Tag: bali

VISTARA LAYANI RUTE DELHI-DENPASAR, KUNJUNGAN WISATAWAN INDIA DITARGETKAN NAIK HINGGA 25 PERSEN

VISTARA LAYANI RUTE DELHI-DENPASAR, KUNJUNGAN WISATAWAN INDIA DITARGETKAN NAIK HINGGA 25 PERSEN

Tourism for Us – Penerbangan langsung dari India ke Indonesia akan segera bertambah lagi. Vistara secara resmi mengumumkan akan melayani rute New Delhi-Denpasar, Bali, mulai 1 Desember 2023. Dengan tambahan penerbangan langsung, kunjungan wisatawan dari India ditargetkan bisa meningkat hingga 25 persen. Vistara, maskapai penerbangan [more]

MENPAREKRAF YAKIN AIS FORUM 2023 BERDAMPAK POSITIF PADA SEKTOR PARIWISATA BALI

MENPAREKRAF YAKIN AIS FORUM 2023 BERDAMPAK POSITIF PADA SEKTOR PARIWISATA BALI

Tourism for Us – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno meyakini KTT AIS Forum 2023 yang mengundang partisipasi dari 51 negara pulau dan kepulauan di seluruh dunia dan diikuti 1000 peserta memberikan dampak positif pada sektor pariwisata [more]

PELANGGARAN OLEH WISMAN TURUN, BALI SIAP MENSOSIALISASIKAN ‘DOS & DONTS’ LEBIH LUAS LAGI

PELANGGARAN OLEH WISMAN TURUN, BALI SIAP MENSOSIALISASIKAN ‘DOS & DONTS’ LEBIH LUAS LAGI

Tourism for Us – Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Pariwisata Provinsi Bali menyampaikan, sosialisasi ‘Dos & Donts’ di Bali telah menunjukkan hasil yakni pelanggaran yang dilakukan oleh wisatawan mancanegara (wisman) mengalami penurunan. Bahkan pemerintah provinsi berencana mensosialisasikannya tidak hanya pada saat kedatangan tetapi juga sebelum para wisatawan take off dari negaranya.

Flyer ‘Dos and Donts’ di Bali.
Sumber; Dinas Pariwisata Provinsi Bali

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Tjok Bagus Pemayun mengatakan, pelanggaran oleh wisman sudah berkurang jauh. Pertama, flyer ‘Dos & Donts’ dicetak sebanyak 100 ribu oleh Ditjen Imigrasi. Sekarang, pejalan internasional termasuk wisatawan sudah bisa men-scan flyer ‘Dos & Donts’ pada saat mereka berada di Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

‘’Jadi, penumpang internasional diminta men-scan ‘Dos & Donts’ selama di Pulau Bali saat petugas imigrasi memberikan cap di paspor. Isinya sama dengan yang ada di flyer yang dicetak,’’ ujar Tjok Bagus Pemayun.

Saat ini, flyer ‘Dos & Donts’ di Bali tersedia dalam bahasa Inggris, Cina/Mandarin, dan India. Selanjutnya sedang disiapkan flyer dalam bahasa Jepang.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali menambahkan, Pemerintah Provinsi Bali juga telah mengirim surat kepada Kementerian Perhubungan meminta maskapai-maskapai penerbangan yang melayani rute menuju Denpasar agar bisa menyisipkan sosialisasi ‘Dos & Donts’ di Bali.  

‘’Seperti petunjuk keselamatan sebelum terbang, penumpang yang hendak menuju Bali juga bisa membaca terlebih dahulu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berada di Bali. Begitu tujuannya,’’ kata Tjok Bagus Pemayun.

Kolaborasi dan Satgas tata kelola untuk komunikasi publik yang lebih baik

Pariwisata rentan dengan isu. Maka komunikasi publik harus dikelola dengan baik. Khususnya destinasi Bali, Satuan Tugas (satgas) tata kelola yang melibatkan semua pemangku kepentingan pariwisata termasuk lintas  kementerian/lembaga di tingkat pemerintah pusat dan daerah sudah dibentuk. Satgas ini guna mewadahi kolaborasi dan koordinasi antarkepentingan sehingga informasi yang dipublikasikan tidak berbeda-beda.

Satgas tata kelola itu terdiri dari Imigrasi Kanwil Hukum dan HAM, Kejaksaan, Polda Bali termasuk juga majelis desa adat, PHDI, dan asosiasi-asosiasi pariwisata yang ada di Bali.

‘’Pariwisata itu rentan dengan isu-isu. Makanya kita harus kelola dengan baik. Harapan kami, dengan selalu berkomunikasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenenparekraf), berkolaborasi dengan Biro Komunikasi di Kemenparekraf, bisa meminimalisir isu-isu. Kita bisa menjelaskan situasinya dan menangkal isu-isu yang beredar yang cepat sekali viralnya. Kami pun di pemda akan menindaklanjuti hasil dari pertemuan-pertemuan yang digelar secara rutin. Ini bentuk kolaborasi dan koordinasi kami sehingga keluarannya adalah narasi tunggal yang kita keluarkan bersama untuk menangkal isu-isu yang ada di media-media itu. Nanti tidak bisa lagi kami di dinas pariwisata menjelaskannya ke kanan dan dari Kemenparekraf menjelaskannya ke kiri,’’ tutur Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali.

