugaran. Pemerintah Provinsi (pemprov) Daerah Khusus (DK) Jakarta tidak hanya memugar jembatannya saja tetapi juga meremajakan area pedestrian di kedua sisi Kali Besar di sepanjang Jalan Nelayan Timur. Lebar pedestrian di sekitar Jembatan Kota [more]

PENGALAMAN TAK TERDUGA NAMUN MENYENTUH HATI DI KOTA TUA JAKARTA

PENGALAMAN TAK TERDUGA NAMUN MENYENTUH HATI DI KOTA TUA JAKARTA

Tourism for Us – Kota tua Jakarta tidak hanya terus bersolek tetapi juga berupaya untuk meningkatkan pengalaman pengunjung. Untuk itu, Pemerintah Provinsi (pemprov) Daerah Khusus (DK) Jakarta melakukannya bersama-sama dengan stakeholder pariwisata diantaranya dengan Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jakarta.

Tourist Information Center di Kota Tua Jakarta dilengkapi tempat yang representatif serta didukung staf yang ramah, berpengetahuan dan profesional. (Foto: Yun Damayanti) 

Kolaborasi tur berpemandu Kota Tua

Di era di mana semua informasi bisa dicari di ponsel pintar, tur berpemandu (guided tour) akan selalu menawarkan pengalaman lebih dalam dan humanis. Kota Tua Jakarta sebagai sebuah kawasan yang berisi bangunan-bangunan tua bisa ‘hidup’ kembali melalui cerita dan/atau penjelasan dari para pemandu wisata yang membawakannya dengan piawai.

Pemprov DK Jakarta akhirnya mempunyai program wisata yang sesungguhnya di kawasan Kota Tua. Berkolaborasi dengan HPI Jakarta, pemprov melalui Kantor Unit Pengelola Kawasan (UPK) Kota Tua menggulirkan program Free Guided Walking Tour sejak tahun 2023. Program ini sangat membantu pengunjung untuk lebih mengenal lagi kota yang sudah berdiri sejak 496 tahun lalu.

Pengunjung dapat mengikuti salah satu dari lima program Free Guided Walking Tour reguler yang tersedia yakni:

  1. Kampoeng Tua Sunda Kelapa
  2. Nostalgia Tembok Kota Batavia
  3. Secret of China Town Glodok
  4. Oud Batavia en Emstreken, Then and Now
  5. Susur Kampoeng Arab Pekojan

Free Guided Walking Tour tersedia Senin-Minggu. Program ini mungkin ditiadakan bila ada kunjungan khusus tamu VIP ke kawasan Kota Tua. Dan tur jalan kaki berpemandu itu menawarkan rute perjalanan berbeda-beda setiap harinya.  

UPK Kota Tua menyediakan program tur berpemandu tersebut pada dua waktu yakni pukul 09.30 dan 15.00 WIB. Dan durasi setiap program berbeda-beda.

Program tersingkat dengan rute terpendek seperti Oud Batavia En Emstreken, Then and Now, berdurasi antara 60-90 menit. Rute ini mengitari kompleks bangunan-bangunan bersejarah di kawasan Taman Fatahillah hingga Stasiun Kota. Sedangkan program terjauh seperti Kampoeng Tua Sunda Kelapa dan Susur Kampoeng Arab Pekojan menghabiskan waktu antara 2 hingga 3 jam.

Semua pemandu di program Free Guided Walking Tour Kota Tua Jakarta bisa berbahasa inggris. Diantara pemandu-pemandu itu juga ada yang mempunyai kemampuan berbahasa asing lainnya seperti bahasa spanyol, korea dan portugis.

‘’Ini adalah program pertama Walking Tour di bawah naungan Pemprov DK Jakarta. Alhamdulillah, program sudah berjalan selama satu tahun dan sukses. Program ini sampai sekarang masih berjalan,’’ ujar Pamelita Chaniago, Koordinator Staf Ahli Tour Guide, Spesialis Bahasa Spanyol, Kawasan Kota Tua Jakarta.

Ia pun menambahkan, ‘’Meski pesertanya hanya satu orang program guided walking tour tetap bisa berjalan.’’

Pramuwisata resmi Kota Tua tidak boleh meminta tips. Meskipun demikian, tidak ada larangan peserta program Free Guided Walking Tour memberikan tips sesuai dengan kemampuannya bila dia merasa puas atas layanan yang diberikan.

Jadi, seperti apa Free Guided Walking Tour Kota Tua Jakarta?