‘’Setiap saat ada isu-isu, kami langsung berkomunikasi dengan satgas. Melalui komunikasi publik yang lebih baik, kami ingin wisatawan yang datang mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang dilarang,’’ tambahnya lagi.

Selama Januari-Juni 2023, total kunjungan wisman ke Bali mencapai 2.390.585. Wisatawan dari Australia menempati posisi pertama. Diikuti berturut-turut wisatawan dari India, Amerika Serikat, Britania Raya, Singapura, Cina, Malaysia, Korea Selatan, Jerman dan Rusia.

Wisatawan India tidak lagi menjadi pangsa pasar yang baru menggeliat bagi pariwisata Indonesia. Pangsa pasar ini menjelma menjadi salah satu pasar utama pascapandemi. Pasar itu pun menarik minat para operator tur lokal mulai ikut menggarapnya sementara pasar-pasar tradisional yang menjadi fokus mereka sebelum pandemi belum sepenuhnya pulih.  

Selama semester pertama tahun 2023, wisatawan India yang berkunjung ke Bali mencapai hampir 214.000 orang. Mereka datang tanpa ada penerbangan langsung (direct flight). Para operator tur yang fokus menangani wisatawan India berharap ada penerbagan langsung dari India ke Indonesia. Ketersediaan penerbangan langsung akan lebih mempermudah promosi destinasi dan menjual produk-produk wisata Bali.

Selain Indigo dan Batik Air yang sudah mengkonfirmasi akan mulai melayani penerbangan langsung ke Jakarta dan Medan dari India, satu lagi maskapai penerbangan India masih dalam proses untuk melayani penerbangan langsung lainnya. Adalah Vistara, maskapai penerbangan patungan antara Tata Group selaku pemilik Air India dan Singapore Airlines, menurut rencana, akan melayani penerbangan langsung rute New Delhi-Jakarta, New Delhi-Denpasar, Mumbai-Jakarta dan Mumbai-Denpasar.

Rencana retribusi wisman ke Bali

Pemerintah Provinsi Bali dan DPRD Bali sedang membahas rencana menarik retribusi dari wisatawan mancanegara yang datang ke Pulau Dewata. Adapun rencana penarikan retribusi itu diajukan dengan berlandaskan pada Undang-Undang Nomor 15 tahun 2023 tentang Provinsi Bali yang sudah ditetapkan.

Besaran retribusi yang diajukan sebesar Rp 150.000,00 per wisman. Pembayarannya dilakukan melalui e-payment. Retribusi ini akan mulai diberlakukan pada 2024.

Retribusi wisman akan digunakan untuk menjaga alam dan budaya bali agar tetap berkelanjutan sehingga Pulau Bali bisa terus dinikmati oleh wisatawan.***(Yun Damayanti) 

TRAFIK PENUMPANG LEBIH DARI 80% Q1/2023, BANDARA I GUSTI NGURAH RAI OPTIMIS HADAPI PUNCAK LIBURAN

TRAFIK PENUMPANG LEBIH DARI 80% Q1/2023, BANDARA I GUSTI NGURAH RAI OPTIMIS HADAPI PUNCAK LIBURAN

Tourism for Us – Pada periode Januari hingga April 2023, recovery rate trafik penumpang domestik dan internasional di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali mencapai 83 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada masa sebelum pandemi di tahun 2019. Seiring dengan membaiknya penangangan pandemi Covid-19 [more]

SEWINDU LAYANI DUBAI-BALI, EMIRATES OPERASIKAN ARMADA A380-800

SEWINDU LAYANI DUBAI-BALI, EMIRATES OPERASIKAN ARMADA A380-800

Tourism for Us – Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali mencatatkan sejarah sebagai bandara pertama di Indonesia yang melayani pesawat penumpang komersial reguler terbesar di dunia A380. Di tengah eforia travel revange dan untuk mengakomodasi permintaan perjalanan ke Bali, Emirates mengerahkan armada Airbus A380-800 miliknya [more]

AKTIVITAS NAIK GUNUNG DI PULAU DEWATA ADALAH SUATU ‘PENGALAMAN PENDAKIAN YANG BALI BANGET’

AKTIVITAS NAIK GUNUNG DI PULAU DEWATA ADALAH SUATU ‘PENGALAMAN PENDAKIAN YANG BALI BANGET’

Tourism for Us – Mendaki Gunung Agung adalah pendakian suci menuju istana para Dewa. Itu  bukanlah suatu pendakian biasa. Jalan menuju puncak tertinggi di Pulau Bali, dalam konteks pariwisata, sudah semestinya memberikan pengalaman naik gunung yang sangat berbeda daripada mendaki gunung-gunung lainnya di Indonesia.

Erupsi Gunung Agung pada akhir November 2017 dilihat dari Selat Lombok. (Foto: Yun Damayanti)

Arti Gunung bagi masyarakat Bali

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) dalam situsnya phdi.or.id menjelaskan, gunung yang membentang membelah Pulau Bali memberikan kehidupan bagi masyarakat, aktivitas budaya, keberadaan air hangat, air terjun, sungai, danau dan lain-lain. Pengetahuan masyarakat Bali tentang lingkungan alam semesta sesungguhnya sangatlah sistematis, holistik dan cenderung mengarah pada ekosentrisme.

Keharmonisan alam semesta yang juga disebut bhutahita atau jagathita akan juga memberikan jagathita (kesejahteraan) kepada manusaia. Dalam konteks hubungan manusia Bali (Hindu) dengan gunung, orang Bali mengajak umatnya untuk menghormati gunung sebagai penghormatan tertinggi kepada Dewa Siwa.

Gunung merupakan hulunya bumi, sangat dihormati. Bentuknya diwujudkan dengan mendirikan tempat suci di puncak-puncak gunung karena dimaknai akan memberikan kesejahteraan kepada umat manusia.

Mangku Kandia, seorang pemuka spiritual Hindu yang juga pelaku pariwisata lokal, menerangkan, masalah terjadi karena turis tidak paham kesucian gunung bagi masyarakat Bali.

‘’Kemarin ada wisatawan dari Rusia telanjang bulat di puncak Gunung Agung dan memvideokan kegiatan mereka. Itu sangat mendiskreditkan kami orang Bali yang meyakini gunung adalah istana dewa-dewa,’’ ujar Mangku Kandia.

Gunung itu harus disucikan. Karena gunung di Bali adalah gunung berapi. Kalau tidak diperlakukan secara hati-hati, gunung akan marah. Masyarakat Bali jadi korban.

Di lontar-lontar kuno yang dibuat ratusan tahun lalu dijelaskan bahwa gunung itu parwatha. Maka kalau orang Bali hendak mendaki ke Gunung Agung atau gunung lainnya pasti akan melakukan ritual terlebih dahulu di bawah. Meminta izin untuk mendaki. Dan minta izin sebelum mendaki tidak hanya berlaku bagi orang Bali saja tetapi juga bagi siapapun yang hendak naik ke gunung.

‘’Kami di Bali ini kan sepakat pariwisata. Maksudnya, pariwisata bisa membuka lapangan kerja, mengurangi rakyat miskin. Meningkatkan ekonomi. Jangan sampai pariwisata malah ‘membunuh’ kami. Tujuan hidup kita kan bukan itu. Kita ingin bahagia di pulau kita sendiri. Di negara kita sendiri,’’ lanjut Mangku Kandia.

‘’Kami ingin hidup damai. Jangan orang-orang asing yang datang, dia main-main dan mengganggu. Kami juga kan tidak ingin diganggu. Orang-orang yang berkunjung, tolong, janganlah merusak kami. Makanya gubernur Bali sekarang sangat keras akhir-akhir ini,’’ tambahnya.

Gubernur Bali sudah menandantangani peraturan/tata tertib bagi wisatawan yang berkunjung di Pulau Dewata. Peraturan itu tertuang dalam Surat Edaran No. 04 Tahun 2023 tentang Tatanan Baru Bagi Wisatawan Mancanegara Selama Berada di Bali yang ditandatangani oleh Gubernur Bali pada 31 Mei 2023. Walaupun peraturan itu ditulis untuk wisatawan mancanegara (wisman) tetapi wisatawan domestik juga wajib mengetahui dan melaksanakannya.

Kronologi wisman yang melakukan tindakan yang melukai masyarakat Bali

Di podcast Jeg Bali yang ditayangkan pada 3 Juni 2023, Forum Komunikasi Pemandu Wisata Gunung Agung menjelaskan kronologi seorang wisman yang melakukan tindakan tidak senonoh dan  melukai masyarakat Bali dan pemeluk agama Hindu. Pemerintah mengakui Hindu sebagai salah satu agama di Republik Indonesia.

Wisman tersebut mendaki tanpa melakukan registrasi di pintu Pura Agung Besakih. Mereka ditengarai mendaki antara pukul 5 atau 6 pagi. Petugas berjaga di titik masuk pendakian Gunung Agung mulai dari pukul 09.00 hingga 24.00. Jadi mereka memilih waktu sedemikian rupa di mana belum ada petugas yang berjaga di pintu masuk. Menurut Forum, mereka mendaki di jalur yang biasa dilalui wisatawan.

Mangku Kandia dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di industri pariwisata melihat, dahulu tidak ada turis-turis nakal seperti sekarang. Pada tahun 1980an, turis yang datang ke Bali tidak melakukan hal-hal aneh seperti yang sering diviralkan sekarang. Hal ini terjadi terutama sejak media sosial seperti Instagram dan Tiktok menguasai kehidupan sehari-hari. Banyak orang ingin menjadi terkenal sehingga membuat konten-konten yang aneh-aneh.

‘’Dengan pariwisata kami berharap sebaliknya, dapat melestarikan kebudayaan bali. Orang dulu malas menari.  Karena ada turis, mereka mau lagi menari. Dari menari, mereka bisa memperoleh pendapatan tambahan, menaikan kesejahteraan hidupnya. Dulu anak-anak tidak mau menari. Setelah tahu ada imbalan, mereka mau lagi belajar menari legong. Akhirnya tari-tarian bali dapat dilestarikan,’’ tuturnya.

Rahmat Abbas, Ketua Harian Federasi Montaineering Indonesia (FMI), mengatakan, sudah seyogianya pendaki atau wisatawan menghormati dan menghargai budaya lokal. Penertiban wisatawan ‘’nakal’’ berlaku untuk semua, asing dan domestik.

‘’Apalagi di Bali, antara budaya dengan alam sudah menyatu dan seringkali dihubungkan dengan wisata. Jadi isunya lebih cepat terangkat. Sebenarnya, di lokasi lain pun berlaku sama, hanya mungkin lebih jarang terekspos,’’ ujar Rahmat.