Pemandangan dari pedestrian di sekitar Jembatan Kota Intan sekarang. (Foto: Yun Damayanti)

Pengalaman tak terduga yang menyenangkan

Usai menghadiri sebuah acara di Hotel Mercure Jakarta Batavia pada minggu terakhir di bulan April lalu, mata penulis tertumbuk di Jembatan Kota Intan. Jembatan cagar budaya yang persis berada di seberang hotel itu sudah selesai dipugar. Matahari yang sedang bersinar sangat terik tidak menyurutkan rasa penasaran ingin melihat jembatan tersebut dari dekat.

Setelah menyeberang jalan yang keadaannya saat itu tidak terlalu ramai, pedestrian di tepi Kali Besar di sekitar Jembatan Kota Intan rupanya juga ikut diremajakan. Lebar pedestriannya sama dengan pedestrian di sekitar Taman Fatahillah sekarang. Di beberapa tempat ada dek pandang sehingga kita bisa memfoto jembatan dari kejauhan. Selain itu juga ada bangku-bangku dari beton untuk beristirahat/bersantai. Pepohonan yang tampaknya belum lama ditanam susah payah menahan tiupan angin yang lumayan kencang siang hari itu.

Setelah menyusuri pedestrian dari Jembatan Kota Intan, penulis masuk ke Taman Fatahillah, pusat Kota Tua Jakarta, dari Jalan Kunir. Pasar Kota Tua menjadi tempat pertama yang disambangi.

Pasar Kota Tua menempati lantai bawah sebuah bangunan di hook di lorong pertama. Posisinya di seberang halte bis TransJakarta Fatahillah. Pasar ini tampaknya menjadi salah satu tempat relokasi pedagang kaki lima (PKL) yang sebelumnya berjualan di lorong-lorong di kawasan ini. Di situ dijual baju-baju bertuliskan ‘Jakarta’, aksesoris dan lain-lain.

Pasar ini terhubung langsung dengan Kantin Kota Tua. Kantin ini juga tampakya merupakan salah satu tempat relokasi PKL yang menjajakan makanan dan minuman yang dahulu menempati lorong-lorong di kawasan itu. Di belakang kantin dibuat sebuah panggung kecil

Kios-kios di bagian depan kantin sudah ditempati lebih dari setengahnya. Namun di bagian belakang, masih banyak kios kosong. Meja dapur dan tempat cuci piring permanen telah disiapkan di setiap kios.

Selain jajanan populer juga ada  makanan dan minuman kekinian. Harganya rata-rata cukup terjangkau. Kantin Kota Tua pun dilengkapi dengan toilet dan mushola.

Lorong-lorong di jantung kawasan Kota Tua Jakarta sekarang tampak seperti ini. (Foto: Yun Damayanti)

Lorong-lorong di Taman Fatahillah sekarang lebih resik dan rapih. Para pengunjung berjalan di bawah bayangan gedung-gedung tua. Di ujung lorong,  pikiran penulis melayang: mungkin inilah yang dibayangkan oleh para petinggi VOC saat itu, membangun rumah (home) di perantauan, membawa The Netherlands ke tanah Jawa.

Sebuah bangunan kecil berwarna putih dengan jendela melengkung dan penanda ‘Tourist Information Center’ langsung menyedot pehatian penulis. Tak ada lagi ‘Tourist Information Center’ (TIC) di tenda seadanya. Seorang perempuan muda masuk ke TIC. Dan penulis pun mengikutinya.

Seorang staf sedang menerangkan sesuatu dalam bahasa inggris kepada pengunjung perempuan tadi. Setelah melihat-lihat booklet yang disodorkan oleh seorang staf lainnya, penulis diberitahu ada program guided walking tour yang akan segera dimulai. Dan program itu free alias gratis.

Program free guided walking tour pada hari Senin sore itu adalah ‘’Oud Batavia en Emstreken, Then and Now’’. Ini adalah program tur tersingkat. Durasinya antara 60 sampai 90 menit. Rutenya dari Taman Fatahillah sampai ke Stasiun Kota. Senyuman di wajah-wajah staf TIC meluluhkan niat penulis yang hendak ke Stasiun Kota.

Peserta program tur sore hari itu kebetulan hanya penulis seorang. Jadi rasanya seperti mengikuti private tour. Semakin merasa istimewa karena ditemani oleh dua orang pemandu, Kakak Pamelita yang fasih berbahasa spanyol dan Kakak Arif. Sebelum memulai tur, peserta diminta untuk mendaftar melalui akun resmi UPK Kota Tua Jakarta di Instagram @kotatua.jkt (centang biru).