Dia berharap, semoga dengan ditertibkannya wisatawan ‘’nakal’’ bisa mengembalikan kepercayaan pemegang kebijakan untuk membuka gunung kembali dan dinikmati secara bertanggung jawab.

FMI mensosialisasikan ‘’responsible mountaineer’’ sejak 2018. Sosialisasi terutama terkait keselamatan, kebersihan dan menghormati budaya lokal dalam setiap aktivitas pendakian gunung. Kegiatan-kegiatan FMI juga menekankan pada etika berwisata di gunung.

Bagaimanapun, destinasi punya tanggung jawab untuk mensosialisasikan etika berwisata di daerahnya. Ibarat di sebuah pertandingan sepak bola, destinasi menempati posisi penjaga gawang. Wisatawan striker-nya. Jadi kalau ada pelanggaran di area gawang, yang melakukan pelanggaran otomatis harus diberikan kartu merah atau kartu kuning. Bahkan wasit yang memimpin pertandingan akan bertanya dahulu kepada para pembantunya dan melihat rekaman ulang pertandingan di AVAR sebelum menjatuhkan hukuman. Tetapi, hal tersebut tidak menghentikan pertandingan yang tengah berlangsung, bukan?  

Rekomendasi Prosedur Wisata Naik Gunung yang diajukan oleh Forum Komuniksi Pemandu Wisata Gunung Agung kepada Pemprov Bali. [Sumber; APGI]

Perkembangan industri pariwisata gunung di Bali

Dikutip dari percakapan di podcast Jeg Bali, ada dua gunung di Bali yang menjadi daya tarik sehingga banyak wisatawan ingin melihatnya, yakni Gunung Batur dan Gunung Agung. Keduanya adalah gunung vulkanik aktif.

Jumlah kunjungan di Gunung Batur diperkirakan mencapai 10 kali lipat daripada kunjungan di Gunung Agung. Menurut perwakilan pemandu gunung di Bali yang menjadi narasumber di podcast itu mengatakan, di Gunung Batur dalam sehari bisa mencapai sekitar 700 pendaki asing atau wisman saja. Total jumlah kunjungan bisa lebih besar daripada itu.

Gunung Batur menjadi wakil, terutama bagi wisman yang sedang berada di Bali, untuk melihat dan merasakan langsung gunung berapi di Indonesia. Jarak tempuh untuk mencapai titik tertingginya sekitar 1,5 jam. Medan trekkingnya relatif dapat dijalani oleh semua kalangan. Untuk mendakinya pun tidak membutuhkan persiapan khusus.

Berbeda dengan pendakian di Gunung Agung. Untuk mencapai puncak gunung tertinggi di Pulau Bali itu membutuhkan persiapan khusus. Pendaki harus punya kemampuan berjalan lebih dari 2 x 8 jam. Dari sisi ketinggian, rute perjalanan dan medan trekking, tingkat kesulitan di gunung ini lebih tinggi dari Gunung Batur.

Kegiatan pendakian di luar upacara agama di Gunung Agung dimulai sekitar tahun 1998. Sekarang telah ditentukan sembilan jalur pendakian. Dari sembilan titik masuk pendakian, bila digabungkan, jumlah pendaki domestik dan asing (wisman) di Gunung Agung rata-rata mencapai dua ribu orang per bulan.

Kegiatan wisata di Gunung Agung melibatkan sekitar 200 pemandu gunung. Jumlah tersebut belum termasuk porter. Semuanya warga lokal yang bermukim di sekitar gunung.

Kegiatan wisata gunung telah membantu perekonomian warga lokal yang bermukim di kaki gunung, termasuk di sekitar Gunung Agung. Mereka tidak hanya terlibat sebagai pemandu gunung tetapi juga ada porter yang membantu pendakian, menyediakan logistik pendakian dan lain-lain. 

Wayan Widiyasa, salah seorang pemandu di Gunung Agung di dalam podcast itu mengatakan, ‘’Dengan potensi yang ada di Gunung Agung, sebagai gunung tertinggi di Bali, brand-nya sudah ada. Jadi itu menimbulkan keinginan untuk mendakinya di kalangan wisatawan. Gunung Agung sudah menjadi daya tarik wisata.’’

Wayan menerangkan, kunjungan ke Gunung Agung sudah dilakukan sesuai dengan jalurnya. Jalur selatan, jalur yang paling banyak didaki, pada umumnya dapat ditempuh selama satu hari perjalanan. Wisatawan punya beberapa pilihan, misalnya melihat matahari terbit dari puncak dan lain-lain.

‘’Astungkara. Di kalangan pecinta pendakian, pendaki-pendaki muda milenial sudah mengerti kebersihan. Kita apresiasi. Mereka tidak lagi buang sampah sembarangan. Pendaki bule apalagi. Mereka luar biasa untuk melestarikan alam. Mereka tertib. Kalau mereka merokok atau makan permen karet ditaruh di kantung dan sebagainya,’’ ujar Wayan.

‘’Kami sudah melakukan sosialisasi kepada pemandu dan porter di Gunung Agung. Kalau anda bermalam di gunung, pastikan anda membawa kembali sampah dari gunung. Itu salah satu menjaga kesucian gunung dan menjaga kebersihan gunung. Dan kelestarian alam di gunung,’’ dijelaskan oleh I Ketut Mudiada, Ketua DPD Bali Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI).