Waktu telah menunjukkan pukul tiga sore. Tur dimulai dari depan Museum Seni Rupa dan Keramik. Pemandu menjelaskan bahwa bangunan itu adalah bangunan termuda dari era kolonial yang ada di kawasan Kota Tua. Bangunan tersebut dahulu adalah kantor Pengadilan. Pada masa pendudukan Jepang, gedung diambil alih untuk kebutuhan tentara Jepang. Dan akhirnya gedung tersebut difungsikan sebagai museum sejak masa pemerintahan Gubernur Ali Sadikin sampai sekarang.

Kemudian di depan Cafe Batavia, pemandu menjelaskan, bangunan yang ditempati kafe dahulu adalah rumah kediaman gubernur jenderal. Jadi, pejabat tertinggi di Hindia Belanda cukup berjalan kaki menuju kantornya yang sekarang menjadi Museum Sejarah Jakarta atau lebih dikenal dengan Museum Fatahillah.  

Tidak jauh dari Cafe Batavia, ada bagian yang dilindungi kotak kaca. Di dalam kotak kaca itu pengunjung dapat melihat sisa rel trem. Pemandu mengatakan, rel tersebut tersambung hingga dekat pelabuhan pada masanya.

Di samping Meriam Si Jagur, Kakak Pamelita tidak hanya menjelaskan secara lisan tetapi juga memperlihatkan foto-foto lawas pada saat meriam tersebut ditemukan. Cerita tentang Si Jagur jadi semakin menarik. (Foto: Yun Damayanti)

Meriam Si Jagur ditempatkan kembali di area publik. Pengunjung tak perlu lagi masuk ke dalam museum untuk melihatnya. Meriam bersejarah itu sekarang dipagari. Di sini, Kakak Pamelita tidak hanya menjelaskan secara lisan tetapi juga memperlihatkan foto-foto lawas pada saat meriam tersebut ditemukan. Penjelasan dan alat peraga membuat cerita tentang Si Jagur semakin menarik.

Kemudian kami bergeser ke depan Museum Wayang. Bangunan yang ditempati museum dahulu merupakan sebuah gereja. Pemandu menerangkan, bangunan tidak dirancang seperti yang ada sekarang. Kakak Pamelita memperlihatkan lagi gambar-gambar desain awal mula bangunan. Bagi penyuka arsitektur, ini tentu akan memberikan pengalaman yang lebih komprehensif.

Dari sana kami melanjutkan perjalanan menuju lorong yang sempat penulis lihat sebelum tur. Kami berhenti sejenak di samping gedung itu. Ah! Siapa sangka, gedung kokoh yang penulis lihat tadi dahulu merupakan sebuah tempat pertemuan ternama. Di situ orang-orang Belanda tidak hanya bersosialisasi tetapi juga menjadi tempat untuk memilih pribumi yang akan dijadikan budak.

Lalu, kami memasuki Jalan Kali Besar Timur. Selagi kami berteduh di bawah pohon, Kakak Arif menunjuk ke satu gedung. Bukan sekali ini penulis melihat gedung yang ditunjuk. Namun, penjelasannya membuat penulis tercekat.

Bangunan berbentuk kotak (tengah) di Jalan Kali Besar Timur itu merupakan salah satu jejak Friedrich Silaban di Kota Tua Jakarta. Gedung modern yang dibangun pada masa awal kemerdekaan untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia juga mampu membangun apa yang bangsa-bangsa penjajah pernah buat. (Foto: Yun Damayanti)

Gedung yang ditunjuk oleh pemandu dirancang oleh Friendrich Silaban. Salah seorang arstitek terkemuka Indonesia yang merancang Masjid Istiqlal, Monumen Nasional (Monas) dan Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Selain gedung di Jalan Kali Besar Timur, jejak rancangan lain arsitek Silaban adalah kompleks gedung Bank BNI di sebelah Stasiun Kota.

Kawasan Kota Tua Jakarta tidak hanya berisi bangunan-bangunan dari masa kolonial Belanda tetapi juga dari era awal kemerdekaan Republik Indonesia. Bangunan-bangunan yang dirancang oleh Silaban sangat berbeda dibandingkan dengan gedung-gedung klasik Eropa di sekitarnya.

Apapun alasan Soekarno, salah seorang bapak pendiri bangsa dan Presiden pertama RI, meminta Silaban membangun gedung-gedung baru di kawasan Kota Tua Jakarta, itu seakan mewujudkan keinginan beliau untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia juga mampu membangun apa yang bangsa-bangsa penjajah pernah buat. Keberadaan gedung-gedung tersebut terasa seperti sudah disiapkan oleh Bung Karno untuk mengingatkan setiap generasi agar ‘’Jangan sekali-kali melupakan sejarah!’’

Selagi kami menuju Stasiun Kota, Kakak Arif lagi-lagi menunjuk pada sesuatu yang sudah dilihat bahkan diinjak oleh penulis setiap kali memasuki kawasan Kota Tua dari Jalan Pintu Besar Utara di depan Museum Bank Indonesia. Dia menunjuk plat besi yang melintang di jalan. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam pikiran itu adalah rel trem yang pernah melintasi kota dari selatan ke utara. Rel tersebut tersambung dengan sisa rel yang ada di dalam kotak kaca tadi.

Sebelum menyeberang, kami berhenti sebentar menghadap ke arah selatan. Segaris lurus dari tempat kami berdiri, di sekitar kawasan Glodok,  proyek kereta bawah tanah (MRT) fase 2 tengah berlangsung.

Di depan Stasiun Kota ada sebuah jam. Pemandu menerangkan, jam itu sudah ada sejak masa kolonial. Bangunan jam tersebut bukan hanya penunjuk waktu semata tetapi juga sebagai alat pengukur ketinggian air ketika banjir merendam Batavia.

Stasiun Kota merupakan stasiun kereta api besar ketiga yang dibangun oleh Belanda. Stasiun kereta di Batavia dibangun seperti stasiun kereta di Eropa. Di mana di depan stasiun ada lapangan besar. Dan konsep itu dikembalikan lagi sekarang.

Kami langsung menuju Museum MRT Jakarta yang berada di dalam Stasiun Kota. Di situ pengunjung bisa melihat artefak-artefak yang ditemukan saat penggalian terowongan. Pengunjung pun dapat melihat rute dan maket kereta bawah tanah menuju Kota Tua.

Pasar Kota Tua (atas) dan Kantin Kota Tua (bawah) menjadi tempat untuk belanja dan kulineran murah-meriah. (Foto: Yun Damayanti)

Tur berakhir di depan signage ‘’Jakarta Kota Kolaborasi’’. Setelah berfoto bersama, kami akhirnya berpisah. Waktu menunjukan hampir setengah lima. Dan penulis pun bergegas memasuki pintu utara Stasiun Kota bersama komuter lainnya.   

Sungguh! Itu sebuah pengalaman menyenangkan tak terduga dalam perjalanan pulang. Sayang sekali, semua museum yang berada di Taman Fatahillah tutup pada hari itu. Bagaimanapun, hal tersebut tidak mengurangi pengalaman yang penulis rasakan.

Kawasan Kota Tua Jakarta dahulu merupakan pusat pemerintahan Batavia. Di situ dibangun kantor pemerintahan serta kantor-kantor bank dan perusahaan niaga, rumah gubernur jenderal, sebuah gereja, rumah sakit dan pengadilan serta stasiun kereta api. Orang-orang yang baru pertama kali menjejakan kaki di tanah Jawa, di Pelabuhan Sunda Kelapa, akan melewati gerbang sebelum memasuki kawasan Taman Fatahillah saat ini. Kawasan ini dahulu sebenarnya berada di dalam benteng dan menjadi beranda terdepan kota Batavia.

Deretan museum di kawasan Kota Tua merupakan tempat memelihara sejarah bangsa Indonesia, sumber ilmu pengetahuan dan inspirasi. Generasi sekarang memilih restoran, kafe dan kantin untuk menikmati suasana kota Batavia di abad Milenium. Dan menjelang senja, pedestrian di Jalan Kali Besar Timur diramaikan oleh pengunjung terutama anak-anak muda dan remaja yang melakukan berbagai kegiatan seperti fotografi, latihan tarian modern hingga skateboard. 

Eksistensi kawasan Kota Tua Jakarta sebagai melting pot berbagai bangsa dan budaya tetap bertahan melintasi abad dan era. Seiring dengan telah runtuhnya semua tembok Benteng Batavia, kawasan ini menjelma menjadi kawasan terbuka, tak lagi tersekat-sekat. Siapa saja boleh datang ke sini baik untuk menikmati sejarahnya, arsitekturnya, ragam kulinernya, rehat/bersantai, atau bahkan hanya melintasinya saja.***(Yun Damayanti) 

KEMENPAREKRAF SIAPKAN INDONESIA PAVILLION DI EXPO ‘’WORLD WATER FORUM 2024’’

KEMENPAREKRAF SIAPKAN INDONESIA PAVILLION DI EXPO ‘’WORLD WATER FORUM 2024’’

Tourism for Us – Pemerintah Indonesia termasuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) terus bersinergi untuk memberikan dukungan penuh penyelenggaraan World Water Forum (WWF) ke-10 yang akan berlangsung pada 18-25 Mei 2024 di Bali. WWF 2024 akan diikuti sekitar 50 ribu [more]