Wayan menambahkan, biaya masuk (entrance fee) khususnya di Gunung Agung berlaku sama di semua titik masuk. Besaran biaya masuk mulai dari Rp 25.000,00 per pendaki domestik. Biaya masuk dikelola oleh Bumdes. Sedangkan di tempat lain menyesuaikan dengan aturan desa setempat.

Pendakian di Gunung Agung memberlakukan aturan, satu orang pemandu gunung menangani 1 sampai 3 pendaki. Untuk jalur pendek yakni ke puncak selatan dengan waktu tempuh 8 hingga 10 jam perjalanan PP, biaya jasa pemandu antara Rp 550.000,00 sampai dengan Rp 700.000,00. Sedangkan untuk rute yang lebih panjang biaya jasa pemandu Rp 950.000,00.

‘’Kami berikan pilihan kepada wisatawan. Mereka yang menentukan. Kami juga bantu dengan menawarkan solusi bagi wisatawan yang tidak memiliki budget besar yakni dengan sharing cost. Kita di pariwisata kan tidak bisa saklek ya, mesti fleksibel,’’ tutur Wayan.

Forum Komunikasi Pemandu Wisata Gunung Agung menghimbau agar wisatawan baik mancanegara maupun domestik yang bertujuan wisata minat khusus di Gunung Agung untuk melakukan registrasi dan mendaki di jalur-jalur yang telah ditentukan serta menggunakan pemandu gunung. Hal itu guna menghindari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan.

Terkait himbauan ini, Wayan menjelaskan lagi, ‘’Karena sudah banyak sekali terjadi, misalnya, wisatawan keseleo saat mendaki. Tapi tidak teregistrasi di tempat kami. Ketahuan setelah ada laporan ke posko. Pada kejadian tahun 2006, dari tiga orang yang dilaporkan hilang, sampai sekarang dua orang belum ditemukan. Resiko beraktivitas di gunung memang seperti itu. Sementara ini, warga negara asing atau wisman harus memakai pemandu.’’

‘’Kami sepakat di Forum Komunikasi Pemandu Wisata Gunung Agung dan kami sebagai warga Bali yang bermukim di kaki Gunung Agung, sangat menghormati gunung kami. Karena kami yakin, yang beristana di Gunung Agung adalah leluhur kami. Kami meyakini, tuhan yang bersemayam di sana adalah yang memberikan kesejahteraan bagi kami yang tinggal di kaki gunung juga semua orang yang ada di Pulau Bali,’’ tutur Mudiada.  

Forum Komunikasi Pemandu Wisata Gunung Agung sebagai bagian dari pelaku pariwisata lokal sudah melakukan berbagai upaya untuk menyeimbangkan antara kegiatan ekonomi pariwisata dan menjaga kesucian gunung.

Di setiap upacara yang berlangsung di Pura Agung Besakih, mereka menutup semua jalur menuju puncak Gunung Agung. Setiap ada upacara pekelem, para pemandu gunung yang mempunyai keahlian menjadi relawan yang membantu membawakan sesaji persembahan yang akan dilarung ke kawah. Begitu pun bila ada desa-desa adat yang membutuhkan, mereka akan membantu mengkondisikan pengayah lain untuk upacara pekelem.

Kepada setiap anggota di Forum Komunikasi Pemandu Wisata Gunung Agung selalu diingatkan untuk membawa sesaji sederhana seperti canang pada saat mendaki bersama wisatawan, dan meminta izin sebelum melakukan aktivitas mencari nafkah selaku pemandu wisata di Gunung Agung.

‘’Itu yang sudah kami lakukan. Kalau itu masih dinilai kurang, kami mohon untuk diberikan wejangan-wejangan tambahan dari pemuka-pemuka agama,’’ pinta Mudiada.  

Senada dengan Mudiada, Wayan pun memohon, ‘’Apa yang disebut suci. Menyucikan gunung seperti apa. Tolong ajari kami. Kami berharap, diberi kesempatan untuk bisa menikmati kue pariwisata dengan tetap menjaga tatanan budaya bali, tradisi bali dan mensucikan Gunung Agung. Tolong bimbing kami.’’

Dua asosiasi yang berkecimpung di pariwisata gunung, APGI dan FMI, telah aktif untuk membangun wisata gunung di Indonesia yang aman, beretika dan menghargai budaya lokal. [Foto; FMI]

Penguatan aturan wisata gunung

‘’Kami kan tidak mungkin berada di tempat selama 24 jam. Mohon dibantu untuk mengetatkan aturan. Sampai sekarang, karena belum ada peraturan yang mengikat, kami juga menghadapi tantangan ketika berhadapan dengan pendaki dan wisatawan, baik domestik maupun asing, yang naik tanpa mengindahkan aturan yang ada,’’ kata Wayan. 

Tingkah laku orang tidak bisa diprediksi. Apakah positif atau ada akal-akalan yang tidak diketahui oleh penjaga. Tidak semua pendaki seperti itu. Hal serupa bisa terjadi di Gunung Agung dan di gunung-gunung lainnya di Indonesia.

‘’Selama tamu didampingi pemandu terlatih, walaupun belum tersertifikasi BNSP, seperti pemandu-pemandu gunung yang ada di Bali, mereka sudah memegang SOP. Pemandu gunung di Bali sudah mengikuti ujian kepemanduan umum. Mereka pasti tidak mengizinkan pendaki untuk melakukan hal-hal aneh, seperti foto telanjang yang dilakukan oleh wisman tersebut,’’ tegas Mudiada.

Disyon Toba, pendiri perlengkapan outdoor Consina juga konsultan aktivitas outdoor & glamping, berpendapat, beberapa hal harus dipertimbangkan dalam mengembangkan wisata gunung: para pendaki diberikan arahan sebelum memulai pendakian; pemandu gunung mengawasi aktivitas pendaki selama berada di gunung; rambu-rambu Dos & Donts ditaruh di beberapa tempat agar pengunjung selalu ingat.

Seperti halnya di jalan raya, dibuat peraturan dan rambu-rambu lalu lintas agar tidak terjadi atau menekan terjadinya kecelakaan lalu lintas. Begitu pun dengan pariwisata gunung. Peraturan dan rambu-rambu di gunung itu dibutuhkan. Dan memang kesadaran untuk menaati peraturan dan rambu-rambu kembali ke masing-masing individu

‘’Namun jika tidak ada peraturan dan rambu-rambu, lalu ada pendaki atau wisatawan berulah, kemudian dikeluarkan aturan yang pukul rata, itu malah menyulitkan orang-orang yang datang ke gunung dan mempunyai tujuan baik yakni untuk naik gunung, melatih fisik, mencari kesegaran, melihat pemandangan dan lain-lain,’’ kata Disyon.

Pengalihan SDM wisata gunung atau mencipta ulang pengalaman pendakian?

Dengan aktivitas wisata minat khusus pendakian yang sudah berlangsung selama 25 tahun di Gunung Agung, dan mungkin lebih lama lagi di gunung-gunung lainnya, sumber daya manusia (SDM) pariwisata gunung di Bali sudah terbentuk. Menciptakan dan meregenerasi SDM pariwisata apalagi di sub sektor minat khusus tidak mudah dan tidak bisa instan.

Dengan wacana yang telah menjadi rencana untuk mentransformasi SDM wisata gunung di Bali menjadi tenaga kontrak di pemerintahan daerah, apakah Bali siap dengan resiko kehilangan SDM berpengalaman yang sudah terlatih dan terampil? Apakah Bali mau menerima kenyataan bila suatu hari posisi yang ditinggalkan oleh SDM lokal diisi oleh orang lain, termasuk oleh warga negara asing? Selain itu, apakah SDM wisata gunung yang sudah jadi itu bisa langsung beradaptasi dengan bidang pekerjaan dan status kontrak yang ditawarkan?

Ingat! Manusia punya sifat, semakin dilarang malah akan semakin penasaran dan rela melakukan apapun termasuk melanggar yang ditabukan. Jangan lupa juga, apapun jenis aktivitas wisata bisa dilakukan di Bali. Jika tidak ada SDM lokal yang mengisinya, orang lain yang akan mengambil kesempatan.

Ketua DPD Bali APGI menegaskan, untuk saat ini proses pengalihan masih berjalan. SDM pariwisata gunung di Bali menunggu peraturan daerah nantinya akan seperti apa. Diakuinya, para pemandu wisata gunung di Forum Komunikasi Pemandu Wisata Gunung Agung sudah diminta untuk menyiapkan data dan KTP.

Menanggapi isu transformasi pemandu gunung di Bali menjadi tenaga kerja kontrak di pemda, Ketua Umum APGI Rahman Muhlis berpendapat, itu mungkin jalan tengah sementara bagi para pelaku usaha di sana agar bisa tetap mendapatkan penghasilan dengan diangkat sebagai pegawai kontrak.

Dia berharap, core-nya akan tetap sebagai praktisi pariwisata sesuai pekerjaannya masing-masing, baik operator, pemandu, porter serta jasa pendukung lainnya seperti penyedia transportasi, penginapan, konsumsi dan lain-lain.

‘’Pada prinsipnya kami mendukung ‘’penataan wisata pendakian gunung di Bali’’ khususnya yang berbasis alam dan kebudayaan. Sehingga kegiatan naik gunung bisa berjalan beriringan antara wisata, pelestarian alam dan pelestarian budaya,’’ pungkas Rahman.

Tidakkah lebih baik bila seluruh elemen pemangku kepentingan pariwisata, pemuka agama/spiritual dan masyarakat di Pulau Dewata duduk bersama dan menciptakan ulang ‘Pengalaman Pendakian yang Bali Banget’, yang mungkin bisa menjadi solusi bagi semua pihak?

Di mana di Indonesia, atau di belahan bumi mana, pengunjung yang hendak mendaki dapat berpartisipasi atau melihat ritual meminta izin sebelum melakukan aktivitas; di sepanjang jalan disuguhkan narasi bahwa setiap tanaman, hewan, tanah dan air di punggung gunung adalah bagian dari tubuh dewa; melihat altar-altar persembahan kecil di jalur trekking; bagaimana pendaki harus ikhlas melepaskan egonya sebagai manusia selama perjalanan menuju puncak; dan menyaksikan matahari memantulkan sinar pertamanya pada sesaji-sesaji yang diletakan di tepi bibir kawah setelah berjalan selama 8 jam?  

Karena mendaki di Bali adalah suatu perjalanan menuju kediaman Sang Pencipta. Pendakian bukan sekedar aktivitas fisik dan mengejar sunrise moment semata tetapi juga suatu pengalaman budaya dan spiritual. Bahkan pendaki, baik domestik dan asing, bisa merasakan makna saling menghormati di antara sesama manusia.

Sang Pencipta tidak pernah melarang siapapun bertemu denganNya. Namun, untuk bertemu denganNya, bukankah kita harus menaati berbagai aturan dan wajib melaksanakan adab? Dan di mata Dewata, semua orang sama, tidak membedakan dia orang Bali, dia orang dari daerah lain ataupun dia warga negara asing.***(Yun Damayanti) 

WISATAWAN TIONGKOK KEMBALI KE BALI, PELAKU INDUSTRI BERHARAP BISNIS PARIWISATA YANG LEBIH BAIK

WISATAWAN TIONGKOK KEMBALI KE BALI, PELAKU INDUSTRI BERHARAP BISNIS PARIWISATA YANG LEBIH BAIK

Tourism for Us – Wisatawan asal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) akhirnya kembali ke Bali. Pasar wisatawan internasional terbesar yang diharapkan oleh semua destinasi di Asia Tenggara ini datang ke Pulau Dewata dengan penerbangan charter (sewa). Dan waktunya bertepatan dengan musim liburan tahun baru Imlek.   [more]

PERWAKILAN TO/TA DAN PERHOTELAN: PERJALANAN WISMAN KE INDONESIA MASIH ON SCHEDULE

PERWAKILAN TO/TA DAN PERHOTELAN: PERJALANAN WISMAN KE INDONESIA MASIH ON SCHEDULE

Tourism for Us – Perwakilan dari industri operator tur/agen perjalanan dan perhotelan menyampaikan, tidak ada pembatalan pemesanan perjalanan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia, khususnya ke Bali. Pembatalan besar-besaran perjalanan ke Indonesia setelah Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) baru disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) minggu [more]

PERJALANAN EPIK DARI SAGARMATHA KE PULAU DEWATA

PERJALANAN EPIK DARI SAGARMATHA KE PULAU DEWATA

Tourism for Us – Dengan apa yang akan menantinya di Bali, wisatawan Nepal lalui semua rintangan.

Wisatawan bleisure asal Nepal baru mendarat di Bali.(Photo Courtesy: Eddie Tarsisius/Absolute Indonesia DMC)

Mereka tersenyum bersama pendaki dari seluruh dunia. Sementara para pendaki merayakan pencapaiannya menggapai titik tertinggi di muka bumi di Sagarmatha, mereka melihat ke arah lain. Mereka mencari garis putih keemasan dan warna biru tua yang terbentang di bawah sana.

Syukurlah, tidak ada seorangpun yang mendengar ketika mereka berbisik, ‘’I will go home safely. Then, going down with my love ones toward the end of the land. Where we can feel the warm breeze and enjoying sunny days. There is no avalanche to worry about. That would be my greatest achievement, to make my family happy.’’

Ada beberapa keinginan yang hendak diwujudkan yakni dapat melihat pura di Tanah Lot dan berada di Ubud. Kemudian bermain di pantai berpasir putih di Nusa Penida dan Gili Trawangan. Menurut berita, itu semua ada di Indonesia. Sebuah negeri kepulauan di ujung tenggara Benua Asia.

Maskapai Batik Air dan AirAsia menjawab persoalan mereka untuk mencapai Pulau Bali sekarang. Kedua maskapai penerbangan ini melayani rute Kathmandu-Kualalumpur-Denpasar. Dan tantangan mereka berikutnya adalah mendapatkan visa.

Indonesia tidak memberikan fasilitas perjalanan kepada Nepal. Saat ini, wisatawan Nepal bisa berkunjung ke Bali dengan menggunakan electronic visa (e-visa). Mereka harus mengajukan e-visa melalui agen penjamin di Indonesia. Agen penjamin itu yang akan mengajukan dan mengurus e-visa ke Imigrasi.

Wisatawan Nepal sangat menyukai pantai. Itu karena Nepal adalah negara landlock. Bali merupakan destinasi favoritnya. Selama berada di Pulau Dewata, mereka merasa wajib mengunjungi Tanah Lot, Ubud, dan Nusa Penida lalu shopping. Setelah itu ke Gili Trawangan di Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Wisatawan Nepal rata-rata menghabiskan 5 hari 4 malam berlibur di Bali. Tidak sedikit dari mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk reuni. Setelah sekian lama terpisah, mereka dapat berkumpul lagi dengan keluarga dan teman-temannya yang kini tinggal di Australia, Eropa dan Amerika.

Pulau Dewata ternyata juga menjadi tujuan perusahaan-perusahaan di Nepal mengirim karyawannya untuk mengikuti pelatihan ataupun menghadiri pertemuan-pertemuan bisnis. Setelah itu, mereka diberi kesempatan jalan-jalan. Durasi perjalanan bleisure lebih lama, rata-rata 7 hari 6 malam.   

‘’Saya mulai mempromosikan group series dari Nepal ke Bali sekitar tahun 2017. Pada waktu itu bersamaan dengan semakin banyak kunjungan wisatawan dari sana,’’ ujar Eddie Tarsisius, Managing Director Absolute Indonesia DMC.

Eddie menambahkan, issue terkait visa yang merepotkan. Dia berharap, pengajuan dan pengurusan visa dapat dilakukan melalui Kedutaan Besar RI di Bangladesh. Karena Indonesia tidak mempunyai perwakilan di Nepal.

‘’Yah, paling bagus kalau mereka juga dapat diberikan fasilitas visa on arrival (VOA),’’ katanya. 

Menurut data Asdep Litbangjakpar Kementerian Pariwisata yang diolah dari data Ditjen Imigrasi dan Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kunjungan wisatawan dari Nepal naik signifikan pada 2016 dengan total 11.589. Dan pada 2019 jumlah kunjungannya mencapai 14.912 wisatawan.

Selayang pandang pariwisata Nepal

Semua pendaki di dunia bermimpi dapat mencapai puncak Sagarmatha, atau yang dikenal dengan nama internasionalnya Mount Everest. Berada di tempat tertinggi di bumi (8.848 mdpl) merupakan capaian tertinggi sekaligus prestise bagi individu pendaki maupun bangsanya.

Pendaki berdatangan ke pegunungan Himalaya dari berbagai penjuru sejak Sir Edmund Hillary bersama pemandu Sherpa Tenzig Norgay berhasil mencapai puncak Everest untuk pertama kali pada 29 Mei 1953. Kehadiran para pendaki kemudian mengembangkan pariwisata pegunungan (mountaineering tourism) di Nepal.

Jumlah pendaki ke Himalaya terus bertambah setiap tahun. Sejalan dengan meningkatnya aktivitas manusia di pegunungan maka beragam masalah pun bermunculan. Mulai dari meningkatnya resiko kecelakaan hingga polusi yang mencemari lingkungan dan mengancam kehidupan warga lokal.

Ancaman terbesar lainnya adalah ego manusia. Semua upaya dan sumber daya dikerahkan demi menggapai puncak. Setiap ekspedisi melibatkan puluhan orang. Dan itu sama artinya dengan membuka lapangan kerja dan menggerakan perekonomian.

1996 Mount Everest Disaster merenggut nyawa delapan pendaki. Itu merupakan kejadian paling mematikan ketiga setelah gempa tahun 2015 dan Everest avalanche pada 2014. Namun, malapetaka yang terjadi pada tahun 1996 mendapat perhatian luas secara internasional. Kejadian tersebut menimbulkan pertanyaan atas komersialisasi Mount Everest.

Menurut World Bank (3/6/2022), industri pariwisata berkontribusi 6,7% terhadap PDB Nepal pada 2019. Selain itu, pariwisata juga membuka lebih dari satu juta lapangan pekerjaan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dan 80% dari lapangan pekerjaan tersebut berada di daerah-daerah paling terpencil. 

Nepal Tourism Statistics 2021 yang dirilis oleh Kementerian Kebudayaan, Pariwisata dan Penerbangan Sipil Nepal menyebutkan, dari seluruh wisatawan yang datang sepanjang 2020-2021, yang bertujuan trekking dan mountaineering hanya 10,3%. Sedangkan yang bertujuan untuk berlibur (leisure) sebesar 66,8%.

Meskipun begitu, Pemerintah Nepal tetap berupaya mengatur pariwisata pegunungannya dengan serius.

Keselamatan dan keamanan wisatawan, pendaki dan tim ekspedisi menjadi prioritas utama. Meningkatkan kualitas manajemen pengolahan limbah di gunung guna merawat alam dan lingkungan sekaligus meningkatkan kenyamanan pendaki dan menjaga kehidupan warga lokal juga sudah menjadi prioritas.

Pemerintah Nepal mengatur kegiatan-kegiatan yang bisa dilakukan di pegunungan Himalaya yang berada di wilayahnya. Peraturan-peraturan itu wajib diketauhui dan dipatuhi oleh siapapun. Standar prosedur operasional yang menjadi standar mountaineering di berbagai belahan dunia pun dilaksanakan.

Sherpa, salah satu etnis di Nepal, terkenal dengan keahliannya mendaki puncak-puncak tertinggi di pegunungan Himalaya. Meskipun tidak semua orang Sherpa berprofesi sebagai pemandu gunung, tetapi rata-rata pemandu dalam ekspedisi Everest ialah orang Sherpa. Dan kearifan lokal Sherpa tersebut diorkestrasikan dengan standar operasional mountaineering yang berlaku secara internasional.

Karena wisatawan Nepal sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu di negaranya, ‘’Ya, mereka sangat memperhatikan standar pelayanan dan SOP safety juga ketika berada di sini,’’ pungkas Eddie.***(Yun Damayanti)

CEBU PACIFIC DAN ANEKA KARTIKA TOURS & TRAVEL SERVICES MEMIKAT 20 MEDIA FILIPINA BERAKHIR PEKAN DI BALI

CEBU PACIFIC DAN ANEKA KARTIKA TOURS & TRAVEL SERVICES MEMIKAT 20 MEDIA FILIPINA BERAKHIR PEKAN DI BALI

Tourism for Us – Selama akhir pekan pada 4-6 November 2022, Cebu Pacific menerbangkan 20 jurnalis dari Manila ke Bali untuk merasakan kekayaan budaya, pemandangan indah, dan makanan lezat di berbagai destinasi di Pulau Dewata. Ini dilakukan dalam kemitraan dengan Aneka Kartika Tours & Travel [more]